> ----------
> From:         arief muLya[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> 
> Assalaamu 'alaykum wR wB,
> 
Wa alaikum salam wr. wb.

> Wah...wah.., maksud mas Ibadah Ritual dan ibadah sosial.
> 
hihihi..iya ya, barangkali terminologi umum adalah Ibadah Ritual dan Ibadah
Sosial.... Tapi karena saya tidak ingin campur aduk dengan terminologi umum
tersebut maka istilahnya menjadi Amalan Pribadi dan Amalan Kemasyarakatan. 

> Saya juga punya 'kebingungan' yang sama dengan mas Ali kalau begitu, apa
> iya
> orang-2 yang berbuat baik dalam hub sosialnya itu lebih mulia dibandingkan
> orang-orang yang 'hanya' beribadah ritual saja ?
> 
Dari beberapa hadist dan ayat yang ada memang gambarannya demikian itu,
bahwa orang yang menjalankan Amalan Kemasyarakatan jauh lebih baik
kedudukannya daripada orang yang menjalankan amalan pribadi.

Saya kan sebenarnya cuman berhipotesa bahwa amalan-amalan yang saya
kelompokkan dalam amalan kemasyarakatan tersebut dapat mengantar kita kepada
makam Rukhani yang lebih tinggi. Bahkan jauh lebih cepat daripada
amalan-amalan pribadi. Itupun semua hanyalah kesan dari luar yang diperoleh
dari membaca-baca pengantar tasawuf. Terus-terang, hingga saat ini kesan
utama yang saya tangkap dari keberadaan tarekat adalah ajaran tentang
bilangan zikir tertentu, sholat sunnat tertentu dst.

Yang saya harapkan sebenarnya adalah koreksi dari sebagian anggota milis
yang benar-benar telah bergabung dalam tarekat, misalnya dengan mengatakan
bahwa dalam Tarekat, mursyid tidak melulu mengajarkan bilangan zikir dll
(kelompok amalan pribadi), melainkan juga memerintahkan muridnya untuk
melakukan bersedekah, mengenal tetangga, menyambangi orang sakit, memerangi
penguasa yang zalim dst dalam perjalanan rukhani tersebut. Hehehe.... kalau
ada salik yang mengatakan demikian maka saya akan lega berat bahwa hipotesa
saya ini tidak jauh meleset. Tapi kalau ternyata dalam tarekat, benar-benar
Mursyid hanya mengajarkan amalan-amalan pribadi-lah yang akan mampu
mengantar Salik menuju maqam-maqam rukhani tersebut maka saya akan tambah
bingung karena hipotesa saya salah total karena menjadi rada berbeda dengan
kesan yang saya tangkap dari kehidupan Rasulullah SAAW dan ahlulbaitnya.

> So ? So, Dzikrullah-lah, but don't forget to say hello to your neighbour
> as
> well.
> 
hihihi...Itulah yang paling ideal menurut kesan kita dari membaca kehidupan
Rasulullah SAAW dan ahlulbaitnya. Tapi kan belum tentu sesuai dengan apa
yang diajarkan dalam tarekat. Siapa tahu dalam tarekat-tarekat yang
diajarkan adalah pencapaian maqam-maqam Ruhani lewat amalan-amalan pribadi
tersebut. Hehehe siapa tahu tho? Lha wong saya tidak pernah bisa tahu apa
yang benar-benar diajarkan dalam tarekat kok.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.

PS: Wah, mengenai perbandingan Fiqh tersebut via japri saja ya? Saya juga
akan baca-baca dulu hehehe.... Tapi rasanya tidak ada bedanya diantara Fiqh
Jakfari dan Syafii dalam kedua hal ini.... tapi yo mbuh..

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke