Pak Yando dan Pak Kea serta sahabat semua,

Saya mungkin memang melihat etnografi sebagai sesuatu yang kuno, tetapi dalam 
semangat positif, bukan ingin menghilangkan lho. Saya ingin fenomenologi 
sebagai paradigma dan metoda penelitian memiliki kelengkapan seperti yang lain. 
Dalam pandangan saya, fenomenologi sebagai strategi penelitian dan metoda 
penelitian memang berlandaskan filsafat fenomenologi. Mereka berbeda tetapi 
sama, yang satu sebuah spekulasi filsafat, yang lain sudah menjadi strategi dan 
metoda penelitian. Saya kira disini permasalahannya. Masalah lain, tentunya ada 
reaksi (minimal tanda tanya) di kalangan antropologi, ada apa ini kok 
memunculkan istilah baru secara ujug-ujug....etnografi kan sudah dikenal di 
seluruh dunia dan sudah melintas waktu yang panjang, masak ini ada "bayi wingi 
sore" berani-berani mengusik kemapanan....

Dalam beberapa waktu akan saya beberkan bagian disertasi saya yang menjelaskan 
tentang fenomenografi itu....hehehehe....sebab sekarang baru revisi hampir 
selesai. Menurut Pak Iwan Sudrajat, saya diminta tidur siangnya dikurangi biar 
segera selesai studinya secara tuntas !!!!

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 2/7/10, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?
To: [email protected]
Date: Sunday, February 7, 2010, 11:55 PM







 



  


    
      
      
      












Uda Eka yb.,
Saya setuju bahwa kita boleh2 saja mendeklarasikan sesuatu yg baru. Namun, 
sependek pengamatan saya melalui ruang maya ini, apa2 yg telah disampaikan mas 
Djarot sejauh ini ya sama saja dgn apa yg saya pahami ttg etnografi. Setidaknya 
mirip2 dgn apa yg disebut Geertz sbgai 'thick description' . Maka ingin tau jg 
lbh jauh mengapa etnografi cq thick description dipandang kuno sehingga perlu 
menggagas fenomenografi. Tentu kita tdk bisa begitu saja menyederhanakan 
etnografi sbgai yg termuat dlm buku 'manusia dan kebudayaan di Indonesia' 
suntingan Prof. Koentjaraningrat saja misalnya (meski ttp harus diakui bahwa 
buku ini referensi awal yg penting). Atau 'instan etnografi' (yg ini ledekan 
seorang kolega kepada saya) yg kerap saya hadirkan dlm laporan2 proyek selamj 
ini (maklum, blm punya kesempatan menulis tesis apalagi disertasi. Hehe...)

Maka, sudilah Mas Djarot mendadarkan 'manifesto' tsb lbh jauh.

Salam,
Ryz
Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  "ffekadj" <4ek...@gmail. com>
Date: Sun, 07 Feb 2010 16:28:55 -0000To: <refere...@yahoogrou ps.com>Subject: 
[referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?

 



    
      
      
      

Silahkan Pak Yando berbagi pemahaman dan pandangan, juga untuk

meluruskan. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, r.y.zakaria@ ... wrote:

>

> Uda Eka n Mas Djarot yb.,

>

> Sekedar intermezo ya: jangan lebay plizzz...

>

> Salam,

> Ryz

>

>

> Powered by Telkomsel BlackBerry®

>

> -----Original Message-----

> From: "ffekadj" 4ek...@...

> Date: Sun, 07 Feb 2010 15:44:40

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?

>

>

> Pak Djarot yang kreatif, boleh-boleh saja mengenalkan istilah baru,

tapi

> kalau lolos dari ujian disertasi, wah ... hehehe ... perlu kenalan

juga

> nih dengan para pengujinya.

>

> Sebenarnya fenomenologi itu ilmu kognisi subyektivisme. Kurang tahu

> kalau berkembang sebagai -grafi, pasti nih Pak Djarot survainya ke abg

> dan gadis2 remaja yang suka nulis 'diary', atau ke komunitas blogger

...

> hehehe ...

>

> Etnografi sendiri sebenarnya istilah yang sudah disepakati umum, dan

> bisa saja dilakukan dengan fenomenologi. Seperti karyanya Machiavelli,

> Adam Smith, sampai dengan pemenang Nobel kemarin (Ostrom), karyanya

> adalah etnografi. Atau karyanya Pak Risfan, kalau diakui sebagai

> kumpulan pengalaman, sebenarnya juga etnografi. Salam.

>

> -ekadj

>

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> >

> > Dear Sahabats,

> >

> > Postingnya diulangi, alamat email referensi agak keliru pada email

> sebelumnya, untuk menyampaikan gagasan di bawah ini:

> >

> > Pak Eka, tentang etnografi memang sudah sangat terkenal karena itu

> > bagian dari tradisi kuno dalam pengamatan lapangan. Dalam disertasi

> > saya memperkenalkan istilah baru, yang masih baru dan belum banyak

> > dikenal, yaitu FENOMENOGRAFI untuk menjadi key stone dalam

> > fenomenologi. Ini hal baru dan masih diperjuangkan, bahwa

> > antropolog/etnolog mengerjakan etnografi, lha fenomenolog

menghasilkan

> > fenomenografi. Ini langkah nekad, bersaing dengan dedengkot tradisi

> > riset lapangan !!! Mohon dukungan para sahabat semua

> heheeheheheee. ....

> >

> > Salam,

> >

> >

> >

> > Djarot Purbadi

> >

> >

> >

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> >

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> >

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> >

> > --- On Sat, 2/6/10, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> >

> > From: Djarot Purbadi dpurbadi@

> > Subject: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?

> > To: perkot...@yahoogrou ps.com

> > Date: Saturday, February 6, 2010, 7:56 AM

> >

> > Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh

> usaha ilmu pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya

> hanya mengkaji sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan

> kepada para filsuf untuk merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi

> pemahaman realitas yang lebih mendalam, semakin mendalam dari waktu ke

> waktu. Konon nih, filsuf berangkat dari pertanyaan dan berakhir dengan

> pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan berangkat dari pertanyaan dan

> berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya merefleksikan, ilmuwan tugasnya

> mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan pertanyaan filsafati.

> Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan minggu pertama

> yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho Pak....jadi

masih

> ingat.

> >

> > Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu

> dicermati benar-benar

> > topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee.....

> >

> > Salam,

> >

> >

> >

> > Djarot Purbadi

> >

> >

> >

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> >

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> >

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> >

> > --- On Sat, 2/6/10, ffekadj 4ekadj@ wrote:

>





    
     

    










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke