Salam,
Terima kasih banget atas pelajarannya Pak Ali, saya salah satu penggemar
tulisan Bapak. Banyak yang saya pelajari dari tulisan Bapak. Terus
terang tulisan saya berangkat sepenuhnya dari kekurangan saya yang masih
sangat suka menghakimi orang lain, atau menghakimi suatu fenomena.
Ketika mentor pengajian menasehati saya agar berhati-hati dalam
menghakimi sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan atasnya secara
spontan yang terpikir oleh saya adalah kenekatan saya yang mudah
menghakimi dan lahirlah tulisan itu. Mentor saya bilang bahwa
Penghakiman kita atas sesuatu akan membawa kita pada penghakiman Allah
pada Allah. Baik-buruk semestinya dinilai dengan hati terbuka dan tidak
dengan hanya berbekal pada fenomena tersebut. Tulisan Pak Ali merupakan
masukan yang mengajari saya bahwa memang semestinya kita selalu terbuka
dan tidak berhenti pada pengetahuan kita saat ini.

Lalu yang terbayang oleh saya ketika ada sebuah fenomena, bahkan ketika
kita melihat dengan mata kepala sendiri tidaklah berarti bahwa kita bisa
memutuskan fenomena orang tersebut adalah perbuatan buruk. Sesungguhnya
pengetahuan kita amat terbatas terutama panca indra kita atas pengamatan
suatu peristiwa. Ketika Pak Ali melihat Pak Kyai itu tidak Shalat apakah
Pak Ali telah tahu betul bahwa seluruh aspek dari fenomena itu telah Pak
Ali ketahui? Bisa saja pengamatan yang Pak Ali lakukan ada yang
terlewat. Sebagai contoh, seorang Istri melihat suaminya sedang
berbelanja memilih-milih barang dengan seorang wanita cantik sementara
mestinya ia di kantor. Melihat fenomena ini sang istri menganggap sang
suami tidak setia lagi, marahlah sang istri, dan guncanglah rumah tangga
tersebut. Selidik punya selidik ternyata kejadian sebenarnya adalah sang
istri akan berulang tahun dan sang suami ingin memberikan sebuah hadiah
yang special pada sang istri tercinta, karena ia tidak tahu apa yang
musti dibeli maka ia meminta bantuan salah satu teman kantornya yang
kebetulan tahu hadiah apa yang paling tepat.

Saya hanya takut bila saya ternyata menjadi seperti istri yang salah
sangka dalam menyikapi fenomena para sahabat.  Bagaimana kalau ternyata
fenomena itu adalah sebuah kemestian dari-Nya dan sama sekali tidak
melibatkan hawa nafsu semua pihak? Maaf Pak Ali dengan pengetahuan saya
yang terbatas akan sejarah dan hikmah dan banyak hal lain lagi saya
menjadi terlalu takut untuk memandang salah satu pihak salah dalam
dalam fenomena itu. Saya takut menjadi istri yang salah sangka sementara
saya masih saja layaknya istri yang salah sangka dalam kehidupan
keseharian saya atas banyak hal yang dihadirkan-Nya atas saya....
        
        Salam

        Gus Lim

        Dari Pak Ali 
        :

        Assalaamu 'alaikum wr. wb.

        > ----------
        > From:         AGUS SALIM[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
        > 
        > Mohon maaf sebelumnya, dengan segala kekurangan saya yang
masih berlumur
        > dosa ini , saya ingin bertanya kepada Pak Ali berkenan dengan
kutipan
        > di bawah ini:
        > 
        Kalau Gus Lim mengatakan berlumur dosa maka apalagi saya ? :-(
Bagaimanapun
        juga apa yang saya sebutkan dalam tulisan tersebut adalah hasil
pencarian
        untuk menjawab kebingungan saya. Sangat mungkin bahwa sikap saya
dalam
        menghayati fase kehidupan nabi dan para sahabat tersebut salah
total....
        sangat mungkin. Tapi dengan pengetahuan yang ada pada saya
hingga saat ini,
        hanya sampai segitulah penghayatan saya. Penghayatan / sikap
dapat berubah
        sejauh pengetahuan yang dimiliki.

        Satu hal yang pasti, bahwa bagaimanapun juga saya merasa jauh
lebih buruk
        daripada seluruh sahabat utama yang saya sebutkan. Karena meski
mungkin
        sebagian diantara mereka sempat tergelincir mengikuti hawa
nafsunya maka
        sebagian diantara mereka sempat kembali kepada Allah SWT. Tapi
seburuk
        apapun kualitas jiwa saya, akal saya tetap mampu membedakan
antara perbuatan
        baik dan perbuatan buruk sejauh pengetahuan yang ada atasnya.

        Kemampuan untuk menghayati suatu peristiwa berdasarkan
pengetahuan yang
        diperoleh tidak ada hubungannya dengan lebih baik atau lebih
buruk. Kita
        tidak perlu lebih baik dari nabi Khidhir misalnya untuk
mengetahui bahwa
        perbuatan Khidhir dalam melubangi perahu adalah perbuatan yang
baik karena
        disuatu tempat ada raja yang akan merampas perahu-perahu yang
dalam keadaan
        baik. Sebelum pengetahuan bahwa ada raja yang akan merampas
perahu-perahu
        yang dalam keadaan baik, kita memiliki pengahyatan yang berbeda,
tetapi
        setelah ada pengetahuan tsb kita menghayati perbuatan Khidhr itu
adalah
        baik. Apakah kita perlu lebih baik dari Nabi untuk menghayati
bahwa
        perbuatan Nabi itu adalah perbuatan baik? 
        Contoh lain, sebaliknya saya mungkin sepuluh kali meninggalkan
sholat.
        Ketika saya melihat bahwa seorang kyai meninggalkan sholat (dan
berdasarkan
        seluruh pengetahuan yang ada saya yakin bahwa beliau misalnya
tidak menjamak
        sholatnya, dan beliau juga mengatakan bahwa beliau telah
meninggalkan
        sholat) saya tetap saja tahu bahwa pada saat itu ustadh saya
telah melakukan
        perbuatan yang buruk. Menurut saya penghayatan/sikap atas suatu
peristiwa
        bergantung pada pengetahuan kita atas peristiwa tersebut, dan
tidak ada
        kaitannya dengan lebih baik ataupun lebih buruk daripada
tokoh-tokoh yang
        ada dalam peristiwa tersebut. :-) 

        > 1.    Apakah memang benar-benar dapat dipastikan bahwa asumsi
dasar
        > itulah yang ada di benak dan hati para sahabat?
        > 
        > 2.    Apakah memang bisa dipastikan para sahabat tidak pernah
menerima
        > petunjuk Allah?
        > 
        Sekali lagi tidak ada yang bisa saya pastikan. Penghayatan/sikap
tersebut
        berdasarkan pengetahuan yang ada pada saya.

        > 3.    Mungkinkah peristiwa itu terjadi karena memang itulah
yang
        > semestinya terjadi, dalam hal ini masing-masing pihak tidak
menyertakan
        > hawa nafsunya karena memang  peristiwa ini sengaja
dihadirkanNya untuk
        > tujuan tertentu? Ada makna dalam barangkali ( ini barangkali
loh) yang
        > semestinya kita gali dari peristiwa itu, ada yang harus kita
hikmati
        > dari peristiwa itu tanpa harus berasumsi salah satu pihak
adalah
        > pendosa. Ketika Al Junaid menjatuhkan hukuman pada Al Hallaj
apakah
        > salah seorang dari kedua belah pihak adalah pendosa? Atau
ketika Sunan
        > Kalijogo ( Walisongo) menjatuhkan hukuman pada Syeh Siti Jenar
adakah
        > salah satu dari keduanya pendosa? 
        > 
        Kalau saja Gus Lim mampu menjelaskan kepada saya tentang makna
dibalik
        peristiwa itu dengan penghayatan lain dan dapat diterima oleh
akal saya
        (sesuai dengan piece and bit lainnya) maka insyaallah saya
dengan suka cita
        bersedia merubah penghayatan saya tersebut.

        > 4.    Pemanipulasian sejarah yang dilakukan Yazid cs untuk
menghinakan
        > Ahlul Bait bukankah tidak menjadi otomatis bahwa seluruh
kesalahan dan
        > penghinaan yang dialami oleh Ahlul Bait adalah dosa para
sahabat utama?
        > Bagaimana bila kita terlanjur berprasangka buruk dan bahkan
menuduh
        > sahabat yang bukan-bukan dan ternyata mereka adalah golongan
orang-orang
        > yang dicintai Allah, apa jadinya dengan diri kita? Dan apa
kita tidak
        > menjadi sama saja dengan Yazid cs yang memusuhi Pencinta
Allah?
        > 
        Seseorang bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya dan
tidak
        bertanggung-jawab atas perbuatan pendahulunya ataupun
orang-orang yang
        kemudian. 
        Perbuatan Yazid tentunya tidak mungkin kita kembalikan
pertanggungjawabannya
        kepada shahabat utama.

        > 5.    Apakah bukan tidak mungkin bahwa kitalah sebenarnya yang
belum
        > mendapat petunjuk atau pengetahuan dari Allah berkenaan dengan
hal ini,
        > hingga tidak patutlah kita untuk menghakimi dan memvonis Para
sahabat
        > mulai dari Imam Ali ,Abu Bakar as siddiq hingga Abu Hurairah
?Saya
        > pribadi khawatir salah menghujat kekasih Allah, sementara dosa
masih
        > bertimbun.
        > 
        Setiap saat, sadar ataupun tidak, selama akal kita masih
berjalan, maka kita
        selalu mengambil sikap/penghayatan tertentu terhadap suatu
kejadian sejauh
        pengetahuan yang kita peroleh atasnya. Sikap tersebut bisa
dinyatakan atau
        hanya disimpan dalam benak kita. Penghayatan tersebut bisa benar
bisa salah
        tergantung pengetahuan kita dan kemampuan kita untuk
menganalisanya.
        Berdasarkan penghayatan tersebutlah maka kita beraktivitas.
Bagaimanapun
        rambu-rambu tetap ada dan pikiran tidak dapat melewati batas
tertentu,
        misalnya kita tidak mungkin menganggap perbuatan Rasulullah SAAW
dan
        orang-orang suci yang telah dijamin oleh Allah SWT sebagai
perbuatan
        mengikuti hawa nafsu. Saya telah mencoba meneliti lagi sikap
saya tersebut
        terhadap kehidupan Rasulullah SAAW dan sahabatnya, saya kira
saya tidak
        melanggar rambu-rambu tersebut.

        Sekali lagi Om Gus Lim,  seperti contoh ketika saya yakin Ustadh
saya suatu
        saat meinggalkan sholat maka (meski saya mungkin telah melakukan
maksiat
        yang jauh lebih parah daripada hanya satu kali meninggalkan
sholat)
        bagaimanapun buruknya saya, saya  mengetahui bahwa Ustadh tsb
ketika itu
        melakukan perbuatan yang buruk, tidak ada kaitannya saya lebih
baik ataupun
        lebih buruk daripada ustadh saya. Demikian juga ketika saya
bersikap bahwa
        Aisyah mengikuti hawa nafsunya ketika mengangkat senjata melawan
        kekhalifahan Ali, maka tidak berarti mengatakan saya lebih baik
dari Aisyah
        atau lebih buruk dari Aisyah. 

        Mengenai Aisyah sendiri, setahu saya setelah perang Jamal
tersebut maka
        Aisyah kembali ke rumahnya (sesuai perintah Allah dalam Quran QS
33:33 &
        Hadist agar istri Nabi tidak meninggalkan rumahnya). Beliau
kemudian
        menghiasi sisa hidupnya dengan keindahan taubat. Bibirnya tidak
pernah lepas
        dari permohonan ampun kepada Allah SWT. Beliau insyaallah adalah
orang yang
        dicintai oleh Allah SWT. 

        Bagaimanapun juga menghujat pribadi seseorang adalah sesuatu
yang sangat
        buruk, tetapi bersikap terhadap suatu peristiwa adalah hal yang
berbeda.
        Pada contoh ustadh tsb, penghayatan saya bahwa ketika ustadh
saya
        meninggalkan sholat maka dia telah melakukan perbuatan yang
buruk, adalah
        penghayatan yang benar. Dan akan menjadi penghayatan yang salah
ketika saya
        kemudian mengatakan bahwa ustadh saya adalah orang yang selalu
berbuat
        buruk.

        Wassalaamu 'alaikum wr. wb.






        
---------------------------------------------------------------------
        Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
        Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
        Dokumentasi Milis :
http://www.mail-archive.com/[email protected]
        Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)



        

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke