Assalaamu 'alaykum wR wB,
Ali Abidin wrote:
> Yang saya harapkan sebenarnya adalah koreksi dari sebagian anggota milis
> yang benar-benar telah bergabung dalam tarekat, misalnya dengan mengatakan
> bahwa dalam Tarekat, mursyid tidak melulu mengajarkan bilangan zikir dll
> (kelompok amalan pribadi), melainkan juga memerintahkan muridnya untuk
> melakukan bersedekah, mengenal tetangga, menyambangi orang sakit, memerangi
> penguasa yang zalim dst dalam perjalanan rukhani tersebut. Hehehe.... kalau
> ada salik yang mengatakan demikian maka saya akan lega berat bahwa hipotesa
> saya ini tidak jauh meleset. Tapi kalau ternyata dalam tarekat, benar-benar
> Mursyid hanya mengajarkan amalan-amalan pribadi-lah yang akan mampu
> mengantar Salik menuju maqam-maqam rukhani tersebut maka saya akan tambah
> bingung karena hipotesa saya salah total karena menjadi rada berbeda dengan
> kesan yang saya tangkap dari kehidupan Rasulullah SAAW dan ahlulbaitnya.
Kalau memang dapat membuat mas Ali lega, baiklah saya katakan dengan
sejujurnya: YA. Bahkan lebih dari itu, karena mursyid bekerja pada
sumbernya. Mursyid mengkerdilkan semua bibit keburukan dan menyuburkan
semua bibit kebaikan yang ada pada setiap diri murid-muridnya. Kita
perlu menyadari amalan zikir, puasa dll bukanlah untuk amalan itu
sendiri, tetapi dirancang khusus untuk pada satu sisi berfungsi
sebagai pestisida yang membasmi penyakit-penyakit hati, dan pada sisi
lain sebagai pupuk dan air untuk menyuburkan tanah agar bibit kebaikan
dapat tumbuh dan berbuah [diaktualisasikan dalam perbuatan nyata].
Mohon untuk dibedakan antara guru agama (ustadz) dengan mursyid. Guru
agama lebih mengandalkan komunikasi verbal dengan murid-muridnya,
tetapi mursyid lebih mengandalkan perbuatan. Janganlah membayangkan
seorang mursyid berdiri di depan kelas berjam-jam menerangkan segala
sesuatu dan memegang buku-buku pelajaran. Mursyid lebih mirip dengan
seorang montir atau instruktur yang melatih muridnya untuk melakukan
sesuatu, tetapi mursyid lebih banyak 'diam' karena melakukan kerja
mental. Mencabuti gulma yang tumbuh di hati muridnya bukanlah
pekerjaan fisik, tetapi pekerjaan mental. Memberi petunjuk kepada
murid tidak selalu dengan perkataan, tetapi lebih sering lebih efektif
melalui komunikasi mental. Proses belajar-mengajar juga tidak selalu
dengan tatap muka; seringkali murid menerima bimbingan mental dari
jauh (yang seringkali tanpa disadarinya). Bimbingan lewat mimpi bukan
hal yang aneh dalam thariqat.
Assalaamu 'alaykum wR wB,
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)