Pak Eka, ada teks dalam kuliah filsafat ilmu yang menjelaskan bahwa ilmu-ilmu 
saling berselingkuh (istilah saya) bahkan saling kawin (istilah saya juga) atau 
saling bertemu (istilah umum dalam buku teks). Jika pada awalnya para ilmuwan 
bersikukuh dengan paradigma yang amat diyakininya, sampai sangat fanatik, 
terlihat pada kuatnya positivisme versus rasionalisme di masa lalu, kemudian 
diperdamaikan oleh Imanuel Kant, maka gejala itu sampai sekarang masih tampak 
juga. Sikap-sikap konvensional ini masih membayangi munculnya kreativitas baru, 
yang nyatanya ilmu-ilmu saling "kawin-mawin" (istilah dari Timor nih) dengan 
sangat leluasa. Artinya, ilmu-ilmu sudah merasa tidak bisa sendirian lagi dalam 
menghadapi persoalan kehidupan dalam era kekinian yang semakin kompleks. Jika 
situasinya adalah para ilmuwan masih merasa nyaman, mapan dan gemar tinggal di 
dalam "beteng keilmuan" yang dibangunnya sendiri dengan sudah payah dan tidak 
terbuka pada perkembangan baru,
 yang kadang-kadang "melawan" frame keilmuan konvensional yang sudah "mendarah 
daging" itu artinya melawan trend kehidupan yang menjadi labo bagi ilmu-ilmu.

Bagi saya sendiri, saya memaknai begini: begitu detik ujian terbuka selesai, 
saya menganggap penelitian fenomenologi dengan paradigma Husserlian yang saya 
gunakan di Kaenbaun sudah purna. Jika saya masih menggunakannya itu dalam 
rangka merawat dan mengembangkannya dan jika ada yang mengikuti jejak saya itu 
adalah sebuah berkah karena followernya bertambah. Tugas saya berikutnya 
adalah, "meninggalkan yang lama" dan khususnya bergerak ke arah bagaimana 
menemukan kebaruan berikutnya dari penelitian dengan fenomenologi yang sudah 
saya anggap selesai itu, siapa tahu kebaruan justru akan muncul jika 
berselingkuh dengan ilmu lain !!!!

Perburuan tidak akan pernah selesai, sebab tugas ilmuwan saya kira memang 
mengembangkan ilmu supaya semakin bermanfaat bagi kehidupan secara keseluruhan. 
Nah, perselingkuhan ilmu-ilmu ini seringkali dikategorikan ke dalam 
pos-modernisme. Jadi keluasan pos-modernisme ini masih sangat luar biasa 
dibandingkan dengan "pulau-pulau keilmuan" yang gemar dipertahankan oleh para 
ilmuwan konvensional. Dengan memasuki dunia nan luas di luar pulau-pulau ini 
kita memang memasuki ladang pertarungan baru, yang tidak pernah terbayangkan 
sebelumnya.....khususnya "melawan" para ilmuwan yang bertahan di beteng-beteng 
mereka !!!!

Tampaknya perang persepsi yang dibabarkan Pak Risfan juga terjadi dalam bidang 
pengembangan ilmu. Persepsi yang bertarung adalah "ilmu for the sake of ilmu" 
melawan "ilmu for life". Apakah begitu paman guru ????

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 2/9/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong Masalah ?
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 9, 2010, 5:55 AM







 



  


    
      
      
      

Pak Djarot ysh, terima kasih atas pemaparannya, dan kelihatannya ada

lanjutannya. Saya hanya membingkai dalam 3 paradigma besar keilmuan: 1)

positivisme, 2) interpretisme/ konstruksivisme( /fenomenologi) , dan 3)

critical. Untuk postmodernisme masih ditolak banyak pendapat untuk

menjadi paradigma ke-4. Pembagian ini didasarkan pada realitas ilmu-ilmu

dalam menghadapi persoalan dunia. Dari catatan saya, tipikal positivisme

di antaranya: a) obyektivitas di luar individu, b) bisa dipersepsi

melalui panca indra dan diseragamkan, c) bebas nilai, dst. Bila konsep

sosiologi Comte masuk disini, maka manusia disamakan dengan alam.

Sebenarnya ilmu-ilmu sosial masuk ke dalam paradigma kedua, di antaranya

karena realitas menjadi subyektif dan menonjolnya peran pemaknaan.



Sementara demikian pak, mohon dilanjutkan dan juga ditanggapi Pak Yando.

Salam.



-ekadjc



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Pak Eka dan Pak Yando,

>

> Dalam kesadaran saya saat ini sedang terjadi proses untuk memahami

antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Ada semuah pernyataan yang

mengatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu-ilmu. Konon ilmu fisika

awalnya adalah berasal dari filsafat alam, yaitu sebuah kegiatan

"spekulatif" memandang alam. Setelah filsafat dapat "diturunkan" dari

refleksi filsafati menjadi cara pandang tentang alam, maka perkembangan

berikutnya mengarah kepada munculnya metodologi. Kebetulan saja fisika

selain didasari filsafat tentang alam juga dipengaruhi oleh positivisme,

sebuah aliran pemikiran yang sangat mempercayai pancaindra (pengamatan

indrawi) sebagai sumber pengetahuan.

>

> Cara yang sama tampaknya ditiru oleh sosiologi, yang pada awalnya juga

berawal dari perenungan tentang situasi kehidupan bersama masyarakat

manusia, alias filsafat sosial. Selanjutnya juga turun ke arah ilmu,

menjadi paradigma dalam memandang fenomena kehidupan masyarakat.

Kebetulan saja pada waktu itu (jamannya August Comte) pengaruh fisika

dan positivisme begitu kuat sehingga sosiologi berkarakter

"fisika-sosial" yang sangat positivistik dan kuantitatifistik. Sampai

pada suatu saat sosiologi yang seperti ini mendapat kritik keras dari

para ilmuwan di Frankfurt, yang melihat teori-teori sosiologi cenderung

menjadi "teori tradisional" , yaitu yang hanya mengatakan/memapark an apa

adanya serta tidak kritis terhadap apa yang ada di balik yang apa adanya

itu. Dari kritik dan diskursus di Jerman itulah lahir sosiologi-kritis

yang melihat "ada sesuatu" dibalik teori atau hasil penyelidikan ilmiah.

>

> Antropologi kalau tidak salah juga berawal dari filsafat antropologi

(filsafat tentang manusia), kemudian mendapat pengaruh empirisme dan

rasionalisme, hingga kita temukan bentuknya seperti yang saat ini ada

(mohon pencerahan dari Pak Yando tentang sejarah ilmu antropologi ini).

Dari paparan "sejarah" ilmu yang dikaitkan dengan filsafat sebagai

ibunya, akan tampak bahwa ilmu yang kita geluti memiliki dasar-dasar

filsafati yang kuat dan mantap. Nah usaha saya sepertinya mirip dengan

sosiologi, misalnya, yang pernah saya gagas dari arsitektur yang

tradisional bergerak ke "arsitektur kritis" berkat pengaruh

fenomenologi.

>

> Masalahnya agak berbeda, jika sosiologi kritis dikaitkan dengan

"gagasan emansipatoris" ada di balik teori, sementara arsitektur kritis

cenderung dikaitkan dengan keberadaan "dimensi transenden" yang diusung

oleh fenomenologi. Tentang fenomenologi sendiri sebenarnya adalah

empirisme "lebih lanjut" yang mengakui tiga dimensi realitas, yaitu

dimensi visual, dimensi rasional dan dimensi transenden (tidak selalu

mistik, melainkan tentang hakekat dibalik yang visual dan rasional).

Jika digabungkan fenomenologi dengan filsafat sosiologi kritis,

tampaknya akan lebih berdaya karena akan mengakui keberadaan dimensi

transenden dan intensi emansipatoris.

>

> Tampaknya dalam menjalankan ilmu, kita memang perlu memahami akar-akar

filsafatinya, yang memberi jiwa dan karakter ilmu yang kita kembangkan.

Sementara demikian.

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Sun, 2/7/10, ffekadj 4ek...@... wrote:

>

> From: ffekadj 4ek...@...

> Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Sunday, February 7, 2010, 10:44 PM

>

> Pak Djarot yang kreatif, boleh-boleh saja mengenalkan istilah baru,

tapi

>

> kalau lolos dari ujian disertasi, wah ... hehehe ... perlu kenalan

juga

>

> nih dengan para pengujinya.

>

>

>

> Sebenarnya fenomenologi itu ilmu kognisi subyektivisme. Kurang tahu

>

> kalau berkembang sebagai -grafi, pasti nih Pak Djarot survainya ke abg

>

> dan gadis2 remaja yang suka nulis 'diary', atau ke komunitas blogger

...

>

> hehehe ...

>

>

>

> Etnografi sendiri sebenarnya istilah yang sudah disepakati umum, dan

>

> bisa saja dilakukan dengan fenomenologi. Seperti karyanya Machiavelli,

>

> Adam Smith, sampai dengan pemenang Nobel kemarin (Ostrom), karyanya

>

> adalah etnografi. Atau karyanya Pak Risfan, kalau diakui sebagai

>

> kumpulan pengalaman, sebenarnya juga etnografi. Salam.

>

>

>

> -ekadj

>

>

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:

>

> >

>

> > Dear Sahabats,

>

> >

>

> > Postingnya diulangi, alamat email referensi agak keliru pada email

>

> sebelumnya, untuk menyampaikan gagasan di bawah ini:

>

> >

>

> > Pak Eka, tentang etnografi memang sudah sangat terkenal karena itu

>

> > bagian dari tradisi kuno dalam pengamatan lapangan. Dalam disertasi

>

> > saya memperkenalkan istilah baru, yang masih baru dan belum banyak

>

> > dikenal, yaitu FENOMENOGRAFI untuk menjadi key stone dalam

>

> > fenomenologi. Ini hal baru dan masih diperjuangkan, bahwa

>

> > antropolog/etnolog mengerjakan etnografi, lha fenomenolog

menghasilkan

>

> > fenomenografi. Ini langkah nekad, bersaing dengan dedengkot tradisi

>

> > riset lapangan !!! Mohon dukungan para sahabat semua

>

> heheeheheheee. ....

>

> >

>

> > Salam,

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > Djarot Purbadi

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> >

>

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> >

>

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> >

>

> > --- On Sat, 2/6/10, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

>

> >

>

> > From: Djarot Purbadi dpurbadi@

>

> > Subject: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?

>

> > To: perkot...@yahoogrou ps.com

>

> > Date: Saturday, February 6, 2010, 7:56 AM

>

> >

>

> > Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh

>

> usaha ilmu pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya

>

> hanya mengkaji sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan

>

> kepada para filsuf untuk merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi

>

> pemahaman realitas yang lebih mendalam, semakin mendalam dari waktu ke

>

> waktu. Konon nih, filsuf berangkat dari pertanyaan dan berakhir dengan

>

> pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan berangkat dari pertanyaan dan

>

> berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya merefleksikan, ilmuwan tugasnya

>

> mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan pertanyaan filsafati.

>

> Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan minggu pertama

>

> yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho Pak....jadi

masih

>

> ingat.

>

> >

>

> > Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu

>

> dicermati benar-benar

>

> > topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee.....

>

> >

>

> > Salam,

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > Djarot Purbadi

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> >

>

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> >

>

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> >

>

> > --- On Sat, 2/6/10, ffekadj 4ekadj@ wrote:

>





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke