Adjie wrote: > On 4/15/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > >saya fikir wajar saja, karena cina menganut faham sosialis > > > > sekarang ini sosialis hanya di permukaan. shanghai sekarang ini lebih > > kapitalis dari new york city. > > > > ya kalau saya cendderung menyebutnta Gus Caviar, hhhe dengan tingkah polah > yang sosialis tapi gaya hidup yang kapitalis, nah ini banyak sekali di > Amerika hahahaha > > > > dimana rakyat harus tunduk dengan pemerintah > > > > ini masalah besar, terutama dalam hal kebebasan beragama dimana rakyat > > harus tunduk ke pemerintah yang komunis. > > > Lho kan memang soal demokrasi emang ngga ada di cina, apa sich artinya > demokratis kalau perut masih lapar, apalah artinya demokrasi kalau susah > cari penghasilan, Ok kebebasan mengemukakan pendapat itu penting tapi > kemakmuran rakyat banyak jauh utama >
Iya, sebenarnya yang namanya demokrasi juga tergantung dengan "selera" penguasa dunia , seperti di middle east sana , begitu dilaksanakan proses pemilu secara demokratis yang terbuka, justru yang menang partai yang dikecam oleh negara barat. Di China mereka masih 1/2 sosialis , 1/2 kapitalis , zero democracy , dan mereka bisa bahagia tanpa perlu jadi slavenya negara barat.Justru mereka sekarang yang banyak memborong persh dan tambang dari negara barat ( baca artikel: China bidding uranium dari Australia ). > > saya pikir dalam hal kebebasan beragama, amerika masih lebih baik. sbg > > contoh, muslim indonesia di nyc memiliki masjid sendiri dan sangat > > aktif. ini perbedaan penting soal sekularisme amerika dan eropa spt > > perancis. di perancis memakai jilbab dilarang, > > > > hmmm Ralat Rob, Jika kita berbicara tentang pelarangan Jilbab di Perancis > dalam > perspektif Media Lokal Indonesia, seringkali terjadi pereduksian makna > dan penegasian konteks historis. Karena, banyak kenalan saya yang kuliah > Master dan > atau Kuliah Doktoral di sini, cukup banyak yang mengenakan > jilbab. Setahu saya, pelarangan pemakaian simbol-simbol keagamaan (Kippa > yahudi, kalung salib, kalung bertuliskan "Christine" atau "Catherine", > jilbab, dsb) diberlakukan di tingkatan sekolah (sampai SMU) tidak untuk > tingkat perguruan tinggi. Namun, dalam hal ini, sebenarnya, teman-teman > kita yang muslimah dan ingin menutup aurat-nya masih dapat menyiasati > dengan memakai "bonnet" plus "écharpe" atau kain panjang yang dililitkan > dari kepalanya sampai menutupi dada. Lagi pula, ini cukup masuk akal, > karena kuliah dan atau sekolah diselenggarakan tidak di musim panas. > Artinya, pakaian tertutup yang tidak menampakkan simbol keagamaan > tertentu namun memenuhi rukun hijab tersebut dapat dibenarkan atau > diterima. Pernahkah di antara kita terbayang, bagaimana teman-teman > Yahudi kita harus menutupi Kippa mereka? Mas Adjie: Untuk orang Sikh bagaimana ya ? apakah turban juga dianggap simbul keagamaan di Prancis ? > > > di amerika orang bisa > > menuntut jika dilarang memakai jilbab karena kebebasan beragama dijamin > > konstitusi. jadi jika di perancis sekularisme berarti dihilangkannya > > atribut agama, di amerika sekularisme berarti semua agama memiliki > > posisi yang sama di mata negara. > > > apa iya begitu, mereka kan selalu menerapkan double standard, kalau mau > dilihat kebebasan beragama orang di perancis, dan disini orang diliat bukan > karena agama dan warna kulit, tapi di liat apakah dia ber attitude dan > berkelakuan baik. buat orang disini Agama itu bukan untuk di bicarakan, itu > urusan masing-masing dan terus terang kawan saya disini cukup respect dengan > saya yang beragama muslim, karena di tahu saya muslim, dia selalu bilang > kalau kita makan ini ada porc nya, lardon, atau tidak menyuguhkan saya > minuman ber-alkohol pada saat mereka menggundang saya dinner atau lunch, Ya kalau ini mah dimana2 sama om Adjie, tapi memang sebenarnya karena pelarangan penggunaan simbul keagamaan di Prancis itu menyebabkan respek kaum agama terhadap negara itu berkurang. > kalau bicara Rasisme disetiap negara pasti ada rasisme termasuk di > Indonesia. Beda mas Adjie. Di AS tetap saja peraturan yang pro imigrasinya jauh lebih banyak, di AS org gampang jadi citizen tanpa melihat asal usul(sampai orang2 chineese indonesia minta suaka/asylum segala), kesempatan kerja banyak, mas adjie bisa usaha disini segampang buka usaha di Indonesia tanpa ada perlakukan yang berbeda , orang beribadah apa saja mudah selama tidak ganggu orang. Ini nilai baiknya. Di AS terutama di California boleh dibilang zero rasisme, malah yang lebih sering tersudut itu justru orang lokal yang pekerjanya tidak terlindungi oleh imigran. > > > > setahu saya cina menjadi sangat tinggi pertumbuhan ekonominya setelah > > menjadi anggota WTO; maka itu investasi besar2an dari negara barat > > masuk ke cina karena cina masuk WTO. > > > > lagi, saya bukan bilang IMF-WTO bagus sekali; saya hanya bicara data. > > > heheh dimana bagusnya, lha buktinya negara-2 yang jadi pasiennya IMF semua > Kaput termasuk Indonesia, Malaysia yang anti IMF tetap berjaya tuch di > terjang badai, karena IMF kasih resep cuma cut and paste masak problem > solusi di brasil di terapkan di Indonesia yaa ngga bisa spt itu, kalau > bicara data lagi-2 ini kecanggihan mereka yang pandai memanipulasi data... > biasa donk kalau orang marketing semua data yang di pakai itu kebanyakan > tidak realistis. > > > >Saya sih pengenya Cina dan India berhasil jadi Dunia ini lebih berwarna > > >ngga di dominasi oleh satu superpower, jadi terlalu mudah nebaknya > > > > saya pikir nggak perlu membesar2kan kekuatan amerika. meskipun super > > power, bukan berarti amerika menentukan segalanaya. bukti nyata > > terakhir jelas2 amerika kalah di irak sekarang. > > kekalahan amerika di irak ini bukti juga bahwa teknologi tidak bisa > > menyelesaikan segalanya. > > > kekalahan mereka di Iraq bukan kecanggihan teknologi tapi emang ketidak > mampuan amerika berperang gerilya, tapi process awal amerika masuk ke iraq > bukannya menggunakan kekuatan dan pemaksaaan walaupun dia di tentang banyak > negara termasuk perancis jerman dan beberapa negara Uni Eropa. masih inget > kekuatan Amerika yang memutuskan untuk tidak menjual senjatanya ke Indonesia > karena Indonesia di anggap melanggar HAM, lah lagi-lagi sebagai superpower > country dia bisa apa aja, harapan saya dengan adanya negara superpower baru > yang bisa menjadi penyeimbang donk, ada bargaining position. Skenarionya tahun 2010: ~AS rivalry dengan China ~Uni Eropa tertekan dengan trade surplus dari China ~China gak pernah akur dengan India (dulu sempat perang kan) ~Pakistan gak akur dengan India ~Taiwan minta bantuan AS sebagai perlindungan ~Korea Utara minta bantu China ~Negara timur tengah seperti biasa selalu 'berantem' masalah plstina. ~India ditemani banyak negara terutama AS dan uni eropa sebagai "hedge" atas kemajuan China. Efeknya: Pemth AS dan Eropa meng-endorse hubungan baik dengan India, persh AS investasi secara massive dan mendidik gratis anak muda India Long Term: India jadi negara super power baru, bersama AS dan China sebagai rival. Indonesia ? seperti biasa mungkin cuman bisa nonton saja :)) > saya hanya ingin kita tetap percaya diri dan bangga sbg orang > > indonesia. tidak silau kepada kesuksesan cina, india atau > > barat/amerika. > > > Begini, saya tidak pro kemana-2, (*kalau bahasa gaulnya gue sih asikasik > coii*), hanya saja dengan adanya kemajuan dari negara lain ada alternatif > untuk tidak selalu ke negara barat. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang > besar dan kita bisa menyamai kesuksesan Cina atau India, tapi lebih bagusnya > kita belajar dari mereka dan ngga sombong. akan kah lebih mudahnya kalau > kita belajar dari orang yang baru saja sukses, melihat process apa yang bisa > speed up mereka jadi sukses spt itu, kalau belajarnya dari western terlalu > jauh Gap nya.... nanti cuman di jadiin proyek aja heheheh betul, apalagi secara historik kita banyak kesamaan dengan India. Tapi kalau melihat cara pandang pejabat kita dan anak muda Indonesia yang selalu mengagungkan nilai nilai dari Barat jadi pesimis lagi :)) -mcp
