Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Bagaimanapun, saya sudah cukup puas akan masukan dari berbagai pihak
tentang fungsi Amalan Sosial dalam tasawuf. Pada akhirnya semuanya
mengatakan bahwa kedua bentuk amalan itu ada dalam satu paket untuk
membersihkan jiwa (bahkan ditambah amalan terhadap Lingkungan menurut pak
Wargino). Tetapi yang paling penting bagi saya adalah bahwa amalan sosial
juga mampu berfungsi untuk membersihkan hati. Jazakumullahu khairan katsira
bagi anda-anda yang memberikan masukan tentang semua hal ini.

Pada umumnya berbagai salik mengemukakan bahwa dalam tarekat, biasanya
kelompok amalan pribadi-lah yang dilakukan terlebih dahulu, baru kemudian
kelompok amalan sosial akan tumbuh dengan sendirinya.
Tetapi ada satu mail yang paling membuat saya berbahagia (sayangnya japri --
karena konon menyangkut teknis suatu tarekat sehingga tidak layak untuk
dipostingkan dalam milis). Mail ini bercerita bahwa dalam tarekat yang
diikutinya, Mursyid lebih menitik beratkan tuntunan pada amalan sosial,
berjam-jam sang Mursyid akan menuntun salik-saliknya untuk menolong orang
miskin, menjenguk saudaranya yang sakit, menolong biaya pengobatan
tetangganya yang ditimpa musibah. Setelah itu barulah kemudian sang salik
melakukan sholat malam. Dilanjutkan penyerahan diri. Jadi dalam tarekat ini,
menurut saya porsi amalan sosialnya lebih banyak daripada amalan pribadinya.
Justru nantinya (kalau menurut saya) otomatis amalan pribadi tersebut akan
tumbuh dengan sendirinya sebagai wujud rasa syukurnya. Informasi tentang
pendekatan yang dilakukan dalam tarekat ini benar-benar melegakan saya
karena lebih mirip dengan pengetahuan saya mengenai cara-cara yang dilakukan
oleh Rasulullah Muhammad SAAW. 

Ada yang mengatakan bahwa amalan sosial itu lebih merupakan bagian dari
tataran syariat. Menurut saya, semua amalan sebenarnya bagian dari syariat
juga termasuk amalan pribadi dan amalan sosial. Dalam Syariat & Fiqh, kalau
tidak salah biasanya disebut sebagai Ibadah Ritual dan Muamalah  (makanya
saya berusaha menggunakan istilah lain). 

Di bawah ini adalah pemahaman saya tentang perbedaan syariat dengan tasawuf
-- hehehe...kalau salah ya mohon dikoreksi, lha wong namanya juga cuman
gothak-gathuk. Dalam tataran syariat yang dibahas lebih adalah
hukum-hukumnya (berupa Rukun, syarat syahnya, syarat wajibnya dll), sedang
dalam tasawuf lebih ke arah pemanfaatannya bagi pembersihan hati. Syariat
ini sekalian saya tarik ke Fiqh saja ya biar lebih berbentuk. Dalam Syariat
misalnya yang dibahas bahwa Sholat itu wajib berdasarkan QS n:m, serta
didukung oleh hadist nomor xxx dari kitab Y. Dalam Fiqh dibahas tatacara
sholat, mulai dari Takbiratulihram hingga Salam. Dalam Tasawuf dibahas
bagaimana mencapai khusyuk dll sehingga sholat itu berfungsi untuk
pembersihan jiwa.

Contoh lain dalam amalan pribadi:
Syariat: Wudhu wajib dilakukan sebelum sholat berdasarkan QS x:x
Fiqh : Berdasarkan ayat tersebut disebutkan anggota-anggota tubuh yang wajib
dalam berwudhu. Serta dalam hadist nomor yyy dari kitab X, disebutkan
tata-cara berwudhu.
Tasawuf: Bagaimana penghayatan wudhu itu sebagai persiapan seseorang
menjelang Sholat.

Contoh lain lagi dalam amalan sosial:
Syariat: Berdasarkan QS x:x, Jual beli adalah halal, sedangkan Riba adalah
haram
Fiqh: Berdasarkan sifat-sifatnya maka (misalnya) meminjam uang dari Bank
adalah termasuk Riba sehingga hukumnya haram -- Ini cuman sekedar contoh
Fiqh.
Tasawuf: Bagaimana berjual-beli itu sehingga tidak mengotori hati kita,
tetapi malah membersihkan jiwa kita :-).

Contoh lain dalam amalan sosial:
Syariat: Diperbolehkan berperang pada 4 keadaan yang dicantumkan dalam QS
x:x.
Fiqh: (Sekedar contoh juga), Ijma' ulama berdasarkan analisis keadaan di
Bosnia telah memenuhi persayratan bagi kaum muslimin untuk mengangkat
senjata.
Tasawuf: (Sekedar contoh) Bagaimana caranya menyembelih orang Serbia dengan
ikhlas ....hehehe...:-). Intinya bagaimana agar perang ini tidak mengotori
jiwa kita, malah sebaliknya mampu membersihkan jiwa.

Buat saya sangat penting menyadari bahwa amalan sosialpun didesain
Rasulullah SAAW sedemikian rupa untuk membersihkan jiwa. Dengan kesadaran
seperti ini, maka kita tiba pada penghayatan yang sangat berbeda terhadap
sejarah Rasulullah SAAW. Tiba-tiba kita akan melihat setiap kepingan sejarah
itu sebagai sebuah pelajaran yang berharga.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke