Assalamu'alaykum wr. wb.
Ini hanya analogi saya saja.
Al-Qur'an itu seperti perpaduan antara fractal dan stereogram.
Fractal. Bila kita zooming in maupun zooming out tetap akan memunculkan
suatu citra. Mau di zooming in sejauh apapun, nggak pecah citranya. Tetap
indah dan detil tampilannya. Mau di zooming out seluas apapun, nggak
habis-habis keluasan citranya. Jadi seperti sebuah gambar luas tak bertepi,
tapi dengan resolusi tak terhingga. Mau di zoom kayak apapun, tidak akan
salah. Memang gambar yang muncul adalah seperti yang kita lihat.
Stereogram. Seolah hanyalah seperti gambar tak beraturan. Atau juga hanya
seperti gambar bentuk-bentuk sederhana yang terduplikasi. Tapi bila kita
mampu menggeser fokus penglihatan kita ke belakang gambar, maka akan muncul
suatu citra baru yang jauh lebih indah. Gambar yang tadinya hanya bersifat
dua dimensi, berubah menjadi suatu pemandangan 3 dimensi.
Perpaduan yang membuat kita terperangah. "Lho... ternyata ada keindahan
lagi dibalik keindahan." Tak pernah habis.... tanpa batas.
Karena itu, sungguh sayang bila kita mengatakan, "Inilah keindahan
puncak...."
Karena berarti kita mematok sang keindahan. Padahal ia masih belum habis
semerbaknya..
Wassalamu'alaykum wr. wb.
At 04:38 PM 2/26/99 +1000, Ali Abidin wrote:
>>Al Qur'an merupakan kebenaran yang mutlak, namun penafsirannya
bermacam-macam
>>bahkan kadang-kadang saling bertentangan. Penafsiran ini merupakan
kebenaran
>>relatif, kebenaran yang bersyarat, kebenaran yang diperoleh dari sudut
>>pandang tertentu. Untuk memperoleh kebenaran yang haq dari Al Qur'an, kita
>>perlu menggunakan indera yang lain, yaitu mata hati dari orang mukmin (orang
>>yang telah disucikan jiwanya).
>
>Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>
>Seakan-akan pak Sunarman berharap bahwa bila menggunakan Hati orang yang
>telah disucikan maka penafsiran AlQuran itu akan cuman tinggal satu.
>Saya meragukan hal tersebut.
>
>Bukankah justru dikatakan oleh pak Imam Suhadi bahwa imam-imam mazhab
>tsb semuanya adalah orang yang bertemu diri, demikian juga Mirza Ghulam
>Ahmad, Imam Khomeini dll. Dan mereka semua kenyataanya memberikan
>penafsiran yang berbeda satu sama lain terhadap AlQuran dan Hadist. Saya
>kira berarti memang kebenaran hakiki itu jalan Highway, tidak cuman
>jalan sempit 1 jalur kok.
>
>Bahkan menurut saya, Ibnu Katsir, Thabatabai dll yang membuat tafsir
>AlQuran semuanya adalah orang yang sudah bertemu diri. Dan mereka
>menafsirkan AlQuran sesuai petunjuk Jiwa Muthmainnah. Jika kenyataannya
>penafsiran ayat tsb berbeda satu sama lain maka memang begitulah Allah
>menunjukkan.
>
>Jadi meski dengan Jiwa Muthmainnahpun jangan pernah berharap adanya
>penafsiran tunggal terhadap AlQuran. Mustahil !!
>
>Wassalaamu' alaikum wr. wb.
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)