On 4/15/06, [EMAIL PROTECTED] <
[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ya kalau saya cendderung menyebutnta Gus Caviar, hhhe dengan tingkah polah yang sosialis tapi gaya hidup yang kapitalis, nah ini banyak sekali di Amerika hahahaha
Lho kan memang soal demokrasi emang ngga ada di cina, apa sich artinya demokratis kalau perut masih lapar, apalah artinya demokrasi kalau susah cari penghasilan, Ok kebebasan mengemukakan pendapat itu penting tapi kemakmuran rakyat banyak jauh utama
hmmm Ralat Rob, Jika kita berbicara tentang pelarangan Jilbab di Perancis dalam
perspektif Media Lokal Indonesia, seringkali terjadi pereduksian makna
dan penegasian konteks historis. Karena, banyak kenalan saya yang kuliah Master dan
atau Kuliah Doktoral di sini, cukup banyak yang mengenakan
jilbab. Setahu saya, pelarangan pemakaian simbol-simbol keagamaan (Kippa
yahudi, kalung salib, kalung bertuliskan "Christine" atau "Catherine",
jilbab, dsb) diberlakukan di tingkatan sekolah (sampai SMU) tidak untuk
tingkat perguruan tinggi. Namun, dalam hal ini, sebenarnya, teman-teman
kita yang muslimah dan ingin menutup aurat-nya masih dapat menyiasati
dengan memakai "bonnet" plus "écharpe" atau kain panjang yang dililitkan
dari kepalanya sampai menutupi dada. Lagi pula, ini cukup masuk akal,
karena kuliah dan atau sekolah diselenggarakan tidak di musim panas.
Artinya, pakaian tertutup yang tidak menampakkan simbol keagamaan
tertentu namun memenuhi rukun hijab tersebut dapat dibenarkan atau
diterima. Pernahkah di antara kita terbayang, bagaimana teman-teman
Yahudi kita harus menutupi Kippa mereka?
apa iya begitu, mereka kan selalu menerapkan double standard, kalau mau dilihat kebebasan beragama orang di perancis, dan disini orang diliat bukan karena agama dan warna kulit, tapi di liat apakah dia ber attitude dan berkelakuan baik. buat orang disini Agama itu bukan untuk di bicarakan, itu urusan masing-masing dan terus terang kawan saya disini cukup respect dengan saya yang beragama muslim, karena di tahu saya muslim, dia selalu bilang kalau kita makan ini ada porc nya, lardon, atau tidak menyuguhkan saya minuman ber-alkohol pada saat mereka menggundang saya dinner atau lunch, kalau bicara Rasisme disetiap negara pasti ada rasisme termasuk di Indonesia.
heheh dimana bagusnya, lha buktinya negara-2 yang jadi pasiennya IMF semua Kaput termasuk Indonesia, Malaysia yang anti IMF tetap berjaya tuch di terjang badai, karena IMF kasih resep cuma cut and paste masak problem solusi di brasil di terapkan di Indonesia yaa ngga bisa spt itu, kalau bicara data lagi-2 ini kecanggihan mereka yang pandai memanipulasi data... biasa donk kalau orang marketing semua data yang di pakai itu kebanyakan tidak realistis.
kekalahan mereka di Iraq bukan kecanggihan teknologi tapi emang ketidak mampuan amerika berperang gerilya, tapi process awal amerika masuk ke iraq bukannya menggunakan kekuatan dan pemaksaaan walaupun dia di tentang banyak negara termasuk perancis jerman dan beberapa negara Uni Eropa. masih inget kekuatan Amerika yang memutuskan untuk tidak menjual senjatanya ke Indonesia karena Indonesia di anggap melanggar HAM, lah lagi-lagi sebagai superpower country dia bisa apa aja, harapan saya dengan adanya negara superpower baru yang bisa menjadi penyeimbang donk, ada bargaining position.
Begini, saya tidak pro kemana-2, (*kalau bahasa gaulnya gue sih asikasik coii*), hanya saja dengan adanya kemajuan dari negara lain ada alternatif untuk tidak selalu ke negara barat. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kita bisa menyamai kesuksesan Cina atau India, tapi lebih bagusnya kita belajar dari mereka dan ngga sombong. akan kah lebih mudahnya kalau kita belajar dari orang yang baru saja sukses, melihat process apa yang bisa speed up mereka jadi sukses spt itu, kalau belajarnya dari western terlalu jauh Gap nya.... nanti cuman di jadiin proyek aja heheheh
Adjie
>saya fikir wajar saja, karena cina menganut faham sosialis
sekarang ini sosialis hanya di permukaan. shanghai sekarang ini lebih
kapitalis dari new york city.
ya kalau saya cendderung menyebutnta Gus Caviar, hhhe dengan tingkah polah yang sosialis tapi gaya hidup yang kapitalis, nah ini banyak sekali di Amerika hahahaha
> dimana rakyat harus tunduk dengan pemerintah
ini masalah besar, terutama dalam hal kebebasan beragama dimana rakyat
harus tunduk ke pemerintah yang komunis.
Lho kan memang soal demokrasi emang ngga ada di cina, apa sich artinya demokratis kalau perut masih lapar, apalah artinya demokrasi kalau susah cari penghasilan, Ok kebebasan mengemukakan pendapat itu penting tapi kemakmuran rakyat banyak jauh utama
saya pikir dalam hal kebebasan beragama, amerika masih lebih baik. sbg
contoh, muslim indonesia di nyc memiliki masjid sendiri dan sangat
aktif. ini perbedaan penting soal sekularisme amerika dan eropa spt
perancis. di perancis memakai jilbab dilarang,
hmmm Ralat Rob, Jika kita berbicara tentang pelarangan Jilbab di Perancis dalam
perspektif Media Lokal Indonesia, seringkali terjadi pereduksian makna
dan penegasian konteks historis. Karena, banyak kenalan saya yang kuliah Master dan
atau Kuliah Doktoral di sini, cukup banyak yang mengenakan
jilbab. Setahu saya, pelarangan pemakaian simbol-simbol keagamaan (Kippa
yahudi, kalung salib, kalung bertuliskan "Christine" atau "Catherine",
jilbab, dsb) diberlakukan di tingkatan sekolah (sampai SMU) tidak untuk
tingkat perguruan tinggi. Namun, dalam hal ini, sebenarnya, teman-teman
kita yang muslimah dan ingin menutup aurat-nya masih dapat menyiasati
dengan memakai "bonnet" plus "écharpe" atau kain panjang yang dililitkan
dari kepalanya sampai menutupi dada. Lagi pula, ini cukup masuk akal,
karena kuliah dan atau sekolah diselenggarakan tidak di musim panas.
Artinya, pakaian tertutup yang tidak menampakkan simbol keagamaan
tertentu namun memenuhi rukun hijab tersebut dapat dibenarkan atau
diterima. Pernahkah di antara kita terbayang, bagaimana teman-teman
Yahudi kita harus menutupi Kippa mereka?
di amerika orang bisa
menuntut jika dilarang memakai jilbab karena kebebasan beragama dijamin
konstitusi. jadi jika di perancis sekularisme berarti dihilangkannya
atribut agama, di amerika sekularisme berarti semua agama memiliki
posisi yang sama di mata negara.
apa iya begitu, mereka kan selalu menerapkan double standard, kalau mau dilihat kebebasan beragama orang di perancis, dan disini orang diliat bukan karena agama dan warna kulit, tapi di liat apakah dia ber attitude dan berkelakuan baik. buat orang disini Agama itu bukan untuk di bicarakan, itu urusan masing-masing dan terus terang kawan saya disini cukup respect dengan saya yang beragama muslim, karena di tahu saya muslim, dia selalu bilang kalau kita makan ini ada porc nya, lardon, atau tidak menyuguhkan saya minuman ber-alkohol pada saat mereka menggundang saya dinner atau lunch, kalau bicara Rasisme disetiap negara pasti ada rasisme termasuk di Indonesia.
setahu saya cina menjadi sangat tinggi pertumbuhan ekonominya setelah
menjadi anggota WTO; maka itu investasi besar2an dari negara barat
masuk ke cina karena cina masuk WTO.
lagi, saya bukan bilang IMF-WTO bagus sekali; saya hanya bicara data.
heheh dimana bagusnya, lha buktinya negara-2 yang jadi pasiennya IMF semua Kaput termasuk Indonesia, Malaysia yang anti IMF tetap berjaya tuch di terjang badai, karena IMF kasih resep cuma cut and paste masak problem solusi di brasil di terapkan di Indonesia yaa ngga bisa spt itu, kalau bicara data lagi-2 ini kecanggihan mereka yang pandai memanipulasi data... biasa donk kalau orang marketing semua data yang di pakai itu kebanyakan tidak realistis.
>Saya sih pengenya Cina dan India berhasil jadi Dunia ini lebih berwarna
>ngga di dominasi oleh satu superpower, jadi terlalu mudah nebaknya
saya pikir nggak perlu membesar2kan kekuatan amerika. meskipun super
power, bukan berarti amerika menentukan segalanaya. bukti nyata
terakhir jelas2 amerika kalah di irak sekarang.
kekalahan amerika di irak ini bukti juga bahwa teknologi tidak bisa
menyelesaikan segalanya.
kekalahan mereka di Iraq bukan kecanggihan teknologi tapi emang ketidak mampuan amerika berperang gerilya, tapi process awal amerika masuk ke iraq bukannya menggunakan kekuatan dan pemaksaaan walaupun dia di tentang banyak negara termasuk perancis jerman dan beberapa negara Uni Eropa. masih inget kekuatan Amerika yang memutuskan untuk tidak menjual senjatanya ke Indonesia karena Indonesia di anggap melanggar HAM, lah lagi-lagi sebagai superpower country dia bisa apa aja, harapan saya dengan adanya negara superpower baru yang bisa menjadi penyeimbang donk, ada bargaining position.
saya hanya ingin kita tetap percaya diri dan bangga sbg orang
indonesia. tidak silau kepada kesuksesan cina, india atau
barat/amerika.
Begini, saya tidak pro kemana-2, (*kalau bahasa gaulnya gue sih asikasik coii*), hanya saja dengan adanya kemajuan dari negara lain ada alternatif untuk tidak selalu ke negara barat. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kita bisa menyamai kesuksesan Cina atau India, tapi lebih bagusnya kita belajar dari mereka dan ngga sombong. akan kah lebih mudahnya kalau kita belajar dari orang yang baru saja sukses, melihat process apa yang bisa speed up mereka jadi sukses spt itu, kalau belajarnya dari western terlalu jauh Gap nya.... nanti cuman di jadiin proyek aja heheheh
Adjie
