Wah indah sekali dongeng om Sigit.... Saya sampai nangis membacanya (beneran
nih !!!). Penggambaran taubat ini sangat mengharukan, Apalagi kasih Allah
yang digambarkan bagaikan Tuan dari si unta ini yang 'kegirangan'
menyaksikan untanya kembali.
Saya membayangkan sebagian unta yang hilang, yang sudah jauh mengelana dalam
kemaksiatan ini kadang timbul rasa malu untuk kembali kepada Tuannya.
Pengetahuan bahwa si unta sudah terlalu jauh meninggalkan Tuannya justru
mencegahnya untuk segera lari kepada Tuannya. Rindu tapi Malu serta rasa
bersalah yang hebat, barangkali begitulah keadaan si unta. Sehingga meski
barangkali dapat menduga arah mana yang harus ditempuh, medan perjalanan
juga sudah dipelajari, juga sudah dilihatnya sebagian unta-unta lainnya yang
sedang menempuh jalan kembali tetapi ada ketakutan bahwa Tuannya akan kecewa
melihat keadaannya yang dekil. Barangkali si unta malu menemui Tuannya yang
sudah memberikan segalanya tetapi balasan si Unta adalah meninggalkannya
sebegitu jauhnya. Kesadaran akan kemuliaan Tuannya dan kedekilan diri malah
mencegahnya bahkan untuk berjalan lambat sekalipun kepada Tuannya. Yang
dilakukan sebagian unta ini adalah diam di tempat (ndeprok bahasa jawanya)
dan kadang menangis sejadi-jadinya akan ketololannya selama ini. Nasehat
bahwa Tuannya pasti akan memaafkannya malah semakin membuat unta ini malu
untuk kembali.
Bagaimana menurut Om Sigit mengenai unta yang seperti ini? Kayaknya cukup
banyak juga unta yang begini :-), meski lebih banyak lagi yang nggak tahu
jalan pulang, serta lebih banyak lagi yang bahkan tidak memiliki keinginan
untuk pulang.
> ----------
> From: Muhammad Sigit[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Tuesday, 1 June 1999 18:17
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal
> Hati)
>
> Assalamu'alaykum wr. wb.
>
> Mas Ali nggak boleh gitu.... nanya koq di borong. Mbledos geura. :)
> Ini saya nggak jawab, tapi sekedar dongeng. :)
>
> Ttg Shaf:
> Tiada seorangpun diantara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan
> yang
> tertentu, (QS. 37:164)
> dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. (QS. 37:165)
>
> Sesungguhnya kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya (termasuk
> malaikat)
> adalah kemampuannya untuk bertaubat. Dengan taubat, sang manusia bisa
> hidup
> di alam Setan, tumbuhan, hewan, bahkan malaikat. Dengan taubat, manusia
> bisa
> naik turun posisinya. Inilah yang dimaksud dengan hadits "Al-Iman yazid wa
> yankus". Ketika sang manusia bertaubat, sehingga mampu menembus langit,
> para
> malaikat terbelalak dan terpesona. Bagi malaikat yang memliki 'maqomun
> ma'lum' (maqom yang tertentu), manusia yang bisa melejit naik dan meluncur
> turun, adalah sebuah fenomena. Mungkin sama takjubnya dengan kita ketika
> menyaksikan ada orang bisa terbang tanpa alat bantu.
>
>
> Hikayat Taubat:
> Tentu kita ingat suatu hadits (qudsi?) yang menggambarkan 'kegirangan'
> Allah
> thd hambaNya yang bertaubat. Dimana Allah lebih girang dibanding seseorang
> ditengah padang pasir yang kehilangan untanya. Kemudian Ia tertidur,
> sehigga
> ketika terbangun dilihatnya si Unta sudah ada didepannya.
> Di hadits tsb ada perumpamaan berikut:
> Orang itu = Allah.
> Unta itu = hambaNya (kita-kita ini).
> Kembalinya si unta = Taubat.
>
> Dari akar kata pun, kita akan tahu bahwa taubat itu sebenarnya adalah:
> Kembalinya (si hamba).
> Kembali gimana sih?
> Lha... kembalinya si unta itu kan nggak langsung jleg hadir dihadapan si
> orang. Setelah nyasar senyasar-nyasarnya sehingga mencapai TITIK TERJAUH
> dari si orang, si unta baru mulai kembali. Di ukur dari titik tsb, ketika
> si
> unta memperpendek jaraknya thd si orang, itu berarti si unta sedang
> bertaubat. Tapi jarak tsb terus berfluktuasi.
>
> Si unta disebut sudah aslam (tahap 1) adalah ketika dia sadar harus
> kembali
> kepada tuannya. Sehingga dia tidak melanjutkan ketersesatannya. Artinya,
> tidak memperjanjang jaraknya dengan tuannya.
> Lantas si unta berusaha kembali kepada tuannya, yang disebut taubat. Ini
> berarti, ia berusaha memperpendek jarak.
> Dalam usaha kembalinya ini, dia bisa berpatokan kepada beberapa hal.
> Pertama, ia berbalik arah menuju arah datangnya dia. Dua, dia susuri
> jejaknya sendiri. Tiga, dia endus bau tuannya. Empat, mengenali
> lingkungannya (bukit pasir, oase dsb) sebagai tanda-tanda. Dsb.
> Dengan itu semua, ia berusaha kembali kepada tuannya. Tapi namanya di
> padang
> pasir, menentukan arah adalah hal yang paling susah. Jejaknya mungkin
> sudah
> putus-putus. Bau tuannya mungkin sudah tertiup angin. Bukit pasir mungkin
> cukup awet, kecuali bila tersapu badai pasir. Yang tetap hanya oase-oase,
> termasuk oase dimana tuannya berteduh. Tapi jangan lupa, di padang pasir
> juga sering muncul fatamorgana yang menipu.
>
> Selain itu, dulu kala pernah ada unta yang 'berhasil' mengambil jarak
> terjauh dengan tuannya, dan kemudian membangun komunitas unta sesat. Unta
> itu bernama Iblis.
> Unta Iblis ini juga berusaha menarik si unta nyasar supaya datang ke
> tempatnya (bumi 7), dengan segala cara. Apakah dengan mengirim unta
> penggoda, atau menghiasi jalan menuju tempatnya menjadi amat menggiurkan.
>
> Ini semua menjadi variabel dalam taubat si unta. Semakin pendek jarak
> antara
> si unta dan tuannya, semakin benar taubatnya.
>
> Gitu kira-kira. Yahh namanya dongeng, mungkin bisa ditemukan relasinya.
> Kalau nggak, ya dianggap dongeng aja. Wong memang dongeng koq. :)
>
> Wassalamu'alaykum wr. wb.
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)