>Wah, om Sigit yth & Abah yth.... saya tertarik berat nih dengan pembicaraan
>pada subject ini. Saya buka lagi mail lama, dulu Abah pernah cerita tentang
>tahapan menuju Allah SWT dalam 9 tangga sebagai berikut :
>1. Beragama Islam
>2. Bertaubat dengan Sungguh-sungguh
>3. Berserah Diri (tidak mengikuti Hawa Nafsu) - Menjadi Muslimiin
>4. Mendapat Rahmat Allah pertama -- Disucikan oleh Allah menjadi hamba
>yang mutahharuun (seperti bayi baru lahir) - Menjadi Mukmin
>5. Berdasarkan Iman, melakukan Amal Shalih - Menjadi Muttaqiin
>6. Akibat Taqwa berbuah Hasanah - Nur Ilmu (Ilmu Laduni)
>7. Mendapat Rahmat Allah kedua - Bertemu Diri - Menjadi Al Muslimiin.
>8. Bila sudah bertemu diri, akan selalu dipandu oleh Allah.
>9. Menjadi hamba yang Muqarrabuun - Insan Kamil

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Mungkin sedikit koreksi dari point 6, buah Taqwa adalah Hasanah, salah
satunya adalah Nur Ilmu. Banyak lagi yang lainnya. Diantaranya : kemudahan
jalan keluar, kemudahan rizki, "surga yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai", silakan lihat balasan Allah terhadap orang yang Taqwa dalam
Al Qur'an.

>Serta sebelumnya lagi Abah pernah bercerita mengenai adanya tingakatan jiwa
>yang digambarkan sebagai 7 level bumi (nakut?) & 7 level langit (malakut?).
>Abah secara garis besar juga pernah menjelaskan mengenai keseluruhan tahapan
>tangga di atas. Saya ingin tanya tentang 2 hal sbb:
>1. Bagaimana kaitannya ke-9 tahap ini dengan level Bumi-Langit yang dulu
>pernah diceritakan Abah. Kalau tidak salah pada tahap 4 itu kita kembali ke
>fitrah berarti menginjak pada langit 1 shaf 7 ya? Pada penjelasan tingkatan
>jiwa hanya dijelaskan sekilas mengenai Langit 1 s/d Langit 7 serta Bumi 1

>s/d Bumi 7, tetapi tidak dijelaskan lebih detail tentang adanya shaf.
>Tolong dijelaskan tentang shaf tersebut.

Langit dan bumi terdiri dari 7 tingkat (lapis). Masing-masing langit
terdiri dari 7 shaf. Masing-masing Shaf terdiri dari 7 sub shaf. Sehingga
demikian banyak lapisan tingkatan iman (jiwa).

Seperti pernah kita bahas tingkatan jiwa adalah sebagai
berikut:

------------------------
Langit 7              
----------------      
Langit 6              
----------------  Jiwa Rabbaniyah
Langit 5 
----------------
Langit 4 
------------------------
Langit 3           Jiwa
Rahmaniyah
------------------------
Langit 2           Jiwa
Ruhaniyah
------------------------
Langit 1           Jiwa
Jasmaniyah
------------------------
Bumi 1            Jiwa
Hewan
------------------------
Bumi 2             Jiwa
Tumbuhan
------------------------
Bumi 3             Jiwa
Material
------------------------       
Bumi 4

------------------       
Bumi 5                           
------------------  Jiwa Syaithan
Bumi 6  
------------------
Bumi 7  
------------------------


Manusia lahir ke dunia ini, diberi Allah "modal dasar" dengan tingkatan
Jiwa di Langit 1 shaf 7. Dengan modal dasar ini ada orang hidup di dunia
ini,  apabila untung lalu naik maqamnya, tetapi ada pula yang merugi,
sehingga turun maqamnya.

Kebanyakan manusia "merugi", sedikit sekali yang beruntung kecuali mereka
yang bertaqwa (beriman dan beramal shalih).

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (QS. 103:2)
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh...  (QS. 103:3)


Setiap manusia mempunyai kewajiban untuk "mati sebelum mati" (Sabda
Rasulullah SAW). Maksudnya adalah mati dari tingkatan jiwa yang rendah
kepada tingkatan jiwa yang lebih tinggi, dst.

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah
menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian
kepada-Nya-lah kamu di kembalikan. (QS. 2:28)

Dengan mati sebelum mati ini, maka si jiwa mengalami penyempurnaan. Hal ini
dilakukan dengan mensucikan diri.

dan jiwa serta penyempurnaannya (QS. 91:7) maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, (QS. 91:8) sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. 91:9)

Setiap manusia telah ditentukan maqam maksimalnya oleh Allah SWT. Tiap-tiap
orang berbeda maqam maksimalnya.

Misalnya si A maqam maksimalnya : Langit 3 shaf 2
Misalnya si B maqam maksimalnya : Langit 2 shaf 5

Ketika seseorang sudah memenuhi maqam maksimalnya tersebut, maka ia akan
menjadi Al-Muslimuun,  atau dalam bahasa lain mendapatkan rahmat kedua
(Bertemu Diri).

Bila si B telah memenuhi maqam maksimalnya di langit 2 shaf 5.
Sedang si A sudah di langit 3 shaf 0...

Walaupun dari tingkatan iman lebih tinggi si A, namun lebih mulia si B.

===========
WALI & NABI
===========

Wali dan Nabi sesungguhnya sangkutpautnya dengan tanggung jawab jabatan.
Hal ini berselarasan dengan tingkatan Jiwanya.

Tingkatan Jiwa Nabi Allah adalah tingkatan Langit Rabbaniyah yaitu langit
4, 5, 6, dan 7. Nabi SAW adalah manusia yang paling mendekati realitas
Allah. Dia berada pada tingkatan Langit 7 shaf 7. Untuk itulah ia dikatakan
sebagai penghulu para Nabi.

Namun ada orang yang tingkatan jiwanya langit 4, 5, 6, dan 7, namun bukan
seorang Nabi.

Tingkatan Jiwa Wali Allah adalah tingkatan Langit Rahmaniyyah yaitu Langit
3. Namun ada orangn yang tingkatan jiwanya langit 3 namun tidak menjabat
sebagai Wali Allah.

Imam Ali Karamallahu Wajhah adalah salah seorang Wali yang berada pada
tingkatan jiwa Nabi yaitu di langit 4. Sehingga saudara-saudara kita di
Syiah mengatakan beliau berada pada tingkatan Nabi, demikianlah maksudnya.

Syaikh Abdul Qadir Jailani, Imam Ibnu Arabi, juga seorang wali yang berada
pada tingkatan Jiwa Nabi. Yaitu pada langit 4. Namun mereka bukanlah Nabi
tetapi seorang wali -wallahu'alam-

Seorang Wali Qutb, adalah seorang wali yang tingkatan maqamnya paling
tinggi diantara wali-wali yang diturunkan Allah pada masa itu.



========
MURSYID
========
Mursyid adalah misi hidup. Ada orang yang berada pada langit 2 ia bertugas
sebagai mursyid, ada orang yang berada pada langit 3 ia bertugas sebagai
mursyid. Tugas ini hanya diketahuinya ketika seorang telah "bertemu diri"
(memenuhi maqam maksimalnya). Sehingga tidak semua orang yang tingkat
keimanannya tinggi adalah bertugas sebagai mursyid. 

Mursyid diberi hak dan kemampuan oleh Allah untuk mengetahui tingkatan Jiwa
manusia (para muridnya). Sehingga ia bisa mengontrol fluktuasi perkembangan
iman para muridnya.


>2. Lebih detail lagi terutama pada tangga ke-2 (yaitu bertaubat dengan
>sungguh-sungguh), karena rasanya kita semua di milis ini pasti sudah ada
>pada tahap 1.:-) 

Benar... kebanyakan orang tidak (sulit) mau melakukannya adalah taubat
dengan sungguh-sungguh. Padahal taubat ini adalah perintah Allah artinya
kewajiban. Orang yang tidak mau bertaubat disebut orang yang ZALIM. Orang
yang zalim kekal dalam neraka.

Banyak orang pula sudah berusaha melakukan Taubat sungguh-sungguh. Namun
karena tidak dibekali dengan pengetahuan yang benar, mereka tidak
membarengi dengan langkah 3, yaitu "Berserah Diri" kepada Allah. Taubat
jenis ini akan tidak ada artinya.

Salah satu ciri taubat seseorang diterima oleh Allah (kata mursyid kami)
adalah : "Semangatnya menuntut Ilmu semakin bertambah". 

Kenapa (?)
Karena maqam maksimal (seperti pernah di diskusikan) adalah seperti gelas.
Yang besar kecilnya (perbesarannya) berbanding lurus dengan pengetahuannya
untuk menampung air iman dari Allah SWT.



>Barangkali dengan penjelasan ini semakin melengkapi peta perjalanan sebagai
>bekal buat kita-kita.
>
>Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>
>
>
>> ----------
>> From:        Muhammad Sigit[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>> Sent:        Tuesday, 1 June 1999 12:19
>> To:  [EMAIL PROTECTED]
>> Subject:     Re: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal
>> Hati)
>> 
>> Assalamu'alaykum wr. wb.
>> 
>> Sedikit (bayak?) menambahkan nya' Bah...
>> 
>> Dalam perjalanan mencari diri itu, kita pasti akan menemui berbagai
>> fenomena
>> dahsyat. Fenomena ini timbul karena kita mulai melangkahkan kaki ke suatu
>> alam, yang sering diistilahkan dengan alamnya si An-Nafs, atau alam
>> malakut,
>> atau alam langit (istilahnya Abah).
>> Kejadiannya seperti seorang bayi yang baru lahir, yang sebelumnya asyik
>> dengan alam rahimnya, tiba-tiba jebrol keluar. Ketika mata si Bayi
>> terbuka,
>> apa yang dilihat baginya itu adalah suatu fenomena. Meski bagi kita (yang
>> sudah duluan lahir dan gede) adalah biasa saja.
>> 
>> Begitu juga ketika kita sudah mulai jadi penduduk 'langit', maka alam
>> dunia
>> ini sungguh  menjadi amat remeh bagi kita. Alam dunia ini hanya menjadi
>> sekedar ilusi dan impian. Itulah sebabnya alam dunia ini sering disebut
>> dengan dunia fana.
>> Kedahsyatan alam malakut ini, adalah seperti kedahsyatan alam dunia bila
>> dibandingkan dengan alam rahim. Bila alam rahim hanya seluas perut sang
>> ibu,

>> maka alam dunia luasnya bermilyar-milyar tahun cahaya. Apalagi alam
>> malakut?
>> 
>> Dengan fenomena alam malakut yang sedemikian dahsyat, SANGAT MUNGKIN orang
>> itu tertipu. Wong di alam dunia ini saja kita sering SALAH
>> MENGIDENTIFIKASI
>> MASALAH, apalagi di alam malakut. Yang jauh lebih kompleks. Karena itulah
>> perjalanan ke sana itu, sesungguhnya adalah perjalanan yang PENUH DENGAN
>> TIPUAN. Apabila tidak kuat niat dan pengetahuan, lebih baik jangan.
>> Ya bayangkan saja, bila ujian dan godaan bukan hanya datang dari Iblis
>> atau
>> jin biasa, tapi sang malaikat pun turun menguji, atas perintahNya.
>> Bayangkan bila kita disuruh berhenti sholat oleh malaikat (beneran),
>> karena
>> dinyatakan sudah suci.
>> Bayangkan bila kita hadir dalam suatu majelis para nabi atau wali.
>> Bayangkan bila kita dicium mulut ke mulut oleh Nabi Isa as.
>> Apa yang kemudian hadir di benak kita setelah itu?
>> 
>> Pada titik inilah betapa syari'at itu menjadi AMAT penting. Syari'at
>> Rasulullah Muhammad saw adalah suatu koridor bagi perjalanan ini. Atau
>> seperti baby box, bagi sang bayi. Selama kita masih dalam koridor atau
>> baby
>> box tsb, jungkir balik pun nggak apa-apa. Termasuk syari'at di sini adalah
>> adanya pengetahuan bagi setiap langkah kita.
>> 
>> Fiuuh... hati-hatilah sahabat-sahabat semua. Jalan ini benar-benar
>> membutuhkan Jihad dan kesabaran. Bukan jalan main-main, bukan jalan
>> iseng-iseng. Karena kalau jatuh dari ketinggian, rasanya akan sakit
>> sekali.
>> 
>> Wassalamu'alaykum wr. wb.
>> 
>> 
>> 
>> -----Original Message-----
>> From: Abah Hilmy <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>> Date: Tuesday, June 01, 1999 7:55 AM
>> Subject: Re: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal Hati)
>> 
>> 
>> >
>> >>Wa'alaikum salam Abah,
>> >>Abah.... Bagaimana kalau orang yang keluar dari balik
>> >>pintu itu diri kita sendiri?
>> >>Apakah mungkin kita tidak mengenalnya?
>> >>Katanya kita mau mencari diri.....
>> >>Maaf lho Bah ini hanya guyonan kok.
>> >>Wassalamu'alaikum wr wb,
>> >>Wargino
>> >
>> >Assalamu'alaikum Wr. Wb
>> >
>> >Dalam kenyataannya, perjalanan menuju Allah (yang saya alami - mungkin
>> >berbeda dengan yang dialami pak Wargino) tidak sesederhana itu.  Kalau
>> kita
>> >anggap perjalanan kita 1 sampai 10, bertemu (mengenal diri sendiri) atau
>> >dalam bahasa Pak Wargino "yang keluar dari balik pintu kita sendiri" itu
>> >ada pada tahapan ke 8.
>> >
>> >Sebelum itu (perjalanan 1-7) banyak sekali permasalahannya.
>> >+ Mulai dari permasalahan gangguan dari syaithan.
>> >+ Meledaknya Obsesi (hayalan dan waham) kita.
>> >+ Meledaknya hawa nafsu kita, yang dalam bahasa Mas Sigit "banyak menemui
>> >kembaran-kembaran lain".
>> >+ Fenomena ketaatan terhadap petunjuk Allah yang datang ke hati.
>> Sementara
>> >banyak petunjuk tersebut berupa "simbol/permisalan". Sedang di Al Qur'an
>> >dikatakan bahwa "Al Qur'an banyak terdiri dari permisalan, dan dengannya
>> >banyak orang yang disesatkan dan banyak yang diberi petunjuk".
>> >+ Bersentuhan dengan alam Jin
>> >+ Bersentuhan dengan alam Jiwa orang shalih

>> >+ Bersentuhan dengan alam malaikat.
>> >+ dsb.
>> >
>> >Banyak orang berjalan (bersuluk), karena tidak dibekali pengetahuan yang
>> >mencukupi, sehingga baru saja sampai ditahapan 2 telah menyangka sampai
>> di
>> >10. Karena ia tidak punya pengetahuan tentang apa yang didahapinya di
>> >tahapan 2 tersebut.
>> >
>> >Peranan "pengetahuan" salah satunya adalah untuk "mengerti
>> >permasalahan-permasalahan suluk diatas". Dengan pengetahuan tersebut,
>> Allah
>> >SWT yang mendidik langsung manusia, melalui hatinya. Sehingga jadilah
>> >pengetahuan bagi si manusia seperti "Surga yang mengalir dibawahnya
>> >sungai-sungai".
>> >
>> >Seorang mursyid adalah manusia juga. Punya kesibukan. Butuh waktu untuk
>> >istirahat, dsb. Yang tidak pernah sibuk dan tidak butuh istirahat adalah
>> >Allah SWT. Dialah Allah pendidik yang sesungguhnya buat setiap individu.
>> >
>> >Adalah salah kalau dikatakan "Mursyid yang mengajarkan". Karena seorang
>> >mursyid hanya membimbing murid (salik) nya untuk menghadapi pendidikan
>> >Allah  tersebut. Si salik pula yang mencerna (mengambil hikmah) dari
>> >permasalahan pengajaran tersebut, tidak diberitahu secara instant oleh
>> sang
>> >mursyid. Disinilah letak pendidikan Allah kepada setiap individu.
>> >
>> >Banyak orang telah menyangka bertemu dengan dirinya, padahal "dirinya
>> yang
>> >ditemuinya" adalah waham atau obsesinya atau bahkan kembarannya yaitu
>> hawa
>> >nafsunya sendiri.
>> >
>> >-wallahu'alam-
>> >
>> >
>> >+++++++
>> >Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah
>> Engkau
>> >ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi
>> Maha
>> >Bijaksana. (QS. 2:32)
>> >
>> >
>> >---------------------------------------------------------------------
>> >Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> >Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> >Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>> >Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>> >
>> >
>> >
>> >
>> >
>> 
>> 
>> ---------------------------------------------------------------------
>> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 

+++++++
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS. 2:32)


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke