On 1/16/06, Mohammad DAMT <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya mikirnya malah, ga usah jauh-jauh jadi produsen perangkat lunak.
> Mau bikin panci kek, mau bikin tutup botol kek, ga apa-apa. Tapi jadilah
> pembuat panci yang benar2 diperhitungkan dunia.

Exactly!
Hear, hear...

Jadi inget cerita tentang petinju Moh Ali ketika ditanya
kalau dia tidak jadi petinju, mau jadi apa.
Setelah berpikir sejenak, dia bilang bahwa dia dibesarkan
di daerah kumuh. Jadi ada kemungkinan kalau tidak jadi
petinju, dia akan jadi janitor (tukang bersih2 di gedung).
Tapi ... saya akan menjadi janitor #1 di dunia, lanjutnya.
Itu dia!



> Tapi saya agak sedikit senang karena produk-produk buatan Indonesia
> sudah mulai dijual di IKEA dan beberapa toko baju internasional di sini.

Kalau ini, saya juga punya cerita.
Dulu waktu mau sidang di kampus saya cari baju putih.
Saya ke toko dan minta baju putih yang terbaik.
Ternyata, buatan Indonesia. Langsung saya beli!
Hidup Indonesia!


> (saat ini saya tidak begitu peduli berapa
> orang kita yang ada di lembah atau di lereng jadi insinyur komputer,
> tapi lebih peduli berapa baju atau boneka atau panci yang bisa kita jual
> ke negeri seberang lautan, karena saat ini lebih yang banyak narik urat
> betot otot di bidang itu daripada jadi insinyur).

nah ... sebetulnya pandangan ini yang dianut oleh bhtv.
saya tekankan kata-kata "yang bisa kita jual ke negeri seberang lautan".
itulah dia tolok ukurnya.
karena saya ngertinya IT, ya saya maunya IT yang dijual.
tetapi yang lebih penting, seperti kata MDAMT, adalah
"yang bisa kita jual ke negeri seberang lautan"


pasalnya, waktu saya lihat2 ranking jualan indonesia ke luar,
urutannya:
1. minyak
2. kayu
3. tekstil
4. elektronik
5. lupa lagi (soalnya begitu lihat elektronik, tertegun!)

yang nomor (3), tekstil, sekarang melorot berat. pindah ke cina.
(itulah sebabnya saya aktif membantu cimahi, karena mereka
dulu termasuk rajanya di no 3! sekarang masa susah! krisis.)

(1) dan (2) saya tidak suka karena ini menghancurkan alam indonesia.
saya ingin 100 tahun lagi anak-anak indonesia masih punya alam yang
indah dan nyaman untuk hunian. bodoh betul kita mau ditipu negara2
lain untuk jualan minyak dan kayu.

tinggal (4) ... ah. itulah dia mengapa saya ngotot IT (dalam
hal ini menjadi subset dari elektronik) sangat penting diperhatikan
karena suatu saat, kita *terpaksa* mengandalkan itu.
yaitu setelah kita tidak punya minyak, kayu, dan tekstil.
tidak lama lagi. mungkin kurang dari 40 tahun [EMAIL PROTECTED]

kalau tidak kita rencanakan, maka kita terpaksa bergantung kepada
yang lain lagi. entah apa? jual pulau?

-- budi

Kirim email ke