Assalaamu 'alaikum wr. wb.
> ----------
> From: AGUS SALIM[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>
> Mohon maaf sebelumnya, dengan segala kekurangan saya yang masih berlumur
> dosa ini , saya ingin bertanya kepada Pak Ali berkenan dengan kutipan
> di bawah ini:
>
Kalau Gus Lim mengatakan berlumur dosa maka apalagi saya ? :-( Bagaimanapun
juga apa yang saya sebutkan dalam tulisan tersebut adalah hasil pencarian
untuk menjawab kebingungan saya. Sangat mungkin bahwa sikap saya dalam
menghayati fase kehidupan nabi dan para sahabat tersebut salah total....
sangat mungkin. Tapi dengan pengetahuan yang ada pada saya hingga saat ini,
hanya sampai segitulah penghayatan saya. Penghayatan / sikap dapat berubah
sejauh pengetahuan yang dimiliki.
Satu hal yang pasti, bahwa bagaimanapun juga saya merasa jauh lebih buruk
daripada seluruh sahabat utama yang saya sebutkan. Karena meski mungkin
sebagian diantara mereka sempat tergelincir mengikuti hawa nafsunya maka
sebagian diantara mereka sempat kembali kepada Allah SWT. Tapi seburuk
apapun kualitas jiwa saya, akal saya tetap mampu membedakan antara perbuatan
baik dan perbuatan buruk sejauh pengetahuan yang ada atasnya.
Kemampuan untuk menghayati suatu peristiwa berdasarkan pengetahuan yang
diperoleh tidak ada hubungannya dengan lebih baik atau lebih buruk. Kita
tidak perlu lebih baik dari nabi Khidhir misalnya untuk mengetahui bahwa
perbuatan Khidhir dalam melubangi perahu adalah perbuatan yang baik karena
disuatu tempat ada raja yang akan merampas perahu-perahu yang dalam keadaan
baik. Sebelum pengetahuan bahwa ada raja yang akan merampas perahu-perahu
yang dalam keadaan baik, kita memiliki pengahyatan yang berbeda, tetapi
setelah ada pengetahuan tsb kita menghayati perbuatan Khidhr itu adalah
baik. Apakah kita perlu lebih baik dari Nabi untuk menghayati bahwa
perbuatan Nabi itu adalah perbuatan baik?
Contoh lain, sebaliknya saya mungkin sepuluh kali meninggalkan sholat.
Ketika saya melihat bahwa seorang kyai meninggalkan sholat (dan berdasarkan
seluruh pengetahuan yang ada saya yakin bahwa beliau misalnya tidak menjamak
sholatnya, dan beliau juga mengatakan bahwa beliau telah meninggalkan
sholat) saya tetap saja tahu bahwa pada saat itu ustadh saya telah melakukan
perbuatan yang buruk. Menurut saya penghayatan/sikap atas suatu peristiwa
bergantung pada pengetahuan kita atas peristiwa tersebut, dan tidak ada
kaitannya dengan lebih baik ataupun lebih buruk daripada tokoh-tokoh yang
ada dalam peristiwa tersebut. :-)
> 1. Apakah memang benar-benar dapat dipastikan bahwa asumsi dasar
> itulah yang ada di benak dan hati para sahabat?
>
> 2. Apakah memang bisa dipastikan para sahabat tidak pernah menerima
> petunjuk Allah?
>
Sekali lagi tidak ada yang bisa saya pastikan. Penghayatan/sikap tersebut
berdasarkan pengetahuan yang ada pada saya.
> 3. Mungkinkah peristiwa itu terjadi karena memang itulah yang
> semestinya terjadi, dalam hal ini masing-masing pihak tidak menyertakan
> hawa nafsunya karena memang peristiwa ini sengaja dihadirkanNya untuk
> tujuan tertentu? Ada makna dalam barangkali ( ini barangkali loh) yang
> semestinya kita gali dari peristiwa itu, ada yang harus kita hikmati
> dari peristiwa itu tanpa harus berasumsi salah satu pihak adalah
> pendosa. Ketika Al Junaid menjatuhkan hukuman pada Al Hallaj apakah
> salah seorang dari kedua belah pihak adalah pendosa? Atau ketika Sunan
> Kalijogo ( Walisongo) menjatuhkan hukuman pada Syeh Siti Jenar adakah
> salah satu dari keduanya pendosa?
>
Kalau saja Gus Lim mampu menjelaskan kepada saya tentang makna dibalik
peristiwa itu dengan penghayatan lain dan dapat diterima oleh akal saya
(sesuai dengan piece and bit lainnya) maka insyaallah saya dengan suka cita
bersedia merubah penghayatan saya tersebut.
> 4. Pemanipulasian sejarah yang dilakukan Yazid cs untuk menghinakan
> Ahlul Bait bukankah tidak menjadi otomatis bahwa seluruh kesalahan dan
> penghinaan yang dialami oleh Ahlul Bait adalah dosa para sahabat utama?
> Bagaimana bila kita terlanjur berprasangka buruk dan bahkan menuduh
> sahabat yang bukan-bukan dan ternyata mereka adalah golongan orang-orang
> yang dicintai Allah, apa jadinya dengan diri kita? Dan apa kita tidak
> menjadi sama saja dengan Yazid cs yang memusuhi Pencinta Allah?
>
Seseorang bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya dan tidak
bertanggung-jawab atas perbuatan pendahulunya ataupun orang-orang yang
kemudian.
Perbuatan Yazid tentunya tidak mungkin kita kembalikan pertanggungjawabannya
kepada shahabat utama.
> 5. Apakah bukan tidak mungkin bahwa kitalah sebenarnya yang belum
> mendapat petunjuk atau pengetahuan dari Allah berkenaan dengan hal ini,
> hingga tidak patutlah kita untuk menghakimi dan memvonis Para sahabat
> mulai dari Imam Ali ,Abu Bakar as siddiq hingga Abu Hurairah ?Saya
> pribadi khawatir salah menghujat kekasih Allah, sementara dosa masih
> bertimbun.
>
Setiap saat, sadar ataupun tidak, selama akal kita masih berjalan, maka kita
selalu mengambil sikap/penghayatan tertentu terhadap suatu kejadian sejauh
pengetahuan yang kita peroleh atasnya. Sikap tersebut bisa dinyatakan atau
hanya disimpan dalam benak kita. Penghayatan tersebut bisa benar bisa salah
tergantung pengetahuan kita dan kemampuan kita untuk menganalisanya.
Berdasarkan penghayatan tersebutlah maka kita beraktivitas. Bagaimanapun
rambu-rambu tetap ada dan pikiran tidak dapat melewati batas tertentu,
misalnya kita tidak mungkin menganggap perbuatan Rasulullah SAAW dan
orang-orang suci yang telah dijamin oleh Allah SWT sebagai perbuatan
mengikuti hawa nafsu. Saya telah mencoba meneliti lagi sikap saya tersebut
terhadap kehidupan Rasulullah SAAW dan sahabatnya, saya kira saya tidak
melanggar rambu-rambu tersebut.
Sekali lagi Om Gus Lim, seperti contoh ketika saya yakin Ustadh saya suatu
saat meinggalkan sholat maka (meski saya mungkin telah melakukan maksiat
yang jauh lebih parah daripada hanya satu kali meninggalkan sholat)
bagaimanapun buruknya saya, saya mengetahui bahwa Ustadh tsb ketika itu
melakukan perbuatan yang buruk, tidak ada kaitannya saya lebih baik ataupun
lebih buruk daripada ustadh saya. Demikian juga ketika saya bersikap bahwa
Aisyah mengikuti hawa nafsunya ketika mengangkat senjata melawan
kekhalifahan Ali, maka tidak berarti mengatakan saya lebih baik dari Aisyah
atau lebih buruk dari Aisyah.
Mengenai Aisyah sendiri, setahu saya setelah perang Jamal tersebut maka
Aisyah kembali ke rumahnya (sesuai perintah Allah dalam Quran QS 33:33 &
Hadist agar istri Nabi tidak meninggalkan rumahnya). Beliau kemudian
menghiasi sisa hidupnya dengan keindahan taubat. Bibirnya tidak pernah lepas
dari permohonan ampun kepada Allah SWT. Beliau insyaallah adalah orang yang
dicintai oleh Allah SWT.
Bagaimanapun juga menghujat pribadi seseorang adalah sesuatu yang sangat
buruk, tetapi bersikap terhadap suatu peristiwa adalah hal yang berbeda.
Pada contoh ustadh tsb, penghayatan saya bahwa ketika ustadh saya
meninggalkan sholat maka dia telah melakukan perbuatan yang buruk, adalah
penghayatan yang benar. Dan akan menjadi penghayatan yang salah ketika saya
kemudian mengatakan bahwa ustadh saya adalah orang yang selalu berbuat
buruk.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)