assalamualaikum

Sebelumnya sute ucapkan syukur dan terima kasih atas besarnya perhatian
dari para suheng dan suhu sehubungan dengan pertanyaan sute. Sebenarnya
selain sute bertanya pada suheng dan suhu, sute juga bertanya pada suhu
dari pay lain maupun dari partai kaypang (yg kecil tanpa nama lagi).

but what happened ? they answer my question with question !! (lha dallah
khok malah mumet )

siapa tuhan itu ?
siapa kita ?
kita hidup itu untuk apa ?
mengapa Tuhan menitahkan kita kedunia ?
(disinipun ada pertanyaan, khok menitahkan bukannya menciptakan ?)
dan kemana lagi kita harus pergi setelah hidup yang fana ini ?
dll dll
. . .
. . . . dll
kamu harus tahu lebih dulu jawaban daripada semua pertanyaan itu nak,
setelah itu barulah kamu tahu yang mana harus kamu pilih !

kemudian dari saran dan nasihat yang sute terima dari para milis,
kebanyakan adalah kita harus memilih kedua-duanya !!!
(pertanyaannya : apa ndak terlalu berat ? sute merasakan untuk sukses
duniawi aja susahnya setengah mati)

atau mungkin ada tip dari para suheng dan suhu bagaimana dan apa yang harus
dilakukan agar sukses kedua-duanya ?

ini pendapat - pendapat yang lain :

- carilah duniawi dulu sampai sukses, setelah itu baru akhirat
(pertanyaannya adalah, ya kalau ndak keburu sayonara ?)

- Pilihlah akhirat, karena duniawi hanyalah sementara sedangkan akhirat
adalah untuk selama-lamanya.

- pilihlah duniawi tapi jangan lupakan akhirat, kebalikannya pilihlah
akhirat tapi jangan lupakan dunia (pertanyaannya : prosentase pembagian
kursinya bagaimana ? lha wong DPR/MPR aja susah mbagi kursinya)

- kamu ndak harus memilih, jalanilah saja dengan sebaik-baiknya dimana kamu
berada saat ini(dunia), untuk urusan akhirat terserah yang di atas saja.
Kalau kita baik di dunia pasti (bukannya insyaallah) diakhiratnya  juga
akan baik !


kemudian, kalau sute amati sejarah (kayak pengamat saja !) ternyata para
orang suci lebih memilih akhirat, for example :

- Jujungan kita Nabi Muhammad saw, Beliau ketika berpulang ke hadirat
Illahi tidak meninggalkan harta benda, bahkan ada kyai yang mencerita kan
peniggalan harta Beliau hanyalah pakaian yang melekat ditubuh Beliau.

- Sidharta Gautama, kalau Beliau tidak meninggalkan singgasana mungkin
Beliau tidak akan mendapatkan pencerahan dan menjadi Budha.

- idem Sri Buwana tunggadewi (madhep pandhita)

- kemudian cerita Kyai Bejo oleh mas Agus. Beliaunya, kalau saja mau
mungkin dengan kesucian doa'nya akan bisa dengan sekejap menjadi orang yang
kaya raya (tapi mungkin setelah itu doanya tidak akan suci lagi "katanya"
trio kwek kwek)


Jadi kesimpulan yang belum tersimpulkan karena masih mengambang, alangkah
enaknya kang sejo, tidak punya pertanyaan yang neko - neko seperti kita,
menjalani hidup seperti air yang mengalir tenang tiada gelombang, tiada
riak bahkan tiada buih, apa memang yang harus seperti itu ?
kalau memang harus seperti itu, apa kita bisa ?
kalau mau bisa caranya harus bagaimana ? lalu .......

....

Lalu Lintas katanya "Pak Bendot Srimulat" !!

. . .

kalau sute pikir - pikir semakin banyak kita tahu khok rasanya semakin
banyak pula yang kita ternyata tidak tahu.

atau mungkin semuanya benar, tinggal kita merasakan saja mana yang rasanya
enak, yang tidak menyulitkan kita, yang tidak membuat kita jadi gundah
gulana, yang membuat kita hidup tentrem, bahagia, sejahtera.


atau kita jalani hidup ini seperti apa adanya .. (yg penting halal)

atau ..

atau ...


wassalam,
Satrijo (bukan piningit lho !)





















---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke