Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Peristiwa Ghadir Khum ini tidak mungkin dipungkiri, terlalu banyak saksi
mata yang hadir pada saat itu. Hadist berkaitan dengan khotbah Ghadir Khum
ini juga beratus-ratus tersebar di kitab-kitab hadist (diantaranya hadist
tentang AlQuran dan Ahlulbait-ku seperti yang pernah saya kutipkan dalam
kitab hadist Muslim) serta juga direkam oleh banyak sejarawan. Meski juga
harus disadari bahwa kita tidak akan pernah menemukan satu hadist selengkap
dan sepanjang khutbah yang dikutipkan oleh saudara Syarifuddin ini
sekaligus. Hadist adalah berdasarkan ingatan orang-orang biasa, sehingga
memang sebagian orang mengingat paragraf kesekian dari khutbah itu, sebagian
lagi mengingat paragraf lainnya. Bagaimanapun juga, sejauh pemahaman sempit
saya mengenai hadist, tidak ada hadist yang lebih mutawatir daripada
hadist-hadist dalam peristiwa Ghadir Khum ini karena sifatnya yang kolosal
melibatkan lebih dari 100.000 kaum muslim pada haji Wada'.

Membaca sejarah kehidupan Rasulullah, terutama pada akhir-akhir menjelang
wafatnya, saya berpikir keras untuk mencoba memahami apa yang ada pada
pikiran beberapa shahabat utama yang hadir pada peristiwa Sagifah Bani
Saidah (dimana Abubakar akhirnya menjadi khalifah). Runtutan peristiwa
pasukan Usamah, lalu Ghadir Khum, lalu ketika Rasulullah hendak menuliskan
wasiatnya lalu peristiwa Saqifah, hingga kemarahan Fatimah dll. Ada beberapa
kemungkinan untuk mengambil sikap:
1. Peristiwa tersebut memang terjadi tetapi shahabat utama tidak mungkin
sengaja membangkang pada Rasulullah SAAW
2. Peristiwa tersebut terjadi dan memang shahabat itu tergelincir mengikuti
hawa nafsunya
3. Atau kita bisa memilih jalan yang paling aman yaitu menolak bahwa seluruh
kejadian itu pernah berlangsung.
4. Peristiwa tersebut terjadi tetapi memiliki makna yang lain.

Jika kita menerima sikap kesatu maka ada paradoks yang sangat kuat dalam
pemikiran kita, yaitu kita berarti meyakini bahwa Rasulullah SAAW dan
Ahlulbaitnya (dalam sejarah, Ali & Fatimah tidak mau memberikan baiatnya
kepada Abu Bakar hingga 6 bulan kemudian Fatimah dikuburkan) adalah
orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan mengikuti hawa nafsunya.
Rasulullah dalam semua peristiwa tersebut seakan didorong oleh hawa nafsunya
agar umatnya memberikan tempat yang mulia kepada keluarga dan keturunannya.
Fatimah didorong hawanafsunya ketika tidak mau memberikan baiatnya kepada
AbuBakar hingga akhir hayatnya. Ali didorong hawa nafsunya ketika juga tidak
mau segera memberikan baiatnya dan menundanya hingga 6 bulan. Ali juga
didorong hawa nafsunya ketika mengucapkan khutbah 'Siqsiqiyyah' ketika
beliau akhirnya dipaksa untuk menjadi khalifah menggantikan Usman. Kita
lebih rela mengatakan Rasulullah SAAW dan ahlulbaitnya  sebagai tergelincir
mengikuti hawa nafsunya daripada beberapa shahabat utama? Seluruh rangkaian
peristiwa tersebut sangat susah untuk bisa ditafsirkan lain selain bahwa
Rasulullah mewasiatkan kepada umatnya agar mentaati ahlulbaitnya setelah
meninggalnya Rasulullah SAAW.

Jika kita menerima sikap kedua maka kita cenderung pada sikap menyatakan
bahwa shahabat utama tersebut yang didorong hawa nafsunya. Hal ini juga
menimbulkan masalah berat dalam benak kita. Bagaimana mungkin shahabat utama
bisa menuruti hawa nafsunya hingga membangkang pada perintah Rasulullah
SAAW? Seluruh pandangan surgawi kita mengenai kehidupan shahabat mungkin
harus kita kuburkan. Jika shahabat utama saja membangkang pada Rasulullah
SAAW maka siapa sebenarnya pembela Rasulullah SAAW? Dan kita barangkali
harus mulai lagi membangun ulang pemahaman sejarah Muhammad SAAW. Kita
mungkin harus mulai membayangkan bahwa perjuangan Rasulullah SAAW itu sangat
berat, jauh lebih berat dari yang kita bayangkan, dan juga sepi yang
mencekam. Kita mulai harus membayangkan bahwa Rasulullah SAAW dikelilingi
orang yang setiap saat siap membangkang kecuali sangat sedikit (dan yang
sedikit ini ternyata jauh lebih sedikit dari yang semual kita pikirkan).
Kita barangkali mulai menyadari kejadian perang Hunain, perang Uhud dimana
Rasulullah SAAW ditinggalkan seluruh sahabat (bahkan sahabat utamanya)
kecuali segelintir dari keluarganya. Kita barangkali mulai memahami bahwa
Rasulullah SAAW itu hampir-hampir sendirian menegakkan islam dan dikelilingi
shahabat-shahabat yang rapuh, yang akan segera membangkang ketika keadaan
tidak menguntungkan mereka. Siapakah yang mencintai beliau dengan
sebenar-benarnya? Tidak ada satupun diantara shahabat utama itu yang ada di
sekeliling Rasulullah SAAW ketika dalam perang uhud Rasulullah terkepung
oleh puluhan musyrikin dan sempat bertahan sendirian bahkan hingga jatuh ke
dalam lubang dan pipinya terluka tertembus oleh baju besinya sendiri hingga
akhirnya beliau diselamatkan oleh sebagian ahlulbaitnya. Kita barangkali
menyadari kesedihan Rasulullah melihat kematian Hamzah (pamannya), satu
diantara sangat sedikit pembela utamanya pada perang Uhud. Kita barangkali
akan menyadari kesepian Rasulullah SAAW ketika ditinggalkan 2 pembela dari
kalangan keluaraganya yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Kita barangkali
menyadari mengapa begitu mudahnya 300 dari 1000 orang pasukan Uhud berbalik
meninggalkan Rasulullah bahkan sebelum peperangan dimulai. Kita mulai
merasakan betapa sepinya perjuangan Rasulullah SAAW.

Jika kita menerima sikap ketiga maka barangkali  inilah hal yang paling aman
untuk sementara :-). Sikap burung unta yang menyembunyikan kepala ke dalam
pasir ketika dalam keadaan terancam. Masalahnya kembali terjadi paradoks
karena jika kita misalnya menganggap peristiwa Ghadir Khum tidak pernah
terjadi maka berarti kita harus mengkoreksi ratusan hadist yang meriwayatkan
khutbah Ghadir Khum tersebut. Kita harus membiarkan kosong keping-keping
pengetahuan sejarah yang ada di benak kita pada sekitar akhir hayat
Rasulullah SAAW. Kita bahkan barangkali harus mulai lagi menyusun kriteria
baru untuk ilmu Mustalah Hadist dst...:-) 

Jika kita menerima sikap keempat, barangkali kita mulai harus berpikir keras
apa maksud Rasulullah SAAW dan ahlulbaitnya dalam seluruh kejadian tersebut?
Semakin kita berpikir mendalam, tidak bisa berpikiran lain bahwa dalam
seluruh peristiwa memiliki makna yang tidak lain bahwa Rasulullah SAAW
mewasiatkan umatnya agar mentaati Ahlulbaitnya sepeninggal beliau. Lalu apa
maksud dari hal ini? Apakah Rasulullah SAAW bermaksud mengatakan agar Ali
diangkat menjadi pemimpin kenegaraan?. Ataukah barangkali Rasulullah SAAW
bermaksud agar umat islam mentaati ahlulbaitnya dalam bidang keagamaan saja?


===============================================
Di bawah ini adalah sikap saya.

Mengenai perselisihan dalam jabatan khalifah -- seperti yang pernah saya
singgung dalam posting lainnya -- saya kira beberapa sahabat utama yang
hadir pada peristiwa Saqifah Bani Saidah (dimana Abubakar akhirnya menjadi
khalifah), beranggapan bahwa kepemimpinan Ali yang diumumkan oleh Nabi
Muhammad SAAW adalah kepemimpinan dalam wilayah keagamaan bukan dalam
kenegaraan. Sehingga mereka sangat terlihat berupaya keras menghindari
berkumpulnya kekuasaan pemerintahan serta kekuasaan agama pada satu orang.
Secara ilmu kenegaraan modern, pemikiran shahabat ini dapat dibenarkan. Saat
ini kita juga menganut trias politika dll yang bertujuan untuk mencegah
berkumpulnya kekuasaan pada satu orang. Sepanjang sejarah awal islam, saya
melihat sangat kentara tindakan-tindakan yang dilakukan sebagian sahabat
dalam upayanya menjauhkan Ali dari kemungkinan menjabat kedua kepemimpinan
(agama & politik) sekaligus. Sebagian shahabat tersebut benar-benar tidak
menginginkan berkumpulnya semua kemuliaan pada satu orang yang bukan seorang
Nabi (yaitu kemuliaan sebagai penerus keturunan Nabi, sebagai pemimpin
keagamaan serta sebagai pemimpin kenegaraan), barangkali ditakutkan akan
menjadi otoriter :-). Mereka mungkin menganggap bahwa bersatunya kekuasaan
pada seorang Nabi adalah lumrah karena mendapat bimbingan Allah, tetapi
tidak boleh terjadi pada seorang yang bukan seorang Nabi karena tidak lagi
memperoleh bimbingan Allah SWT. 

Akhirnya dengan asumsi dasar bahwa petunjuk Allah tidak mungkin diterima
seseorang yang bukan Nabi, (meski mereka tahu bahwa pada zaman Rasulullah
SAAW, seluruh kekuasaan berpusat pada Nabi Muhammad SAAW) sehingga
terjadinya pemusatan kekuasaan harus dicegah kalau perlu dengan mengangkat
senjata seperti yang dilakukan Aisyah. Kalau saja shahabat itu sudah belajar
ilmu tasawuf sama Abahnya Hilmy :-), agar yakin bahwa seorang manusia
biasapun (bukan seorang nabi) dapat selalu memperoleh petunjuk dari Allah
SWT, maka barangkali sejarah akan berbeda :-(. 

Sejarah juga kemudian memperlihatkan bahwa ketika Ali akhirnya menjadi
khalifah maka beliau sama sekali tidak otoriter seperti yang ditakutkan
sebagian orang tersebut, dan tidak misalnya memberikan jabatan-jabatan
kepada suku Bani Hasyim, bahkan beliau memberikan jabatan tanpa melihat asal
sukunya melainkan berdasarkan kemampuan dan kelurusan hatinya. Bahkan
sejarah justru memperlihatkan bahwa ketika Ustman berkuasa, beliau
memberikan jabatan-jabatan penting kepada orang-orang yang tidak bersih hati
dari sukunya (yaitu bani Umayyah) seperti Muawiyah, Marwan bin Hakam (orang
yang pernah diusir Rasulullah dari Madinah) dll. Muawiyah & Marwan adalah
orang-orang yang harus saya akui sangat cerdik-licin-brillian sebagai
politikus tetapi juga jelas bukan seseorang yang bersih.

Sejarah kemudian memperlihatkan bahwa Ahlulbait yang diwasiatkan oleh
Rasulullah SAAW (yaitu Fatimah + 12 Imam) untuk ditaati adalah orang-orang
mulia yang sangat lurus, bersikap zuhud, wara', sangat dalam ilmunya serta
sangat konsisten menentang segala bentuk kezaliman. Keseluruhan orang ini
bersedia mengorbankan apa saja termasuk gugur demi kejayaan islam. Mereka
adalah orang-orang yang persis berjalan di jalan yang ditunjukkan datuknya
yaitu Muhammad SAAW. Sehingga terbukti, wasiat Rasulullah SAAW di Ghadir
Khum ini bukan semata-mata berasal dari hawa nafsunya untuk mengutamakan
keluarganya di atas umat islam lainnya melainkan benar-benar pemilihan yang
berdasarkan keutamaan (dan wahyu Allah SWT), sehingga otomatis kekhawatiran
beberapa shahabat tersebut sebenarnya tidak beralasan. 

Itulah sebabnya saya menyadari kegigihan Fatimah yang tidak mau memberikan
baiat kepada AbuBakar sebagai Khalifah hingga akhir hayatnya. Baiat ini
dapat dimanipulasi oleh musuh-musuh islam sebagai menyerahkan seluruh
otoritas (termasuk otoritas keagamaan) kepada Abu Bakar. Kenyataan juga
membuktikan bahwa ketika keadaan meruncing dan Ali akhirnya demi
kemaslahatan umat memberikan baiatnya maka kekhawatiran Fatimah menjadi
kenyataan bahwa akhirnya seluruh otoritas ahlulbait dipreteli sedikit demi
sedikit. Yang patut disesalkan adalah terjadinya efek bola salju, sehingga
dari yang semula 'hanya' mencegah Ali menjabat kepemimpinan negara (meski
tetap sedikit menghormati Ali sebagai pimpinan agama serta masih berusaha
menjaga kemuliaan ahlulbait Muhammad SAAW) kemudian lama kelamaan bertambah
hingga pada saat Muawiyah berkuasa berubah menjadi mengingkari Ali sebagai
pimpinan apapun (termasuk dalam bidang agama, serta mengingkari kehormatan
ahlulbait) bahkan mengutuk Ali adalah suatu kebiasaan dalam khutbah Jumat.
Bahkan memuncak 51 tahuan kemudian pada pembantaian Husain cucu Rasulullah
SAAW pada saat Yazid bin Muawiyah menjadi penguasa serta menghinakan
kehormatan darah-daging ahlulbait Nabi, serta banyak lagi kepahitan yang tak
terperikan yang akhirnya dialami oleh ahlulbait Nabi. Dan akhirnya ratusan
tahun sesudahnya hingga saat ini, umat islam menjadi asing dari kemuliaan
ahlulbait Rasulullah SAAW. Jangankan mengetahui kemuliaan mereka, mengenal
nama merekapun juga tidak. Jangankan mengetahui ucapan mereka, ribuan hadist
Muhammad SAAW yang diriwayatkan dari merekapun ditolak. Jangankan mengikuti
jejak mereka, mengetahui adanya jejak tersebut juga tidak. Jangankan
meneladani hidup mereka, bersilaturrahmi (tawassul) kepada merekapun
dianggap syirik.

Saya teringat Imam Syafii (pen: mohon dikoreksi jika kata-katakurang tepat)
pernah berkata ketika beliau dituduh sebagai Ghulat (golongan yang hampir
menuhankan Muhammad SAAW serta Ali bin Abi Thalib), maka beliau berkata
kira-kira sebagai berikut : "Bila menghormati serta mencintai ahlulbait Nabi
dianggap Ghulat, maka biarlah aku umumkan kepada semua orang bahwa aku
adalah Ghulat", kemudian beliau menuliskan pujian-pujian kepada ahlulbait.
Sayapun rasanya ingin berteriak hal yang sama :-).

Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa menghormati, mencintai dan
memahami kemuliaan ahlulbait Nabi berarti harus bermazhab Jakfari, sama
sekali itu adalah pemikiran yang salah !!!. Bahkan orang-orang yang berjalan
pada jalan tasawuf lebih mencintai Rasulullah SAAW dan ahlulbaitnya. Saya
bahkan beranggapan bahwa dengan menyadari kemuliaan ahlulbait maka yang
lebih penting adalah mengikuti jalan pensucian jiwa yang telah dilakukan
oleh mereka. Seperti pernah saya sebutkan bahwa dalam seluruh tarekat
muktabarah, hingga saat ini sepengetahuan saya tidak ada satupun yang tidak
menyebut sebagian atau seluruh 12 ahlulbait Nabi dalam silsilah mursyid
menuju Muhammad SAAW. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa tasawuf/irfan
bersumber dari ahlulbait Muhammad SAAW. Sehingga mengikuti ahlulbait ini
(dengan menjalani pensucian jiwa) adalah jalan keselamatan yang dijanjikan
oleh Rasulullah SAAW. Pensucian jiwa dengan melalui irfan/tasawuf (yang saya
yakini diajarkan oleh ahlulbait) inilah yang diibararatkan bagaikan menaiki
perahu Nuh oleh Rasulullah SAAW dalam khutbah Ghadir Khum tersebut sehingga
yang menolaknya akan celaka sedang yang menaikinya akan selamat.

Terakhir kita cuman bisa mencontoh Rasulullah dalam bersikap mengenai
orang-orang yang menolak penunjukan Rasulullah SAAW terhadap Ali bin Abi
Thalib sebagai Amir AlMukminin "....demi Allah - aku telah dan terus akan
bersikap sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka".

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

> ----------
> From:         Rizki Herucakra[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent:         Tuesday, 1 June 1999 22:58
> To:   '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject:      RE: [Tasawuf] HADITS GHADIR KHUM ('SK Nabi),bagian 1/3
> 
> 
> > -----Original Message-----
> > From:       Hendra Nur Arifin [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent:       Tuesday, June 01, 1999 9:49 AM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:    RE: [Tasawuf] HADITS GHADIR KHUM ('SK Nabi),bagian 1/3
> > 
> > Assalamua'laikum wr wb
> > 
> > Pernah saya baca, ribut-ribut perebutan kekuasaan Abubakar dkk
> > dilakukan
> > saat Ali dkk sedang mengurus jenasah Rasulullah SAWW.
> > 
> > .... Dihapus
> > 
> > Dari sejarah 'tragedi kamis hitam' dan sariyyah Usamah, dll. saya
> > berpendapat bahwa justru di akhir hayat, beberapa 'sahabat besar'
> > mempunya
> > hubungan yang tidak harmonis dengan Rasulullah SAW.
> > 
> > Barangkali yang kita yakini selama ini sebagian cuma merupakan
> > dongeng.
> > 
> > Wassalamua'laikum wr wb
> > 
> > -----Original Message-----
> > 
> > Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
> > 
> > Barangkali ...
> > Barangkali Anda benar. 
> > 
> > Tapi saya lebih suka berbaik sangka dalam hal ini. Abu Bakar, Umar,
> > Ali, Al Ghifari, dan masih banyak lagi para "sahabat besar" (meminjam
> > istilah Anda), adalah orang-orang yang sudah banyak berjasa bagi
> > Islam. Mereka bahkan telah dijanjikan Surga oleh Allah. Tingkat
> > keimanan mereka jauh berada di atas saya, karenanya saya memilih
> > berbaik sangka saja pada mereka semua.
> > 
> > Mengenai pertentangan pendapat antara Sahabat dan Rasulullah, hal
> > tersebut sudah terjadi beberapa kali. Dan itu tidak hanya terjadi di
> > saat-saat terakhir beliau. Diantaranya:
> > 
> > 1. Dalam perang Uhud (ini bahkan di awal periode Madinah), Rasulullah
> > berpendapat agar kaum Muslimin bertahan di dalam kota. Tapi para
> > sahabat menentang dan berpendapat untuk menyambut musuh di kaki gunung
> > Uhud. Kalah suara, Rasulullah setuju.
> > 
> > Lalu ketika Rasulullah keluar meninggalkan ruangan, mereka sadar sudah
> > menentang Nabi. Mereka menghadap Nabi dan meminta maaf dan bersedia
> > merubah pendapat mereka dengan bertahan di kota.
> > 
> > Rasulullah yang telah mengenakan baju besi bersabda, "Tidak pantas
> > bagi seorang Nabi untuk menanggalkan pakaian besinya hingga Allah
> > menentukan salah satu dari dua bagi dia: Syahid atau Menang."  
> > 
> > Sejarah mencatat kaum Muslimin menyambut musuh di kaki Gunung Uhud.
> > 
> > 
> > 2. Dalam perang Uhud tersebut Rasulullah berpesan kepada kaum pemanah
> > agar bertahan di atas bukit, walaupun mereka melihat musuh sudah
> > dikalahkan. Tapi ketika mereka melihat yang lain memunguti rampasan
> > perang, mereka lalu meninggalkan pos-pos panah mereka. Ini
> > dimanfaatkan panglima Khalid bin Walid yang ketika itu belum masuk
> > Islam. Khalid menyerang dari belakang dan kedudukan pun berubah.
> > 
> > 
> > 3. Dalam perdamaian Hudaibiyah, sekilas tampak seluruh klausul dari
> > perjanjian itu merugikan kaum Muslimin. Mereka semua kecewa dan
> > menentang perintah Nabi untuk memotong rambut. Rasulullah mengadukan
> > hal ini kepada Hafsah, istri beliau. "Celaka kaum Muslimin, mereka
> > sudah tidak mau mendengarkan seruan Nabinya."
> > 
> > Hafsah menjawab, "Berikanlah contoh kepada mereka, Insya Allah, mereka
> > akan mengikuti Nabi mereka."
> > 
> > Lalu Nabi memotong rambut beliau. Melihat itu, luluh hati kaum
> > Muslimin dan mereka pun memotong rambut mereka.
> > 
> > ---------------------------------------------------
> > 
> > Masih banyak lagi kejadian-kejadian di mana para Sahabat tidak sepaham
> > dengan Rasulullah jauh-jauh hari sebelum beliau wafat. Tapi itu semua
> > menunjukkan betapa Nabi adalah seorang pemimpin yang sangat moderat
> > dan jauh dari sifat "Diktator". Dalam banyak hal, Nabi mempraktekkan
> > Demokrasi dalam bentuknya yang paling murni (terus terang saya tidak
> > percaya pada Demokrasi yang ada saat ini).
> > 
> > 
> > Saya tidak tahu. Saya tidak ada di sana ketika para sahabat berbaiat
> > kepada Abu Bakar. Saya rasa Anda pun demikian. Apa yang sampai kepada
> > saya, sama dengan yang sampai kepada saya: cerita yang diwariskan
> > turun temurun selama 14 abad tentang Nabi dan para sahabat beliau.
> > 
> > Saya memilih berbaik sangka kepada mereka semua, terutama para Sahabat
> > yang telah berbagi duka dan derita bersama-sama dengan Nabi. Para
> > sahabat yang menjadikan tubuh mereka perisai demi melindungi Nabi dari
> > panah-panah kaum durhaka. 
> > 
> > Saya memilih berbaik sangka kepada Sahabat yang meneteskan air matanya
> > ketika Nabi berkhutbah saat Haji Wada', karena menyadari waktu Nabi
> > sudah dekat (maksud saya Abu Bakar). 
> > 
> > Saya memilih berbaik sangka kepada Sahabat yang tidak percaya
> > Rasulullah sudah wafat dan menantang orang lain yang mengatakan Rasul
> > sudah wafat karena cintanya (maksud saya Umar). 
> > 
> > Saya memilih berbaik sangka kepada Usman bin Affan, kepada Ali bin Abi
> > Thalib, kepada Imam Hassan dan Hussein, dan para sahabat mulia
> > sekalian. Termasuk sahabat yang memeluk dan mencium tubuh Nabi dengan
> > penuh cinta setelah Nabi mengizinkan dia untuk memukul tubuh Nabi
> > dalam keadaan telanjang dada.
> > 
> > Bagaimana dengan Anda ?
> > 
> > 
> > Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
> > 
> > ________________
> > 
> > Rizki Herucakra
> > Indonesian Central Securities Depository
> > Management Information System Division
> > 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke