Salam,
Mohon maaf sebelumnya, dengan segala kekurangan saya yang masih berlumur
dosa ini , saya ingin bertanya kepada Pak Ali berkenan dengan kutipan
di bawah ini:
Akhirnya dengan asumsi dasar bahwa petunjuk Allah tidak mungkin
diterima
seseorang yang bukan Nabi, (meski mereka tahu bahwa pada zaman
Rasulullah
SAAW, seluruh kekuasaan berpusat pada Nabi Muhammad SAAW)
sehingga
terjadinya pemusatan kekuasaan harus dicegah kalau perlu dengan
mengangkat
senjata seperti yang dilakukan Aisyah. Kalau saja shahabat itu
sudah belajar
ilmu tasawuf sama Abahnya Hilmy :-), agar yakin bahwa seorang
manusia
biasapun (bukan seorang nabi) dapat selalu memperoleh petunjuk
dari Allah
SWT, maka barangkali sejarah akan berbeda :-(.
1. Apakah memang benar-benar dapat dipastikan bahwa asumsi dasar
itulah yang ada di benak dan hati para sahabat?
2. Apakah memang bisa dipastikan para sahabat tidak pernah menerima
petunjuk Allah?
3. Mungkinkah peristiwa itu terjadi karena memang itulah yang
semestinya terjadi, dalam hal ini masing-masing pihak tidak menyertakan
hawa nafsunya karena memang peristiwa ini sengaja dihadirkanNya untuk
tujuan tertentu? Ada makna dalam barangkali ( ini barangkali loh) yang
semestinya kita gali dari peristiwa itu, ada yang harus kita hikmati
dari peristiwa itu tanpa harus berasumsi salah satu pihak adalah
pendosa. Ketika Al Junaid menjatuhkan hukuman pada Al Hallaj apakah
salah seorang dari kedua belah pihak adalah pendosa? Atau ketika Sunan
Kalijogo ( Walisongo) menjatuhkan hukuman pada Syeh Siti Jenar adakah
salah satu dari keduanya pendosa?
4. Pemanipulasian sejarah yang dilakukan Yazid cs untuk menghinakan
Ahlul Bait bukankah tidak menjadi otomatis bahwa seluruh kesalahan dan
penghinaan yang dialami oleh Ahlul Bait adalah dosa para sahabat utama?
Bagaimana bila kita terlanjur berprasangka buruk dan bahkan menuduh
sahabat yang bukan-bukan dan ternyata mereka adalah golongan orang-orang
yang dicintai Allah, apa jadinya dengan diri kita? Dan apa kita tidak
menjadi sama saja dengan Yazid cs yang memusuhi Pencinta Allah?
5. Apakah bukan tidak mungkin bahwa kitalah sebenarnya yang belum
mendapat petunjuk atau pengetahuan dari Allah berkenaan dengan hal ini,
hingga tidak patutlah kita untuk menghakimi dan memvonis Para sahabat
mulai dari Imam Ali ,Abu Bakar as siddiq hingga Abu Hurairah ?Saya
pribadi khawatir salah menghujat kekasih Allah, sementara dosa masih
bertimbun.
Sekali lagi mohon maaf atas pertanyaan saya yang awam ini Pak Ali.
Salam,
Gus Lim
-----Original Message-----
From: Ali Abidin [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, June 02, 1999 7:39 AM
To: '[EMAIL PROTECTED]'
Subject: RE: [Tasawuf] HADITS GHADIR KHUM ('SK
Nabi),bagian 1/3
Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Peristiwa Ghadir Khum ini tidak mungkin dipungkiri, terlalu
banyak saksi
mata yang hadir pada saat itu. Hadist berkaitan dengan khotbah
Ghadir Khum
ini juga beratus-ratus tersebar di kitab-kitab hadist
(diantaranya hadist
tentang AlQuran dan Ahlulbait-ku seperti yang pernah saya
kutipkan dalam
kitab hadist Muslim) serta juga direkam oleh banyak sejarawan.
Meski juga
harus disadari bahwa kita tidak akan pernah menemukan satu
hadist selengkap
dan sepanjang khutbah yang dikutipkan oleh saudara Syarifuddin
ini
sekaligus. Hadist adalah berdasarkan ingatan orang-orang biasa,
sehingga
memang sebagian orang mengingat paragraf kesekian dari khutbah
itu, sebagian
lagi mengingat paragraf lainnya. Bagaimanapun juga, sejauh
pemahaman sempit
saya mengenai hadist, tidak ada hadist yang lebih mutawatir
daripada
hadist-hadist dalam peristiwa Ghadir Khum ini karena sifatnya
yang kolosal
melibatkan lebih dari 100.000 kaum muslim pada haji Wada'.
Membaca sejarah kehidupan Rasulullah, terutama pada akhir-akhir
menjelang
wafatnya, saya berpikir keras untuk mencoba memahami apa yang
ada pada
pikiran beberapa shahabat utama yang hadir pada peristiwa
Sagifah Bani
Saidah (dimana Abubakar akhirnya menjadi khalifah). Runtutan
peristiwa
pasukan Usamah, lalu Ghadir Khum, lalu ketika Rasulullah hendak
menuliskan
wasiatnya lalu peristiwa Saqifah, hingga kemarahan Fatimah dll.
Ada beberapa
kemungkinan untuk mengambil sikap:
1. Peristiwa tersebut memang terjadi tetapi shahabat utama tidak
mungkin
sengaja membangkang pada Rasulullah SAAW
2. Peristiwa tersebut terjadi dan memang shahabat itu
tergelincir mengikuti
hawa nafsunya
3. Atau kita bisa memilih jalan yang paling aman yaitu menolak
bahwa seluruh
kejadian itu pernah berlangsung.
4. Peristiwa tersebut terjadi tetapi memiliki makna yang lain.
Jika kita menerima sikap kesatu maka ada paradoks yang sangat
kuat dalam
pemikiran kita, yaitu kita berarti meyakini bahwa Rasulullah
SAAW dan
Ahlulbaitnya (dalam sejarah, Ali & Fatimah tidak mau memberikan
baiatnya
kepada Abu Bakar hingga 6 bulan kemudian Fatimah dikuburkan)
adalah
orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan mengikuti hawa
nafsunya.
Rasulullah dalam semua peristiwa tersebut seakan didorong oleh
hawa nafsunya
agar umatnya memberikan tempat yang mulia kepada keluarga dan
keturunannya.
Fatimah didorong hawanafsunya ketika tidak mau memberikan
baiatnya kepada
AbuBakar hingga akhir hayatnya. Ali didorong hawa nafsunya
ketika juga tidak
mau segera memberikan baiatnya dan menundanya hingga 6 bulan.
Ali juga
didorong hawa nafsunya ketika mengucapkan khutbah 'Siqsiqiyyah'
ketika
beliau akhirnya dipaksa untuk menjadi khalifah menggantikan
Usman. Kita
lebih rela mengatakan Rasulullah SAAW dan ahlulbaitnya sebagai
tergelincir
mengikuti hawa nafsunya daripada beberapa shahabat utama?
Seluruh rangkaian
peristiwa tersebut sangat susah untuk bisa ditafsirkan lain
selain bahwa
Rasulullah mewasiatkan kepada umatnya agar mentaati ahlulbaitnya
setelah
meninggalnya Rasulullah SAAW.
Jika kita menerima sikap kedua maka kita cenderung pada sikap
menyatakan
bahwa shahabat utama tersebut yang didorong hawa nafsunya. Hal
ini juga
menimbulkan masalah berat dalam benak kita. Bagaimana mungkin
shahabat utama
bisa menuruti hawa nafsunya hingga membangkang pada perintah
Rasulullah
SAAW? Seluruh pandangan surgawi kita mengenai kehidupan shahabat
mungkin
harus kita kuburkan. Jika shahabat utama saja membangkang pada
Rasulullah
SAAW maka siapa sebenarnya pembela Rasulullah SAAW? Dan kita
barangkali
harus mulai lagi membangun ulang pemahaman sejarah Muhammad
SAAW. Kita
mungkin harus mulai membayangkan bahwa perjuangan Rasulullah
SAAW itu sangat
berat, jauh lebih berat dari yang kita bayangkan, dan juga sepi
yang
mencekam. Kita mulai harus membayangkan bahwa Rasulullah SAAW
dikelilingi
orang yang setiap saat siap membangkang kecuali sangat sedikit
(dan yang
sedikit ini ternyata jauh lebih sedikit dari yang semual kita
pikirkan).
Kita barangkali mulai menyadari kejadian perang Hunain, perang
Uhud dimana
Rasulullah SAAW ditinggalkan seluruh sahabat (bahkan sahabat
utamanya)
kecuali segelintir dari keluarganya. Kita barangkali mulai
memahami bahwa
Rasulullah SAAW itu hampir-hampir sendirian menegakkan islam dan
dikelilingi
shahabat-shahabat yang rapuh, yang akan segera membangkang
ketika keadaan
tidak menguntungkan mereka. Siapakah yang mencintai beliau
dengan
sebenar-benarnya? Tidak ada satupun diantara shahabat utama itu
yang ada di
sekeliling Rasulullah SAAW ketika dalam perang uhud Rasulullah
terkepung
oleh puluhan musyrikin dan sempat bertahan sendirian bahkan
hingga jatuh ke
dalam lubang dan pipinya terluka tertembus oleh baju besinya
sendiri hingga
akhirnya beliau diselamatkan oleh sebagian ahlulbaitnya. Kita
barangkali
menyadari kesedihan Rasulullah melihat kematian Hamzah
(pamannya), satu
diantara sangat sedikit pembela utamanya pada perang Uhud. Kita
barangkali
akan menyadari kesepian Rasulullah SAAW ketika ditinggalkan 2
pembela dari
kalangan keluaraganya yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Kita
barangkali
menyadari mengapa begitu mudahnya 300 dari 1000 orang pasukan
Uhud berbalik
meninggalkan Rasulullah bahkan sebelum peperangan dimulai. Kita
mulai
merasakan betapa sepinya perjuangan Rasulullah SAAW.
Jika kita menerima sikap ketiga maka barangkali inilah hal yang
paling aman
untuk sementara :-). Sikap burung unta yang menyembunyikan
kepala ke dalam
pasir ketika dalam keadaan terancam. Masalahnya kembali terjadi
paradoks
karena jika kita misalnya menganggap peristiwa Ghadir Khum tidak
pernah
terjadi maka berarti kita harus mengkoreksi ratusan hadist yang
meriwayatkan
khutbah Ghadir Khum tersebut. Kita harus membiarkan kosong
keping-keping
pengetahuan sejarah yang ada di benak kita pada sekitar akhir
hayat
Rasulullah SAAW. Kita bahkan barangkali harus mulai lagi
menyusun kriteria
baru untuk ilmu Mustalah Hadist dst...:-)
Jika kita menerima sikap keempat, barangkali kita mulai harus
berpikir keras
apa maksud Rasulullah SAAW dan ahlulbaitnya dalam seluruh
kejadian tersebut?
Semakin kita berpikir mendalam, tidak bisa berpikiran lain bahwa
dalam
seluruh peristiwa memiliki makna yang tidak lain bahwa
Rasulullah SAAW
mewasiatkan umatnya agar mentaati Ahlulbaitnya sepeninggal
beliau. Lalu apa
maksud dari hal ini? Apakah Rasulullah SAAW bermaksud mengatakan
agar Ali
diangkat menjadi pemimpin kenegaraan?. Ataukah barangkali
Rasulullah SAAW
bermaksud agar umat islam mentaati ahlulbaitnya dalam bidang
keagamaan saja?
===============================================
Di bawah ini adalah sikap saya.
Mengenai perselisihan dalam jabatan khalifah -- seperti yang
pernah saya
singgung dalam posting lainnya -- saya kira beberapa sahabat
utama yang
hadir pada peristiwa Saqifah Bani Saidah (dimana Abubakar
akhirnya menjadi
khalifah), beranggapan bahwa kepemimpinan Ali yang diumumkan
oleh Nabi
Muhammad SAAW adalah kepemimpinan dalam wilayah keagamaan bukan
dalam
kenegaraan. Sehingga mereka sangat terlihat berupaya keras
menghindari
berkumpulnya kekuasaan pemerintahan serta kekuasaan agama pada
satu orang.
Secara ilmu kenegaraan modern, pemikiran shahabat ini dapat
dibenarkan. Saat
ini kita juga menganut trias politika dll yang bertujuan untuk
mencegah
berkumpulnya kekuasaan pada satu orang. Sepanjang sejarah awal
islam, saya
melihat sangat kentara tindakan-tindakan yang dilakukan sebagian
sahabat
dalam upayanya menjauhkan Ali dari kemungkinan menjabat kedua
kepemimpinan
(agama & politik) sekaligus. Sebagian shahabat tersebut
benar-benar tidak
menginginkan berkumpulnya semua kemuliaan pada satu orang yang
bukan seorang
Nabi (yaitu kemuliaan sebagai penerus keturunan Nabi, sebagai
pemimpin
keagamaan serta sebagai pemimpin kenegaraan), barangkali
ditakutkan akan
menjadi otoriter :-). Mereka mungkin menganggap bahwa bersatunya
kekuasaan
pada seorang Nabi adalah lumrah karena mendapat bimbingan Allah,
tetapi
tidak boleh terjadi pada seorang yang bukan seorang Nabi karena
tidak lagi
memperoleh bimbingan Allah SWT.
Akhirnya dengan asumsi dasar bahwa petunjuk Allah tidak mungkin
diterima
seseorang yang bukan Nabi, (meski mereka tahu bahwa pada zaman
Rasulullah
SAAW, seluruh kekuasaan berpusat pada Nabi Muhammad SAAW)
sehingga
terjadinya pemusatan kekuasaan harus dicegah kalau perlu dengan
mengangkat
senjata seperti yang dilakukan Aisyah. Kalau saja shahabat itu
sudah belajar
ilmu tasawuf sama Abahnya Hilmy :-), agar yakin bahwa seorang
manusia
biasapun (bukan seorang nabi) dapat selalu memperoleh petunjuk
dari Allah
SWT, maka barangkali sejarah akan berbeda :-(.
Sejarah juga kemudian memperlihatkan bahwa ketika Ali akhirnya
menjadi
khalifah maka beliau sama sekali tidak otoriter seperti yang
ditakutkan
sebagian orang tersebut, dan tidak misalnya memberikan
jabatan-jabatan
kepada suku Bani Hasyim, bahkan beliau memberikan jabatan tanpa
melihat asal
sukunya melainkan berdasarkan kemampuan dan kelurusan hatinya.
Bahkan
sejarah justru memperlihatkan bahwa ketika Ustman berkuasa,
beliau
memberikan jabatan-jabatan penting kepada orang-orang yang tidak
bersih hati
dari sukunya (yaitu bani Umayyah) seperti Muawiyah, Marwan bin
Hakam (orang
yang pernah diusir Rasulullah dari Madinah) dll. Muawiyah &
Marwan adalah
orang-orang yang harus saya akui sangat cerdik-licin-brillian
sebagai
politikus tetapi juga jelas bukan seseorang yang bersih.
Sejarah kemudian memperlihatkan bahwa Ahlulbait yang diwasiatkan
oleh
Rasulullah SAAW (yaitu Fatimah + 12 Imam) untuk ditaati adalah
orang-orang
mulia yang sangat lurus, bersikap zuhud, wara', sangat dalam
ilmunya serta
sangat konsisten menentang segala bentuk kezaliman. Keseluruhan
orang ini
bersedia mengorbankan apa saja termasuk gugur demi kejayaan
islam. Mereka
adalah orang-orang yang persis berjalan di jalan yang
ditunjukkan datuknya
yaitu Muhammad SAAW. Sehingga terbukti, wasiat Rasulullah SAAW
di Ghadir
Khum ini bukan semata-mata berasal dari hawa nafsunya untuk
mengutamakan
keluarganya di atas umat islam lainnya melainkan benar-benar
pemilihan yang
berdasarkan keutamaan (dan wahyu Allah SWT), sehingga otomatis
kekhawatiran
beberapa shahabat tersebut sebenarnya tidak beralasan.
Itulah sebabnya saya menyadari kegigihan Fatimah yang tidak mau
memberikan
baiat kepada AbuBakar sebagai Khalifah hingga akhir hayatnya.
Baiat ini
dapat dimanipulasi oleh musuh-musuh islam sebagai menyerahkan
seluruh
otoritas (termasuk otoritas keagamaan) kepada Abu Bakar.
Kenyataan juga
membuktikan bahwa ketika keadaan meruncing dan Ali akhirnya demi
kemaslahatan umat memberikan baiatnya maka kekhawatiran Fatimah
menjadi
kenyataan bahwa akhirnya seluruh otoritas ahlulbait dipreteli
sedikit demi
sedikit. Yang patut disesalkan adalah terjadinya efek bola
salju, sehingga
dari yang semula 'hanya' mencegah Ali menjabat kepemimpinan
negara (meski
tetap sedikit menghormati Ali sebagai pimpinan agama serta masih
berusaha
menjaga kemuliaan ahlulbait Muhammad SAAW) kemudian lama
kelamaan bertambah
hingga pada saat Muawiyah berkuasa berubah menjadi mengingkari
Ali sebagai
pimpinan apapun (termasuk dalam bidang agama, serta mengingkari
kehormatan
ahlulbait) bahkan mengutuk Ali adalah suatu kebiasaan dalam
khutbah Jumat.
Bahkan memuncak 51 tahuan kemudian pada pembantaian Husain cucu
Rasulullah
SAAW pada saat Yazid bin Muawiyah menjadi penguasa serta
menghinakan
kehormatan darah-daging ahlulbait Nabi, serta banyak lagi
kepahitan yang tak
terperikan yang akhirnya dialami oleh ahlulbait Nabi. Dan
akhirnya ratusan
tahun sesudahnya hingga saat ini, umat islam menjadi asing dari
kemuliaan
ahlulbait Rasulullah SAAW. Jangankan mengetahui kemuliaan
mereka, mengenal
nama merekapun juga tidak. Jangankan mengetahui ucapan mereka,
ribuan hadist
Muhammad SAAW yang diriwayatkan dari merekapun ditolak.
Jangankan mengikuti
jejak mereka, mengetahui adanya jejak tersebut juga tidak.
Jangankan
meneladani hidup mereka, bersilaturrahmi (tawassul) kepada
merekapun
dianggap syirik.
Saya teringat Imam Syafii (pen: mohon dikoreksi jika
kata-katakurang tepat)
pernah berkata ketika beliau dituduh sebagai Ghulat (golongan
yang hampir
menuhankan Muhammad SAAW serta Ali bin Abi Thalib), maka beliau
berkata
kira-kira sebagai berikut : "Bila menghormati serta mencintai
ahlulbait Nabi
dianggap Ghulat, maka biarlah aku umumkan kepada semua orang
bahwa aku
adalah Ghulat", kemudian beliau menuliskan pujian-pujian kepada
ahlulbait.
Sayapun rasanya ingin berteriak hal yang sama :-).
Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa menghormati,
mencintai dan
memahami kemuliaan ahlulbait Nabi berarti harus bermazhab
Jakfari, sama
sekali itu adalah pemikiran yang salah !!!. Bahkan orang-orang
yang berjalan
pada jalan tasawuf lebih mencintai Rasulullah SAAW dan
ahlulbaitnya. Saya
bahkan beranggapan bahwa dengan menyadari kemuliaan ahlulbait
maka yang
lebih penting adalah mengikuti jalan pensucian jiwa yang telah
dilakukan
oleh mereka. Seperti pernah saya sebutkan bahwa dalam seluruh
tarekat
muktabarah, hingga saat ini sepengetahuan saya tidak ada satupun
yang tidak
menyebut sebagian atau seluruh 12 ahlulbait Nabi dalam silsilah
mursyid
menuju Muhammad SAAW. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa
tasawuf/irfan
bersumber dari ahlulbait Muhammad SAAW. Sehingga mengikuti
ahlulbait ini
(dengan menjalani pensucian jiwa) adalah jalan keselamatan yang
dijanjikan
oleh Rasulullah SAAW. Pensucian jiwa dengan melalui
irfan/tasawuf (yang saya
yakini diajarkan oleh ahlulbait) inilah yang diibararatkan
bagaikan menaiki
perahu Nuh oleh Rasulullah SAAW dalam khutbah Ghadir Khum
tersebut sehingga
yang menolaknya akan celaka sedang yang menaikinya akan selamat.
Terakhir kita cuman bisa mencontoh Rasulullah dalam bersikap
mengenai
orang-orang yang menolak penunjukan Rasulullah SAAW terhadap Ali
bin Abi
Thalib sebagai Amir AlMukminin "....demi Allah - aku telah dan
terus akan
bersikap sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka".
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
> ----------
> From: Rizki Herucakra[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Tuesday, 1 June 1999 22:58
> To: '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: RE: [Tasawuf] HADITS GHADIR KHUM ('SK
Nabi),bagian 1/3
>
>
> > -----Original Message-----
> > From: Hendra Nur Arifin
[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Tuesday, June 01, 1999 9:49 AM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: RE: [Tasawuf] HADITS GHADIR KHUM ('SK
Nabi),bagian 1/3
> >
> > Assalamua'laikum wr wb
> >
> > Pernah saya baca, ribut-ribut perebutan kekuasaan Abubakar
dkk
> > dilakukan
> > saat Ali dkk sedang mengurus jenasah Rasulullah SAWW.
> >
> > .... Dihapus
> >
> > Dari sejarah 'tragedi kamis hitam' dan sariyyah Usamah, dll.
saya
> > berpendapat bahwa justru di akhir hayat, beberapa 'sahabat
besar'
> > mempunya
> > hubungan yang tidak harmonis dengan Rasulullah SAW.
> >
> > Barangkali yang kita yakini selama ini sebagian cuma
merupakan
> > dongeng.
> >
> > Wassalamua'laikum wr wb
> >
> > -----Original Message-----
> >
> > Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
> >
> > Barangkali ...
> > Barangkali Anda benar.
> >
> > Tapi saya lebih suka berbaik sangka dalam hal ini. Abu
Bakar, Umar,
> > Ali, Al Ghifari, dan masih banyak lagi para "sahabat besar"
(meminjam
> > istilah Anda), adalah orang-orang yang sudah banyak berjasa
bagi
> > Islam. Mereka bahkan telah dijanjikan Surga oleh Allah.
Tingkat
> > keimanan mereka jauh berada di atas saya, karenanya saya
memilih
> > berbaik sangka saja pada mereka semua.
> >
> > Mengenai pertentangan pendapat antara Sahabat dan
Rasulullah, hal
> > tersebut sudah terjadi beberapa kali. Dan itu tidak hanya
terjadi di
> > saat-saat terakhir beliau. Diantaranya:
> >
> > 1. Dalam perang Uhud (ini bahkan di awal periode Madinah),
Rasulullah
> > berpendapat agar kaum Muslimin bertahan di dalam kota. Tapi
para
> > sahabat menentang dan berpendapat untuk menyambut musuh di
kaki gunung
> > Uhud. Kalah suara, Rasulullah setuju.
> >
> > Lalu ketika Rasulullah keluar meninggalkan ruangan, mereka
sadar sudah
> > menentang Nabi. Mereka menghadap Nabi dan meminta maaf dan
bersedia
> > merubah pendapat mereka dengan bertahan di kota.
> >
> > Rasulullah yang telah mengenakan baju besi bersabda, "Tidak
pantas
> > bagi seorang Nabi untuk menanggalkan pakaian besinya hingga
Allah
> > menentukan salah satu dari dua bagi dia: Syahid atau
Menang."
> >
> > Sejarah mencatat kaum Muslimin menyambut musuh di kaki
Gunung Uhud.
> >
> >
> > 2. Dalam perang Uhud tersebut Rasulullah berpesan kepada
kaum pemanah
> > agar bertahan di atas bukit, walaupun mereka melihat musuh
sudah
> > dikalahkan. Tapi ketika mereka melihat yang lain memunguti
rampasan
> > perang, mereka lalu meninggalkan pos-pos panah mereka. Ini
> > dimanfaatkan panglima Khalid bin Walid yang ketika itu belum
masuk
> > Islam. Khalid menyerang dari belakang dan kedudukan pun
berubah.
> >
> >
> > 3. Dalam perdamaian Hudaibiyah, sekilas tampak seluruh
klausul dari
> > perjanjian itu merugikan kaum Muslimin. Mereka semua kecewa
dan
> > menentang perintah Nabi untuk memotong rambut. Rasulullah
mengadukan
> > hal ini kepada Hafsah, istri beliau. "Celaka kaum Muslimin,
mereka
> > sudah tidak mau mendengarkan seruan Nabinya."
> >
> > Hafsah menjawab, "Berikanlah contoh kepada mereka, Insya
Allah, mereka
> > akan mengikuti Nabi mereka."
> >
> > Lalu Nabi memotong rambut beliau. Melihat itu, luluh hati
kaum
> > Muslimin dan mereka pun memotong rambut mereka.
> >
> > ---------------------------------------------------
> >
> > Masih banyak lagi kejadian-kejadian di mana para Sahabat
tidak sepaham
> > dengan Rasulullah jauh-jauh hari sebelum beliau wafat. Tapi
itu semua
> > menunjukkan betapa Nabi adalah seorang pemimpin yang sangat
moderat
> > dan jauh dari sifat "Diktator". Dalam banyak hal, Nabi
mempraktekkan
> > Demokrasi dalam bentuknya yang paling murni (terus terang
saya tidak
> > percaya pada Demokrasi yang ada saat ini).
> >
> >
> > Saya tidak tahu. Saya tidak ada di sana ketika para sahabat
berbaiat
> > kepada Abu Bakar. Saya rasa Anda pun demikian. Apa yang
sampai kepada
> > saya, sama dengan yang sampai kepada saya: cerita yang
diwariskan
> > turun temurun selama 14 abad tentang Nabi dan para sahabat
beliau.
> >
> > Saya memilih berbaik sangka kepada mereka semua, terutama
para Sahabat
> > yang telah berbagi duka dan derita bersama-sama dengan Nabi.
Para
> > sahabat yang menjadikan tubuh mereka perisai demi melindungi
Nabi dari
> > panah-panah kaum durhaka.
> >
> > Saya memilih berbaik sangka kepada Sahabat yang meneteskan
air matanya
> > ketika Nabi berkhutbah saat Haji Wada', karena menyadari
waktu Nabi
> > sudah dekat (maksud saya Abu Bakar).
> >
> > Saya memilih berbaik sangka kepada Sahabat yang tidak
percaya
> > Rasulullah sudah wafat dan menantang orang lain yang
mengatakan Rasul
> > sudah wafat karena cintanya (maksud saya Umar).
> >
> > Saya memilih berbaik sangka kepada Usman bin Affan, kepada
Ali bin Abi
> > Thalib, kepada Imam Hassan dan Hussein, dan para sahabat
mulia
> > sekalian. Termasuk sahabat yang memeluk dan mencium tubuh
Nabi dengan
> > penuh cinta setelah Nabi mengizinkan dia untuk memukul tubuh
Nabi
> > dalam keadaan telanjang dada.
> >
> > Bagaimana dengan Anda ?
> >
> >
> > Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
> >
> > ________________
> >
> > Rizki Herucakra
> > Indonesian Central Securities Depository
> > Management Information System Division
> >
>
>
---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis :
http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit
P)
>
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis :
http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)