Assalamu'alaikum wr wb
On Fri, 4 Jun 1999, Yani Qoyimah wrote:
> Nah........ saya tidak mengkaji tentang Allah itu sendiri.
> Siapapun tidak akan sampai. Rasulullah juga pernah bersabda
> "Jangan kau pikirkan tentang Dzat Allah, tapi pikirkan tentang
> ciptaanNya". Kekhawatiran saya sudah muncul sekarang, yaitu
> terjadinya SALAH PAHAM.
Sebenarnya saya memang tidak bermaksud untuk menanggapi langsung temanya
Pak Nading dan Mbak Yani ( sehingga saya tulis kalimat " lanturan..." ),
tetapi mencari batu pijakan awal untuk menjelaskan METODOLOGI apa yang
saya sebut dengan METATASAWUF, sebuah hikmah yang kuncinya adalah di I'jaz
Qur'an dengan alat analisisnya adalah metamathematics dan Theory of
Everything ( String theory dll ), yang diharapkan dapat MENURUNKAN dan
MENJELASKAN hikmahnya Mulla Shadra, Suhrawardi, Ilmu tasawuf, filsafat,
dll... dalam derajat Kepastian dan Keeksakan tertinggi, sejauh dalam
batas-batas yang diijinkan oleh metodologi tersebut. Metodologi ini masih
dalam tahap sangat awal, dan masih sangat memerlukan Ijtihad dan Jihad
yang luar biasa berat dan keras. Ada beberapa kemajuan yang telah didapat,
dan saya mengundang peserta milis untuk memberikan tambahan wawasan, siapa
tahu kita dapat membentuk perkumpulan semacam " Ikhwan al Shafa " , yang
pernah menjadi salah satu tonggak Peradaban Islam Di masa silam.
> Saya belum menanggapi lebih lanjut berikut ini (kecuali sedikit
> klarifikasi di bawah ini), seperti sudah saya bilang saya belum
> cukup punya waktu dan pikiran yang lapang (juga ilmu yang
> mencukupi).
> Dan yang paling mendasar adalah kekhawatiran salah paham, karena
> mungkin penyampaian saya yang sangat terbatas
> Sebagai perumpamaan adalah Cahaya Matahari itu bukan matahari,
> tapi gelombang tranfersal dan longitudinal dari matahari itu
> sendiri.Nur Allah itu bukan Allah.
>
> Tentang Metafisika Eksakta, sebenarnya ada buku-bukunya.
> Mungkin bisa saya kutipkan sedikit-sedikit.
> Cuma, kekhawatiran saya, seperti pengalaman yang lalu,
> mengutipkan apa adanya, masih ada salah paham. Dan kalau saya
> ikut mengomentari, takut salah juga. Walaupun saya yakin akan
> kebenaran teori itu, tapi mungkin saya belum menguasai
> sepenuhnya. Tapi ada rasa ingin berbagi informasi kepada
> semuanya.
> Kalau banyak terjadi salah paham, jadi membuat saya merasa
> bersalah dan berdosa. Mengotori (menjadikan salah paham) ilmu
> yang tinggi.
> Semoga rekans semua bisa memakluminya.
>
> Wassalam Ww
>
Sepeerti yang saya duga semula, Metafisika Eksaktanya Mbak Yani adalah
berasal dari Prof. Kadirun Yahya, mursyid tareqat Naqsyabandi di Medan.
Saya pernah mempelajarinya kira-kira 4 tahun yang lalu dari seorang teman
di Yogya. Di Indonesia, selain dari Pak Kadirun metafisika eksakta
seperti itu juga pernah dikembangkan oleh ulama madura, seingat saya
bernama Kyai Bahauddin Mudhary alm. Di Luar Negeri, ada yang mirip-mirip
seperti itu, misalnya yang dibahas dalam tema-tema seperti Proyeksi
Astral, Piramidalogy,...dll, dimana orang-orang Rusia sangat meminatinya.
Proyeksi Astral berusaha menjelaskan "keluarnya" JIWA( RUH ? ) dari tubuh
jasmani saat bermeditasi. Sedangkan beberapa cendekiawan Budha pernah pula
mengukur GELOMBANG OTAK orang saat bermidatasi dengan bantuan
Mantra-mantra tertentu, diperoleh kesimpulan gambar gelombang otak itu.
sebanding dengan tingkat (maqam) spiritual orang tersebut. Konon orang
yang sudah mencapai Nirvana (ARAHAT), gambarnya di EEG berbentuk seperti
GARIS HORISONTAL MEMANJANG.
Tetapi kita harus mencatat, contoh-contoh seperti di atas disebut oleh
John L. Casti ( pakar di Santa Fe Institute USA, sebuah lembaga riset
yang paling top saat ini dibidang Complexity Theory ), dengan nama
PSEUDOSCIENCE. Contoh-contoh tersebut adalah SAINS SEMU, menurut Casti.
Lalu, apa sebenarnya Sains Eksak itu ?
Sebenarnya definisi EKSAK hanya dapat dijelaskan dalam Metamathematics.
Untuk memudahkan, saya akan mengambil contoh lain yaitu di fisika
teoritis, Teori Einstein.
Berdasarkan FILSAFAT MACH Einstein BERHASIL menurunkan sebuah PERSAMAN
MATEMATIKA, yang menggambarkan interaksi antara materi-energi dengan
ruang-waktu, dalam konteks teori gravitasi. Kemudian Einstein mengusulkan
PERCOBAAN untuk menguji persamaan-nya, misalnya dengan mengukur lintasan
planet Merkurius, yang bisa dilakukan oleh SEMUA ORANG pada prinsipnya.
Dan ternyata data-data eksperimen TEPAT PERSIS dengan prediksi persaman
tersebut. Itulah kira-kira Sains Eksak.
Sedangkan di matematika, ukurannya bukan percobaan , tetapi adalah
KESAHIHAN bukti dari suatu TEOREMA.
TETAPI SEPERTI YANG SAYA KATAKAN SEBELUMNYA, Prosedur tersebut terdapat
MASALAH juga, TETAPI DAPAT DIATASI OLEH METAMATHEMATICS.
Dan tentang metafisikanya Pak Kadirun Yahya, pernah seorang pakar
matematika-fisika dari Belanda yang sepertinya 'mentertawakan' matematika
yang digunakan dalam metafisika eksakta. Hal inilah SALAH SATU alasan yang
mendorong saya untuk berijtihad MENGEMBANGKAN METATASAWUF, dan bukan
Metafisika Eksakta, dengan salah satu alat analisisnya adalah
Metamathematics, dan bukan matematics.
Demikian, semoga difahami dan dimaklumi.
Segala Puji Bagi Allah Dari Awal Hingga Akhir.
Wassalam
aHassan
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)