Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Hadith tersebut menggambarkan bahwa Rasulullah sebenarnya telah
mengangkat pengganti beliau sebelum wafat. Pengangkatan tersebut
dilakukan di hadapan seluruh Umat sehingga hadith tersebut menjadi
Mutawatir.
Namun kenapa masih terjadi krisis kepemimpinan setelah Rasulullah wafat?
Bahkan di hari beliau wafat. Seharusnya, jika hadith tersebut benar,
para sahabat yang mulia yang telah dijanjikan dengan Surga oleh
Rasulullah (seperti Abu Bakar Ash Shidiq, misalnya), tentunya akan
mengangkat Sayidina Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin.
Informasi yang saya peroleh justru menunjukkan kebalikannya. Di hari
Rasulullah wafat, di Madinah terjadi kekacauan. Orang-orang Anshar
(penduduk asli Madinah dan merasa telah memberikan perlindungan kepada
Nabi) merasa merekalah yang lebih pantas menggantikan Nabi.
Abu Bakar ra membawa Umar ra dari kalangan Muhajirin (pendatang dari
Makkah) untuk dibaiat sebagai Amirul Mukminin. Terjadi perselisihan.
Lalu Umar mengambil jalan tengah. Umar mengambil tangan Abu Bakar dan
pemimpin Anshar (saya lupa nama sahabat Anshar ini) dan membaiat Abu
Bakar ra sebagai Amirul Mukminin. Alasannya hanya karena di masa
Rasulullah sakit selama beberapa bulan terakhir, Abu Bakar-lah yang
dipercaya Rasulullah untuk menggantikan beliau menjalan tugas-tugas
kenegaraan. Bahkan dalam memimpin shalat sekalipun yang saat itu
merupakan suatu kehormatan besar.
Pernah suatu ketika Abu Bakar berhalangan dan digantikan Umar.
Rasulullah yang terbaring sakit di rumah beliau (yang bersebelahan
dengan Masjid) mendengar suara Umar yang lantang lalu berkata, "Di mana
Abu Bakar? Demi Dia yang menggenggam jiwaku, Allah tidak menghendaki hal
ini!"
Jika peristiwa di Ghadir Khum ini benar disaksikan banyak orang,
tentunya umat Islam dan para Sahabat lainnya seperti Bilal, Salman Al
Farisi, Al Ghifari, dll akan memprotes keras pengangkatan Abu Bakar.
Juga ketika Abu Bakar menunjuk Umar sebagai pengganti beliau sebelum
wafat, para sahabat yang lebih mencintai Nabi tentunya akan juga
menentang. Tapi kenapa penentangan itu tidak pernah ada di dalam
sejarah? Bahkan mereka memberikan baiat mereka... Apakah para Sahabat
bersekongkol untuk 'durhaka' terhadap pesan Rasul? Rasanya tidak
mungkin...
Demikian juga ketika Umar menunjuk Usman bin Affan r.a. sebagai
pengganti beliau, tidak ada penolakan dari kalangan sahabat dan umat.
Penolakan terbesar justru terjadi pada saat pengangkatan Amirul Mukminin
Ali bin Abi Thalib r.a. Hal tersebut karena adanya isu yang disebarkan
oleh orang-orang munafik yang mengatakan Sayidina Ali melindungi
pembunuh Usman. Bahkan istri Rasulullah yang bernama Aisyah ra (yang
kepadanya Rasulullah pernah bersabda "Ambillah sebagian dari ilmu
agamamu dari wanita ini"), akhirnya mengangkat senjata melawan Sayidina
Ali.
Bagaimana itu Mas Syariefudin?
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
________________
Rizki Herucakra
Indonesian Central Securities Depository
Management Information System Division
> -----Original Message-----
> From: Syariefudin Algadrie [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, May 31, 1999 10:11 AM
> To: Tasawuf Mailing List
> Subject: [Tasawuf] HADITS GHADIR KHUM ('SK Nabi),bagian 1/3
>
> (bagian 1/3)
>
> Bismillahirrahmannirrahim
> Assalaamu'alaikum wr.wb
>
> Pendahuluan:
>
> Untuk menjawab pertanyaan Abah Helmy tentang Shirathal Mustaqiim, dan
> juga mungkin rekan-rekan yang lain, dan untuk melengkapi pembicaraan
> saya mengenai "SK Nabi" yang berkaitan juga dengannya , berikut ini
> saya
> kutipkan khotbah Rasulullah SAAW, yang dikenal dengan Hadits Ghadir
> Khum, dari buku berjudul: "Pesan Terakhir Nabi (SAW)". Suatu buku
> terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Husein Shahab atas khotbah
> lengkap Nabi SAAW di Ghadir Khum pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10
> Hijriah. Disebutkan bahwa hadits ini telah disabdakan oleh Rasulullah
> SAAW dihadapan sekitar 120.000 sahabat disuatu tempat bernama Ghadir
> Khum, seusai beliau menunaikan ibadah haji bersama mereka. Dan
> peristiwa
> al-Ghadir ini telah dilaporkan oleh sekitar 125 perawi, beberapa
> diantaranya dari para sahabat terkemuka Nabi SAAW yang disebutkan
> adalah:
> 1. Abubakar bin Abi Qahafah
> 2. Umar bin Khatab
> 3. Utsman bin Affan
> 4. Thalhah bin Abdullah at-Tamimi
> 5. Zubair bin Awam
> 6. Abbas bin Abdul Muthalib
> 7. Usamah bin Zaid bin Harithah
> 8. Anas bin Malik
> 9. Jabir bin Abdullah al-Anshari
> 10. Sa'ad bin Abi Waqqash
> 11. Abdurrahman bin Auf
> 12. Hassan bin Tsabit
> 13. Sa'ad bin Ubadah
> 14. Abu Ayyub al-Anshari
> 15. Abdullah bin Mas'ud
> 16. Salman al-Farisi
> 17. Abu Dzar al-Ghiffari
> 18. Ammar bin Yasir
> 19. Miqdad bib Aswad
> 20. Sumrah bin Jundub
> 21. Sahal bin Khunaif
> 22. Ubai bin Ka'ab
> 23. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
>
> Dari kalangan wanita:
> 24. Asma' binti Umais
> 25. Ummu Salamah, istri Nabi
> 26. Aishah binti Abubakar
> 27. Ummu Hani binti Abu Thalib
> 28. Fatimah Zahra, putri Nabi.
>
> Ratusan sarjana dan ulama dari berbagai disiplin ilmu mulai dari ahli
> sejarah, hadits, tafsir dan kalam meriwayatkan atau menulis secara
> spesifik peristiwa al-Ghadir tersebut. Diantaranya Muhammad bin Jarir
> at-Thabari, Ibnu Uqdah al-Hamdani, Abu Thalib Abdullah bin Ahmad bin
> Farid al-Anbari, Muhammad bin 'Amr bin Muhammad at-Tamimi al-Baghdadi
> atau lebih dikenal dengan al-Ju'abi, Ahmad Zaini Dahlan al-Makki
> as-Syafe'i, Syaikh Muhammad Abduh, Ahmad bin Hanbal, al-Hafidz Abu Isa
> al-Tarmidzi dan lain-lain.
>
> Hadits ini tergolong tidak saja sebagai hadits shahih tetapi mutawatir
> sehingga seorang sarjana muslim terkemuka Dhiyauddin Muqbili berkata:
> "Apabila (kriteria keshahihan) hadits al-Ghadir ini tidak kita terima
> kebenarannya, niscaya tidak satupun dari hadits-hadits lain yang dapat
> kita terima."
>
> Sebagai tambahan, Sayyid Syarafuddin al-Musawi menyatakan di dalam
> bukunya al-Muruja'at bahwa Rasulullah SAAW telah menyabdakannya
> dibeberapa tempat selain di Ghadir Khum tersebut yakni pada Hari
> Arafah
> di Haji Wada', selepas kembalinya beliau dari Taif, diatas mimbar
> masjid
> beliau di Madinah dan akhirnya didalam bilik beliau semasa beliau
> sedang
> sakit yang dihadiri oleh banyak para sahabat.
>
> Berhubung khotbah tersebut cukup panjang, akan dipostingkan dalam
> beberapa bagian.
>
> Adapun Khotbah Nabi SAAW atau hadits al-Ghadir Khum dimaksud adalah
> sebagai berikut:
>
> Dengan Nama Allah Yang Mahakasih dan Maha Penyayang.
>
> Segala puji bagi Allah yang tinggi dalam ke-esaan-Nya; dekat dalam
> ketunggalan-Nya; perkasa dalam kekuasaan-Nya; agung dalam keberadaan
> pembantu-pembantu utama-Nya; Mahatahu akan segala sesuatu sementara
> Dia
> tetap ditempat-Nya; menundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan-Nya
> dan
> (kekuatan) bukti-bukti-Nya.
>
> Dia lah Tuhan yang kesucian-Nya abadi dan pujaan bagi-Nya tak pernah
> berhenti. Pencipta langit-langit yang menjulang dan lapisan bumi yang
> membentang. Penguasa bumi dan langit, Mahakudus dan Mahasuci. Tuhan
> para
> malaikat dan Al-Ruh, yang kepada seluruh ciptaan-Nya bersifat sangat
> murah, dan kepada seluruh makhluk-Nya bersifat Mahaderma.
>
> Dia melihat setiap pandangan, tanpa pandangan-pandangan itu
> melihat-Nya.
> Dia lah Maha Pemurah, Mahatabah dan Mahakasih.
>
> Dia lah Penabur rakhmat yang meliputi segala sesuatu, Pelimpah nikmat
> yang memberkati seluruh makhluk; tidak mempercepat siksa-Nya dan tidak
> segera menimpakan azab kepada mereka yang berhak mendapatkannya. Dia
> tahu setiap rahasia yang tersembunyai dan segala apa yang tersimpan
> dalam hati. Tiada rahasia yang luput dari-Nya, dan tiada misterius
> yang
> mengelirukan-Nya.
>
> Dia Mahatahu akan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu, perkasa
> atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu tanpa ada sesuatu
> yang
> menyerupai-Nya.
>
> Dia lah yang menciptakan sesuatu ketika belum ada yang disebut
> sesuatu.
> Dia lah yang Mahaabadi, yang berkuasa atas dasar keadilan. Tiada Tuhan
> melainkan Dia, yang Mahamulia dan Mahabijaksana, Mahasuci Tuhan dari
> dilihat oleh pandangan mata, dan Dia lah yang mengetahui pandangan
> mata.
> Dia yang Mahakasih dan Maha Mengetahui.
>
> Tiada siapa yang menceritakan Sifat-Nya lantaran (pernah) melihat-Nya,
> tiada siapa yang mengetahui bagaimana Dia, secara lahir maupun batin,
> melainkan apa yang dikatakan oleh Allah yang Mahamulia dan Agung itu
> sendiri.
>
> Aku bersaksi bahwa Dia lah Allah yang kudus-Nya memenuhi masa;
> cahaya-Nya meliputi alpha omega; perintah-Nya terlaksana tanpa
> musyawarah; takdir-Nya ditentukan tanpa mitra bersama-Nya.
>
> Tiada cela dalam pengaturan-Nya, tiada contoh dari ciptaan yang
> dibentuk-Nya, tiada bantuan dari siapapun, tiada kerja keras dan tiada
> tipuan atas apa yang dicptakan-Nya. Dia ciptakan makhluk-Nya dan
> jadilah
> ia, dan karena cahaya wujud-Nya maka tampaklah semua.
>
> Dia lah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia; Maharapi dan Mahaindah
> dalam mencipta, Mahaadil yang tidak menganiaya; dan Maha Pemurah yang
> kepada-Nya kembali seluruh hajat dan perkara.
>
> Aku bersaksi bahwa Dia-lah Tuhan yang kepada kekuasaan-Nya segala
> sesuatu tunduk, dan kepada keagungan-Nya segala sesuatu membungkuk.
> Dia-lah Empunya seluruh kekayaan, Raja dari seluruh kerajaan, Pencipta
> planet-planet dan bintang gemintang dilangit, Pengendali matahari dan
> bulan, dimana kesemuanya mengorbit untuk batas waktu yang telah
> ditentukan. Dialah yang menggilirkan malam setelah siang, dan siang
> setelah malam saling bergantian; Dia-lah Penghancur orang-orang tiran
> yang membangkang, dan Pemusnah setan-setan yang terkutuk yang
> menentang.
>
> Tiada bersama-Nya kawan dan lawan. Dia Mahaesa, Tunggal, Satu dan
> tempat
> kembali sagala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan
> bersama-Nya tiada siapapun yang sejajar. Dia-lah Tuhan yang Satu,
> Pemelihara yang Agung dan Pemurah. (Bila) berkehendak, ia akan
> terlaksana, (bila) berkeinginan ia akan terwujud. Dia mengetahui
> segala
> sesuatu dengan rinci. Dia yang mematikan dan menghidupkan, membuat
> orang
> menjadi fakir dan kaya, tertawa dan menangis, menyimpan dan memberi.
>
> Di tangan-Nyalah kerajaan; bagi-Nya segala pujian, ditangan-Nya semua
> kebaikan dan Dia-lah Mahakuasa atas segala sesuatu.
>
> Malam dimasukkan-Nya kedalam siang, dan siang kedalam malam. Tiada
> Tuhan
> melainkan Dia. Maha Perkasa dan maha Pengampun, Pengijabah do'a dan
> Pemberi yang tulus, Mahatahu secara rinci segala hembusan nafas. Tuhan
> seluruh makhluk, baik dari golongan jin maupun manusia. Tiada perkara
> sulit dihadapan-Nya; tiada gemuruh suara orang-orang yang berteriak
> mengganggu-Nya atau desakan orang-orang yang mendesak yang
> mencemaskan-Nya. Dia lah Pemelihara orang-orang yang saleh, Penyebab
> berjayanya orang-orang yang sukses, Pelindung isi penghuni alam
> semesta,
> dan yang paling berhak disyukuri dan dipuji oleh setiap makhluk
> ciptaan-Nya. Aku memuji-Nya pada saat suka dan duka, juga pada saat
> sakit dan reda. Aku beriman kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya,
> kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Aku mendengar perintahnya, patuh
> dan
> segera bangkit melaksanakan segala yang diridhoi-Nya, menerima total
> ketentuan-Nya, semangat dalam mematuhi-Nya dan takut akan siksa-Nya.
> Sebab Dia-lah Tuhan yang tiada seorangpun akan merasa aman dari
> makar-Nya atau khawatir dari kedzaliman-Nya. Aku ikrarkan pada diriku
> akan kehambaanku dihadapan-Nya, dan juga bersaksi akan ke-Tuhan-Nya
> (untuk diriku). Kini akan kusampaikan (kepada kalian) apa yang Tuhan
> wahyukan kepadaku, sebab bila tidak kulakukan itu, niscaya azab-Nya
> akan
> mengenaiku sedemikian sehingga tiada siapapun yang akan dapat
> menolakNya
> dariku. Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia telah memberitahuku apabila
> tidak
> kusampaikan apa yang diturunkan-Nya padaku, itu berarti sama dengan
> aku
> tidak menyampaikan seluruh risalahNya; dan Dia juga telah menjamin
> untuk
> memliharaku (dari upaya orang-orang yang menentang). Bagiku cukuplah
> Allah yang Maha Pemurah sebagai penjamin. Firman-Nya untukku:
>
> Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
>
> "Wahai Rasul (Muhammad), sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari
> Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau
> tidak
> menyampaikan seluruh risalah-Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari
> (gangguan) manusia-manusia lain." (QS: 5:67).
>
> Wahai umat manusia! Aku tidak pernah salah, alpa atau lalai dalam
> menyampaikan segala sesuatu yang diturunkan Allah padaku. Kini aku
> jelaskan kepada anda semua sebab turunnya ayat ini: Malaikat Jibril
> (a.s) turun menjumpaiku sebanyak tiga kali, memerintahkan aku -
> berdasarkan perintah Tuhanku - untuk berdiri ditempat keramaian ini
> dan
> menyatakan kepada (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib
> adalah saudaraku, washiku (penerima wasiatku), penggantiku dan imam
> setelahku, yang kedudukannya disisiku sama dengan kedudukan Harun
> disisi
> Musa, hanya saja tiada nabi selepasku.
>
> Dia adalah wali (pemimpin) kamu setelah Allah dan Rasul-Nya. Allah
> (SWT)
> juga telah menurunkan kepadaku sebuah ayat dalam kitab-Nya berkenaan
> dengan itu: "Sungguh wali (pemimpin) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan
> orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat, dan menunaikan zakat
> sementara mereka dalam keadaan rukuk." (QS: 5:55).
>
> Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mendirikan sholat dan menunaikan
> zakatnya dalam keadaan rukuk seperti yang dimaksudkan oleh Allah itu.
>
> (Pada mulanya) Aku memohon kepada Malaikat Jibril agar dia memintakan
> kepada Allah untuk membebaskan aku dari menyampaikan perintah ini
> kepada
> kamu, karena aku tahu betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa, dan
> betapa banyaknya orang-orang munafik, penebar fitnah dan yang
> mengolok-olok agama Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Allah
> karakter-karakter mereka dalam Al-Qur'an : "......kamu katakan dengan
> mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu
> menganggapnya
> sesuatu yang ringan, padahal disisi Allah ia adalah besar." (QS:
> 24:15).
>
> Masih segar dalam ingatanku bagaimana mereka menggangguku berkali-kali
> sedemikian sehingga mereka menyebutku sebagai udzun (orang yang tidak
> teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Mereka
> mendugaku demikian lantaran seringnya mereka mendapati dia (Ali) duduk
> bersamaku dan besarnya penghormatanku kepadanya, sehingga untuk itu
> Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya : "Diantara mereka
> (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: 'Nabi
> mempercayai semua apa yang didengarnya.' Katakanlah: 'Ia mempercayai
> semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan mempercayai
> orang-orang mukmin..." (QS: 9:61).
>
> Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya akan kusebutkan,
> atau seandainya aku mau tunjuk wajah-wajah mereka niscaya akan
> kutunjukkan. Namun - demi Allah - aku telah dan terus akan bersikap
> sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka. Bagaimanapun, Allah
> tetap
> mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa
> yang
> diturunkan-Nya padaku tentang maksud ayat: "Wahai Rasul, sampaikanlah
> apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, apabila kamu tidak
> mengerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak
> menyampaikan
> seluruh risalahmu. Allah akan memelihara kamu dari (gangguan)
> manusia."
> (QS: 5:67).
>
> Ketahuilah -wahai umat manusia- sesungguhnya Allah telah menetapkannya
> (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah
> wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang
> baik
> yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, 'ajam (non-arab),
> Arab,
> orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar, putih, hitam dan bagi
> setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah. Keputusan hukum yang
> diambilnya (Ali) adalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan
> perintahnya
> wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang
> mengikutinya
> akan memperoleh rakhmat, dan yang mempercayainya adalah orang yang
> beriman. Allah telah mengampuninya, mengampuni orang yang mendengarnya
> dan mematuhinya.
>
> Wahai umat manusia! Ini adalah kali terakhir aku berdiri ditempat
> keramaian ini. Dengarlah, patuhilah dan ikutilah perintah Tuhan kamu,
> karena Allah Azza wa Jalla adalah Tuan, Pelindung, dan Tuhan kamu.
> Berikutnya adalah Muhammad, yang sekarang tengah berdiri dan berbicara
> dihadapan kamu sebagai wali dan pemimpin kamu. Setelah aku Ali adalah
> wali dan Imam kamu berdasarkan perintah Tuhanmu. Kemudian imamah dan
> kepemimpinan (berikutnya) ada pada zuriat keturunanku dari
> putra-putranya sehinggalah tiba suatu hari dimana kamu akan berjumpa
> dengan Allah dan Rasul-Nya.
>
> Sungguh tiada suatu yang halal melainkan apa yang dihalalkan oleh
> Allah,
> dan tiada yang haram melainkan apa yang diharamkan oleh-Nya. Dia-lah
> yang telah mengajariku mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian
> aku
> mengajarkannya kepada Ali apa yang diajarkan oleh Tuhanku padaku dari
> kitab-Nya dan hukum halal dan haram-Nya.
>
> Wahai umat manusia! Seluruh ilmu yang diajarkan-Nya kepadaku adalah
> ilmu-ilmu yang rinci. Dan, dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah
> kuajarkan pula secara rinci pada Imam orang-orang yang bertakwa ini.
> Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam
> yang agung.
>
> (bersambung ke bagian 2)
>
> Wassalaamu'alaikum wr.wb.
> SAL
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
> [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)