Mas Djarot ysh,

Kalau pakai bahasa lugasnya, masih banyak ilmuwan yang bersifat sektoral
disamping yang tidak percaya bahwa salah satu ilmu dapat dijadikan primadona
untuk mengupas sektor lainnya sehingga lebih menyukai yang anda bilang ilmu
selingkuh tersebut. Menurut saya semua sah-sah saja, karena relatif kepada
konteks apa yang sedang dihadapi atau dalam proses pendalaman apa. Jadi kata
kuncinya adalah apa dan mengapa.

Di psikologi ada psikologi lingkungan, di arsitektur ada psikologi
arsitektur, di sosiologi ada antropologi sosial, psikologi sosial atau
ekonomi sosial, di lingkungan ada ekologi manusia yang berbeda dengan
ekologi sosial, bahkan environmentalisme versus deep ekologi, di ekonomi ada
kesejahteraan tempat (place prosperity) versus kesejahteraan rakyat (people
prosperity), dsb. Sebagai contoh, pengamat aspek fisik (misalnya arkaelog
yang tidak selalu memperoeh akses atau informasi kehidupan pengguna
produk-produk masa lalu) tapi cinta gejala yang teramati maupun dibaliknya
tidak hanya menggunakan penelusuran hermeunetik namun sekaligus juga
fenomenologis, kemudian lahirlah nama gabungan kedua pendekatan tersebut
(hermeneutik-fenomenology). Posmo sendiri (atau nama-nama ilmu-ilmu kritis
lainnya) sesungguhnya cuma suatu nama yang tidak harus dibakukan melalui
arti kata yang digunakan untuk menstrukturisasi nama tersebut, termasuk
belum tentu sungguh-sungguh berbeda daripada yang di "post" kannya..

Pemikiran-pemikiran filosofis masa lalu di suatu tempat dan kultur tertentu
sendiri tentu tidak dapat diterima begitu saja ke dalam lingkungan dan masa
yang berbeda. Ketidak sesuaian yang ditemukan melahirkan paradigma baru yang
pada waktu-ruang kultur tertentu dapat menggantikan paradigma ilmu yang
semula diduga secara konseptual paling gayut atau lebih kontekstual oleh
kelompok pemikir setempat.

Demikian juga teori-teori tentang fenomena, fenomeologi, fenomenografi, atau
cabang-cabang lainnya juga berkembang sesuai temuan dan pemikiran baru dari
generasi selanjutnya. Yang penting adalah agar kita tidak terjebak dalam
kekakuan ilmu yang sudah mapan karena manusia dan tempat hidupnya selalu
berubah. Apalagi pemikiran antroposentrik cenderung selalu mencari yang baru
atau sekadar berbeda. Kemampuan mempertahankan keunggulan temuan teori baru
atau berbeda tersebut yang menentukan novelty dari penemunya.

Selamat menelusuri jalan berbasis keraguan, karena konon orang bilang hanya
melalui keraguan dapat dilahirkan orang bijak. Walau sidia sendiri tidak
pernah merasa bijak, karena selalu ragu atas kebenaran sesuatu...Dalam
kondisi ini, kaki satunya harus leih membumi, karena dari membumi dapat
ditemukan atau lahir berbagai peluang kebenaran baru....

Salam,
ATA


2010/2/9 R. Yando Zakaria <[email protected]>

>
>
>  Persis Mas Djarot! Itulah situasi kekiniannya.
>
>
>
> Maka, dapat dimaklumi kan jika saya agak merasa ‘risi’ jika masih muncul
> argumen-argumen yang ‘head to head’ mempertentangkan antara filsafat ve
> antropologi, antropologi vs sosiologi, dan seterusnya. Apa lagi yang ‘kerap’
> disampaikan Pak Risfan: ilmu ekonomi (seolah pasti kapitalis) dan Ilmu
> sosial (seolah pasti sosialis) bebertapa waktu lalu (dan juga pernah
> disampaikan dan saya sanggah 3 – 4 tahun lalu). Sama sekali saya bukan ahli
> perkembangan ilmu pengetahuan. Namun tidak sulit juga untuk mengenali dan
> memahami adanya keberagaman pada masing-masing (menurut orang Betawi, yang
> kadung) tergolong ke dalam disiplin ilmu yang berbeda. Sebagai contoh, saat
> ini, di dalam antropologi pun, yang secara tradisi bertumpu pada pendekatan
> kualitatif, ada spesialisasi ‘mathematical anthropology’ (sekedar
> menunjukkan sesuatu yang ekstrim). Pertempuran pada masing-masing disiplin
> ini ya ‘berdarah-darah’ juga kan?
>
>
>
> Bebeda sedikit dengan Mas Djarot, ingin saya katakan bahwa yang terjadi
> bukanlah perselingkuhan dan atau ‘perkawinan, ataupun perkelahian’ antar
> ilmu (jika diasumsikan yang dimaksud dengan ilmu itu adalah filsafat,
> antropologi, ekonomi, dan sejenisnya), melainkan perselingkuhan, perkawinan,
> dan perkelahian (tambahan dari saya) antar paradigma berpikir (filasafat
> pemikiran?) itu sendiri.  Bahwa alumunus FE se-Indonesia cenderung
> berfikiran kapitalistik (makanya saya maklum juga Pak Risfan tergelincir
> dalam kasus ini). Itu lebih sebagai akibat dari sejarah pengajaran Ilmu
> Ekonomi (dan Studi-studi Pembangunan)n di negeri ini. Meski begitu toh kita
> masih memiliki ekonom-ekonom yang ‘tidak mainstream’ semacam Sritua Arif
> (Alm.), Revrison Baswir (saat ini), ataupun ekonom macam (mantan Romo)
> Francis Wahono, mantan kolega Mas Djarod di USD Yogya.
>
>
>
> Begitu pula, dulu, mahasiswa di Jurusan Antropologi dan Jurusan Sosiologi
> dengan mudah menjawab apa perbedaan antar kedua disipilin itu (sebagaimana
> yang Mas Djarot jelaskan di bawah, meski menurut pemahaman saya Antropologi
> lebih berpangkal pada catatan-catatan ‘para musafir’, sehingga lebih
> bersifat ‘empiris’ meski tidak tertutup kemungkinan mendapat pengaruh dari
> filsafat pemikiran tertentu).
>
>
>
> Saya setuju dengan Mas Djarot: bagi saya ‘para ilmuwan (yang) masih merasa
> nyaman, mapan dan gemar tinggal di dalam "beteng keilmuan" yang dibangunnya
> sendiri dengan sudah payah dan tidak terbuka pada perkembangan baru’,
> termasuk ‘generalisai head to head yang sembrono’ sebagaimana yang  saya
> singgung pada awal posting ini, adalah orang-orang yang merugi, jika terlalu
> keras untuk mengatakannya mencelakakan kehidupan ini;-)
>
>
>
> Salam,
>
> ryz
>
>
>
> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On
> Behalf Of *Djarot Purbadi
> *Sent:* 09 Februari 2010 8:26
> *To:* [email protected]
> *Cc:* sudaryono sastrosasmito
> *Subject:* Re: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong Masalah ?
>
>
>
>
>
> Pak Eka, ada teks dalam kuliah filsafat ilmu yang menjelaskan bahwa
> ilmu-ilmu saling berselingkuh (istilah saya) bahkan saling kawin (istilah
> saya juga) atau saling bertemu (istilah umum dalam buku teks). Jika pada
> awalnya para ilmuwan bersikukuh dengan paradigma yang amat diyakininya,
> sampai sangat fanatik, terlihat pada kuatnya positivisme versus rasionalisme
> di masa lalu, kemudian diperdamaikan oleh Imanuel Kant, maka gejala itu
> sampai sekarang masih tampak juga. Sikap-sikap konvensional ini masih
> membayangi munculnya kreativitas baru, yang nyatanya ilmu-ilmu saling
> "kawin-mawin" (istilah dari Timor nih) dengan sangat leluasa. Artinya,
> ilmu-ilmu sudah merasa tidak bisa sendirian lagi dalam menghadapi persoalan
> kehidupan dalam era kekinian yang semakin kompleks. Jika situasinya adalah
> para ilmuwan masih merasa nyaman, mapan dan gemar tinggal di dalam "beteng
> keilmuan" yang dibangunnya sendiri dengan sudah payah dan tidak terbuka pada
> perkembangan baru, yang kadang-kadang "melawan" frame keilmuan konvensional
> yang sudah "mendarah daging" itu artinya melawan trend kehidupan yang
> menjadi labo bagi ilmu-ilmu.
>
> Bagi saya sendiri, saya memaknai begini: begitu detik ujian terbuka
> selesai, saya menganggap penelitian fenomenologi dengan paradigma Husserlian
> yang saya gunakan di Kaenbaun sudah purna. Jika saya masih menggunakannya
> itu dalam rangka merawat dan mengembangkannya dan jika ada yang mengikuti
> jejak saya itu adalah sebuah berkah karena followernya bertambah. Tugas saya
> berikutnya adalah, "meninggalkan yang lama" dan khususnya bergerak ke arah
> bagaimana menemukan kebaruan berikutnya dari penelitian dengan fenomenologi
> yang sudah saya anggap selesai itu, siapa tahu kebaruan justru akan muncul
> jika berselingkuh dengan ilmu lain !!!!
>
> Perburuan tidak akan pernah selesai, sebab tugas ilmuwan saya kira memang
> mengembangkan ilmu supaya semakin bermanfaat bagi kehidupan secara
> keseluruhan. Nah, perselingkuhan ilmu-ilmu ini seringkali dikategorikan ke
> dalam pos-modernisme. Jadi keluasan pos-modernisme ini masih sangat luar
> biasa dibandingkan dengan "pulau-pulau keilmuan" yang gemar dipertahankan
> oleh para ilmuwan konvensional. Dengan memasuki dunia nan luas di luar
> pulau-pulau ini kita memang memasuki ladang pertarungan baru, yang tidak
> pernah terbayangkan sebelumnya.....khususnya "melawan" para ilmuwan yang
> bertahan di beteng-beteng mereka !!!!
>
> Tampaknya perang persepsi yang dibabarkan Pak Risfan juga terjadi dalam
> bidang pengembangan ilmu. Persepsi yang bertarung adalah "ilmu for the sake
> of ilmu" melawan "ilmu for life". Apakah begitu paman guru ????
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Tue, 2/9/10, ffekadj <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: ffekadj <[email protected]>
> Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong Masalah ?
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, February 9, 2010, 5:55 AM
>
>
>
>
> Pak Djarot ysh, terima kasih atas pemaparannya, dan kelihatannya ada
> lanjutannya. Saya hanya membingkai dalam 3 paradigma besar keilmuan: 1)
> positivisme, 2) interpretisme/ konstruksivisme( /fenomenologi) , dan 3)
> critical. Untuk postmodernisme masih ditolak banyak pendapat untuk
> menjadi paradigma ke-4. Pembagian ini didasarkan pada realitas ilmu-ilmu
> dalam menghadapi persoalan dunia. Dari catatan saya, tipikal positivisme
> di antaranya: a) obyektivitas di luar individu, b) bisa dipersepsi
> melalui panca indra dan diseragamkan, c) bebas nilai, dst. Bila konsep
> sosiologi Comte masuk disini, maka manusia disamakan dengan alam.
> Sebenarnya ilmu-ilmu sosial masuk ke dalam paradigma kedua, di antaranya
> karena realitas menjadi subyektif dan menonjolnya peran pemaknaan.
>
> Sementara demikian pak, mohon dilanjutkan dan juga ditanggapi Pak Yando.
> Salam.
>
> -ekadjc
>
> --- In refere...@yahoogrou 
> ps.com<http://mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>,
> Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:
> >
> > Pak Eka dan Pak Yando,
> >
> > Dalam kesadaran saya saat ini sedang terjadi proses untuk memahami
> antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Ada semuah pernyataan yang
> mengatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu-ilmu. Konon ilmu fisika
> awalnya adalah berasal dari filsafat alam, yaitu sebuah kegiatan
> "spekulatif" memandang alam. Setelah filsafat dapat "diturunkan" dari
> refleksi filsafati menjadi cara pandang tentang alam, maka perkembangan
> berikutnya mengarah kepada munculnya metodologi. Kebetulan saja fisika
> selain didasari filsafat tentang alam juga dipengaruhi oleh positivisme,
> sebuah aliran pemikiran yang sangat mempercayai pancaindra (pengamatan
> indrawi) sebagai sumber pengetahuan.
> >
> > Cara yang sama tampaknya ditiru oleh sosiologi, yang pada awalnya juga
> berawal dari perenungan tentang situasi kehidupan bersama masyarakat
> manusia, alias filsafat sosial. Selanjutnya juga turun ke arah ilmu,
> menjadi paradigma dalam memandang fenomena kehidupan masyarakat.
> Kebetulan saja pada waktu itu (jamannya August Comte) pengaruh fisika
> dan positivisme begitu kuat sehingga sosiologi berkarakter
> "fisika-sosial" yang sangat positivistik dan kuantitatifistik. Sampai
> pada suatu saat sosiologi yang seperti ini mendapat kritik keras dari
> para ilmuwan di Frankfurt, yang melihat teori-teori sosiologi cenderung
> menjadi "teori tradisional" , yaitu yang hanya mengatakan/memapark an apa
> adanya serta tidak kritis terhadap apa yang ada di balik yang apa adanya
> itu. Dari kritik dan diskursus di Jerman itulah lahir sosiologi-kritis
> yang melihat "ada sesuatu" dibalik teori atau hasil penyelidikan ilmiah.
> >
> > Antropologi kalau tidak salah juga berawal dari filsafat antropologi
> (filsafat tentang manusia), kemudian mendapat pengaruh empirisme dan
> rasionalisme, hingga kita temukan bentuknya seperti yang saat ini ada
> (mohon pencerahan dari Pak Yando tentang sejarah ilmu antropologi ini).
> Dari paparan "sejarah" ilmu yang dikaitkan dengan filsafat sebagai
> ibunya, akan tampak bahwa ilmu yang kita geluti memiliki dasar-dasar
> filsafati yang kuat dan mantap. Nah usaha saya sepertinya mirip dengan
> sosiologi, misalnya, yang pernah saya gagas dari arsitektur yang
> tradisional bergerak ke "arsitektur kritis" berkat pengaruh
> fenomenologi.
> >
> > Masalahnya agak berbeda, jika sosiologi kritis dikaitkan dengan
> "gagasan emansipatoris" ada di balik teori, sementara arsitektur kritis
> cenderung dikaitkan dengan keberadaan "dimensi transenden" yang diusung
> oleh fenomenologi. Tentang fenomenologi sendiri sebenarnya adalah
> empirisme "lebih lanjut" yang mengakui tiga dimensi realitas, yaitu
> dimensi visual, dimensi rasional dan dimensi transenden (tidak selalu
> mistik, melainkan tentang hakekat dibalik yang visual dan rasional).
> Jika digabungkan fenomenologi dengan filsafat sosiologi kritis,
> tampaknya akan lebih berdaya karena akan mengakui keberadaan dimensi
> transenden dan intensi emansipatoris.
> >
> > Tampaknya dalam menjalankan ilmu, kita memang perlu memahami akar-akar
> filsafatinya, yang memberi jiwa dan karakter ilmu yang kita kembangkan.
> Sementara demikian.
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk. wordpress. com <http://realmwk.wordpress.com> [Blog
> Resmi MWK]
> >
> > http://forumriset. wordpress. com <http://forumriset.wordpress.com>[Blog 
> > Resmi APRF]
> >
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. 
> > com<http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com>
> >
> > --- On Sun, 2/7/10, ffekadj 4ek...@... wrote:
> >
> > From: ffekadj 4ek...@...
> > Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?
> > To: refere...@yahoogrou 
> > ps.com<http://mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>
> > Date: Sunday, February 7, 2010, 10:44 PM
> >
> > Pak Djarot yang kreatif, boleh-boleh saja mengenalkan istilah baru,
> tapi
> >
> > kalau lolos dari ujian disertasi, wah ... hehehe ... perlu kenalan
> juga
> >
> > nih dengan para pengujinya.
> >
> >
> >
> > Sebenarnya fenomenologi itu ilmu kognisi subyektivisme. Kurang tahu
> >
> > kalau berkembang sebagai -grafi, pasti nih Pak Djarot survainya ke abg
> >
> > dan gadis2 remaja yang suka nulis 'diary', atau ke komunitas blogger
> ...
> >
> > hehehe ...
> >
> >
> >
> > Etnografi sendiri sebenarnya istilah yang sudah disepakati umum, dan
> >
> > bisa saja dilakukan dengan fenomenologi. Seperti karyanya Machiavelli,
> >
> > Adam Smith, sampai dengan pemenang Nobel kemarin (Ostrom), karyanya
> >
> > adalah etnografi. Atau karyanya Pak Risfan, kalau diakui sebagai
> >
> > kumpulan pengalaman, sebenarnya juga etnografi. Salam.
> >
> >
> >
> > -ekadj
> >
> >
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:
> >
> > >
> >
> > > Dear Sahabats,
> >
> > >
> >
> > > Postingnya diulangi, alamat email referensi agak keliru pada email
> >
> > sebelumnya, untuk menyampaikan gagasan di bawah ini:
> >
> > >
> >
> > > Pak Eka, tentang etnografi memang sudah sangat terkenal karena itu
> >
> > > bagian dari tradisi kuno dalam pengamatan lapangan. Dalam disertasi
> >
> > > saya memperkenalkan istilah baru, yang masih baru dan belum banyak
> >
> > > dikenal, yaitu FENOMENOGRAFI untuk menjadi key stone dalam
> >
> > > fenomenologi. Ini hal baru dan masih diperjuangkan, bahwa
> >
> > > antropolog/etnolog mengerjakan etnografi, lha fenomenolog
> menghasilkan
> >
> > > fenomenografi. Ini langkah nekad, bersaing dengan dedengkot tradisi
> >
> > > riset lapangan !!! Mohon dukungan para sahabat semua
> >
> > heheeheheheee. ....
> >
> > >
> >
> > > Salam,
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > Djarot Purbadi
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > >
> >
> > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > >
> >
> > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> >
> > >
> >
> > > --- On Sat, 2/6/10, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> >
> > >
> >
> > > From: Djarot Purbadi dpurbadi@
> >
> > > Subject: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?
> >
> > > To: perkot...@yahoogrou ps.com
> >
> > > Date: Saturday, February 6, 2010, 7:56 AM
> >
> > >
> >
> > > Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh
> >
> > usaha ilmu pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya
> >
> > hanya mengkaji sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan
> >
> > kepada para filsuf untuk merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi
> >
> > pemahaman realitas yang lebih mendalam, semakin mendalam dari waktu ke
> >
> > waktu. Konon nih, filsuf berangkat dari pertanyaan dan berakhir dengan
> >
> > pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan berangkat dari pertanyaan dan
> >
> > berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya merefleksikan, ilmuwan tugasnya
> >
> > mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan pertanyaan filsafati.
> >
> > Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan minggu pertama
> >
> > yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho Pak....jadi
> masih
> >
> > ingat.
> >
> > >
> >
> > > Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu
> >
> > dicermati benar-benar
> >
> > > topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee.....
> >
> > >
> >
> > > Salam,
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > Djarot Purbadi
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > >
> >
> > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > >
> >
> > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> >
> > >
> >
> > > --- On Sat, 2/6/10, ffekadj 4ekadj@ wrote:
> >
>
>
>
>   
>

Kirim email ke