>Al Qur'an merupakan kebenaran yang mutlak, namun penafsirannya bermacam-macam
>bahkan kadang-kadang saling bertentangan. Penafsiran ini merupakan kebenaran
>relatif, kebenaran yang bersyarat, kebenaran yang diperoleh dari sudut
>pandang tertentu. Untuk memperoleh kebenaran yang haq dari Al Qur'an, kita
>perlu menggunakan indera yang lain, yaitu mata hati dari orang mukmin (orang
>yang telah disucikan jiwanya).
Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Seakan-akan pak Sunarman berharap bahwa bila menggunakan Hati orang yang
telah disucikan maka penafsiran AlQuran itu akan cuman tinggal satu.
Saya meragukan hal tersebut.
Bukankah justru dikatakan oleh pak Imam Suhadi bahwa imam-imam mazhab
tsb semuanya adalah orang yang bertemu diri, demikian juga Mirza Ghulam
Ahmad, Imam Khomeini dll. Dan mereka semua kenyataanya memberikan
penafsiran yang berbeda satu sama lain terhadap AlQuran dan Hadist. Saya
kira berarti memang kebenaran hakiki itu jalan Highway, tidak cuman
jalan sempit 1 jalur kok.
Bahkan menurut saya, Ibnu Katsir, Thabatabai dll yang membuat tafsir
AlQuran semuanya adalah orang yang sudah bertemu diri. Dan mereka
menafsirkan AlQuran sesuai petunjuk Jiwa Muthmainnah. Jika kenyataannya
penafsiran ayat tsb berbeda satu sama lain maka memang begitulah Allah
menunjukkan.
Jadi meski dengan Jiwa Muthmainnahpun jangan pernah berharap adanya
penafsiran tunggal terhadap AlQuran. Mustahil !!
Wassalaamu' alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)