Ali Abidin wrote: > Assalaamu 'alaikum wr. wb. > > > ---------- > > From: R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > > > > Menurut saya, anda tidak terlalu keliru. Amalan pribadi > adalah benih > > yang [harus] ditanam, dan amalan sosial merupakan buah yang > > [seharusnya] dihasilkan. Semua ibadah ritual dalam Islam > dirancang > > untuk membersihkan jiwa orang yang melakukannya. Buah dari > jiwa yang > > bersih itu adalah kerelaan berkorban dan melakukan amal > kebajikan bagi > > keserasian alam semesta pada umumnya. > > > Memang penjelasan seperti inilah yang paling sering saya terima > dari > orang-orang yang menjalankan tasawuf. Tapi saya masih tidak > mampu mengusir > kecurigaan bahwa Rasulullah SAAW menghendaki agar Amalan > Pribadi dan Amalan > Sosial ini dijalankan secara bersama-sama dalam pembersihan > jiwa manusia. > Terlalu banyak hadist, kepingan sejarah, dll yang justru > mendorong saya > untuk berpikir demikian. > Saya kok cenderung setuju dengan pendapat Pak Sunarman."shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar". Kalau masih berbuat mungkar juga, berarti shalatnya belum bener. Shalat sebagai ibadah ritual belum bener, bagaimana ia bisa bener ibadah kemasyarakatan. Kita lihat kembali sejarah turunnya Wahyu (tolong dikoreksi). Wahyu-wahyu pertama (periode Mekah) adalah wahyu tentang Keimanan, aqidah, secara singkat ibadah ritual. Setelah aqidah mantap, barulah turun wahyu tentang Muamalah (periode Medinah), juga turun perintah untuk Jihad berperang melawan musuh Kafir. Kesimpulan saya adalah setelah ibadah ritual (pribadi) mantap berdiri, barulah ibadah kemasyarakatan atau muammalah. Kalau saya lihat bukan kulit (ibadah pribadi atau kemasyarakatan), tapi adalah Ruh, Energi atau Isi dari ibadah itu sendiri. Di dalam thariqat (setahu saya) yang diajarkan bukan hanya ibadah ritual (amalan dzikir, shalat), tapi juga sedekah, ubudiyah (penghidmatan/pengabdian). Bukankah Allah tidak menciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah / mengabdi kepada Allah? Pengabdian yang utama yang merupakan induk dari pengabdian lainnya adalah "Pengabdian kepada Allah". Tidak berhenti di situ saja, kemudian diikuti dengan pengabdian kepada bangsa, negara, manusia & perikemanusiaan (ibadah kemasyarakatan). Pengabdian ini semua adalah dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT. Selain zakat yang wajib adalah untuk membersihkan harta, sedekah (sunat) juga untuk membersihkan harta dan jiwa. Harta yang kita dapatkan mungkin belum jelas halal/haramnya, untuk mencucinya, selain zakat yang wajib, lebih bagus juga dikeluarkan sedekah untuk lebih membersihkan dari harta yang "meragukan". Jika kita merasa berdosa kemudian kita beristighfar, bershalawat, bagus juga disertai bersedekah untuk membersihkan jiwa. Selain itu jika kita mempunyai hajat atau keinginan, lebih baik disertai dengan sedekah. Supaya apa yang akan kita lakukan dan akan kita dapatkan menjadi "bersih" dan mendapat ridla Allah. (membersihkan jiwa juga). > > Lha kalau anda menempatkan ibadah ritual dan amal sosial itu > > berlangsung bersama-sama sejak awal, jangan-jangan amal > sosial itu > > tidak didasari kebersihan jiwa. Artinya, dapat saja ada orang > > > membangun masjid atau bagi-bagi uang kepada orang miskin, > tetapi > > dengan disertai permintaan agar orang-orang mencoblos > partainya > > dalam Pemilu atau memilihnya sebagai Lurah. > > > Hihihi... Kalau niatnya memang jelek ya rusaklah semua amalan > itu. Amalan > pribadipun kalau niatnya jelek ya malah akan mengantar orang > tersebut > semakin jatuh. Misalnya sholat untuk Riya', atau zikir untuk > memperoleh > kesaktian....hehehe.... Bukan kebersihan jiwa yang diperoleh > tetapi justru > Miring kali :-). > > Saya bayangkan jika misalnya seseorang menolong anjing yang > kehausan, maka > sebenarnya perbuatan tersebut ini --tentunya bila dengan niat > ikhlas untuk > menolong anjing tersebut (tapi niatnya apa lagi sih?) -- > mungkin jauh lebih > bermanfaat bagi pembersihan jiwanya daripada melakukan sholat > sunnah seratus > kali. Metode inilah yang barangkali ditunjukkan oleh Rasulullah > SAAW kepada > umatnya. Sehingga Rasulullah SAAW berhasil menciptakan > sekelompok manusia > dengan Hati yang mudah hancur dan Mata yang mudah menangis > menyaksikan > penderitaan makhluk-Nya. Sebenarnya ini ada "Rahasia"-nya, yaitu "energi"/ruh apa yang bisa membuat amal yang (kelihatan) kecil, tapi bisa menghasilkan pahala besar dan menghapus semua dosa. Saya persilahkan para senior untuk menjelaskannya. > Saya ini kan cuman berhipotesa saja bahwa bukan cuman amalan > pribadi yang > akan mengantar kita kepada pembersihan jiwa, tetapi bahkan > amalan sosial > akan jauh lebih cepat memberikan buahnya :-). > Bisa juga Mas Ali, tapi ada rahasia di dalamnya, ada syarat dan rukunnya. Sebenarnya "Energi" apa yang bisa membersihkan jiwa tersebut, bukan hanya jenis amalannya saja. > Wassalaamu 'alaikum wr. wb. >
begin: vcard fn: Yani Qoyimah n: Qoyimah;Yani adr: Divisi Sistem Informasi PT TELKOM;;;Bandung;;;Indonesia email;internet: [EMAIL PROTECTED] x-mozilla-cpt: ;0 x-mozilla-html: FALSE end: vcard
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
