Rekans ysh,
 
Pak Yando, terima kasih atas koreksinya. Namun pembicaraan saya dengan Pak 
Djarot/Ekadj konsteksnya beda. Beliau berdua bicara dalam konteks studi, 
apalagi menulis Disertasi.  Sedang saya bicara dalam konteks praktisi 
perencanaan yang tiap saat harus ketemu audiens dengan latar belakang yang 
berbeda.
 
Sebagai konsultan perencanaan pembangunan, yang katanya multi-sektor, tiap 
menghadapi audiens, forum, mesti cepat mengidentifikasi orang dengan latar 
belakangnya. Supaya siap, memilih 'pintu masuk' yang pas, dan menjawab 
masing-masing sesuai latar belakang mereka. Tidak ada pilihan lain dalam waktu 
cepat mesti menyederhanakan. Apakah mereka ekonom, sosiolog, antropolog (yang 
di UI FISIP, di UGM FIB, ini soal lain lagi), environmentalist, insinyur sipil, 
arsitek, planolog, statistician, ahli kelembagaan, manajemen bisnis, dst. Atau 
menurut kantornya: instansi sektoral, bappenas, depdagri, Pemda, LSM. Ada yang 
hobinya demokrasi, good-governance, ada yang hobinya NKRI, dst. 
Apakah saya akan menganggap mereka semua sama? Tentu tidak, tapi kaku seperti 
stereotyping juga tidak bisa. Tapi tetap harus pakai asumsi sebagai pegangan 
cepat supaya presentasi dan argumentasi lebih efektif. (Apalagi dalam 
kenyataan, mereka sering tidak peduli presentasi atau hasil studi kita. Mereka 
sudah menyiapkan pertanyaan sesuai latar belakang dan instansinya). 
 
Memang kalau bicara keilmuan, setahu saya (yang bukan ilmuwan) sistem keilmuan 
kan seperti "roda pedati". Pada porosnya ada filsafat, yang jadi sumber atau 
common source semua ilmu. (makanya lulus S3 gelarnya PhD?). Lalu makin menjauhi 
mulai menyebar, ilmu-ilmu basic (fisika, life-science, earth-science, dst) pada 
lingkar terdalam. Lalu lingkar lebih luar Ilmu Terapan (Fisika Teknik, Elektro, 
Mesin, dst) yang mulai menggabung beberapa ilmu dan aspek terapan. Lalu lebih 
luar lagi ada bidang-bidang (ilmu?) yang merupakan hybrid dari beberapa ilmu 
terapan.
 
Jangan salahkan saya sebagai praktisi. Institusi pendidikan saja bingung 
menempatkan bidang kajian seperti Studi Pembangunan. Umumnya ditempatkan di FE, 
padahal setahu saya menyangkut unsur kelembagaan, budaya masyarakat, sosiologi 
(?). juga geografi. Di perguruan tinggi, juga di DJ Pendidikan Tinggi 
menggunakan "nomenklatur", yang kalau satu bidang "tidak termasuk ini, tidak 
termasuk itu", kata mereka ya tutup saja. Mungkin logika ini juga yang membuat 
Planologi berganti nama jadi PWK. Karena kalau Dikti melihat acuannya di 
berbagai negara namanya memang "Urban & Regional Planning".
 
Ada pengalaman teman saya, dia  pengen studi S-3 bidang "Pengembangan 
Organisasi (Bisnis) dan SDM" dikaitkan dengan aspek Gender sebagai fokus. Dia 
mendaftar di universitas (bukan institut) ternama di negeri ini. Ternyata sulit 
mencari Fakultas yang mewadahinya. Mendaftar ke FE, setelah presentasi 
proposal, diterima tapi mereka minta ambil ekonomi (murni) dan ekonometri 
sekian semester, padahal teman ini jelas memilih tema tema kajian kualitatif. 
Ke FISIP, mereka bilang tak ada program Manajemen untuk S-3, dan kajian Gender 
punya tempat lain lagi. Ke F-Psikologi jawabannya juga sama, program S3 mereka 
terbatas tidak mencakup tema tsb. Rata-rata profesor yang menginterview bilang, 
tolong ambil di fakultas satunya, nanti dia akan bersedia bantu, jadi 
co-promotor atau apa namanya, artinya berminat mendukung tapi lembaganya tak 
memungkinkan. Akhirnya teman saya ini ya harus memilih satu, dengan risiko 
menghabiskan banyak waktu untuk ilmu yang bukan
 yang dibutuhkannya. Dengan kata lain, para profesor pun tak bisa dengan mudah 
melintasi tembok-tembok ilmu, mungkin tak mau, mungkin birokrasi pendidikan 
membatasinya.
 
Sekali lagi, sebagai yang bergerak di bidang perencanaan pembangunan 
(kota/daerah), maunya tentu perpegang pada patokan  'multi-disiplin', tapi ini 
membutuhkan kiat tersendiri, karena pada dasarnya ilmu punya sumber-sumber yang 
berbeda. Komunitas keilmuan juga punya stereotype masing-masing, suka tidak 
suka. Di kalangan sarjana teknik saja kalau kita jeli mudah kok melihat 
kecenderungan perilaku tiap jurusan, ekstremnya: orang tambang jelas beda 
dengan orang farmasi. Orang PWK dengan astronomi. Kalau lebih kenal lagi, akan 
bisa mengenali perbedaan tipis antara orang PWK dan Arsitek, Elektro dan 
Informatika, Mesin dengan Teknik Industri, Fisika dengan Fisika Teknik, dst.Ya 
tindakannya, ya pola pikirnya.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
--- On Mon, 2/8/10, R. Yando Zakaria <[email protected]> wrote:


From: R. Yando Zakaria <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong Masalah ?
To: [email protected]
Date: Monday, February 8, 2010, 8:20 PM


  





Persis Mas Djarot! Itulah situasi kekiniannya.
 
Maka, dapat dimaklumi kan jika saya agak merasa ‘risi’ jika masih muncul 
argumen-argumen yang ‘head to head’ mempertentangkan antara filsafat ve 
antropologi, antropologi vs sosiologi, dan seterusnya. Apa lagi yang ‘kerap’ 
disampaikan Pak Risfan: ilmu ekonomi (seolah pasti kapitalis) dan Ilmu sosial 
(seolah pasti sosialis) bebertapa waktu lalu (dan juga pernah disampaikan dan 
saya sanggah 3 – 4 tahun lalu). Sama sekali saya bukan ahli perkembangan ilmu 
pengetahuan. Namun tidak sulit juga untuk mengenali dan memahami adanya 
keberagaman pada masing-masing (menurut orang Betawi, yang kadung) tergolong ke 
dalam disiplin ilmu yang berbeda. Sebagai contoh, saat ini, di dalam 
antropologi pun, yang secara tradisi bertumpu pada pendekatan kualitatif, ada 
spesialisasi ‘mathematical anthropology’ (sekedar menunjukkan sesuatu yang 
ekstrim). Pertempuran pada masing-masing disiplin ini ya ‘berdarah-darah’ juga 
kan?
 
Bebeda sedikit dengan Mas Djarot, ingin saya katakan bahwa yang terjadi 
bukanlah perselingkuhan dan atau ‘perkawinan, ataupun perkelahian’ antar ilmu 
(jika diasumsikan yang dimaksud dengan ilmu itu adalah filsafat, antropologi, 
ekonomi, dan sejenisnya), melainkan perselingkuhan, perkawinan, dan perkelahian 
(tambahan dari saya) antar paradigma berpikir (filasafat pemikiran?) itu 
sendiri.  Bahwa alumunus FE se-Indonesia cenderung berfikiran kapitalistik 
(makanya saya maklum juga Pak Risfan tergelincir dalam kasus ini). Itu lebih 
sebagai akibat dari sejarah pengajaran Ilmu Ekonomi (dan Studi-studi 
Pembangunan) n di negeri ini. Meski begitu toh kita masih memiliki 
ekonom-ekonom yang ‘tidak mainstream’ semacam Sritua Arif (Alm.), Revrison 
Baswir (saat ini), ataupun ekonom macam (mantan Romo) Francis Wahono, mantan 
kolega Mas Djarod di USD Yogya.
 
Begitu pula, dulu, mahasiswa di Jurusan Antropologi dan Jurusan Sosiologi 
dengan mudah menjawab apa perbedaan antar kedua disipilin itu (sebagaimana yang 
Mas Djarot jelaskan di bawah, meski menurut pemahaman saya Antropologi lebih 
berpangkal pada catatan-catatan ‘para musafir’, sehingga lebih bersifat 
‘empiris’ meski tidak tertutup kemungkinan mendapat pengaruh dari filsafat 
pemikiran tertentu).
 
Saya setuju dengan Mas Djarot: bagi saya ‘para ilmuwan (yang) masih merasa 
nyaman, mapan dan gemar tinggal di dalam "beteng keilmuan" yang dibangunnya 
sendiri dengan sudah payah dan tidak terbuka pada perkembangan baru’, termasuk 
‘generalisai head to head yang sembrono’ sebagaimana yang  saya singgung pada 
awal posting ini, adalah orang-orang yang merugi, jika terlalu keras untuk 
mengatakannya mencelakakan kehidupan ini;-)
 
Salam,
ryz
 


From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of Djarot Purbadi
Sent: 09 Februari 2010 8:26
To: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: sudaryono sastrosasmito
Subject: Re: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong Masalah ?
 
  







Pak Eka, ada teks dalam kuliah filsafat ilmu yang menjelaskan bahwa ilmu-ilmu 
saling berselingkuh (istilah saya) bahkan saling kawin (istilah saya juga) atau 
saling bertemu (istilah umum dalam buku teks). Jika pada awalnya para ilmuwan 
bersikukuh dengan paradigma yang amat diyakininya, sampai sangat fanatik, 
terlihat pada kuatnya positivisme versus rasionalisme di masa lalu, kemudian 
diperdamaikan oleh Imanuel Kant, maka gejala itu sampai sekarang masih tampak 
juga. Sikap-sikap konvensional ini masih membayangi munculnya kreativitas baru, 
yang nyatanya ilmu-ilmu saling "kawin-mawin" (istilah dari Timor nih) dengan 
sangat leluasa. Artinya, ilmu-ilmu sudah merasa tidak bisa sendirian lagi dalam 
menghadapi persoalan kehidupan dalam era kekinian yang semakin kompleks. Jika 
situasinya adalah para ilmuwan masih merasa nyaman, mapan dan gemar tinggal di 
dalam "beteng keilmuan" yang dibangunnya sendiri dengan sudah payah dan tidak 
terbuka pada perkembangan baru,
 yang kadang-kadang "melawan" frame keilmuan konvensional yang sudah "mendarah 
daging" itu artinya melawan trend kehidupan yang menjadi labo bagi ilmu-ilmu.

Bagi saya sendiri, saya memaknai begini: begitu detik ujian terbuka selesai, 
saya menganggap penelitian fenomenologi dengan paradigma Husserlian yang saya 
gunakan di Kaenbaun sudah purna. Jika saya masih menggunakannya itu dalam 
rangka merawat dan mengembangkannya dan jika ada yang mengikuti jejak saya itu 
adalah sebuah berkah karena followernya bertambah. Tugas saya berikutnya 
adalah, "meninggalkan yang lama" dan khususnya bergerak ke arah bagaimana 
menemukan kebaruan berikutnya dari penelitian dengan fenomenologi yang sudah 
saya anggap selesai itu, siapa tahu kebaruan justru akan muncul jika 
berselingkuh dengan ilmu lain !!!!

Perburuan tidak akan pernah selesai, sebab tugas ilmuwan saya kira memang 
mengembangkan ilmu supaya semakin bermanfaat bagi kehidupan secara keseluruhan. 
Nah, perselingkuhan ilmu-ilmu ini seringkali dikategorikan ke dalam 
pos-modernisme. Jadi keluasan pos-modernisme ini masih sangat luar biasa 
dibandingkan dengan "pulau-pulau keilmuan" yang gemar dipertahankan oleh para 
ilmuwan konvensional. Dengan memasuki dunia nan luas di luar pulau-pulau ini 
kita memang memasuki ladang pertarungan baru, yang tidak pernah terbayangkan 
sebelumnya.. ...khususnya "melawan" para ilmuwan yang bertahan di beteng-beteng 
mereka !!!!

Tampaknya perang persepsi yang dibabarkan Pak Risfan juga terjadi dalam bidang 
pengembangan ilmu. Persepsi yang bertarung adalah "ilmu for the sake of ilmu" 
melawan "ilmu for life". Apakah begitu paman guru ????

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Tue, 2/9/10, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:

From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong Masalah ?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, February 9, 2010, 5:55 AM

  


Pak Djarot ysh, terima kasih atas pemaparannya, dan kelihatannya ada
lanjutannya. Saya hanya membingkai dalam 3 paradigma besar keilmuan: 1)
positivisme, 2) interpretisme/ konstruksivisme( /fenomenologi) , dan 3)
critical. Untuk postmodernisme masih ditolak banyak pendapat untuk
menjadi paradigma ke-4. Pembagian ini didasarkan pada realitas ilmu-ilmu
dalam menghadapi persoalan dunia. Dari catatan saya, tipikal positivisme
di antaranya: a) obyektivitas di luar individu, b) bisa dipersepsi
melalui panca indra dan diseragamkan, c) bebas nilai, dst. Bila konsep
sosiologi Comte masuk disini, maka manusia disamakan dengan alam.
Sebenarnya ilmu-ilmu sosial masuk ke dalam paradigma kedua, di antaranya
karena realitas menjadi subyektif dan menonjolnya peran pemaknaan.

Sementara demikian pak, mohon dilanjutkan dan juga ditanggapi Pak Yando.
Salam.

-ekadjc

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:
>
> Pak Eka dan Pak Yando,
>
> Dalam kesadaran saya saat ini sedang terjadi proses untuk memahami
antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Ada semuah pernyataan yang
mengatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu-ilmu. Konon ilmu fisika
awalnya adalah berasal dari filsafat alam, yaitu sebuah kegiatan
"spekulatif" memandang alam. Setelah filsafat dapat "diturunkan" dari
refleksi filsafati menjadi cara pandang tentang alam, maka perkembangan
berikutnya mengarah kepada munculnya metodologi. Kebetulan saja fisika
selain didasari filsafat tentang alam juga dipengaruhi oleh positivisme,
sebuah aliran pemikiran yang sangat mempercayai pancaindra (pengamatan
indrawi) sebagai sumber pengetahuan.
>
> Cara yang sama tampaknya ditiru oleh sosiologi, yang pada awalnya juga
berawal dari perenungan tentang situasi kehidupan bersama masyarakat
manusia, alias filsafat sosial. Selanjutnya juga turun ke arah ilmu,
menjadi paradigma dalam memandang fenomena kehidupan masyarakat.
Kebetulan saja pada waktu itu (jamannya August Comte) pengaruh fisika
dan positivisme begitu kuat sehingga sosiologi berkarakter
"fisika-sosial" yang sangat positivistik dan kuantitatifistik. Sampai
pada suatu saat sosiologi yang seperti ini mendapat kritik keras dari
para ilmuwan di Frankfurt, yang melihat teori-teori sosiologi cenderung
menjadi "teori tradisional" , yaitu yang hanya mengatakan/memapark an apa
adanya serta tidak kritis terhadap apa yang ada di balik yang apa adanya
itu. Dari kritik dan diskursus di Jerman itulah lahir sosiologi-kritis
yang melihat "ada sesuatu" dibalik teori atau hasil penyelidikan ilmiah.
>
> Antropologi kalau tidak salah juga berawal dari filsafat antropologi
(filsafat tentang manusia), kemudian mendapat pengaruh empirisme dan
rasionalisme, hingga kita temukan bentuknya seperti yang saat ini ada
(mohon pencerahan dari Pak Yando tentang sejarah ilmu antropologi ini).
Dari paparan "sejarah" ilmu yang dikaitkan dengan filsafat sebagai
ibunya, akan tampak bahwa ilmu yang kita geluti memiliki dasar-dasar
filsafati yang kuat dan mantap. Nah usaha saya sepertinya mirip dengan
sosiologi, misalnya, yang pernah saya gagas dari arsitektur yang
tradisional bergerak ke "arsitektur kritis" berkat pengaruh
fenomenologi.
>
> Masalahnya agak berbeda, jika sosiologi kritis dikaitkan dengan
"gagasan emansipatoris" ada di balik teori, sementara arsitektur kritis
cenderung dikaitkan dengan keberadaan "dimensi transenden" yang diusung
oleh fenomenologi. Tentang fenomenologi sendiri sebenarnya adalah
empirisme "lebih lanjut" yang mengakui tiga dimensi realitas, yaitu
dimensi visual, dimensi rasional dan dimensi transenden (tidak selalu
mistik, melainkan tentang hakekat dibalik yang visual dan rasional).
Jika digabungkan fenomenologi dengan filsafat sosiologi kritis,
tampaknya akan lebih berdaya karena akan mengakui keberadaan dimensi
transenden dan intensi emansipatoris.
>
> Tampaknya dalam menjalankan ilmu, kita memang perlu memahami akar-akar
filsafatinya, yang memberi jiwa dan karakter ilmu yang kita kembangkan.
Sementara demikian.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Sun, 2/7/10, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Fw: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Sunday, February 7, 2010, 10:44 PM
>
> Pak Djarot yang kreatif, boleh-boleh saja mengenalkan istilah baru,
tapi
>
> kalau lolos dari ujian disertasi, wah ... hehehe ... perlu kenalan
juga
>
> nih dengan para pengujinya.
>
>
>
> Sebenarnya fenomenologi itu ilmu kognisi subyektivisme. Kurang tahu
>
> kalau berkembang sebagai -grafi, pasti nih Pak Djarot survainya ke abg
>
> dan gadis2 remaja yang suka nulis 'diary', atau ke komunitas blogger
...
>
> hehehe ...
>
>
>
> Etnografi sendiri sebenarnya istilah yang sudah disepakati umum, dan
>
> bisa saja dilakukan dengan fenomenologi. Seperti karyanya Machiavelli,
>
> Adam Smith, sampai dengan pemenang Nobel kemarin (Ostrom), karyanya
>
> adalah etnografi. Atau karyanya Pak Risfan, kalau diakui sebagai
>
> kumpulan pengalaman, sebenarnya juga etnografi. Salam.
>
>
>
> -ekadj
>
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:
>
> >
>
> > Dear Sahabats,
>
> >
>
> > Postingnya diulangi, alamat email referensi agak keliru pada email
>
> sebelumnya, untuk menyampaikan gagasan di bawah ini:
>
> >
>
> > Pak Eka, tentang etnografi memang sudah sangat terkenal karena itu
>
> > bagian dari tradisi kuno dalam pengamatan lapangan. Dalam disertasi
>
> > saya memperkenalkan istilah baru, yang masih baru dan belum banyak
>
> > dikenal, yaitu FENOMENOGRAFI untuk menjadi key stone dalam
>
> > fenomenologi. Ini hal baru dan masih diperjuangkan, bahwa
>
> > antropolog/etnolog mengerjakan etnografi, lha fenomenolog
menghasilkan
>
> > fenomenografi. Ini langkah nekad, bersaing dengan dedengkot tradisi
>
> > riset lapangan !!! Mohon dukungan para sahabat semua
>
> heheeheheheee. ....
>
> >
>
> > Salam,
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Djarot Purbadi
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> >
>
> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
>
> >
>
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> >
>
> > --- On Sat, 2/6/10, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
>
> >
>
> > From: Djarot Purbadi dpurbadi@
>
> > Subject: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?
>
> > To: perkot...@yahoogrou ps.com
>
> > Date: Saturday, February 6, 2010, 7:56 AM
>
> >
>
> > Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh
>
> usaha ilmu pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya
>
> hanya mengkaji sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan
>
> kepada para filsuf untuk merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi
>
> pemahaman realitas yang lebih mendalam, semakin mendalam dari waktu ke
>
> waktu. Konon nih, filsuf berangkat dari pertanyaan dan berakhir dengan
>
> pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan berangkat dari pertanyaan dan
>
> berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya merefleksikan, ilmuwan tugasnya
>
> mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan pertanyaan filsafati.
>
> Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan minggu pertama
>
> yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho Pak....jadi
masih
>
> ingat.
>
> >
>
> > Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu
>
> dicermati benar-benar
>
> > topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee.....
>
> >
>
> > Salam,
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Djarot Purbadi
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> >
>
> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
>
> >
>
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> >
>
> > --- On Sat, 2/6/10, ffekadj 4ekadj@ wrote:
>
 









      

Kirim email ke