Assalaamu' alaikum wr. wb.

Saya sadar bahwa dalam cerita tasawuf, akan selalu ada stasiun-stasiun
tertentu yang harus dilewati, ada maqam-maqam rukhani yang runtun dst. Kita
tidak bisa menghindar dari hal ini dan hal itu saya sadari merupakan suatu
sunnatullah yang mutlak. Masalahnya adalah bagaimana cara mencapai
maqam-maqam tersebut. Dari para salik, hingga saat ini kesan kuat yang saya
tangkap adalah dengan melakukan zikir-zikir tertentu, dengan menaikkan
kualitas dan kuantitas ibadah mahdhoh baik yang wajib maupun yang sunnah
(seperti sholat wajib & sunnah, puasa wajib & sunnah dll). Pada intinya
meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah-ibadah mahdhoh yang
bermacam-macam. Saya mengklasifikasikan semua amalan ini sebagai
amalan-amalan pribadi.

Seperti pernah saya katakan, saya menganggap tidak mungkin Rasulullah SAAW
menghendaki umatnya menuju Shirath AlMustaqiim tetapi tidak menunjukkan
sabilnya. Sungguh aneh misi kerasulan seperti itu. Lalu sabil/tarekat
seperti apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah? Amalan apa yang diinginkan
Rasulullah SAAW untuk dilakukan oleh umatnya? Saya berusaha mencarinya
dengan cara mempelajari AlQuran, mempelajari ucapan serta sejarah hidup
Rasulullah dan Ahlulbaitnya. 

Ketika saya membaca AlQuran, membaca ucapan serta sejarah hidup Rasulullah
dan Ahlulbaitnya maka saya tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa selain
amalan-amalan pribadi seperti di atas, ada amalan yang bersifat lain.
Sebagai contoh, mengenal tetangga, menyantuni anak yatim, memberikan
sedekah, bersikap dermawan, melakukan perjalanan fisik di muka bumi,
menentang penguasa yang zalim, menolong orang yang tertindas, mencari ilmu
dll. Saya mengklasifikasikan hal ini sebagai amalan kemasyarakatan. 

Jika saya menimbang antara kedua hal itu. Bahkan saya tidak mampu menolak
bahwa amalan kemasyarakatan ini memiliki kedudukan yang sungguh mulia bahkan
jauh lebih mulia dibandingkan dengan semua amalan pribadi. Seakan Rasulullah
dan Ahlulbait memberikan jaminan bahwa semua amalan kemasyarakatan ini
bahkan akan mengantar kita kepada maqam-maqam rokhani secara jauh lebih
cepat daripada sekedar melakukan amalan-amalan pribadi. Saya tidak mampu
menolak kesan bahwa jalan amalan kemasyarakatan inilah yang ditunjukkan oleh
Rasulullah SAAW dan Ahlulbaitnya sebagai sabil menuju Shirath AlMustaqim
tersebut. 

Kesan yang saya peroleh hingga saat ini, kuantitas dan kualitas amalan
pribadi adalah hanya sebagai wujud syukur kita pribadi kepada Allah SWT.
Sedangkan justru amalan kemasyarakatanlah yang akan mengantar kita kepada
maqam-maqam rukhani yang lebih tinggi. Malaikatpun juga berzikir, Burungpun
dikatakan berzikir, Batu itu juga berzikir, bahkan seluruh alam semesta ini
juga berzikir kepada Allah SWT. Kalau kita mampu berzikir sekian ratus ribu
kali,  maka apa bedanya kita dengan batu itu? Amalan kemasyarakatan itulah
yang khas manusiawi sehingga amalan kemasyarakatan itulah sebenarnya yang
mampu mengantar kita kepada maqam-maqam rukhani yang lebih tinggi. 

Hipotesa yang saya peroleh justru seakan, anda 2000 tahun sholat malam
dengan kualitas, anda 1000 tahun berzikir dengan kualitas, dan puluhan kali
pergi haji dengan kualitas maka kemajuan maqam rukhani anda mungkin sama
dengan orang yang menolong seekor anjing kehausan untuk mendapatkan air.
Itulah Hipotesa yang saya peroleh. Saya sengaja tidak menyertakan
hadist-hadist serta ayat-ayat yang saya maksudkan sehingga saya sampai pada
hipotesa seperti di atas, karena saya yakin sebagian besar dari kita juga
sudah pernah mendengarnya (kalau diperlukan mungkin lain kali akan saya
sertakan). Saya ingin tahu bagaimana tanggapan anggota milis terhadap
hipotesa tersebut. Mungkin hipotesa tersebut terlalu dini untuk diungkapkan
tetapi saya tetap tidak mampu mengusir hipotesa tersebut dari benak saya.

Ada penjelasan bahwa "amalan kemasyarakatan" itu adalah buah dari "amalan
pribadi". Dengan logika bahwa amalan pribadi membuat manusia mencapai maqam
Taqwa, sedangkan amal Sholih (amal kemasyarakatan) itu merupakan buah dari
Taqwa tersebut. Tetapi tetap saja di dalam benak saya, lebih masuk akal
bahwa kedua amalan itu (pribadi dan kemasyarakatan) sejajar. Kedua amalan
itu mengantar kita kepada maqam Taqwa dan maqam-maqam lainnya, tetapi Amalan
Kemasyarakatan itu jauh lebih cepat mengantar kita ke maqam Ruhani yang
lebih tinggi.

Tapi ini semua cuman hipotesa lho, belum saya buktikan.

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke