Assalamu'alaykum wr. wb.

Sedikit (bayak?) menambahkan nya' Bah...

Dalam perjalanan mencari diri itu, kita pasti akan menemui berbagai fenomena
dahsyat. Fenomena ini timbul karena kita mulai melangkahkan kaki ke suatu
alam, yang sering diistilahkan dengan alamnya si An-Nafs, atau alam malakut,
atau alam langit (istilahnya Abah).
Kejadiannya seperti seorang bayi yang baru lahir, yang sebelumnya asyik
dengan alam rahimnya, tiba-tiba jebrol keluar. Ketika mata si Bayi terbuka,
apa yang dilihat baginya itu adalah suatu fenomena. Meski bagi kita (yang
sudah duluan lahir dan gede) adalah biasa saja.

Begitu juga ketika kita sudah mulai jadi penduduk 'langit', maka alam dunia
ini sungguh  menjadi amat remeh bagi kita. Alam dunia ini hanya menjadi
sekedar ilusi dan impian. Itulah sebabnya alam dunia ini sering disebut
dengan dunia fana.
Kedahsyatan alam malakut ini, adalah seperti kedahsyatan alam dunia bila
dibandingkan dengan alam rahim. Bila alam rahim hanya seluas perut sang ibu,
maka alam dunia luasnya bermilyar-milyar tahun cahaya. Apalagi alam malakut?

Dengan fenomena alam malakut yang sedemikian dahsyat, SANGAT MUNGKIN orang
itu tertipu. Wong di alam dunia ini saja kita sering SALAH MENGIDENTIFIKASI
MASALAH, apalagi di alam malakut. Yang jauh lebih kompleks. Karena itulah
perjalanan ke sana itu, sesungguhnya adalah perjalanan yang PENUH DENGAN
TIPUAN. Apabila tidak kuat niat dan pengetahuan, lebih baik jangan.
Ya bayangkan saja, bila ujian dan godaan bukan hanya datang dari Iblis atau
jin biasa, tapi sang malaikat pun turun menguji, atas perintahNya.
Bayangkan bila kita disuruh berhenti sholat oleh malaikat (beneran), karena
dinyatakan sudah suci.
Bayangkan bila kita hadir dalam suatu majelis para nabi atau wali.
Bayangkan bila kita dicium mulut ke mulut oleh Nabi Isa as.
Apa yang kemudian hadir di benak kita setelah itu?

Pada titik inilah betapa syari'at itu menjadi AMAT penting. Syari'at
Rasulullah Muhammad saw adalah suatu koridor bagi perjalanan ini. Atau
seperti baby box, bagi sang bayi. Selama kita masih dalam koridor atau baby
box tsb, jungkir balik pun nggak apa-apa. Termasuk syari'at di sini adalah
adanya pengetahuan bagi setiap langkah kita.

Fiuuh... hati-hatilah sahabat-sahabat semua. Jalan ini benar-benar
membutuhkan Jihad dan kesabaran. Bukan jalan main-main, bukan jalan
iseng-iseng. Karena kalau jatuh dari ketinggian, rasanya akan sakit sekali.

Wassalamu'alaykum wr. wb.



-----Original Message-----
From: Abah Hilmy <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, June 01, 1999 7:55 AM
Subject: Re: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal Hati)


>
>>Wa'alaikum salam Abah,
>>Abah.... Bagaimana kalau orang yang keluar dari balik
>>pintu itu diri kita sendiri?
>>Apakah mungkin kita tidak mengenalnya?
>>Katanya kita mau mencari diri.....
>>Maaf lho Bah ini hanya guyonan kok.
>>Wassalamu'alaikum wr wb,
>>Wargino
>
>Assalamu'alaikum Wr. Wb
>
>Dalam kenyataannya, perjalanan menuju Allah (yang saya alami - mungkin
>berbeda dengan yang dialami pak Wargino) tidak sesederhana itu.  Kalau kita
>anggap perjalanan kita 1 sampai 10, bertemu (mengenal diri sendiri) atau
>dalam bahasa Pak Wargino "yang keluar dari balik pintu kita sendiri" itu
>ada pada tahapan ke 8.
>
>Sebelum itu (perjalanan 1-7) banyak sekali permasalahannya.
>+ Mulai dari permasalahan gangguan dari syaithan.
>+ Meledaknya Obsesi (hayalan dan waham) kita.
>+ Meledaknya hawa nafsu kita, yang dalam bahasa Mas Sigit "banyak menemui
>kembaran-kembaran lain".
>+ Fenomena ketaatan terhadap petunjuk Allah yang datang ke hati. Sementara
>banyak petunjuk tersebut berupa "simbol/permisalan". Sedang di Al Qur'an
>dikatakan bahwa "Al Qur'an banyak terdiri dari permisalan, dan dengannya
>banyak orang yang disesatkan dan banyak yang diberi petunjuk".
>+ Bersentuhan dengan alam Jin
>+ Bersentuhan dengan alam Jiwa orang shalih
>+ Bersentuhan dengan alam malaikat.
>+ dsb.
>
>Banyak orang berjalan (bersuluk), karena tidak dibekali pengetahuan yang
>mencukupi, sehingga baru saja sampai ditahapan 2 telah menyangka sampai di
>10. Karena ia tidak punya pengetahuan tentang apa yang didahapinya di
>tahapan 2 tersebut.
>
>Peranan "pengetahuan" salah satunya adalah untuk "mengerti
>permasalahan-permasalahan suluk diatas". Dengan pengetahuan tersebut, Allah
>SWT yang mendidik langsung manusia, melalui hatinya. Sehingga jadilah
>pengetahuan bagi si manusia seperti "Surga yang mengalir dibawahnya
>sungai-sungai".
>
>Seorang mursyid adalah manusia juga. Punya kesibukan. Butuh waktu untuk
>istirahat, dsb. Yang tidak pernah sibuk dan tidak butuh istirahat adalah
>Allah SWT. Dialah Allah pendidik yang sesungguhnya buat setiap individu.
>
>Adalah salah kalau dikatakan "Mursyid yang mengajarkan". Karena seorang
>mursyid hanya membimbing murid (salik) nya untuk menghadapi pendidikan
>Allah  tersebut. Si salik pula yang mencerna (mengambil hikmah) dari
>permasalahan pengajaran tersebut, tidak diberitahu secara instant oleh sang
>mursyid. Disinilah letak pendidikan Allah kepada setiap individu.
>
>Banyak orang telah menyangka bertemu dengan dirinya, padahal "dirinya yang
>ditemuinya" adalah waham atau obsesinya atau bahkan kembarannya yaitu hawa
>nafsunya sendiri.
>
>-wallahu'alam-
>
>
>+++++++
>Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
>ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
>Bijaksana. (QS. 2:32)
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke