Pak Djarot ysh, terima kasih atas pemaparannya, dan kelihatannya ada lanjutannya. Saya hanya membingkai dalam 3 paradigma besar keilmuan: 1) positivisme, 2) interpretisme/konstruksivisme(/fenomenologi), dan 3) critical. Untuk postmodernisme masih ditolak banyak pendapat untuk menjadi paradigma ke-4. Pembagian ini didasarkan pada realitas ilmu-ilmu dalam menghadapi persoalan dunia. Dari catatan saya, tipikal positivisme di antaranya: a) obyektivitas di luar individu, b) bisa dipersepsi melalui panca indra dan diseragamkan, c) bebas nilai, dst. Bila konsep sosiologi Comte masuk disini, maka manusia disamakan dengan alam. Sebenarnya ilmu-ilmu sosial masuk ke dalam paradigma kedua, di antaranya karena realitas menjadi subyektif dan menonjolnya peran pemaknaan.
Sementara demikian pak, mohon dilanjutkan dan juga ditanggapi Pak Yando. Salam. -ekadjc --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Eka dan Pak Yando, > > Dalam kesadaran saya saat ini sedang terjadi proses untuk memahami antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Ada semuah pernyataan yang mengatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu-ilmu. Konon ilmu fisika awalnya adalah berasal dari filsafat alam, yaitu sebuah kegiatan "spekulatif" memandang alam. Setelah filsafat dapat "diturunkan" dari refleksi filsafati menjadi cara pandang tentang alam, maka perkembangan berikutnya mengarah kepada munculnya metodologi. Kebetulan saja fisika selain didasari filsafat tentang alam juga dipengaruhi oleh positivisme, sebuah aliran pemikiran yang sangat mempercayai pancaindra (pengamatan indrawi) sebagai sumber pengetahuan. > > Cara yang sama tampaknya ditiru oleh sosiologi, yang pada awalnya juga berawal dari perenungan tentang situasi kehidupan bersama masyarakat manusia, alias filsafat sosial. Selanjutnya juga turun ke arah ilmu, menjadi paradigma dalam memandang fenomena kehidupan masyarakat. Kebetulan saja pada waktu itu (jamannya August Comte) pengaruh fisika dan positivisme begitu kuat sehingga sosiologi berkarakter "fisika-sosial" yang sangat positivistik dan kuantitatifistik. Sampai pada suatu saat sosiologi yang seperti ini mendapat kritik keras dari para ilmuwan di Frankfurt, yang melihat teori-teori sosiologi cenderung menjadi "teori tradisional", yaitu yang hanya mengatakan/memaparkan apa adanya serta tidak kritis terhadap apa yang ada di balik yang apa adanya itu. Dari kritik dan diskursus di Jerman itulah lahir sosiologi-kritis yang melihat "ada sesuatu" dibalik teori atau hasil penyelidikan ilmiah. > > Antropologi kalau tidak salah juga berawal dari filsafat antropologi (filsafat tentang manusia), kemudian mendapat pengaruh empirisme dan rasionalisme, hingga kita temukan bentuknya seperti yang saat ini ada (mohon pencerahan dari Pak Yando tentang sejarah ilmu antropologi ini). Dari paparan "sejarah" ilmu yang dikaitkan dengan filsafat sebagai ibunya, akan tampak bahwa ilmu yang kita geluti memiliki dasar-dasar filsafati yang kuat dan mantap. Nah usaha saya sepertinya mirip dengan sosiologi, misalnya, yang pernah saya gagas dari arsitektur yang tradisional bergerak ke "arsitektur kritis" berkat pengaruh fenomenologi. > > Masalahnya agak berbeda, jika sosiologi kritis dikaitkan dengan "gagasan emansipatoris" ada di balik teori, sementara arsitektur kritis cenderung dikaitkan dengan keberadaan "dimensi transenden" yang diusung oleh fenomenologi. Tentang fenomenologi sendiri sebenarnya adalah empirisme "lebih lanjut" yang mengakui tiga dimensi realitas, yaitu dimensi visual, dimensi rasional dan dimensi transenden (tidak selalu mistik, melainkan tentang hakekat dibalik yang visual dan rasional). Jika digabungkan fenomenologi dengan filsafat sosiologi kritis, tampaknya akan lebih berdaya karena akan mengakui keberadaan dimensi transenden dan intensi emansipatoris. > > Tampaknya dalam menjalankan ilmu, kita memang perlu memahami akar-akar filsafatinya, yang memberi jiwa dan karakter ilmu yang kita kembangkan. Sementara demikian. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Sun, 2/7/10, ffekadj 4ek...@... wrote: > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah? > To: [email protected] > Date: Sunday, February 7, 2010, 10:44 PM > > Pak Djarot yang kreatif, boleh-boleh saja mengenalkan istilah baru, tapi > > kalau lolos dari ujian disertasi, wah ... hehehe ... perlu kenalan juga > > nih dengan para pengujinya. > > > > Sebenarnya fenomenologi itu ilmu kognisi subyektivisme. Kurang tahu > > kalau berkembang sebagai -grafi, pasti nih Pak Djarot survainya ke abg > > dan gadis2 remaja yang suka nulis 'diary', atau ke komunitas blogger ... > > hehehe ... > > > > Etnografi sendiri sebenarnya istilah yang sudah disepakati umum, dan > > bisa saja dilakukan dengan fenomenologi. Seperti karyanya Machiavelli, > > Adam Smith, sampai dengan pemenang Nobel kemarin (Ostrom), karyanya > > adalah etnografi. Atau karyanya Pak Risfan, kalau diakui sebagai > > kumpulan pengalaman, sebenarnya juga etnografi. Salam. > > > > -ekadj > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote: > > > > > > Dear Sahabats, > > > > > > Postingnya diulangi, alamat email referensi agak keliru pada email > > sebelumnya, untuk menyampaikan gagasan di bawah ini: > > > > > > Pak Eka, tentang etnografi memang sudah sangat terkenal karena itu > > > bagian dari tradisi kuno dalam pengamatan lapangan. Dalam disertasi > > > saya memperkenalkan istilah baru, yang masih baru dan belum banyak > > > dikenal, yaitu FENOMENOGRAFI untuk menjadi key stone dalam > > > fenomenologi. Ini hal baru dan masih diperjuangkan, bahwa > > > antropolog/etnolog mengerjakan etnografi, lha fenomenolog menghasilkan > > > fenomenografi. Ini langkah nekad, bersaing dengan dedengkot tradisi > > > riset lapangan !!! Mohon dukungan para sahabat semua > > heheeheheheee. .... > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > --- On Sat, 2/6/10, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: > > > > > > From: Djarot Purbadi dpurbadi@ > > > Subject: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah? > > > To: perkot...@yahoogrou ps.com > > > Date: Saturday, February 6, 2010, 7:56 AM > > > > > > Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh > > usaha ilmu pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya > > hanya mengkaji sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan > > kepada para filsuf untuk merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi > > pemahaman realitas yang lebih mendalam, semakin mendalam dari waktu ke > > waktu. Konon nih, filsuf berangkat dari pertanyaan dan berakhir dengan > > pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan berangkat dari pertanyaan dan > > berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya merefleksikan, ilmuwan tugasnya > > mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan pertanyaan filsafati. > > Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan minggu pertama > > yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho Pak....jadi masih > > ingat. > > > > > > Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu > > dicermati benar-benar > > > topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee..... > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > --- On Sat, 2/6/10, ffekadj 4ekadj@ wrote: >

