Jaman geus robah, kitu cenah ceuk panganteur Majalah Tempo dina wawancarana sareng Ali Sadikin. Robahna teh baheula mah di taun 1978'an Ali Sadikin teh idolana budak ngora, utamina mah mahasiswa. Waktos Ali Sadikin masihan kuliah Studium Genarale di Aula Barat ITB, nu dikhususkeun keur tingkat akhir, eta aula teh pinuh sanes wae kunu tingkat akhir tapi oge ku mahasiswa tingkat sahandapeunana, kaasup kuring nu seseledek hayang terang jiga kumaha ari Bang Ali teh. Mahasiwa teh sadayana jiga nu kasihir, jerempe teu aya nu nyarios, ngan pas aya di dipanujuan, ger surak. Padahal mahasiswa ITB di taun 1970'an kaasup mahasiswa panggalakna ka pejabat, lamun pejabat nu teu dipikaresep, pas masihan kuliah SG teh, kalahka ngadamel kakapalan tina kertas, teras dikalayangkeun, malah sok rajeun aya nu keuna kana mastaka sang pejabat. Kantos aya nu "pundung" ngagejlig kaluar, bari ngancam arek manjarakeun.
Ali Sadikin di taun 1977 (saprakna liren jadi gupernur DKI) seueur nu ngadorong-dorong supaya jadi Presiden RI, ngan henteu dimungkinkeun dan anggota MPRna ditunjuk ku Suharto sadayana. Ide bang Ali perkawis judi sareng lokalisasi pelcuran di jaman ayeuna, dijaman urang Indonesia leuwih laleket aribadahna dibanding taun 1970'an (tiasa ditingali ku tambah seueurna masjid, peminat naek haji anu henteu katampung), tantos ide Bang Ali teh kacida kontroversialna. Tapi leupas tidinya, ucapan Bang Ali "Saya rela masuk ke neraka", ceuk kuring mah leuwih nunjukkeun sifat ksatria anjeunna, anjeunna sanggeum menderita sanajan tepi ka kudu asup di naraka oge, asal rakyat nu dipingpinna ku anjeunna sejahtera. Jadi leres Bang Ali mirip sareng syair sufi nu diposting Kang Oman. Di jaman pamingpin jaman ayeuna nu leuwih mentingkeun pribadi, tong boro asup ka naraka, dititah hirup didunya entong mewah teuing oge, mumul alias ogah (malah menta gaji dtambahan 15 juta!). Ucapan Ali Sadikin ieu mere conto, lamun jadi pamingpin kudu wani berkorban, eukeur rakyatna, sanajan annjeunna kudu ........asup ka naraka! Tapi eta mah ceuk kuring ....... Baktos, WALUYA --- In [email protected], "Waluya, Dani R" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > leres teh Ina abdi ngarojong, audzubilahi min dzalik kedah ka naraka mah,.... mugia dibukakeun hatena si aki teh, yen pamadegan anjeuna teh lepat pisan... > > -----Original Message----- > From: Ina Ratnawulan [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, March 30, 2005 9:05 AM > To: [email protected] > Subject: Re: [Urang Sunda] Ali Sadikin: Demi Judi, Saya Rela Masuk > Neraka > > > > saur abdi mah: > "Nya mangga wae mun Bapa keukeuh2 teuing hoyong lebet ka naraka mah, ngan > tong ngangajak batuh atuh..." > > wassalam, > ~ina > > ----- Original Message ----- > From: "Nia Sri Winiarsih" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Wednesday, March 30, 2005 8:57 AM > Subject: RE: [Urang Sunda] Ali Sadikin: Demi Judi, Saya Rela Masuk Neraka > > > > salaku urang sunda,asa Era abdi mah, maosna ge....duka mun abdi tidak > realistis mah. > > Nia > > -----Original Message----- > From: waluya56 [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, March 30, 2005 8:03 AM > To: [email protected] > Subject: [Urang Sunda] Ali Sadikin: Demi Judi, Saya Rela Masuk Neraka > > > > > Baraya, ieu aya wawancara Majalah Tempo Sareng Ali Sadikin (kenging > copy-paste tina millis tatanggi) > > TEMPO No. 04/XXXIV/21 - 27 Maret 2005 > > Ali Sadikin: > Demi Judi, Saya Rela Masuk Neraka > > ALI Sadikin tak pernah lepas dari kontroversi. Bekas > Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (1966-1977) > ini kembali mengusung "ide liar". Di depan anggota > DPRD Jakarta, bulan lalu ia mengusulkan agar bisnis > judi di Jakarta mendapat payung hukum. Sebab, "Pemda > DKI Jakarta bisa mendapat uang Rp 15 triliun per > tahun," ujar Ali Sadikin, mantap. > > Usulan legalisasi judi bukan barang baru bagi > pensiunan letnan jenderal marinir yang akrab disapa > "Bang Ali" itu. Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, dia > pula yang melegalkan judi di Ibu Kota. Hasilnya, saat > itu kas DKI Jakarta mendapat gelontoran dana segar Rp > 20 miliar per tahun. Uang itu digunakan untuk > membangun jalan, puskesmas, dan gedung sekolah. > > Namun, zaman telah berubah. Partai Keadilan Sejahtera > (PKS) kini mendominasi DPRD Jakarta. Partai yang > mengusung "semangat Islam" ini jelas-jelas menolak > legalisasi judi, apalagi sebagai sumber pendapatan > resmi Pemda DKI Jakarta. "Kami sadar kita butuh uang. > Tapi tak harus menghalalkan yang haram," ujar Tri > Wisaksana, Ketua PKS Jakarta. > > Ali tak peduli. Penasihat Gubernur DKI Sutiyoso itu > malah mengejek politisi partai Islam hanya mencari > popularitas dan jabatan. Seperti 34 tahun lalu, ketika > ia melegalkan judi di Jakarta, ia menantang. "Demi > judi, saya rela masuk neraka," katanya. > > Untuk mengupas polemik legalisasi judi dan pelbagai > persoalan Ibu Kota, wartawan Tempo Setiyardi dan > fotografer Bernard Chaniago pekan lalu mewawancarai > Ali Sadikin. Meski hanya ditopang satu ginjal > cangkokan, lelaki kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927, itu > masih sanggup melayani dua jam wawancara. Berikut > kutipannya. > > Mengapa Anda mengusulkan agar judi kembali dilegalkan > di Jakarta? > > Saya ingin bersikap realistis dan tidak munafik. > Ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta (1966-1977), saya > melegalkan judi karena pemda tak punya anggaran cukup. > Padahal saat itu butuh banyak uang untuk membangun > sekolah, puskesmas, dan jalan. Alim ulama semua > meributkan, tapi saya bilang ke mereka, kalau > mengharamkan judi, mereka harus punya helikopter. > Soalnya, jalan-jalan saya bangun dari uang judi. Jadi, > jalan di Jakarta juga haram. > > Jadi, Anda tahu bahwa agama sebenarnya mengharamkan > judi? > > Ya! Saya tahu judi itu haram. Tapi kita harus > memikirkan masyarakat kecil. Demi judi, saya rela > masuk neraka. Tapi saya yakin Allah mengerti apa yang > saya perbuat. Saya jengkel dengan orang-orang yang > mengaku Islam itu. Mereka merasa dirinya malaikat. > Mereka masih berpikir seperti abad ke-15. > > Bagaimana potret judi di Jakarta sekarang? Apakah akan > memberi kontribusi besar? > > Dari pelbagai sumber saya, jumlahnya mencapai > triliunan rupiah per tahun. (Ia menyebut nama-nama > sumbernya, "Tapi jangan dimuat, off the record," > katanya.) Kalau judi di Jakarta legal, Pemda DKI > Jakarta bisa mendapat uang sekitar Rp 15 triliun per > tahun. Itu jumlah yang besar. Bisa untuk membangun > macam-macam. Untuk melanjutkan Proyek Banjir Kanal > Timur, mendalamkan sungai, membuat rumah susun, > membangun jalan-jalan. Proyek-proyek itu tak bisa > ditunda lagi. Padahal pemerintah tak punya uang untuk > menjalankannya. > > Siapa penguasa bisnis judi di Jakarta sekarang? > > Jangan tanya saya. Tanyakan ke aparat keamanan yang > sekarang jadi beking mereka. Polisi pasti tahu siapa > saja pemain yang ikut terlibat. > > Bagaimana bila rakyat miskin ikut bermain judi? > > Itu bisa diatur. Judi bisa ditujukan hanya untuk orang > kaya etnis Cina. Bagi orang Cina, bermain judi adalah > budaya. Itu untuk membuang sial. Makanya, dulu zaman > Belanda kegiatan berjudi juga disahkan. Sekarang > sebetulnya banyak bisnis judi di Jakarta. Banyak > aparat keamanan yang jadi beking. Tapi kita ini orang > munafik. > > Tapi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang mendominasi > DPRD Jakarta, tak setuju usul Anda... > > Alaaa, itu.... (Bang Ali mengeluarkan kata > mengumpat��I>Red). Waktu saya bicara soal judi di DPRD > Jakarta, yang berani bicara cuma satu orang. Tapi di > surat kabar persoalannya jadi ramai. Kalau berani, > suruh PKS bicara dengan saya. Saya akan tanya, apakah > mereka bisa memberikan pekerjaan ke para pengangguran. > Apakah bisa memberi uang Rp 15 triliun per tahun untuk > Jakarta. Kalau memang bisa, bolehlah PKS mengharamkan > judi. > > PKS juga ingin menghapuskan hiburan malam yang berbau > maksiat��/SPAN> > > Itu sikap sok-sokan. Mereka harus sadar kita hidup di > abad modern. Jangan merasa hebat dengan Islam-nya. > Pemerintah, pengadilan, tentara, semua orang Islam. > Tapi toh korupsi nomor satu. Jadi, jangan sombong > dengan membawa-bawa Islam. Kalau cuma bicara sambil > mengutip ayat, itu cuma untuk mencari popularitas. > Mereka mau jadi penguasa. > > Apakah Anda juga setuju dengan lokalisasi prostitusi? > > Ya. Saya yang membuat lokalisasi di Kramat Tunggak. > Soalnya, ketika itu banyak berkeliaran "becak komplet" > yang isinya wanita tunasusila. Daripada berkeliaran di > jalan, lebih baik dibuat lokalisasi khusus. Sekarang > juga banyak ABG di mal-mal yang menjadi wanita > tunasusila. Mengapa tidak kita lokalisasi saja? Itu > lebih baik. Saya heran Pemda DKI dan DPRD menutup > Kramat Tunggak. Saya sudah bilang ke Sutiyoso, "Memang > nanti Sutiyoso masuk surga. Kalau saya, sih, akan > masuk neraka." > > Anda juga mengusulkan konsep megapolitan, kesatuan > Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Apa ide dasarnya? > > > Kota-kota kabupaten ituͣogor, Tangerang, Bekasi, dan > Depok��embangunannya harus disatukan dengan DKI > Jakarta. Konsep ini telah dirintis sejak zaman Bung > Karno. Belakangan, kita mengenal sebutan Jabotabek. > Kalau perencanaan pembangunannya bisa disatukan, kita > akan memiliki konsep yang terpadu. Mereka dapat saling > menunjang. > > Apakah mungkin? > > Sangat mungkin. Saya mengirim surat ke Presiden > Yudhoyono untuk memberi masukan soal ini. Saya dan > Sutiyoso lalu diterima Presiden membicarakan konsep > ini. Pada prinsipnya, Presiden mendukung. Beliau > bahkan sudah terlihat akan bergerak ke arah usulan > itu. Untuk menjalankannya, Presiden bisa membuat > keppres. Tapi akan lebih baik bila pemerintah > mengusulkan sebuah undang-undang tentang megapolitan > itu. > > Mengapa perencanaan pembangunan Jakarta dan kota > sekitarnya harus jadi satu? > > Agar terintegrasi. Banyak contoh kasus akibat > perencanaan yang tak sinkron. Misalnya persoalan > pabrik pengolahan sampah di Bojong, Bogor. Mereka tak > mau wilayahnya dibuat jadi pabrik sampah. Padahal > Jakarta tak punya tanah untuk mengolah sampah. Mereka > tak tahu bahwa pabrik sampah Bojong dibuat perusahan > Jerman. Semua sampah diangkut truk khusus yang > tertutup. Tak ada sampah yang ditimbun di tanah. Semua > akan diolah dalam pabrik menjadi batu bata. Pabrik itu > membutuhkan 1.300 pegawai yang bisa direkrut dari > masyarakat sekitar. Penolakan itu karena ada yang > menghasut. Mungkin juga karena melihat kasus di Bantar > Gebang, Bekasi. Padahal konsepnya sangat berbeda. > > Apakah konsep megapolitan akan mencaplok wilayah Jawa > Barat dan Banten? > > Konsep ini tak mencaplok wilayah Jawa Barat dan > Banten. Sebagai orang Sunda, saya tak setuju kalau > Jakarta mengambil wilayah Jawa Barat. Konsep ini untuk > menyatukan perencanaan pembangunan Jakarta, Bogor, > Tangerang, Bekasi, dan Depok. Semua jadi satu konsep > dan satu arah. Soal administrasi, mereka masih ikut > Jawa Barat dan Tangerang ikut Banten. Pajak daerah > masih untuk mereka. > > Mengapa tanggung? Bukankah lebih mudah bila dilebur > jadi satu provinsi? > > Memang ada yang ekstrem. Bupati Bekasi, misalnya, > ingin jadi bagian Jakarta. Selama ini mereka merasa > ketinggalan. Tapi saya tak ingin Jawa Barat kehilangan > wilayah. Jawa Barat juga punya sejarah panjang yang > harus dijaga. Sebagai orang Sunda, saya merasa terhina > bila wilayah Jawa Barat dicaplok Jakarta. Saya tak > ingin kasus Banten terulang. Karena Bandung tak > memperhatikan Banten, lalu mereka jadi provinsi > sendiri. Tapi sekarang Banten tak maju-maju. > Gubernurnya malah jadi tersangka korupsi. > > Bila konsep megapolitan dijalankan, apa keuntungan > kota-kota di sekitar Jakarta? > > Jakarta harus membantu keuangan Bogor, Bekasi, > Tangerang, dan Depok. Bisa saja Jakarta memberi tiap > kota Rp 500 miliar per tahun. Jakarta juga bisa > memberi bantuan tenaga ahli. Kita harus saling > mengisi. Jadi, ini akan saling menguntungkan. Saya > sudah membicarakan konsep ini di DPRD Jakarta. > Sekarang menunggu reaksi mereka. > > Konsep Anda sejalan dengan gagasan Gubernur Jakarta > Sutiyoso? > > Saya memang penasihatnya. Saya bilang ke Sutiyoso > untuk merencanakan Jakarta dengan matang. Dulu saya > membuat master plan Jakarta untuk 20 tahun. Itu > membuat saya dibanggakan oleh masyarakat Jakarta, > bahkan oleh rakyat Indonesia. Sayangnya, hal itu tidak > dilakukan gubernur selanjutnya. Padahal membangun > sebuah kota tidak mudah. > > Mengapa Anda mau menjadi penasihat Sutiyoso? > > Saya tahu dia dimusuhi banyak orang. Dia juga > kontroversial. Tapi saya suka Sutiyoso karena > keberaniannya. Dia juga punya ide untuk Jakarta. > Memang Sutiyoso harus menerima pelbagai risiko. Selain > itu, saya merasa Sutiyoso orang yang mengerti adat > ketimuran. Dialah satu-satunya Gubernur DKI Jakarta > yang pada awal jabatannya tahun 1996 menemui saya. > Ketika itu Soeharto masih memusuhi saya. Sutiyoso > datang untuk minta masukan. Gubernur yang lain tak > pernah melakukan hal itu. Mereka tak tahu > adat-istiadat. Padahal, kalau mereka datang, mereka > yang untung. Itulah sebabnya dulu saya juga mendatangi > bekas gubernur dan wali kota di DKI Jakarta untuk > minta masukan mereka. > > Anda resmi diangkat sebagai penasihat Gubernur DKI? > > Ya. Sebagai gubernur, dia berhak mengeluarkan SK > pengangkatan penasihat gubernur. Dengan jabatan itu, > setiap bulan saya mendapat gaji Rp 600 ribu. Itu saya > anggap tambahan saja. Soalnya, sebagai pensiunan > gubernur, menteri, dan tentara, saya mendapat sekitar > Rp 5 juta. Selain itu, pemda juga memutuskan saya tak > perlu membayar listrik dan air PAM. Saya dianggap > sebagai tokoh masyarakat. > > Apa pendapat Anda soal kondisi Jakarta sekarang? > > Makin berat. Kemacetan lalu-lintas terjadi di > mana-mana. Saya orang yang tidak sabar dan bersikap > kepala batu. Makanya saya berharap konsep megapolitan > itu bisa menolong. Kota-kota di sekitar Jakarta harus > menjadi satelit yang mandiri. Jadi, mereka harus > mengurus kotanya. Ada perkantoran, industri, dan > lain-lain. Kota Rotterdam di Belanda, misalnya, jumlah > penduduknya turun karena ada kota-kota satelit di > sekitarnya. > > Anda pernah membuat perencanaan pembangunan Jakarta > untuk 20 tahun. Mengapa tak jalan? > > Gubernur Tjokropranolo, penerus saya, melakukan > gerakan de-Ali-Sadikin-isasi. Semua kebijakan saya > dihapuskan. Soalnya, ketika itu saya mulai bicara > keras soal pemerintahan. Bersama Bung Hatta dan > Jenderal Nasution, tahun 1978 saya mendirikan Yayasan > Kesadaran Berkonstitusi. Kami melihat Soeharto mulai > melenceng. Setelah itu, tahun 1980 saya membuat Petisi > 50 yang menjadi oposisi bagi Soeharto. Itu membuat > saya dianggap menjadi musuh pemerintah. Tapi saya > merasa Tuhan menjaga saya. H.R. Dharsono, Ali > Moertopo, dan tokoh lain sudah meninggal. Sampai > sekarang saya tidak ada apa-apa. Saya malah bisa > berlebaran ke Cendana. Soeharto saya rangkul dan saya > beri sun. Saya tidak menaruh dendam ke Soeharto. > > Anda juga tokoh penting dalam sejarah TNI-AL. > Bagaimana Anda melihat Angkatan Laut kita saat ini? > > Saya sedih melihat nasib Angkatan Laut. Padahal kita > ini negara maritim, tapi kita takut dengan laut. Yang > dibesar-besarkan justru konsep teritorial. Itu > kebijakan yang salah arah. Akibatnya, kondisi AL > nyaris lumpuh. Yang ada kapal-kapal tua. Bagaimana > mungkin berperang dengan Malaysia? Kita bahkan tak > mampu menjaga perairan kita dari serbuan nelayan > asing. > > Dulu, apa yang Anda lakukan? > > Untuk merebut Irian Barat, tahun 1960 saya lima kali > ke Rusia. Ketika itu jabatan saya Deputi II Menteri > Kepala Staf Angkatan Laut. Kita membeli 150 kapal > perang dari Rusia. Empat belas di antaranya kapal > selam. Total harga kapal-kapal itu US$ 800 miliar. > Karena tak punya uang, kita pinjam dari Rusia. Untuk > mengoperasikannya, saya mengirim para prajurit kita ke > Rusia. Nah, melihat kekuatan mesin perang kita, > Amerika dan PBB akhirnya memerintahkan Belanda keluar > dari Irian Barat. > > Omong-omong, mengapa Anda masih saja bersikap keras? > > Itu sudah bawaan saya. Saya ini kepala batu. Kalau > marah sering keluar kata "goblok!" Saat jadi gubernur, > saya juga sering menempeleng bawahan yang salah. Saya > juga ikut memukul copet yang tertangkap. Tapi, kalau > sudah sampai di rumah, saya justru sedih. Saya > kemudian sering memanggil orang-orang yang saya pukul. > Saya tanya tentang keadaan mereka. > > Letjen Marinir (Purn) Ali Sadikin > > Tempat/tanggal lahir: > > Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927 > Pendidikan: > > Sekolah Pelayaran Tinggi, Semarang (1945) > US Marine Corps School, AS > Karier: > > Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963) > Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964) > Menko Maritim/Menteri Perhubungan Laut (1964-1966) > Gubernur DKI Jakarta, dua periode (1966-1977) > > > > > > > > > > > > > > > > > > Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id > > Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education! http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

