Pak Djarot yang kreatif, boleh-boleh saja mengenalkan istilah baru, tapi kalau lolos dari ujian disertasi, wah ... hehehe ... perlu kenalan juga nih dengan para pengujinya.
Sebenarnya fenomenologi itu ilmu kognisi subyektivisme. Kurang tahu kalau berkembang sebagai -grafi, pasti nih Pak Djarot survainya ke abg dan gadis2 remaja yang suka nulis 'diary', atau ke komunitas blogger ... hehehe ... Etnografi sendiri sebenarnya istilah yang sudah disepakati umum, dan bisa saja dilakukan dengan fenomenologi. Seperti karyanya Machiavelli, Adam Smith, sampai dengan pemenang Nobel kemarin (Ostrom), karyanya adalah etnografi. Atau karyanya Pak Risfan, kalau diakui sebagai kumpulan pengalaman, sebenarnya juga etnografi. Salam. -ekadj --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Dear Sahabats, > > Postingnya diulangi, alamat email referensi agak keliru pada email sebelumnya, untuk menyampaikan gagasan di bawah ini: > > Pak Eka, tentang etnografi memang sudah sangat terkenal karena itu > bagian dari tradisi kuno dalam pengamatan lapangan. Dalam disertasi > saya memperkenalkan istilah baru, yang masih baru dan belum banyak > dikenal, yaitu FENOMENOGRAFI untuk menjadi key stone dalam > fenomenologi. Ini hal baru dan masih diperjuangkan, bahwa > antropolog/etnolog mengerjakan etnografi, lha fenomenolog menghasilkan > fenomenografi. Ini langkah nekad, bersaing dengan dedengkot tradisi > riset lapangan !!! Mohon dukungan para sahabat semua heheeheheheee..... > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Sat, 2/6/10, Djarot Purbadi dpurb...@... wrote: > > From: Djarot Purbadi dpurb...@... > Subject: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah? > To: [email protected] > Date: Saturday, February 6, 2010, 7:56 AM > > Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh usaha ilmu pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya hanya mengkaji sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan kepada para filsuf untuk merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi pemahaman realitas yang lebih mendalam, semakin mendalam dari waktu ke waktu. Konon nih, filsuf berangkat dari pertanyaan dan berakhir dengan pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan berangkat dari pertanyaan dan berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya merefleksikan, ilmuwan tugasnya mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan pertanyaan filsafati. Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan minggu pertama yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho Pak....jadi masih ingat. > > Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu dicermati benar-benar > topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee..... > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Sat, 2/6/10, ffekadj 4ek...@... wrote:

