Assalamu'alaikum wr wb,

Saya kalau membaca tulisan mBak Yani rasanya kok belum nyampe.
Teknologynya terlalu tinggi mungkin.

Kalau Mas Hasan karena makanan Beliau setiap detik mungkin
tidak masalah.

Bagi saya karena kurang teknology, berfikir saya sederhana
sekali :

* Manusia boleh saja tidak tahu frekwensi dan teknology
  komunikasi kepada Allah,  tapi Allah tidak.

Lha wong saja baru mau mbatin sesuatu tahun depan saja
Allah sudah tahu kok. Apalagi sampai saya ucapkan.
Ya sudah pasti sampai dan pasti Allah mendengar to!

Maaf itu sih pendapat saya, katanya Allah Maha Mendengar?

Apa mungkin tanpa frekwensi tertentu tidak nyampe pada Allah?

Apakah orang-orang yang dibantai itu karena tidak tahu teknology
dan do'anya tidak sampai?

Atau tanpa metode khusus Allah tidak mengabulkan do'a hambanya?
Katanya Allah itu Al-Mujibu (Maha Mengabulkan Do'a)

Bagaimana dengan Keluarga Rasulullah SAAW yang 'dibantai' di
Karbala? Apakah mereka tidak tahu teknology dan cara
berkomunikasi dengan Allah?

Astaghfirullahal 'adzim,
Mohon maaf kalo tulisan ini kurang berkenan.
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino


---------------------------------------------------------
[Agus Hasan Wrote]:

>Assalamu'alaikum wr. wb.

>Saudari Yani, saya belum melihat analisa anda menjawab pertanyaan yang
ditanyakan Sdr. H. Nading.
Apa yang anda maksud dengan Metafisika Eksakta, tasawuf yang eksak ?
Berapa sih frekuensinya menurut "Metafisika Eksakta" anda, supaya kita
NYAMBUNG kepada Allah ?

>Apakah seperti yang dimaksud prof. Kadirun Yahya ?
Jangan kuatir, saya tidak merasa 'asing' kok dengan yang eksakta, itu
makanan saya setiap detik.


Wasalam.

aHassan

-----------------------------------------------------------

Yani Qayyimah wrote :

> > Assalamu a'laikum Wr.Wb.
      >
      > Wa'alaikumsalam Wr.Wb
      >
      > Ma'af saya ingin menanggapi sedikit.
      > Saya menganalisanya dengan pendekatan Metafisika Eksakta, konsep
      > Tasawuf yang Eksak.
      > Dulu, saya pernah posting-kan tentang Teknologi Al Qur'an. Namun,
      > kita semua masih merasa 'asing' dan 'aneh' mendengarnya, padahal
      > kita sudah di zaman teknologi modern. Mungkin karena kita
      > terbiasa mendapatkan pelajaran agama dengan 'dogmatis'.
      >
      > Mengapa Allah SWT membiarkan umat Islam dibantai dimana-mana?
      > Mana pertolongan Allah itu? Padahal Allah & Rasul-Nya menjanjikan
      > kemenangan bagi orang yang beriman.
      > Allah & RasulNya tentulah Maha Benar. Al Qur'an dan Hadits Benar!
      >
      > So, kesalahan ada di mana?. Umat Islam sudah tidak 'mewarisi'
      > RAHISIA-RAHASIA kemenangan Nabi Besarnya. Berarti umat Islam
      > sudah 'slip' dari ajaran Allah & RasulNya.
      >
      > Allah sudah menyediakan RahmatNya yang berupa fisik di alam
      > semesta ini, namun manusia harus 'menggalinya' untuk dapat
      > menikmati RahmatNya itu.
      > Begitu juga Rahmat Allah dai alam Metafisik sudah disediakan di
      > dalam Al Qur'an.
      > Ingat, bahwa Al Qur'an adalah mukjizat terbesar Nabi SAW. Di
      > dalamnya terdapat kurnia dan rahmat yang tiada terhingga. Untuk
      > mendapatkan Kurnia dan Rahmat-Nya itu, umat Islam harus
      > 'menggalinya'. Tentu saja dengan METODOLOGInya, yaitu
      > Thariqatullah.
      > Bagaimana TEKNIK MUNAJAT ke hadirat Allah SWT, supaya sampai
      > kehadirat-NYA? Itulah yang dimaksudkan Teknologi Al Qur'an.
      > Untuk bisa sampai kehadiratNYA tentu saja 'channel', 'frekuensi'
      > harus sesuai, harus dengan WASILAH. Seperti halnya yang diwarisi
      > Rasulullah dari Allah SWT.
      > Bagaimana supaya dapat menyebut KALIMAH ALLAH hingga Allah
      > berkenan hadir. Supaya kita selalu BESERTA dengan ASMA ALLAH.
      > Beserta dengan Yang Maha Rahman dan Rahim, hingga segala apapun
      > di dunia dan akhirat tidak akan dapat memberikan mudzarat apapun.
      >
      > [Ingat kisah Rasulullah SAW hanya menyebutan asma ALLAH saja,
      > sang musuh bergetar ketakutan, karena memang Allah benar-benar
      > hadir di sisi Rasulullah SAW].
      >
      > Itu hanya bisa didapatkan di dalam Ilmu Tasawuf dan Thariqat yang
      > HAQ.
      >
      > Perbandingan eksak, kita dalam berkomunikasi jarak jauh harus
      > sesuai 'channel'nya, addressnya, misalnya via telepon, e-mail,
      > televisi, dll. Jika frekuensinya tidak sesuai, maka tidak akan
      > nyambung.
      >
      > Apalagi 'berkomunikasi' dengan Allah di dimensi yang tak
      > terhingga, padahal kita manusia terbatas, bagaimana mungkin kita
      > dapat sampai kepada YANG TAK TERHINGGA?
      > Itulah misi Rasulullah di utus, pembawa WASILAH, supaya umat
      > dapat munajat kehadirat Allah SWT.
      >
      > Jadi, kalau do'a-do'a airmata seakan tidak didengarkan oleh
      > Allah, itu berarti kita umat Islam 'frekuensi', 'channel'nya
      > kepada Allah belum NYAMBUNG.
      >
      > Saya tidak bisa berpanjang lebar di sini
      > Mohon ma'af semuanya.
      >
      >



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke