Assalamu'alaykum wr. wb.

Mata saya yang sudah berkacamata juga berkaca-kaca nih membaca tulisannya
Mas Ali.
Hadir dalam benak saya wajahNya yang Ar-Rahman.

Saya sungguh paling semangat bila bicara ttg Rahman & Rahiimnya Allah.
Tapi saya pun sering kehilangan kata-kata untuk menggambarkanNya.
Betapa inginnya saya berteriak mengumumkan kepada manusia, betapa kasihNya
Allah.
Betapa inginnya saya mem-foto copy keyakinan saya akan kasihNya kepada kita
semua.
Cukuplah jalan hidup saya menjadi bukti bagi saya, betapa Allah merindukan
kita. Betapa Allah menantikan saat-saat untuk melimpahkan rahmatNya. Dan
betapa rahiimNya Ia.

Mas Ali, saya pernah membaca suatu hadits qudsi, yang saduran bebasnya
seperti ini:
"Bagi hambaKu kusediakan ampunanKu. Ketika ia berbuat dosa, kemudian
bertaubat, maka akan Aku ampuni. Kalau ia kembali berdosa dan kemudian
bertaubat, maka akan Aku ampuni. Dan kalaulah ia kembali berdosa dan
bertaubat, tetap akan Aku ampuni. Maka berbuatlah dosa semaumu dan
bertaubatlah, sebanyak itu pula ampunanKu."

Lihatlah.... betapa Ia benar-benar Maha Pengampun.

Mas Ali, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah itu sesuai dengan persangkaan
kita. Dan persangkaan yang paling dibenciNya serta paling fatal bagi
kehidupan kita adalah ketika kita menyangka bahwa Ia bukan yang Maha
Pengampun.
Kita seolah tahu diri, padahal kita itu SOK TAHU. Betapa benci dan kesalnya
Allah, ketika Ia SANGAT SIAP  melimpahkan ampunan dan rahmatNya, dan kita
menolaknya karena sok tahu akan dosa kita sendiri.
Sesungguhnya Allah berfirman:
"Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang
yang sesat". (QS. 15:56)

Dan ampunanNya adalah bagian dari rahmatNya.
Percayalah, tiada dosa seberat apapun dan sesering apapun yang tak dapat
diampuniNya, bila kita bertaubat.

Wassalamu'alaykum wr. wb.


-----Original Message-----
From: Ali Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, June 02, 1999 10:05 AM
Subject: RE: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal Hati)


>Wah indah sekali dongeng om Sigit.... Saya sampai nangis membacanya
(beneran
>nih !!!). Penggambaran taubat ini sangat mengharukan, Apalagi kasih Allah
>yang digambarkan bagaikan Tuan dari si unta ini yang 'kegirangan'
>menyaksikan untanya kembali.
>
>Saya membayangkan sebagian unta yang hilang, yang sudah jauh mengelana
dalam
>kemaksiatan ini kadang timbul rasa malu untuk kembali kepada Tuannya.
>Pengetahuan bahwa si unta sudah terlalu jauh meninggalkan Tuannya justru
>mencegahnya untuk segera lari kepada Tuannya. Rindu tapi Malu serta rasa
>bersalah yang hebat, barangkali begitulah keadaan si  unta. Sehingga meski
>barangkali dapat menduga arah mana yang harus ditempuh, medan perjalanan
>juga sudah dipelajari, juga sudah dilihatnya sebagian unta-unta lainnya
yang
>sedang menempuh jalan kembali tetapi ada ketakutan bahwa Tuannya akan
kecewa
>melihat keadaannya yang dekil. Barangkali si unta malu menemui Tuannya yang
>sudah memberikan segalanya tetapi balasan si Unta adalah meninggalkannya
>sebegitu jauhnya. Kesadaran akan kemuliaan Tuannya dan kedekilan diri malah
>mencegahnya bahkan untuk berjalan lambat sekalipun kepada Tuannya. Yang
>dilakukan sebagian unta ini adalah diam di tempat (ndeprok bahasa jawanya)
>dan kadang menangis sejadi-jadinya akan ketololannya selama ini. Nasehat
>bahwa Tuannya pasti akan memaafkannya malah semakin membuat unta ini malu
>untuk kembali.
>
>Bagaimana menurut Om Sigit mengenai unta yang seperti ini? Kayaknya cukup
>banyak juga unta yang begini :-), meski lebih banyak lagi yang nggak tahu
>jalan pulang, serta lebih banyak lagi yang bahkan tidak memiliki keinginan
>untuk pulang.
>
>
>
>> ----------
>> From: Muhammad Sigit[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>> Sent: Tuesday, 1 June 1999 18:17
>> To: [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: Re: [Tasawuf] Bagaimana kalau....( was - Akal Otak & Akal
>> Hati)
>>
>> Assalamu'alaykum wr. wb.
>>
>> Mas Ali nggak boleh gitu.... nanya koq di borong. Mbledos geura.  :)
>> Ini saya nggak jawab, tapi sekedar dongeng.  :)
>>
>> Ttg Shaf:
>> Tiada seorangpun diantara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan
>> yang
>> tertentu, (QS. 37:164)
>> dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. (QS. 37:165)
>>
>> Sesungguhnya kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya (termasuk
>> malaikat)
>> adalah kemampuannya untuk bertaubat. Dengan taubat, sang manusia bisa
>> hidup
>> di alam Setan, tumbuhan, hewan, bahkan malaikat. Dengan taubat, manusia
>> bisa
>> naik turun posisinya. Inilah yang dimaksud dengan hadits "Al-Iman yazid
wa
>> yankus". Ketika sang manusia bertaubat, sehingga mampu menembus langit,
>> para
>> malaikat terbelalak dan terpesona. Bagi malaikat yang memliki 'maqomun
>> ma'lum' (maqom yang tertentu), manusia yang bisa melejit naik dan
meluncur
>> turun, adalah sebuah fenomena. Mungkin sama takjubnya dengan kita ketika
>> menyaksikan ada orang bisa terbang tanpa alat bantu.
>>
>>
>> Hikayat Taubat:
>> Tentu kita ingat suatu hadits (qudsi?) yang menggambarkan 'kegirangan'
>> Allah
>> thd hambaNya yang bertaubat. Dimana Allah lebih girang dibanding
seseorang
>> ditengah padang pasir yang kehilangan untanya. Kemudian Ia tertidur,
>> sehigga
>> ketika terbangun dilihatnya si Unta sudah ada didepannya.
>> Di hadits tsb ada perumpamaan berikut:
>> Orang itu = Allah.
>> Unta itu = hambaNya (kita-kita ini).
>> Kembalinya si unta = Taubat.
>>
>> Dari akar kata pun, kita akan tahu bahwa taubat itu sebenarnya adalah:
>> Kembalinya (si hamba).
>> Kembali gimana sih?
>> Lha... kembalinya si unta itu kan nggak langsung jleg hadir dihadapan si
>> orang. Setelah nyasar senyasar-nyasarnya sehingga mencapai TITIK TERJAUH
>> dari si orang, si unta baru mulai kembali. Di ukur dari titik tsb, ketika
>> si
>> unta memperpendek jaraknya thd si orang, itu berarti si unta sedang
>> bertaubat. Tapi jarak tsb terus berfluktuasi.
>>
>> Si unta disebut sudah aslam (tahap 1) adalah ketika dia sadar harus
>> kembali
>> kepada tuannya. Sehingga dia tidak melanjutkan ketersesatannya. Artinya,
>> tidak memperjanjang jaraknya dengan tuannya.
>> Lantas si unta berusaha kembali kepada tuannya, yang disebut taubat. Ini
>> berarti, ia berusaha memperpendek jarak.
>> Dalam usaha kembalinya ini, dia bisa berpatokan kepada beberapa hal.
>> Pertama, ia berbalik arah menuju arah datangnya dia. Dua, dia susuri
>> jejaknya sendiri. Tiga, dia endus bau tuannya. Empat, mengenali
>> lingkungannya (bukit pasir, oase dsb) sebagai tanda-tanda. Dsb.
>> Dengan itu semua, ia berusaha kembali kepada tuannya. Tapi namanya di
>> padang
>> pasir, menentukan arah adalah hal yang paling susah. Jejaknya mungkin
>> sudah
>> putus-putus. Bau tuannya mungkin sudah tertiup angin. Bukit pasir mungkin
>> cukup awet, kecuali bila tersapu badai pasir. Yang tetap hanya oase-oase,
>> termasuk oase dimana tuannya berteduh. Tapi jangan lupa, di padang pasir
>> juga sering muncul fatamorgana yang menipu.
>>
>> Selain itu, dulu kala pernah ada unta yang 'berhasil' mengambil jarak
>> terjauh dengan tuannya, dan kemudian membangun komunitas unta sesat. Unta
>> itu bernama Iblis.
>> Unta Iblis ini juga berusaha menarik si unta nyasar supaya datang ke
>> tempatnya (bumi 7), dengan segala cara. Apakah dengan mengirim unta
>> penggoda, atau menghiasi jalan menuju tempatnya menjadi amat menggiurkan.
>>
>> Ini semua menjadi variabel dalam taubat si unta. Semakin pendek jarak
>> antara
>> si unta dan tuannya, semakin benar taubatnya.
>>
>> Gitu kira-kira. Yahh namanya dongeng, mungkin bisa ditemukan relasinya.
>> Kalau nggak, ya dianggap dongeng aja. Wong memang dongeng koq.  :)
>>
>> Wassalamu'alaykum wr. wb.
>>
>>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke