Assalamu'alaikum Wr Wb

Wallohu a'lam.
Rasanya perlu adanya metodologi yang universal dalam memahami kebenaran
universal ini, menimbang dari banyaknya persepsi dari setiap manusia yang
memang diciptakan Alloh selalu memiliki perbedaan.
Sejak Nabi Ibrahim yang menggunakan metode trial & error, Nabi Musa yang
langsung bertemu dengan Nya, sampai Rasulullah Muhammad yang diamanahi
AlQur-an yang merupakan panduan terlengkap dalam mencari dan melaksanakan
kebenaran itu. (lengkapnya di Al-Maidah 3)
Sejak itu dalam kurun waktu yang sangat panjang para ulama mengintisarikan
dalam berbagai macam cabang ilmu.
Saya kira kita tidak bisa menutup mata bahwa antara waktu itu dengan kita
telah begitu banyak distorsi informasi yang terjadi yang disebabkan
terbatasnya transfortasi, komunikasi (masih dari mulut ke mulut),dan alat
tulis menulis. Bahkan peristiwa peristiwa politik, subjektifitas dan
penghianatan serta perpecahan Islam antar tarekat sangat menghambat proses
transformasi informasi itu.
Tugas kitalah sebagai generasi pelanjut untuk memilah & membangun kembali
khazanah yang telah susah payah dibangun.
Saya rasa kita harus benar-benar objektif dalam hal ini dan mencoba
menyatukan berbagai aliran pemikiran yang ada dalam tarekats kedalam bentuk
yang universal dan sistematis karena kita yakin bahwa kebenaran itu adalah
satu.

Mohon maaf,
Wassalamu'alaikum Wr Wb


-----Original Message-----
From: Bambang Edy <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Saturday, February 27, 1999 6:50 AM
Subject: Re: [Tasawuf] BAGAIMANAKAH mencari kebenaran


>Assalamu'alaikum Wr.Wb.
>Yth. Pak Imam Suhadi,
>
>Mohon klarifikasi, dalam kebingungan saya menyimak materi bahasan
>tentang "kebenaran", dimana Allah SWT telah menurunkan kebenaran kepada
>kita semua berupa "al-qur'an" (yang benar/adhim).  Juga adanya perbedaan
>persepsi tentang "kebenaran", yaitu dengan ditandai adanya penafsiran
>yang berbeda-beda tentang isi kandungan "al-qur'an", maka diperlukan
>analisis dan penjelasan dari rekan-rekan yang lebih senior berkaitan
>dengan masalah dimaksud.
>
>Seperti halnya dikatakan bahwa "al-haq" akan didapati oleh mereka yang
>telah mencapai level tertentu (bertemu diri), artinya bahwa mereka-
>mereka yang telah "bertemu diri" tersebut pada hakekatnya semuanya
>telah menjumpai "kebenaran" (yang sama) dari Allah SWT.
>
>Apakah mungkin mereka-mereka itu mempunyai cara yang berbeda didalam
>mengekspresikan "kebenaran" yang didapatinya, sehingga kita melihat
>adanya perbedaan diantara para "sufi" didalam mengungkapkan "al-haq".
>Konon kisah tentang Syeh Siti Jenar misalnya, khabarnya beliau juga
>telah mengungkapkan "al-haq" walaupun barangkali cara pengungkapannya
>yang agak berbeda dengan para "sufi" lainnya, hal inipun dulu katanya
>juga telah menjadi perdebatan sengit diantara para wali.
>
>Bisa saja "kebenaran" yang didapati dari Allah SWT adalah sama, hanya
>berbeda dalam pengungkapannya, ataukah mungkin kita-kita yang belum
>mampu mencerna secara sempurna segala ungkapan "kebenaran" tersebut ?
>sehingga terjadi bias dalam penafsiran kita ? mohon rekan-rekan yang
>lebih senior dapat membantu memberikan analisis yang gamblang !
>maklumlah saya masih berada jauuhhh pada level paling dasar, sehingga
>"kebingungan" dalam menyimpulkan hal tersebut.
>
>Dan dengan segala kerendahan hati disertai permohonan maaf atas
>kesalahan penafsiran saya tersebut, maka sudilah rekan-rekan menunjuki
>saya dengan analisis yang sederhana dan mudah dicerna, terimakasih.
>Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
>
>Imam Suhadi wrote:
>>
>> Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>>
>> |Seakan-akan pak Sunarman berharap bahwa bila menggunakan Hati orang yang
>> |telah disucikan maka penafsiran AlQuran itu akan cuman tinggal satu.
>> |Saya meragukan hal tersebut.
>> |
>> |Bukankah justru dikatakan oleh pak Imam Suhadi bahwa imam-imam mazhab
>> |tsb semuanya adalah orang yang bertemu diri, demikian juga Mirza Ghulam
>> |Ahmad, Imam Khomeini dll. Dan mereka semua kenyataanya memberikan
>> |penafsiran yang berbeda satu sama lain terhadap AlQuran dan Hadist. Saya
>> |kira berarti memang kebenaran hakiki itu jalan Highway, tidak cuman
>> |jalan sempit 1 jalur kok.
>> |
>> |Bahkan menurut saya, Ibnu Katsir, Thabatabai dll yang membuat tafsir
>> |AlQuran semuanya adalah orang yang sudah bertemu diri. Dan mereka
>> |menafsirkan AlQuran sesuai petunjuk Jiwa Muthmainnah. Jika kenyataannya
>> |penafsiran ayat tsb berbeda satu sama lain maka memang begitulah Allah
>> |menunjukkan.
>> |
>> |Jadi meski dengan Jiwa Muthmainnahpun jangan pernah berharap adanya
>> |penafsiran tunggal terhadap AlQuran. Mustahil !!
>>
>> Bismillahirrahmaanirrahiim
>>
>> Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
>> termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)
>>
>> Apakah penafsiran tentang Al Qur'an (dalam pandangan kita) sekarang
terhadap
>> penafsiran ulama-ulama besar dahulu bertentangan atau tidak, saya mencoba
>> mendeskripsikan begini.
>>
>> Ada sebuah rumus fisika yang berformula seperti ini:
>> F = m.a dan F = m.g
>>
>> Bagi anak SMP atau SMA, kadang perlu menghapalkan keduanya. Namun bagi
>> mahasiswa, mereka tidak perlu menghapal keduanya. Karena ia tahu, kapan
>> harus menggunakan rumus F =m.a dan kapan harus menggunakan F = m.g,
karena
>> ia mengetahui esensi a dan g tersebut.
>>
>> Begitu juga kita memandang perbedaan penafsiran tersebut.
>>
>> Bagi kita anak SD yang memandang pelajaran tersebut, boro-boro mengerti F
>> itu apa, m itu apa, a dan g itu apa. Kali-kalian saja harus
diperlancar....
>>
>> Nah bagi kita yang SMP mungkin akan saling ngotot-ngototan bahwa kedua
rumus
>> tersebut berbeda.
>> Tetapi mahasiswa berkata itu sama saja, tinggal kita harus perhatikan
>> bagaimana PENEMPATANNYA.
>>
>> catatan:
>> Penempatan dalam anlogi diatas, menyangkut kapan waktunya, bagaimana
kondisi
>> waktu saat itu, dimana tempatnya, dan mungkin ada variabel lain.
>>
>> Wassalamu'alaikum
>>
>> ---------------------------------------------------------------------
>> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke