>Wa'alaikum salam Abah,
>Abah.... Bagaimana kalau orang yang keluar dari balik
>pintu itu diri kita sendiri?
>Apakah mungkin kita tidak mengenalnya?
>Katanya kita mau mencari diri.....
>Maaf lho Bah ini hanya guyonan kok.
>Wassalamu'alaikum wr wb,
>Wargino

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Dalam kenyataannya, perjalanan menuju Allah (yang saya alami - mungkin
berbeda dengan yang dialami pak Wargino) tidak sesederhana itu.  Kalau kita
anggap perjalanan kita 1 sampai 10, bertemu (mengenal diri sendiri) atau
dalam bahasa Pak Wargino "yang keluar dari balik pintu kita sendiri" itu
ada pada tahapan ke 8.

Sebelum itu (perjalanan 1-7) banyak sekali permasalahannya.
+ Mulai dari permasalahan gangguan dari syaithan. 
+ Meledaknya Obsesi (hayalan dan waham) kita.
+ Meledaknya hawa nafsu kita, yang dalam bahasa Mas Sigit "banyak menemui
kembaran-kembaran lain".
+ Fenomena ketaatan terhadap petunjuk Allah yang datang ke hati. Sementara
banyak petunjuk tersebut berupa "simbol/permisalan". Sedang di Al Qur'an
dikatakan bahwa "Al Qur'an banyak terdiri dari permisalan, dan dengannya
banyak orang yang disesatkan dan banyak yang diberi petunjuk". 
+ Bersentuhan dengan alam Jin
+ Bersentuhan dengan alam Jiwa orang shalih
+ Bersentuhan dengan alam malaikat.
+ dsb.

Banyak orang berjalan (bersuluk), karena tidak dibekali pengetahuan yang
mencukupi, sehingga baru saja sampai ditahapan 2 telah menyangka sampai di
10. Karena ia tidak punya pengetahuan tentang apa yang didahapinya di
tahapan 2 tersebut.

Peranan "pengetahuan" salah satunya adalah untuk "mengerti
permasalahan-permasalahan suluk diatas". Dengan pengetahuan tersebut, Allah
SWT yang mendidik langsung manusia, melalui hatinya. Sehingga jadilah
pengetahuan bagi si manusia seperti "Surga yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai".

Seorang mursyid adalah manusia juga. Punya kesibukan. Butuh waktu untuk
istirahat, dsb. Yang tidak pernah sibuk dan tidak butuh istirahat adalah
Allah SWT. Dialah Allah pendidik yang sesungguhnya buat setiap individu.

Adalah salah kalau dikatakan "Mursyid yang mengajarkan". Karena seorang
mursyid hanya membimbing murid (salik) nya untuk menghadapi pendidikan
Allah  tersebut. Si salik pula yang mencerna (mengambil hikmah) dari
permasalahan pengajaran tersebut, tidak diberitahu secara instant oleh sang
mursyid. Disinilah letak pendidikan Allah kepada setiap individu.

Banyak orang telah menyangka bertemu dengan dirinya, padahal "dirinya yang
ditemuinya" adalah waham atau obsesinya atau bahkan kembarannya yaitu hawa
nafsunya sendiri.

-wallahu'alam-


+++++++
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS. 2:32)


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke