Assalamu'alaikum wr wb,

Sekedar tambahan, kalau dulu para shahabat Rasulullah dan para sholihiin
banyak yang menangis dalam munajatnya mohon kepada Allah untuk
bisa mati syahid. Namun kebanyakan orang-orang akhiriin banyak yang
takut mati karena cinta dunia.

Saya tidak tahu dan mungkin hanya Allah yang tahu, apakah saudara-saudara
kita yang kita bilang 'dibantai' itu syahid atau tidak? Wallahu a'lam.

Pelajaran yang bisa diambil antara lain adalah:
     Hendaknya kita senantiasa berpegang teguh pada tali Allah
     kapan saja, dimana saja, dalam kondisi bagaimanapun juga.

Kalau kita bisa demikian insya Allah tiada yang sia-sia dalam hidup kita
sekalipun kita mati 'dibantai', sedang kita tetap dalam kondisi berpegang
teguh pada tali Allah.

"Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada
(agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang
besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka
kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (QS. 4:175"

Allah Maha Mengetahui Yang terbaik buat hambanya.


Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino






At 03:01 AM 5/25/99 -0400, you wrote:
>Assalamu a'laikum Wr.Wb.
>Pertanyaan ini saya tujukan kepada Bapak Abah Hilmy Yang dicintai Allah.

Waalaikumussalam Wr. Wb
Mungkin lebih baik pertanyaan ini diajukan kepada semua, tidak hanya kepada
saya.


>1. Kenapa tidak ada perlindungan dari Allah secara langsung ketika itu,
pada
>    saat ratusan bahkan ribuan umat muslim sedang menghadapi penyiksaan
>    dan pembantaian oleh kaum kuffar, padahal kita semua juga yakin pada
>    saat yang sama ketika itu detik2 dalam kritis menghadapi maut, mereka
>    juga telah merintih dan berteriak dalam do'a memohon perlindungan
kepada
>    Allah walaupun dalam keadaan yang sangat panik,..dan toh akhirnya juga
>    kekuatan2 tangan jahilia yang biadab, tetap juga dengan tidak
>berprikema-
>    nusiaan mencabut dan mencabik jiwa saudara2 muslim kita hingga tewas
>    dan gugur suhada'.
>    Padahal Allah Maha Pelindung, Maha Pengasih dan Penyayang kepada
>    umat ciptaan-Nya.
>2. Terlepas dari masalah takdir, nasib, dan lain2...saya ingin penjelasan2
>    bapak Abah Hilmy dikaitkan dengan perjalanan ilmu Tasawuf, walaupun
>    soal kematian bukan masaalah buat seorang muslim.
>
>    Sehubungan dengan peristiwa2 tersebut, saya yakin semua umat Islam
>didunia ini menghendaki dan berandai-andai harap, bahwa mestinya umat
Islam
>tetap dalam lindungan Allah bila mendapat gangguan atau serangan
>dari luar, seperti halnya perlindungan Allah (mukjizat) yang terjadi pada
>umat Islam terdahulu, misalnya perlindungan Allah SWT terhadap umat Islam
di
>Mekkah disaat tentara Raja Abraha menyerang Baitullah.
>Ataukah di abad 20 an ini do'a umat sudah kurang atau sudah tidak didengar

>oleh Allah SWT, sebab"Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita,
>yang selalu penuh dengan dosa-dosa", seperti apa yang ditembangkan oleh
>saudara kita Ebiet GAD dalam syair lagunya, mulai  menjadi kenyataan.


Dalam melihat permasalahan ini, saya kira sangat kompleks.
Hal ini berkaitan dengan:

1. KONSEPSI AR-RAHMAAN & AR-RAHIIM

Allah Ar-Rahmaan (Maha Pengasih) bagi semua makhluk. Tidak memandang ia
beragama Islam atau tidak. Tidak pula memandang ia mukmin atau tidak.

Allah Ar-Rahiim (Maha Penyayang) hanya kepada orang-orang yang mukmin.
Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. 33:43)

Mukmin berbeda dengan orang yang memeluk agama Islam.
Mukmin yang hakiki juga tidak sebatas ungkapan percaya kepada rukun Iman
yang 6 tersebut.

Mukmin secara hakiki adalah orang yang mendapatkan rahmat Allah, sehingga
hati ruhaniyah-nya dikaruniai Allah Cahaya Iman, yang dengannya ia dapat
menyentuh maksud dan arti terdalam Al Qur'an (QS 56:79) dan dengan Cahaya
Iman ini ia dapat menerima petunjuk Allah langsung ke dalam hatinya (QS
64:11).


2. UJIAN ALLAH

Ujian dari Allah kepada manusia berbagai bentuk. Ada yang berupa kenikmatan
ada yang berupa keburukan. Semua ujian tersebut bertujuan untuk menyadarkan
manusia agar kembali kepada Allah dengan mentransformasi diri (menyucikan
diri).

Kisah pembantaian sebagai ujian dicontohkan Allah dalam kisah Nabi Musa dan
para pengikutnya, sebagai berikut:

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:"Ingatlah nikmat Allah
atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Firaun dan)
pengikiut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka
menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu;
dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Rabbmu". (QS. 14:6)

Peperangan atau pembantaian adalah salah satu bentuk Ujian Allah. Dengan
Ujian ini ada orang yang disesatkan Allah (karena berperasangka buruk pada
Allah, mengeluh, dsb) namun adapula yang dengan ujian ini Allah memberinya
petunjuk (karena berserahdiri kepada Allah sebagai wujud penyucian
dirinya). (QS 7:155)

Sehingga dengan ujian-ujian ini, akan terklasifikasilah siapa-siapa yang
beriman dan siapa-siapa yang tidak.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami
telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. 29:2)


3. SKENARIO ALLAH

Dengan sebuah kejadian besar (termasuk Indonesia berapa waktu ini dan
berapa waktu ke depan) adalah merupakan skenario Allah untuk membangkitkan
sebuah kaum yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka.

...maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan merekapun mencintai-Nya... (QS. 5:54)


+++++++
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS. 2:32)







---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke