MEMPERTARUHKAN NYAWA DI ANGKUTAN UMUM
   
    Tidak ada habis-habisnya ya membicarakan musibah di negeri kita. Bencana 
yang kemarin belum selesai, pengungsian masih terlantar, sudah datang lagi 
musibah yang baru. Hendra, teman saya yang kerja di bagian foto copy 
membicarakan ini saat kita makan siang bersama di pantry kantor (beda meja 
tapi…hehehe). Pembicaraan yang berat dan bikin nggak nafsu makan.. hihihi.
  “Orang lain yang berbuat jahat, orang baik bisa kena imbasnya juga ya mbak?” 
kata Hendra.
  “Berbuat baik itu jadinya harus ngajak orang laen, biar baiknya rame-rame.” 
Timpal saya sekenanya (lagi makan sih ;)
  “Iya, soalnya kan Allah bisa kasih musibah yang kena keseluruh orang, nggak 
pandang orang itu baik atau jahat ya Mbak.”
  “Itu artinya, orang baiknya nggak mau ngajak-ngajak orang lain…hehehe.”
   
  Saya juga baru tahu ada kebakaran Garuda beberapa saat setelah sampai kantor. 
Begitu lihat beritanya, nggak kebayang gimana kondisi para penumpang saat 
pesawat terbakar. 
  “Inget nggak Vit, pilotnya Marwoto. Itu kan pilot yang bawa kita kemarin,” 
kata teman saya di telepon kemarin. Ya ampun, saya baru ingat. Perjalanan 
terakhir kemarin dengan Garuda pilotnya sama dengan pilot pesawat naas di Jogya 
itu. 
   
  Soal keselamatan penumpang belakangan ini memang jadi isu panas. Gimana 
enggak, berturut-turut musibah angkutan umum terjadi. Alhamdulillah, meski 
bukan termasuk orang yang sering banget terbang, tapi semua perjalanan kami 
baik-baik saja. Dan memang sih, saat pesawat take off maupun landing, saya suka 
ketar-ketir. Teman saya suka berbisik, “disini ini Vit, kunci selamat enggaknya 
perjalanan pesawat. Pesawat take off dan landing.” Saya manggut-manggut sambil 
sibuk berdzikir, kalau sudah begini siapa lagi yang bisa kita mintai 
pertolongan kalau bukan Tuhan?
   
  Tadi pagi ada ceramah yang menarik. Pak Ustadz-nya mengusulkan supaya dalam 
peragaan keselamatan penumpang di pesawat, ditambahkan dengan doa bersama biar 
selamat dalam perjalanan dan sampai tujuan. Hehehe, ide yang menarik. Tapi 
tanpa dikomando bisa juga dong doa sendiri-sendiri, ya pilotnya, copilot, 
pramugari, serta semua penumpang. Dan mestinya (juga) kendaraan apapun yang 
kita pakai, yang namanya doa tetep perlu. Apalagi buat saya pengguna bis Patas, 
yang kalau dicermati, jangan-jangan mesin-nya pada nggak layak jalan semua 
hehehe. 
   
  Seperti pagi ini, sudah tahu ada mesin yang bermasalah, eh masih saja 
mengangkut penumpang sambil jalan pulang ke pol-nya di daerah Pasar Rebo. Yang 
ada saya sepanjang jalan bukannya tidur pulas, tapi deg-degan (walau akhirnya 
ketiduran juga sih hihihi). Sementara beberapa waktu yang lalu, angkot yang 
saya tumpangi pecah ban. Padahal lagi ngebut-ngebutnya. Untung pak Supir bisa 
mengendalikan mobil.
   
  Waduh, kapan ya negara kita bisa punya angkutan umum yang nyaman dan lebih 
manusiawi? Gimana jalanan nggak penuh kendaraan pribadi, wong angkutan umum 
benar-benar mengkhawatirkan. Yah, moga-moga selamanya nggak begitu … 
*sambilmengkhayalsaatmenggunakanangkutanumumdiSingapur*
   









 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke