Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Mohon Mas Ali longok lagi posting "Titik-titik". Titik-titik dalam
geometri itu berasal dari satu titik pusat, sedangkan manusia
tidaklah menempati pusat itu; tiap individu berada pada posisi di 
luar titik pusat. 

Maknanya, kebenaran mutlak [yang terletak di pusat] itu bisa dilihat
atau diketahui, tetapi manusia tidak dapat menempatkan diri pada
posisi itu. Hanya Allah yang boleh menempati posisi pusat itu.
Selalu saja tiap manusia memandang titik pusat itu dari sudut
tertentu. Seseorang dapat saja bergerak mengelilingi pusat itu, ia
dapat menceritakan pengalamannya menurut sudut pandangnya ketika
berada di koordinat tertentu, tetapi ia tidak mungkin menceritakan
pandangan-pandangan dari seluruh koordinat yang ada dalam satu
kesatuan pengertian. 

Memang benar bahwa dalam kondisi 'highly elevated,' seseorang dapat
dipinjami 'mata' Allah sehingga seolah-olah ia berada di titik pusat
itu, tetapi dalam keadaan itu ia kehilangan atributnya sebagai
manusia, termasuk kemampuannya untuk 'berbicara' dengan kata-kata. 
Jadi ia tidak mampu mengutarakan apa yang 'dilihatnya' ketika itu,
tetapi kesan dari penglihatannya tersimpan di dalam kalbunya. Ketika
ia kembali ke alam manusia dan mampu berbicara, ia sudah tidak lagi
berada di titik pusat tersebut.

Berucap dengan kata-kata merupakan atribut manusia, bukan atribut
Allah, dan di sini kita melihat kelemahan manusia dan keterbatasan
perkataan dalam menerangkan sesuatu. Apapun yang diuraikan oleh
seseorang dengan kata-kata, itu bukanlah realita yang menyeluruh. 
Tiap orang hanya mampu mengungkapkan potret realita itu dari satu
sisi. Dengan menyadari hal ini, saya harap kita semua tidak heran
dengan kehadiran berbagai tafsir yang berbeda, meski masing-masing
dibuat oleh orang-orang yang sudah bertemu diri, oleh orang-orang
yang telah melihat realita itu sendiri. Tidak ada dua orang pun
--dalam posisinya sebagai manusia-- yang dapat diibaratkan sebagai
dua titik yang berimpit (berada pada satu koordinat yang sama) dalam
memandang kebenaran mutlak.

Apakah penafsiran tunggal itu mungkin? Ya, mungkin, tetapi hanya ada
di dalam kalbu tiap-tiap orang yang dikaruniai hikmah, bukan dalam
bentuk yang tertuang dalam kata-kata atau bentuk apapun yang bisa
ditangkap melalui panca indera kita. Seandainya penafsiran tunggal
dalam bentuk fisik ini mungkin, tentu sejak dulu sudah ada, bahkan
Nabi Muhammad sendiri tentu telah membuat penafsiran tunggal itu
sehingga pelajaran agama menjadi sangat mudah, tidak perlu ada
mazhab-mazhab; kita tidak perlu repot-repot mempelajari tasawuf,
tidak perlu ada aliran-aliran thariqat.

Hal inilah yang menyebabkan Sidharta Gautama [yang oleh sebagian
orang diyakini juga sebagai nabi] tidak mengajarkan konsep tuhan.
Dalam pandangannya, tuhan atau kebenaran atau apapun yang mutlak itu
tidak dapat diceritakan. Kalau diceritakan, apapun bentuknya, ia
khawatir bahwa hal ini hanya akan menimbulkan persepsi yang keliru
mengenai Dzat Yang Mutlak itu. Oleh karena itu Sidharta hanya
mengajarkan metode yang dapat ditempuh agar para pengikutnya dapat
melihatnya sendiri dengan mata hati masing-masing. Apapun yang
dilihatnya itu hanya untuk diri sendiri, bukan untuk diungkapkan. 
[Dengan pengungkapan ini bukan berarti saya mengajak rekan-rekan
untuk beralih ke Buddha, tetapi ajaran Buddha yang ini dalam satu
aspek kebetulan bersesuaian dengan tasawuf.]

Wassalaamu' alaikum wr. wb.
RS

Ali Abidin wrote: 

> Seakan-akan pak Sunarman berharap bahwa bila menggunakan Hati orang yang
> telah disucikan maka penafsiran AlQuran itu akan cuman tinggal satu.
> Saya meragukan hal tersebut.
> 
> Bukankah justru dikatakan oleh pak Imam Suhadi bahwa imam-imam mazhab
> tsb semuanya adalah orang yang bertemu diri, demikian juga Mirza Ghulam
> Ahmad, Imam Khomeini dll. Dan mereka semua kenyataanya memberikan
> penafsiran yang berbeda satu sama lain terhadap AlQuran dan Hadist. Saya
> kira berarti memang kebenaran hakiki itu jalan Highway, tidak cuman
> jalan sempit 1 jalur kok.
> 
> Bahkan menurut saya, Ibnu Katsir, Thabatabai dll yang membuat tafsir
> AlQuran semuanya adalah orang yang sudah bertemu diri. Dan mereka
> menafsirkan AlQuran sesuai petunjuk Jiwa Muthmainnah. Jika kenyataannya
> penafsiran ayat tsb berbeda satu sama lain maka memang begitulah Allah
> menunjukkan.
> 
> Jadi meski dengan Jiwa Muthmainnahpun jangan pernah berharap adanya
> penafsiran tunggal terhadap AlQuran. Mustahil !!


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke