[EMAIL PROTECTED] wrote:
> kemudian dari saran dan nasihat yang sute terima dari para milis,
> kebanyakan adalah kita harus memilih kedua-duanya !!!
> (pertanyaannya : apa ndak terlalu berat ? sute merasakan untuk sukses
> duniawi aja susahnya setengah mati)
>
> atau mungkin ada tip dari para suheng dan suhu bagaimana dan apa yang harus
> dilakukan agar sukses kedua-duanya ?
>
> ini pendapat - pendapat yang lain :
>
> - carilah duniawi dulu sampai sukses, setelah itu baru akhirat
> (pertanyaannya adalah, ya kalau ndak keburu sayonara ?)
>
> - Pilihlah akhirat, karena duniawi hanyalah sementara sedangkan akhirat
> adalah untuk selama-lamanya.
>
> - pilihlah duniawi tapi jangan lupakan akhirat, kebalikannya pilihlah
> akhirat tapi jangan lupakan dunia (pertanyaannya : prosentase pembagian
> kursinya bagaimana ? lha wong DPR/MPR aja susah mbagi kursinya)
>
> - kamu ndak harus memilih, jalanilah saja dengan sebaik-baiknya dimana kamu
> berada saat ini(dunia), untuk urusan akhirat terserah yang di atas saja.
> Kalau kita baik di dunia pasti (bukannya insyaallah) diakhiratnya juga
> akan baik !
>
> kemudian, kalau sute amati sejarah (kayak pengamat saja !) ternyata para
> orang suci lebih memilih akhirat, for example :
>
> - Jujungan kita Nabi Muhammad saw, Beliau ketika berpulang ke hadirat
> Illahi tidak meninggalkan harta benda, bahkan ada kyai yang mencerita kan
> peniggalan harta Beliau hanyalah pakaian yang melekat ditubuh Beliau.
>
> - Sidharta Gautama, kalau Beliau tidak meninggalkan singgasana mungkin
> Beliau tidak akan mendapatkan pencerahan dan menjadi Budha.
>
> - idem Sri Buwana tunggadewi (madhep pandhita)
>
> - kemudian cerita Kyai Bejo oleh mas Agus. Beliaunya, kalau saja mau
> mungkin dengan kesucian doa'nya akan bisa dengan sekejap menjadi orang yang
> kaya raya (tapi mungkin setelah itu doanya tidak akan suci lagi "katanya"
> trio kwek kwek)
>
> Jadi kesimpulan yang belum tersimpulkan karena masih mengambang, alangkah
> enaknya kang sejo, tidak punya pertanyaan yang neko - neko seperti kita,
> menjalani hidup seperti air yang mengalir tenang tiada gelombang, tiada
> riak bahkan tiada buih, apa memang yang harus seperti itu ?
> kalau memang harus seperti itu, apa kita bisa ?
> kalau mau bisa caranya harus bagaimana ? lalu .......
>
> ....
>
> Lalu Lintas katanya "Pak Bendot Srimulat" !!
>
> . . .
>
> kalau sute pikir - pikir semakin banyak kita tahu khok rasanya semakin
> banyak pula yang kita ternyata tidak tahu.
>
> atau mungkin semuanya benar, tinggal kita merasakan saja mana yang rasanya
> enak, yang tidak menyulitkan kita, yang tidak membuat kita jadi gundah
> gulana, yang membuat kita hidup tentrem, bahagia, sejahtera.
>
> atau kita jalani hidup ini seperti apa adanya .. (yg penting halal)
>
> atau ..
>
> atau ...
>
Assalamu'alaikum wr.wb.
Membaca tulisan Kang Satrijo ini, saya perlu berpikir & merenung. Saya menjadi
tidak tahu mana yang harus saya pilih seandainya bisa memilih. Kalau ingat
cerita Kamin tukang Bakso yang menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa,
memang betapa beruntungnya dia, sudah bisa mengaplikasikan yang namanya Qanaah.
Dia berusaha & bekerja sedang hasilnya, bahkan masa depan anak-anaknya semuanya
diserahkan pada Allah SWT.
Bila saya juga ingat cerita 25 Rasul yang telah diturunkan ke bumi ini. Setiap
Rasul mempunyai spesifikasi yang berbeda dalam hal duniawi. Ada yang menjadi
petani, ada yang menjadi raja, ada juga yang sampai papa dll, dengan tugas yang
sama dalam hal menyampaikan ajaran Tauhid. Dan mereka sama-sama diangkat
menjadi utusan Allah SWT. Mana yang lebih baik, hanya Allah yang tahu. Diantara
25 Rasul itu ada yang masuk golongan nabi Ulul Azmi (nabi Adam, nabi Nuh, nabi
Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa, nabi Muhammad saw). Diantara Ulul Azmi ada yang
menjadi Penghulu para Rasul (nabi Muhammad saw). Maaf, kalau salah tolong
dibetulkan.
Jadi saya sekarang memang sedang membayangkan, alangkah enaknya kalau bisa
seperti Kamin tukang Bakso itu.
Cuma ini yang bisa saya tuliskan untuk sekedar sumbang saran apa yang ada dalam
pikiran saya. Mudah-mudahan berkenan.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)