Pak Eka dan Pak Yando,

Dalam kesadaran saya saat ini sedang terjadi proses untuk memahami antara 
filsafat dan ilmu pengetahuan. Ada semuah pernyataan yang mengatakan bahwa 
filsafat adalah induk ilmu-ilmu. Konon ilmu fisika awalnya adalah berasal dari 
filsafat alam, yaitu sebuah kegiatan "spekulatif" memandang alam. Setelah 
filsafat dapat "diturunkan" dari refleksi filsafati menjadi cara pandang 
tentang alam, maka perkembangan berikutnya mengarah kepada munculnya 
metodologi. Kebetulan saja fisika selain didasari filsafat tentang alam juga 
dipengaruhi oleh positivisme, sebuah aliran pemikiran yang sangat mempercayai 
pancaindra (pengamatan indrawi) sebagai sumber pengetahuan. 

Cara yang sama tampaknya ditiru oleh sosiologi, yang pada awalnya juga berawal 
dari perenungan tentang situasi kehidupan bersama masyarakat manusia, alias 
filsafat sosial. Selanjutnya juga turun ke arah ilmu, menjadi paradigma dalam 
memandang fenomena kehidupan masyarakat. Kebetulan saja pada waktu itu 
(jamannya August Comte) pengaruh fisika dan positivisme begitu kuat sehingga 
sosiologi berkarakter "fisika-sosial" yang sangat positivistik dan 
kuantitatifistik. Sampai pada suatu saat sosiologi yang seperti ini mendapat 
kritik keras dari para ilmuwan di Frankfurt, yang melihat teori-teori sosiologi 
cenderung menjadi "teori tradisional", yaitu yang hanya mengatakan/memaparkan 
apa adanya serta tidak kritis terhadap apa yang ada di balik yang apa adanya 
itu. Dari kritik dan diskursus di Jerman itulah lahir sosiologi-kritis yang 
melihat "ada sesuatu" dibalik teori atau hasil penyelidikan ilmiah.

Antropologi kalau tidak salah juga berawal dari filsafat antropologi (filsafat 
tentang manusia), kemudian mendapat pengaruh empirisme dan rasionalisme, hingga 
kita temukan bentuknya seperti yang saat ini ada (mohon pencerahan dari Pak 
Yando tentang sejarah ilmu antropologi ini). Dari paparan "sejarah" ilmu yang 
dikaitkan dengan filsafat sebagai ibunya, akan tampak bahwa ilmu yang kita 
geluti memiliki dasar-dasar filsafati yang kuat dan mantap. Nah usaha saya 
sepertinya mirip dengan sosiologi, misalnya, yang pernah saya gagas dari 
arsitektur yang tradisional bergerak ke "arsitektur kritis" berkat pengaruh 
fenomenologi. 

Masalahnya agak berbeda, jika sosiologi kritis dikaitkan dengan "gagasan 
emansipatoris" ada di balik teori, sementara arsitektur kritis cenderung 
dikaitkan dengan keberadaan "dimensi transenden" yang diusung oleh 
fenomenologi. Tentang fenomenologi sendiri sebenarnya adalah empirisme "lebih 
lanjut" yang mengakui tiga dimensi realitas, yaitu dimensi visual, dimensi 
rasional dan dimensi transenden (tidak selalu mistik, melainkan tentang hakekat 
dibalik yang visual dan rasional). Jika digabungkan fenomenologi dengan 
filsafat sosiologi kritis, tampaknya akan lebih berdaya karena akan mengakui 
keberadaan dimensi transenden dan intensi emansipatoris.

Tampaknya dalam menjalankan ilmu, kita memang perlu memahami akar-akar 
filsafatinya, yang memberi jiwa dan karakter ilmu yang kita kembangkan. 
Sementara demikian.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 2/7/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?
To: [email protected]
Date: Sunday, February 7, 2010, 10:44 PM







 



  


    
      
      
      

Pak Djarot yang kreatif, boleh-boleh saja mengenalkan istilah baru, tapi

kalau lolos dari ujian disertasi, wah ... hehehe ... perlu kenalan juga

nih dengan para pengujinya.



Sebenarnya fenomenologi itu ilmu kognisi subyektivisme.  Kurang tahu

kalau berkembang sebagai -grafi, pasti nih Pak Djarot survainya ke abg

dan gadis2 remaja yang suka nulis 'diary', atau ke komunitas blogger ...

hehehe ...



Etnografi sendiri sebenarnya istilah yang sudah disepakati umum, dan

bisa saja dilakukan dengan fenomenologi. Seperti karyanya Machiavelli,

Adam Smith, sampai dengan pemenang Nobel kemarin (Ostrom), karyanya

adalah etnografi. Atau karyanya Pak Risfan, kalau diakui sebagai

kumpulan pengalaman, sebenarnya juga etnografi. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Dear Sahabats,

>

> Postingnya diulangi, alamat email referensi agak keliru pada email

sebelumnya, untuk menyampaikan gagasan di bawah ini:

>

> Pak Eka, tentang etnografi memang sudah sangat terkenal karena itu

> bagian dari tradisi kuno dalam pengamatan lapangan. Dalam disertasi

> saya memperkenalkan istilah baru, yang masih baru dan belum banyak

> dikenal, yaitu FENOMENOGRAFI untuk menjadi key stone dalam

> fenomenologi. Ini hal baru dan masih diperjuangkan, bahwa

> antropolog/etnolog mengerjakan etnografi, lha fenomenolog menghasilkan

> fenomenografi. Ini langkah nekad, bersaing dengan dedengkot tradisi

> riset lapangan !!! Mohon dukungan para sahabat semua

heheeheheheee. ....

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Sat, 2/6/10, Djarot Purbadi dpurb...@... wrote:

>

> From: Djarot Purbadi dpurb...@...

> Subject: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?

> To: perkot...@yahoogrou ps.com

> Date: Saturday, February 6, 2010, 7:56 AM

>

> Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh

usaha ilmu pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya

hanya mengkaji sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan

kepada para filsuf untuk merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi

pemahaman realitas yang lebih mendalam, semakin mendalam dari waktu ke

waktu. Konon nih, filsuf berangkat dari pertanyaan dan berakhir dengan

pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan berangkat dari pertanyaan dan

berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya merefleksikan, ilmuwan tugasnya

mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan pertanyaan filsafati.

Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan minggu pertama

yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho Pak....jadi masih

ingat.

>

> Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu

dicermati benar-benar

> topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee.....

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Sat, 2/6/10, ffekadj 4ek...@... wrote:





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke