Assalamu'alaykum wr. wb.

Mas Ali nggak boleh gitu.... nanya koq di borong. Mbledos geura.  :)
Ini saya nggak jawab, tapi sekedar dongeng.  :)

Ttg Shaf:
Tiada seorangpun diantara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang
tertentu, (QS. 37:164)
dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. (QS. 37:165)

Sesungguhnya kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya (termasuk malaikat)
adalah kemampuannya untuk bertaubat. Dengan taubat, sang manusia bisa hidup
di alam Setan, tumbuhan, hewan, bahkan malaikat. Dengan taubat, manusia bisa
naik turun posisinya. Inilah yang dimaksud dengan hadits "Al-Iman yazid wa
yankus". Ketika sang manusia bertaubat, sehingga mampu menembus langit, para
malaikat terbelalak dan terpesona. Bagi malaikat yang memliki 'maqomun
ma'lum' (maqom yang tertentu), manusia yang bisa melejit naik dan meluncur
turun, adalah sebuah fenomena. Mungkin sama takjubnya dengan kita ketika
menyaksikan ada orang bisa terbang tanpa alat bantu.


Hikayat Taubat:
Tentu kita ingat suatu hadits (qudsi?) yang menggambarkan 'kegirangan' Allah
thd hambaNya yang bertaubat. Dimana Allah lebih girang dibanding seseorang
ditengah padang pasir yang kehilangan untanya. Kemudian Ia tertidur, sehigga
ketika terbangun dilihatnya si Unta sudah ada didepannya.
Di hadits tsb ada perumpamaan berikut:
Orang itu = Allah.
Unta itu = hambaNya (kita-kita ini).
Kembalinya si unta = Taubat.

Dari akar kata pun, kita akan tahu bahwa taubat itu sebenarnya adalah:
Kembalinya (si hamba).
Kembali gimana sih?
Lha... kembalinya si unta itu kan nggak langsung jleg hadir dihadapan si
orang. Setelah nyasar senyasar-nyasarnya sehingga mencapai TITIK TERJAUH
dari si orang, si unta baru mulai kembali. Di ukur dari titik tsb, ketika si
unta memperpendek jaraknya thd si orang, itu berarti si unta sedang
bertaubat. Tapi jarak tsb terus berfluktuasi.

Si unta disebut sudah aslam (tahap 1) adalah ketika dia sadar harus kembali
kepada tuannya. Sehingga dia tidak melanjutkan ketersesatannya. Artinya,
tidak memperjanjang jaraknya dengan tuannya.
Lantas si unta berusaha kembali kepada tuannya, yang disebut taubat. Ini
berarti, ia berusaha memperpendek jarak.
Dalam usaha kembalinya ini, dia bisa berpatokan kepada beberapa hal.
Pertama, ia berbalik arah menuju arah datangnya dia. Dua, dia susuri
jejaknya sendiri. Tiga, dia endus bau tuannya. Empat, mengenali
lingkungannya (bukit pasir, oase dsb) sebagai tanda-tanda. Dsb.
Dengan itu semua, ia berusaha kembali kepada tuannya. Tapi namanya di padang
pasir, menentukan arah adalah hal yang paling susah. Jejaknya mungkin sudah
putus-putus. Bau tuannya mungkin sudah tertiup angin. Bukit pasir mungkin
cukup awet, kecuali bila tersapu badai pasir. Yang tetap hanya oase-oase,
termasuk oase dimana tuannya berteduh. Tapi jangan lupa, di padang pasir
juga sering muncul fatamorgana yang menipu.

Selain itu, dulu kala pernah ada unta yang 'berhasil' mengambil jarak
terjauh dengan tuannya, dan kemudian membangun komunitas unta sesat. Unta
itu bernama Iblis.
Unta Iblis ini juga berusaha menarik si unta nyasar supaya datang ke
tempatnya (bumi 7), dengan segala cara. Apakah dengan mengirim unta
penggoda, atau menghiasi jalan menuju tempatnya menjadi amat menggiurkan.

Ini semua menjadi variabel dalam taubat si unta. Semakin pendek jarak antara
si unta dan tuannya, semakin benar taubatnya.

Gitu kira-kira. Yahh namanya dongeng, mungkin bisa ditemukan relasinya.
Kalau nggak, ya dianggap dongeng aja. Wong memang dongeng koq.  :)

Wassalamu'alaykum wr. wb.



-----Original Message-----
From: Ali Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, June 01, 1999 12:33 PM
Subject: RE: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal Hati)


>Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>
>Wah, om Sigit yth & Abah yth.... saya tertarik berat nih dengan pembicaraan
>pada subject ini. Saya buka lagi mail lama, dulu Abah pernah cerita tentang
>tahapan menuju Allah SWT dalam 9 tangga sebagai berikut :
>1. Beragama Islam
>2. Bertaubat dengan Sungguh-sungguh
>3. Berserah Diri (tidak mengikuti Hawa Nafsu) - Menjadi Muslimiin
>4. Mendapat Rahmat Allah pertama -- Disucikan oleh Allah menjadi hamba
>yang mutahharuun (seperti bayi baru lahir) - Menjadi Mukmin
>5. Berdasarkan Iman, melakukan Amal Shalih - Menjadi Muttaqiin
>6. Akibat Taqwa berbuah Hasanah - Nur Ilmu (Ilmu Laduni)
>7. Mendapat Rahmat Allah kedua - Bertemu Diri - Menjadi Al Muslimiin.
>8. Bila sudah bertemu diri, akan selalu dipandu oleh Allah.
>9. Menjadi hamba yang Muqarrabuun - Insan Kamil
>
>Serta sebelumnya lagi Abah pernah bercerita mengenai adanya tingakatan jiwa
>yang digambarkan sebagai 7 level bumi (nakut?) & 7 level langit (malakut?).
>Abah secara garis besar juga pernah menjelaskan mengenai keseluruhan
tahapan
>tangga di atas. Saya ingin tanya tentang 2 hal sbb:
>1. Bagaimana kaitannya ke-9 tahap ini dengan level Bumi-Langit yang dulu
>pernah diceritakan Abah. Kalau tidak salah pada tahap 4 itu kita kembali ke
>fitrah berarti menginjak pada langit 1 shaf 7 ya? Pada penjelasan tingkatan
>jiwa hanya dijelaskan sekilas mengenai Langit 1 s/d Langit 7 serta Bumi 1
>s/d Bumi 7, tetapi tidak dijelaskan lebih detail tentang adanya shaf.
>Tolong dijelaskan tentang shaf tersebut.
>2. Lebih detail lagi terutama pada tangga ke-2 (yaitu bertaubat dengan
>sungguh-sungguh), karena rasanya kita semua di milis ini pasti sudah ada
>pada tahap 1.:-)
>
>Barangkali dengan penjelasan ini semakin melengkapi peta perjalanan sebagai
>bekal buat kita-kita.
>
>Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>
>
>
>> ----------
>> From: Muhammad Sigit[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>> Sent: Tuesday, 1 June 1999 12:19
>> To: [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: Re: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal
>> Hati)
>>
>> Assalamu'alaykum wr. wb.
>>
>> Sedikit (bayak?) menambahkan nya' Bah...
>>
>> Dalam perjalanan mencari diri itu, kita pasti akan menemui berbagai
>> fenomena
>> dahsyat. Fenomena ini timbul karena kita mulai melangkahkan kaki ke suatu
>> alam, yang sering diistilahkan dengan alamnya si An-Nafs, atau alam
>> malakut,
>> atau alam langit (istilahnya Abah).
>> Kejadiannya seperti seorang bayi yang baru lahir, yang sebelumnya asyik
>> dengan alam rahimnya, tiba-tiba jebrol keluar. Ketika mata si Bayi
>> terbuka,
>> apa yang dilihat baginya itu adalah suatu fenomena. Meski bagi kita (yang
>> sudah duluan lahir dan gede) adalah biasa saja.
>>
>> Begitu juga ketika kita sudah mulai jadi penduduk 'langit', maka alam
>> dunia
>> ini sungguh  menjadi amat remeh bagi kita. Alam dunia ini hanya menjadi
>> sekedar ilusi dan impian. Itulah sebabnya alam dunia ini sering disebut
>> dengan dunia fana.
>> Kedahsyatan alam malakut ini, adalah seperti kedahsyatan alam dunia bila
>> dibandingkan dengan alam rahim. Bila alam rahim hanya seluas perut sang
>> ibu,
>> maka alam dunia luasnya bermilyar-milyar tahun cahaya. Apalagi alam
>> malakut?
>>
>> Dengan fenomena alam malakut yang sedemikian dahsyat, SANGAT MUNGKIN
orang
>> itu tertipu. Wong di alam dunia ini saja kita sering SALAH
>> MENGIDENTIFIKASI
>> MASALAH, apalagi di alam malakut. Yang jauh lebih kompleks. Karena itulah
>> perjalanan ke sana itu, sesungguhnya adalah perjalanan yang PENUH DENGAN
>> TIPUAN. Apabila tidak kuat niat dan pengetahuan, lebih baik jangan.
>> Ya bayangkan saja, bila ujian dan godaan bukan hanya datang dari Iblis
>> atau
>> jin biasa, tapi sang malaikat pun turun menguji, atas perintahNya.
>> Bayangkan bila kita disuruh berhenti sholat oleh malaikat (beneran),
>> karena
>> dinyatakan sudah suci.
>> Bayangkan bila kita hadir dalam suatu majelis para nabi atau wali.
>> Bayangkan bila kita dicium mulut ke mulut oleh Nabi Isa as.
>> Apa yang kemudian hadir di benak kita setelah itu?
>>
>> Pada titik inilah betapa syari'at itu menjadi AMAT penting. Syari'at
>> Rasulullah Muhammad saw adalah suatu koridor bagi perjalanan ini. Atau
>> seperti baby box, bagi sang bayi. Selama kita masih dalam koridor atau
>> baby
>> box tsb, jungkir balik pun nggak apa-apa. Termasuk syari'at di sini
adalah
>> adanya pengetahuan bagi setiap langkah kita.
>>
>> Fiuuh... hati-hatilah sahabat-sahabat semua. Jalan ini benar-benar
>> membutuhkan Jihad dan kesabaran. Bukan jalan main-main, bukan jalan
>> iseng-iseng. Karena kalau jatuh dari ketinggian, rasanya akan sakit
>> sekali.
>>
>> Wassalamu'alaykum wr. wb.
>>
>>
>>
>> -----Original Message-----
>> From: Abah Hilmy <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>> Date: Tuesday, June 01, 1999 7:55 AM
>> Subject: Re: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal Hati)
>>
>>
>> >
>> >>Wa'alaikum salam Abah,
>> >>Abah.... Bagaimana kalau orang yang keluar dari balik
>> >>pintu itu diri kita sendiri?
>> >>Apakah mungkin kita tidak mengenalnya?
>> >>Katanya kita mau mencari diri.....
>> >>Maaf lho Bah ini hanya guyonan kok.
>> >>Wassalamu'alaikum wr wb,
>> >>Wargino
>> >
>> >Assalamu'alaikum Wr. Wb
>> >
>> >Dalam kenyataannya, perjalanan menuju Allah (yang saya alami - mungkin
>> >berbeda dengan yang dialami pak Wargino) tidak sesederhana itu.  Kalau
>> kita
>> >anggap perjalanan kita 1 sampai 10, bertemu (mengenal diri sendiri) atau
>> >dalam bahasa Pak Wargino "yang keluar dari balik pintu kita sendiri" itu
>> >ada pada tahapan ke 8.
>> >
>> >Sebelum itu (perjalanan 1-7) banyak sekali permasalahannya.
>> >+ Mulai dari permasalahan gangguan dari syaithan.
>> >+ Meledaknya Obsesi (hayalan dan waham) kita.
>> >+ Meledaknya hawa nafsu kita, yang dalam bahasa Mas Sigit "banyak
menemui
>> >kembaran-kembaran lain".
>> >+ Fenomena ketaatan terhadap petunjuk Allah yang datang ke hati.
>> Sementara
>> >banyak petunjuk tersebut berupa "simbol/permisalan". Sedang di Al Qur'an
>> >dikatakan bahwa "Al Qur'an banyak terdiri dari permisalan, dan dengannya
>> >banyak orang yang disesatkan dan banyak yang diberi petunjuk".
>> >+ Bersentuhan dengan alam Jin
>> >+ Bersentuhan dengan alam Jiwa orang shalih
>> >+ Bersentuhan dengan alam malaikat.
>> >+ dsb.
>> >
>> >Banyak orang berjalan (bersuluk), karena tidak dibekali pengetahuan yang
>> >mencukupi, sehingga baru saja sampai ditahapan 2 telah menyangka sampai
>> di
>> >10. Karena ia tidak punya pengetahuan tentang apa yang didahapinya di
>> >tahapan 2 tersebut.
>> >
>> >Peranan "pengetahuan" salah satunya adalah untuk "mengerti
>> >permasalahan-permasalahan suluk diatas". Dengan pengetahuan tersebut,
>> Allah
>> >SWT yang mendidik langsung manusia, melalui hatinya. Sehingga jadilah
>> >pengetahuan bagi si manusia seperti "Surga yang mengalir dibawahnya
>> >sungai-sungai".
>> >
>> >Seorang mursyid adalah manusia juga. Punya kesibukan. Butuh waktu untuk
>> >istirahat, dsb. Yang tidak pernah sibuk dan tidak butuh istirahat adalah
>> >Allah SWT. Dialah Allah pendidik yang sesungguhnya buat setiap individu.
>> >
>> >Adalah salah kalau dikatakan "Mursyid yang mengajarkan". Karena seorang
>> >mursyid hanya membimbing murid (salik) nya untuk menghadapi pendidikan
>> >Allah  tersebut. Si salik pula yang mencerna (mengambil hikmah) dari
>> >permasalahan pengajaran tersebut, tidak diberitahu secara instant oleh
>> sang
>> >mursyid. Disinilah letak pendidikan Allah kepada setiap individu.
>> >
>> >Banyak orang telah menyangka bertemu dengan dirinya, padahal "dirinya
>> yang
>> >ditemuinya" adalah waham atau obsesinya atau bahkan kembarannya yaitu
>> hawa
>> >nafsunya sendiri.
>> >
>> >-wallahu'alam-
>> >
>> >
>> >+++++++
>> >Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah
>> Engkau
>> >ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi
>> Maha
>> >Bijaksana. (QS. 2:32)
>> >
>> >
>> >---------------------------------------------------------------------
>> >Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> >Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> >Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>> >Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>> >
>> >
>> >
>> >
>> >
>>
>>
>> ---------------------------------------------------------------------
>> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>>
>>
>>
>>
>>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke