SS> "BBM bersubsidi yang tepat sasaran hanya 14,47%, malingnya terlalu
SS> banyak, mau profesi apa saja itu ada (malingnya), DPRD-nya ada, orang
SS> Pertamina-nya ada, nelayannya ada, banyak," ungkapnya dalam Diskusi
SS> ILUNI UI bertajuk "Mengkaji Alternatif Kebijakan BBM: Tambah Subsidi,
SS> Pembatasan atau Kenaikan Harga", UI Salemba, Jakarta, Kamis
SS> (9/2/2012). 


Kenapa bukan MALING nya yang di tangkap ? Malah menempuh jalan PRAGMATIS, yang 
anak TK pun bisa melakukannya ?Siapa bilang BBM dibakar sia2 ? BBM adalah 
komponen biaya 'produksi' utama UKM. Jangan lupa, UKM adalah MOTOR penggerak 
ekonomi RAKYAT.


________________________________
 From: adi noe <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Sunday, 26 February 2012, 21:03
Subject: Re: [saham] Re: simulasi ...Re: (OOT) Wamen ESDM: Memang Bagusnya BBM 
Naik Rp 4.000/Liter
 

  
Situ kasi saran bagus, masalahny bisa kaga d praktekin???
Lha wong mentriny aja bongkar pasang. Mau irit bayar pns???
Lha wong mentrinya aja dikasi wakil, dpr dikasi staff ahli, makany mentri n dpr 
ga ad kerja.
bilang subsidi sekian T, anggaran sekian T, emang itungnya ud bener???
banyak salahnya lah ketimbang benernya.
DI emang top, tp apa bisa DI kerja sendiri, lha wong ambil keputusan perlu 
banyak kepala.
Sby mau tegas???
Ya ga sempat lah, lha wong anggota kabinet korup ny banyak kena kasus.

sent from 3®
________________________________

From:  Oguds <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Sun, 26 Feb 2012 20:13:57 +0700
To: Susanto Salim<[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: [saham] Re: simulasi ...Re: (OOT) Wamen ESDM: Memang Bagusnya BBM Naik 
Rp 4.000/Liter
  

Saya setuju dengan perlunya kejelasan alokasi anggaran. Namun sebab
pertama beratnya subsidi adalah, karena APBN itu defisit Rp 124
trilyun. Subsidi BBM memakan Rp 123 trilyun, dan ini sudah pasti
kurang karena harga minyak naik terus. Jadi terlalu memaksakan diri
bila terus menerus disubsidi. Rakyat harus realistis.

Alokasi jelas2 timpang kok. Subsidi pupuk Rp 16 trilyun, benih Rp 279
milyar, PSO cuma 2 trilyun (hah?), dst. Kejelasan alokasi anggaran,
sudah pasti dimulai dengan memperbaiki komposisinya. Pemakan APBN
terbesar adalah subsidi dan belanja pegawai. Ini juga biang kerok,
ongkos birokrasi yg luar biasa boros, dan hasilnya tidak jelas.

Perihal DPR dan studi banding ke LN, ini cuma menggaruk di permukaan.
Uang negara dihambur2kan oleh yg namanya PNS. Pernah dengar wacana
gaji PNS disalurkan lewat rekening istri? Pasti gak ada yg keberatan,
karena gajinya bisa nol atau bahkan minus. Artinya, tidak jelas berapa
biaya yg dihabiskan oleh PNS2 ini, di luar belanja pegawai. Kalau SBY
ingin tegas, lakukanlah benar2 reformasi birokrasi. Lucunya, RUU soal
aparatur sipil negara malah diajukan oleh DPR.

Kita masih punya kok orang2 bersih, misalnya Menteri BUMN Dahlan
Iskan. Katakan, subsidi BBM dialihkan untuk pembangunan infrastruktur
di bawah kelolaan BUMN, ini bagus. Jangan lagi subsidi generalis, tapi
spesialis. Apakah itu pertanian, transportasi, kesehatan, dst.
Bersamaan dengan efisiensi besar2an di birokrasi. Tidak sulit ini,
karena 'top-down approach'. Asalkan SBY tidak disorientasi, bangga
dengan pertumbuhan ekonomi, investment grade, dst, yg padahal tunggu
meletusnya saja. Seperti pasar saham yg ambruk pelan2. :-)

Sunday, February 26, 2012, 3:53:05 PM, you wrote:

SS> Saya kira yang terpenting adalah ada jaminan atau minimal ada
SS> penjelasan duit subsidi nya itu mau dialihkan kemana. bukan
SS> sekedar bicara disalurkan ke yang lebih tepat, atau bangun
SS> infrastruktur... Akan lebih simpatik juga kalo pemerintahnya
SS> bilang, demi solider dengan rakyat yang harus bayar bbm lebih
SS> mahal, maka mobil dinas para pejabat pakai mobil murah saja (kan
SS> gak mungkin lah pejabat disuruh naek angkutan umum). DPR gak akan
SS> studi banding lagi ke LN, dll...jangan cuman saya dan anda saja yang 
disuruh bayar lebih terus.

SS> Asumsi saya, Pak Oguds tinggal di jakarta atau sekitarnya yang
SS> memang macet, tapi tentu Indonesia bukan cuma jabodetabek.

SS> Masalah dengan pemberitaan di koran adalah kita tidak tahu angka
SS> itu munculnya dari mata, metodenya seperti apa. Tapi okelah kita
SS> anggap valid angkanya, apakah ada jaminan setelah bbm naik akan
SS> membaik ? Sependek yang saya tau belom ada yang ngomong bahwa
SS> setelah bbm naik hal apa saja yang akan dilakukan terus hasilnya
SS> diperkirakan seperti apa....maunya cuma naekin dan 'kampanye' kalo
SS> gak naek jelek. (dan menurut saya kampanye cukup sukses, terbukti
SS> banyak yang mendukung bbm naik, meski gak tau kalo dah naik nanti lebih 
baik nya di mana)

SS> Kita jangan hanya berandai2 duit subsidi itu akan dialihkan ke
SS> infrastruktur dan transpotasi umum, faktanya kita tidak tau mau
SS> dikemanakan itu uang, mungkin juga cuma sekedar supaya tidak perlu
SS> nambah hutang aja, jadi transportasi dan infrastruktur tidak
SS> membaik. Atau cuma sekedar biar tidak memburuk saja. (terus terang
SS> saya ragu bbm naik bikin busway lebih aman dan jalanan di jakarta
SS> bebas macet, atau infrastruktur di daerah lain jadi bagus semua) -
SS> faktanya bbm sudah naek berapa kali, apa angkutan umum semakin
SS> baik di jakarta atau apakah jalan2 berkurang macetnya ?

SS> Masalah yang saya lihat adalah kita tidak tau uang itu mau
SS> digunakan untuk apa (selain blt),  kita juga tidak bisa menilai
SS> hasilnya baik atau tidak (wong gak dikasih tau mau untuk apa).
SS> Jadi kalau kita tidak tau duitnya mau buat apa dan pemerintah juga
SS> tidak benjanji perbaikannya akan ada dimana, kok mau didukung ?

SS> Akan lebih oke, kalau misalnya seperti obama, minta duit janji
SS> mengurangi pengangguran, kan bisa diukur bener gak pengangguran
SS> berkurang. Kalo minta duit tapi gak jelas mau buat apa....ya repot dah.

SS> On Sun, Feb 26, 2012 at 1:39 PM, Oguds <[email protected]> wrote:

SS> Memang kemana saja anda selama ini? BBM subsidi dimalingi bertahun2,
SS> mosok gak tahu? Ini salah satu 'mantan maling' buka suara.

SS> "BBM bersubsidi yang tepat sasaran hanya 14,47%, malingnya terlalu
SS> banyak, mau profesi apa saja itu ada (malingnya), DPRD-nya ada, orang
SS> Pertamina-nya ada, nelayannya ada, banyak," ungkapnya dalam Diskusi
SS> ILUNI UI bertajuk "Mengkaji Alternatif Kebijakan BBM: Tambah Subsidi,
SS> Pembatasan atau Kenaikan Harga", UI Salemba, Jakarta, Kamis
SS> (9/2/2012).

SS> 
http://finance.detik.com/read/2012/02/09/191144/1838807/1034/gawat-banyak-maling-hanya-14-bbm-subsidi-tepat-sasaran

SS> Ini belum bicara BBM yg salah peruntukan, misalnya dibakar di mobil yg
SS> bikin macet jalanan. Trilyunan dibakar sia2 ber-tahun2. Semua orang
SS> sudah tahu cara yg lebih tepat, misalnya proyek2 transportasi umum dan
SS> massal. Kalaupun ada penyelewengan di situ, ada hasil berupa
SS> infrastruktur. Daripada dibakar gak keruan di jalan2, cuma jadi
SS> polusi.

SS> Saya pemakai transportasi publik, jadi mendukung 100% BBM dinaikkan,
SS> bahkan hingga naik 100%. Ada ongkos yg naik, tentu saja, termasuk
SS> biaya hidup. Namun ada harapan, agar subsidi yg dimalingi di atas,
SS> bisa dialihkan ke angkutan publik, misalnya tarif busway, KRL, dst, yg
SS> perush pemerintah jangan dinaikkan, bahkan diturunkan. Subsidi
SS> dialihkan secara spefisik. Sekarang gimana bicara tepat sasaran, wong
SS> sasarannya saja tidak ada? Semuanya dikasih subsidi, ini khan ngawur.

SS> Sunday, February 26, 2012, 11:27:42 AM, you wrote:

PR>> duit subsidi dinilai tidak tepat sasaran karena gak bisa di korup sama 
para koruptor!!
PR>> Mereka udah lama berharap-harap agar subsidi bbm bisa dicabut dan
PR>> duitnya dialihkan untuk proyek yang lebih "berguna" bagi " masyaraka yang 
membutuhkan"

PR>> "Berguna"  = Bisa dikorupsi
PR>> "Masyarakt yang membutuhkan " =  Pejabat/ anggota dewan dan partainya

PR>> To: [email protected]
PR>> From: [email protected]
PR>> Date: Sat, 25 Feb 2012 17:24:48 +0700
PR>> Subject: Re: simulasi ...Re: Bls: Re: Bls: Re: [saham] Re: (OOT)
PR>> Wamen ESDM: Memang Bagusnya BBM Naik Rp 4.000/Liter

PR>>
PR>> Kita ini kan banyak yang berasumsi bahwa subsidi jelek thus harus
PR>> dihilangkan, tanpa bisa menunjukkan bukti bahwa si subsidi ini
PR>> memang jelek, dan tidak bisa pula menunjukkan keuntungan2 kalau tidak ada 
subsidi.

PR>> Mantra yang digunakan untuk membela pencabutan subsidi adalah
PR>> subsidi tidak tepat sasaran, tanpa merinci sasaran yang tepat itu
PR>> dimana dan mengapa dianggap tepat. Duit subsidi dianggap terbuang
PR>> percuma, hallo...., kalo saya dan Anda karena beli bensin lebih
PR>> murah bisa punya duit lebih untuk membeli barang dan jasa lainnya,
PR>> apakah peningkatan manfaat ini dianggap tidak ada artinya atau
PR>> sia2 ? Orang2 yang terima uang saya (misal warung indomie depan
PR>> rumah) apa juga tidak mendapat manfaat dari tambahan uang yang ia terima ?

PR>> Tentu saja argumen saya di atas bisa di counter dengan argument
PR>> lain, saya hanya berharap debatnya bukan dengan cara menghina
PR>> orang lain secara pribadi (ad-hominem|), tapi pake argumen yang
PR>> berhubungan dengan masalah yang dibahas.

PR>> ps:
PR>> apakah pak haki berpendapat biarkan saja orang2 di industri
PR>> otomotif menderita ? asal....??? asal subsidi di cabut ? dalam
PR>> arti pencabutan subsidi adalah baik dengan sendirinya(good in
PR>> itself), thus tidak perlu alasan yang masuk akal dan bisa 
dipertanggungjawabkan ?

PR>> On Sat, Feb 25, 2012 at 5:00 PM, hakitrader <[email protected]> wrote:
PR>>

PR>> bensin tidak disubsidi ya pake bbg yg lebih murah. memangnya kita
PR>> minum bensin dan hanya kerja dipabrik mobil?
PR>> http://www.facebook.com/hakie1
PR>> ----- Original Message -----
PR>> From: Susanto Salim
PR>> To: [email protected]
PR>> Sent: Saturday, February 25, 2012 2:56 PM
PR>> Subject: Re: simulasi ...Re: Bls: Re: Bls: Re: [saham] Re: (OOT)
PR>> Wamen ESDM: Memang Bagusnya BBM Naik Rp 4.000/Liter

PR>>
PR>> Kalo harga bensin murah kan penjualan mobil bagus, akhirnya
PR>> industri mobil bisa ekpansi pake tenaga kerja. Saya yang pas-pasan
PR>> ini juga bisa pake duit kelebihan dari bensin (karena di subsidi)
PR>> buat belanja di warung indomie depan rumah. bla..bla..bla..

PR>> nah kalau duit ini dialihkan ketempat lain (kemana?), apa betul
PR>> hasilnya bakalan lebih baik ? dalam arti menghasilkan
PR>> kesejahteraan yang lebih besar untuk lebih banyak orang (gimana 
ngukurnya)?.

PR>> kalo kita tidak tau jawaban atas pertanyaan diatas apa lantas
PR>> kita layak mendukung kebijakan pencabutan subsidi ? Padahal kita
PR>> sendiri gak tau apakah kebijakan ini menghasilkan kebaikan yang lebih 
besar untuk semua.

PR>> ps:
PR>> kok tau kalo subsidi sekarang lebih banyak dinikmati golongan
PR>> menengah ke atas ? Gimana cara ngukurnya ?
PR>> -----------
PR>> Predictability: Does the Flap of a Butterfly's Wings in Brazil Set a 
Tornado in Texas?
PR>> Edward N. Lorenz

PR>> On Sat, Feb 25, 2012 at 2:34 PM, Franciscus B Sinartio 
<[email protected]> wrote:

PR>> catatan tambahan :  yang lebih banyak menikmati subsidi sekarang
PR>> ini adalah golongan menengah keatas,  nah sekarang mau dialihkan
PR>> supaya golongan menengah ke bawah yang lebih banyak menikmati subsidi nya.

PR>> sekali kali nengok ke bawah , jadi tahu efeknya ke kehidupan
PR>> sehari hari kalau ongkos transport umum seperti bis, kereta
PR>> listrik dll lebih murah, atau kalau tidak bisa lebih murah, lebih nyaman 
juga ok.

-- 
Tertanda,
Oguds [960000031]


 

Kirim email ke