Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Ali Abidin wrote:
> Saya bahkan melihat bukan tidak mungkin
> bahwa Rasulullah Muhammad SAAW juga menggunakan perang sekalipun (contoh
> ekstreem dari amalan sosial) sebagai latihan membersihkan jiwa bagi
> sahabatnya.
> Apakah kelompok amalan sosial juga mampu membersihkan pelakunya dari penyakit hati?
> Kalau jawabannya 'Ya' maka itulah yang sangat melegakan saya.
Siapapun tak dapat membantah bahwa amalan sosial ini dapat dijadikan
salah satu metode pendukung dalam pembersihan hati, dan amalan ini
jelas merupakan metode dalam syariat. Logikanya, kalau seorang salik
'dipaksa' terus-terusan melakukan kebaikan, meskipun pada awalnya ia
enggan, tetapi lama-lama ia akan dengan senang hati melakukannya.
Tetapi dalam tasawuf, amalan itu bukan merupakan andalan, atau lebih
tepatnya, bukan amalan yang berdiri sendiri [Dalam istilah Oom
Wargino: hanya bagian kecil dari paket].
Kita tentu maklum bahwa situasi, kondisi dan sarana untuk melakukan
amalan sosial itu seringkali tidak tersedia, tidak dapat disediakan
atau disimulasi dalam frekuensi dan intensitas yang cukup. Perang yang
pada zaman Nabi yang mengundang semangat jihad, misalnya, merupakan
keadaan yang tidak bisa (?) dengan sengaja diadakan lagi atau
disimulasikan pada saat lain.
Bagi seorang salik, begitu teken kontrak untuk mengikuti thariqat,
Allah sudah siap dengan serangkaian cobaan-cobaan yang harus dijalani
dalam kehidupan nyata sehari-hari dalam rangka pembersihan jiwa.
Bentuknya sangat beragam menurut individu masing-masing. Tiap salik
harus berjihad melawan segala cobaan itu [di bawah pengawasan mental
mursyid]. Jihad inilah yang merupakan substitusi dari perang pada
zaman Nabi. Jadi kayaknya nggak perlu mengada-ada: cukup hadapi
kehidupan ini apa adanya dengan sebaik mungkin, tetapi dengan jiwa
yang semakin dibersihkan dari waktu ke waktu.
Saya belum pernah mendengar seorang salik disuruh oleh mursyid untuk
secara eksplisit bersedekah atau menolong orang lain, karena dalam
diri seorang salik tentu sudah ada bibit untuk itu sehingga tidak
perlu disuruh-suruh lagi. Yang banyak saya dengar justru salik yang
dikritik karena kadar keikhlasannya yang masih kurang dalam
menjalankannya. Saya sendiri tak terlepas dari celaan itu, bahkan
sampai saat ini, terutama dalam hal MEMPERTAHANKAN keikhlasan ketika
melihat bahwa orang yang ditolong dengan ikhlas itu membalasnya dengan
caci-maki yang menyakitkan hati. Tanpa seseorang yang mengingatkan hal
itu, mungkin saya tak akan pernah menyadarinya. Katanya, berbuat saja
tidaklah cukup: harus disertai dengan keikhlasan yang benar-benar
ikhlas, yang tak terusik oleh balasan yang paling buruk sekalipun.
Ada kisah nyata yang ingin saya sampaikan sebagai ilustrasi.
Rio, anak sahabat saya, sejak dua tahu lalu kuliah di Jogja mengambil
S2 bidang akuntansi. Tetapi kuliahnya tersendat-sendat karena ia
sering 'sakit' akibat masalah cinta-cintaan. Pendek kata, ia dibawa ke
seorang kyai. Oleh kyai itu ia 'disekap' di kamar dan dibenamkan dalam
kegiatan puasa dan zikir. Tiga bulan kemudian ia sudah tampak
bercahaya lagi; energi di dalam dirinya kini sudah tersalur dalam
bentuk yang positif berupa awal kemampuan mengobati orang dengan
kekuatan doa. Kini ia menjadi asisten kyai itu, mendatangi orang-orang
yang perlu disembuhkan... tanpa pamrih.
Di sinilah letak kelebihan thariqat bila dibandingkan dengan syariat.
Coba Mas Ali renungkan, dapatkah orang awam mengambil posisi kyai
tersebut dengan menyuruh Rio melakukan puasa, zikir dan mengajaknya
bersedekah atau menolong orang atau kebaikan-kebaikan lain menurut
anjuran syariat, lalu ia dapat sembuh dari luka hatinya dan,
terlebih-lebih, makin suci hatinya? Saya rasa, dalam keadaan sebelum
ditangani kyai/mursyid itu, untuk melakukan zikir saja ia sudah berat;
apalagi untuk pekerjaan yang lain. Kuncinya terletak pada penanganan
kyai itu pada jiwanya. Kyai itu menyingkirkan energi buruk yang ada,
dan membangkitkan energi positif di samping memberi pasokan energi
positif yang baru. Kita, yang MERASA normal-normal saja, biasanya tak
tertarik dengan special treatment seorang mursyid seperti itu. Nunggu
sampai menderita stress dulu?
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)