[Ali Abidin wrote:]
>Assalaamu' alaikum wr. wb.
Wa'alaikum salam wr wb,
>Seperti pernah saya katakan, saya menganggap tidak mungkin
>Rasulullah SAAW menghendaki umatnya menuju Shirath AlMustaqiim
>tetapi tidak menunjukkan sabilnya. Sungguh aneh misi kerasulan
>seperti itu. Lalu sabil/tarekat seperti apa yang ditunjukkan oleh
>Rasulullah? Amalan apa yang diinginkan Rasulullah SAAW untuk dilakukan
>oleh umatnya? Saya berusaha mencarinya dengan cara mempelajari AlQuran,
>mempelajari ucapan serta sejarah hidup Rasulullah dan Ahlulbaitnya.
Anda benar dan saya sependapat dengan ini. Shirat,sabil atau thariq
yang masing-masing berarti jalan. Yaitu jalan menuju kepada kesempurnaan
hidup sesuai dengan kehendak Allah SWT. Apa wujud jalan itu? Tidak ada
lain kecuali cara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Cara inilah yang juga disebut jalan (thariq,sabil atau shirat).
>Ketika saya membaca AlQuran, membaca ucapan serta sejarah hidup
>Rasulullah dan Ahlulbaitnya maka saya tidak bisa menghindar dari
>kenyataan bahwa selain amalan-amalan pribadi seperti di atas, ada
>amalan yang bersifat lain. Sebagai contoh, mengenal tetangga,
>menyantuni anak yatim, memberikan sedekah, bersikap dermawan, melakukan
>perjalanan fisik di muka bumi,menentang penguasa yang zalim, menolong
>orang yang tertindas, mencari ilmu dll. Saya mengklasifikasikan hal ini
>sebagai amalan kemasyarakatan.
Sedemikian 'sempurnanya' paket system yang diajarkan Muhammad Saw itu
paling tidak ada 3 aspek pokok yakni [1]hubungan individu dengan Allah,
[2]hubungan individu dengan lingkungan sosialnya, [3]hubungan individu
dengan alam sekitarnya. Dan ini merupakan 'paket' yang mustinya tidak
dipisahkan satu dengan lainnya.
>Jika saya menimbang antara kedua hal itu. Bahkan saya tidak mampu
>menolak bahwa amalan kemasyarakatan ini memiliki kedudukan yang sungguh
>mulia bahkan jauh lebih mulia dibandingkan dengan semua amalan pribadi.
>Seakan Rasulullah dan Ahlulbait memberikan jaminan bahwa semua amalan
>kemasyarakatan ini bahkan akan mengantar kita kepada maqam-maqam rokhani
>secara jauh lebih cepat daripada sekedar melakukan amalan-amalan pribadi.
>Saya tidak mampu menolak kesan bahwa jalan amalan kemasyarakatan inilah
>yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAAW dan Ahlulbaitnya sebagai sabil
>menuju Shirath AlMustaqim tersebut.
Seperti saya tulis di atas menurut pendapat saya tidaklah mungkin dipisah
pisah begitu pak Ali. Misalnya Sholat adalah hubungan antara individu
dengan Allah. Bagaimana kalau sekiranya orang hanya mementingkan amalan
kemasyarakatan sedang sholatnya tidak diperhatikan?
Katanya yang akan dihitung pertama kali di hari hisab nanti sholat dulu?
>Kesan yang saya peroleh hingga saat ini, kuantitas dan kualitas amalan
>pribadi adalah hanya sebagai wujud syukur kita pribadi kepada Allah SWT.
>Sedangkan justru amalan kemasyarakatanlah yang akan mengantar kita kepada
>maqam-maqam rukhani yang lebih tinggi. Malaikatpun juga berzikir, Burung
>pun dikatakan berzikir, Batu itu juga berzikir, bahkan seluruh alam
>semesta ini juga berzikir kepada Allah SWT. Kalau kita mampu berzikir
>sekian ratus ribu kali, maka apa bedanya kita dengan batu itu? Amalan
>kemasyarakatan itulah yang khas manusiawi sehingga amalan kemasyarakatan
>itulah sebenarnya yang mampu mengantar kita kepada maqam-maqam rukhani
>yang lebih tinggi.
Apapun yang kita lakukan baik pribadi maupun kepada masyarakat toh
nailainya
akan kembali kepada diri si pelaku. Jadi baik amalan pribadi maupun amalan
kemasyarakatan merupakan satu-kesatuan yang akan membentuk pribadi manusia
sempurna (insan kamil).
Misal:
Sholat, dzikir, sholawat,baca al-Qur'an - amalan pribadi.
Shodaqah, menyantuni orang miskin dan anak yatim - amalan kemasyarakatan.
Walaupun secara fisik dapat diklasifikasikan menjadi amalan pribadi dan
amalan kemasyarakatan, tapi menurut pendapat saya itu adalah 'individual
training' untuk memperbaiki pribadi (pelakunya).
Jangan lupa lho banyak orang yang uangnya banyak, banyak berderma tapi
tidak mempunyai maqam ruhani yang tinggi. Hal ini saya rasa karena tidak
melaksakana paket system secara keseluruhan.
>Hipotesa yang saya peroleh justru seakan, anda 2000 tahun sholat malam
>dengan kualitas, anda 1000 tahun berzikir dengan kualitas, dan puluhan
>kali pergi haji dengan kualitas maka kemajuan maqam rukhani anda mungkin
>sama dengan orang yang menolong seekor anjing kehausan untuk mendapatkan
>air. Itulah Hipotesa yang saya peroleh. Saya sengaja tidak menyertakan
>hadist-hadist serta ayat-ayat yang saya maksudkan sehingga saya sampai
>pada hipotesa seperti di atas, karena saya yakin sebagian besar dari kita
>juga sudah pernah mendengarnya (kalau diperlukan mungkin lain kali akan
>saya sertakan).Saya ingin tahu bagaimana tanggapan anggota milis terhadap
>hipotesa tersebut. Mungkin hipotesa tersebut terlalu dini untuk
>diungkapkan tetapi saya tetap tidak mampu mengusir hipotesa tersebut dari
>benak saya.
Saya belum bisa memahami pengertian 'amalan sempalan' yang anda kemukakan.
Kalau dilihat secara partial, mungkin begitu pak. Tapi saya lebih condong
melihat secara 'paket'.
Bagaimana pendapat anda bila orang tidak mau berbuat baik, hidup asal-
asalan saja karena ia berpegang pada sabda nabi bahwa barang siapa yang
di akhir hayatnya mengucapkan kalimah 'laa ilaha illallah' langsung
masuk syurga?
>Ada penjelasan bahwa "amalan kemasyarakatan" itu adalah buah dari "amalan
>pribadi". Dengan logika bahwa amalan pribadi membuat manusia mencapai
maqam
>Taqwa, sedangkan amal Sholih (amal kemasyarakatan) itu merupakan buah dari
>Taqwa tersebut. Tetapi tetap saja di dalam benak saya, lebih masuk akal
>bahwa kedua amalan itu (pribadi dan kemasyarakatan) sejajar.
>Kedua amalan itu mengantar kita kepada maqam Taqwa dan maqam-maqam
lainnya, >tetapi Amalan Kemasyarakatan itu jauh lebih cepat mengantar kita
ke maqam >Ruhani yang lebih tinggi.
Ya saya sependapat. Insya Allah anda benar.
>Tapi ini semua cuman hipotesa lho, belum saya buktikan.
>Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)