setuju pak nyoman. bisa ditambah RT-RW listrik. bisa pake tenaga matahari, ataupun kincir angin.
rt-rw bensin, ini masalah sebenarnya. terlalu lama kita terlena dengan gaya hidup berkendaraan individualistik. Saya termasuk yang tidak setuju premium hanya naik harganya. Keinginan saya premium stop diproduksi, dan stop digunakan. Lebih baik produksi kembali premix, dan biarkan dijual dengan harga pasar. Sehingga pilihannya ada premix, pertamax, dan pertamax plus (kalau di pom bensin pertamina). Saya pun tidak setuju kenaikan harga solar. Kendaraan bermesin diesel berhubungan langsung dengan proses distribusi produk dan transportasi publik. Kalau bahan bakar ini ikut naik, maka kebutuhan pokok masyarakat dipastikan ikut naik. Persoalan terbesar kenaikan premium pada transportasi pribadi (keluarga / perorangan). Walaupun mungkin ada industri (pariwisata >> travel misalnya) yang menggunakan kendaraan premium, namun jumlahnya lebih sedikit. Kebutuhan mobilitas orang - perorang ini yang terus menerus menjadi kendala. Transportasi publik sejak dulu hingga sekarang melulu dipandang sebelah mata. Di Indonesia umumnya, nyaris tak jelas keberadaan angkutan publik ini. Kalaupun ada, kondisinya menyedihkan. Angkutan penumpang pedesaan justru menguasai ruas jalan utama perkotaan. Rute tak jelas, waktu tiba tak pasti, harga mahal, tak nyaman sama sekali. Dari dulu hingga sekarang tak pernah ada penyelesaiannya. Ini masalah sebenarnya. Bukan premium naik. Pilihan masyarakat memiliki kendaraan pribadi pun tak lepas dari buruknya sistem dan keberadaan transportasi publik ini. Daripada gak nyaman naik angkot, mending naik mobil pribadi. Daripada naik angkot mahal, mending beli motor sendiri. Lambat laun menjadi kebiasaan. Dan kini banyak yang terlena dengan kenyamanan angkutan pribadi. Kalau dibilang kenaikan premium adalah bentuk neoliberalisme dan seterusnya. Justru membiarkan masyarakat terlena dengan tranportasi pribadi, dibanding mengedepankan transportasi publik adalah jauh lebih kapitalistik. Kebutuhan individu, orang-perorang lebih dikedepankan. Roda kapital jauh lebih cepat berputar pada industri kendaraan pribadi dibanding kendaraan publik. Orang per orang didorong sedemikian rupa untuk berebut membeli kendaraan. Semakin sistem transportasi publik ditingalkan, semakin larislah jual-beli kendaraan pribadi ini. Padahal pilihannya sederhana. Semakin tinggi harga bahan bakar kendaraan pribadi, pilihannya adalah kendaraan umum. Kalau kendaraan umumnya tidak ada? Masyarakat dikondisikan pada situasi mau-tidak-mau harus ikut. Jadi, kalau penolakan kenaikan premium (apapun bentuknya) saya tidak sepakat. Tapi, kalau mendesak pemerintah untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas transportasi publik, ayo! salam, heru http://kataheru.com --- In [email protected], "I Nyoman Suardana" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > RT-RW.Net VS RT-RW.GAS VS RT-RW.bensin > > RT-RW.net, adalah penggunaan suatu koneksi internet bersama oleh suatu masyarakat dalam satu wilayah dalam usaha pencapaian tujuan yang sama (dalam hal ini terkoneksi ke i-net) dengan biaya serendah mungkin. > > > > Kalo kita aplikasikan ide awal diatas ke aspek kehidupan yang lain itu bukan hal yang tidak mungkin. Misal > > > > RT-RW.Gas > > Kalo biogas standar bahan bakunya adalah kotoran sapi, tapi bahan ini tentu saja sulit didapatkan bila kita berada di perkotaan. Tapi ada solusinya, adi pagi nonton di TV ada liputan tentang pemakaian Biogas bersama oleh suatu kelompok masyarakat di suatu desa menggunakan biogas bahan baku kotoran manusia. So kita bikin septic tank skala besar, dimana seluruh saluran STP rumah di hubungkan kesana. Wahhh bisa jadi pabrik biogas masal toh. Klo rumahnya jauh, dari instalasi biogasnya, kita pakai system wireless, dimana biogas dimasukkan tabung Gas ElPiJi :D > > > > RT-RW.bensin > > Hindarin penggunaan kendaraan bermotor sendirian. Paling kecil ya⦠naek motor, usahakan berdua. Kalo punya mobil, pakai system sperti yang sudah2. 1 mobil untuk Sekompleks perumahan . :D > > > > Ad aide RT-RW. Yang lain??? > > ./nyoman > > > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Nyoman Winardi > Sent: Tuesday, May 06, 2008 11:35 AM > To: [email protected] > Subject: Re: [bali-bali] RE: [baliblogger] welcome to new dark ages > > > > Cuman itung - itungan nak belog to mbok hehehe ... > Lagian, terlalu no brainer kalo langsung naikin harga ... > Seolah - olah tidak ada daya upaya lainne mbok ... > Kayak, batis sakit batise suntik (kaki yang sakit, kaki yang disuntik) hehehe ... > > Pada akhirnya memang subsidi itu harus dicabut / dikurangi ... > Saya juga setuju dengan ini, tapi untuk saat ini saya rasa masyarakat belum siap ... > > Trus kapan siapnya? Pada saat pejabat kita udah mulai mikir kesejahteraan masyarakat ... > > -maaf kalo ada yang salah pendapat saya sebagai nak belog ne- > > luh de suriyani wrote: > > > hitungannya maut bli. itung2an kaya gini bisanya disembunyikan pemerintah. saya kasian sama sejumlah ibu2 di rumah yang dipaksa pake gas. apalagi penyalurannya juga memang korupsi baru. hmm...frustasi terus sama terobosan pemerintah kita. > > luhde > > > > . > > <http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=20693907/grpspId=1705171464/msgId=3602/stime=1210098256/nc1=5028926/nc2=5170414/nc3=3848643> >

