Namo Buddhaya, Sdr. Erik yang budiman,
Perkenankanlah saya mengungkapkan pandangan saya. Menurut saya dalam menyuarakan sesuatu yang kita anggap benar, maka kita hendaknya tidak terpaku pada pandangan kawan, sahabat, atau orang yang kita cintai. Kebenaran adalah tetap kebenaran. Jadi meskipun PB.NU yang dipimpin Gus Dur dekat dengan kita, tetapi tidak berarti bahwa kita harus "membeo" semua pendapat NU. Kalau mempelajari sejarah kita melihat bahwa banyak pahlawan dan martir2 agung yang berani mengorbankan dirinya demi memperjuangkan kebenaran, sekalipun itu berarti mereka harus berani "tampil beda." Dietrich Boenhoffer, Pastor Niemoller, St. Bernard Lichtenberg, St. Maximiliamus Kolbe, Ken Saro Viva, Julius Fucik, Martin Luther King, dan lain sebagainya adalah bodhisattva-bodhisattva dunia yang berani tampil beda dalam melawan tirani. Kalau bicara masalah bodhisattva kita tidak perlu muluk-muluk, di hadapan kita banyak bodhisattva-bodhisattva nyata yang terdiri dari darah dan daging. Kembali ke masalah Gus Dur, saya yakin bahwa Gus Dur adalah orang yang demokratis. Beliau tentunya menyadari bahwa pendapat tidak harus sama. Jangan hanya orang yang sependapat saja yang kita jadikan kawan, lalu kalau tidak sependapat adalah musuh. Jika umat Buddhis selalu "membeo" dan seolah-olah menjadikan NU atau Gus Dur sebagai "patron" atau "backing" maka kapan martabat Buddhis akan bangkit. Sebenarnya masih ada jalan ketiga atau jalan tengah. Kita dukung RUU. itu tetapi dengan beberapa pembatasan. Menurut saya yang diatur dalam RUU itu cukup: 1.Jangan sampai anak-anak di bawah umur memperoleh literatur itu. Jadi misalnya majalan Playboy hendak dijual, maka pembelinya harus menunjukkan KTP. Menjual barang-barang semacam itu kepada anak-anak dapat dikenakan sanksi. Kalau tidak salah ini yang berlaku di negara Jerman dan demokrasi Barat. Jadi generasi muda kita tetap terlindungi. 2.Jangan menampilkan gambar2 anak di bawah umur. Ini untuk mencegah pelacuran anak-anak. Saya kira yang perlu diatur hanya itu saja. Cukup satu atau dua pasal. Jadi kita setujui UU itu, tetapi dengan pembatasan. Ini saya kira jalan tengah terbaik. Sekarang bicara masalah implikasi politis, justru saya melihat bahwa jika UU ini disahkan akibatnya dapat sungguh mengerikan. Ini merupakan salah satu langkah dari entah berapa langkah lagi untuk menuju negara berdasar syariat agama tertentu. Bisa-bisa nanti semua wanita harus mengenakan busana khas agama tertentu (sebut saja X tersebut). Kalau mau jujur dan mempelajari sejarah maka agama X tersebut juga terkadang minim toleransi. Oleh karena itu, demi masa depan kita semua dan keturunan kita, maka dengan menghalangi satu langkah ini kita telah ikut mencegah jatuhnya Indonesia ke tangan kelompok agama X tersebut (yang terkadang juga luar biasa zalim dan tirannya). Kita semua harus berjuang, Bro dan Sis. Sebenarnya saya menulis ini bukan buat diri saya sendiri, tetapi buat kita semua. Jujurnya kalau sampai negara kita jatuh ke tangan agama X, maka saya dan keluarga bisa saja minta suaka ke salah satu negara Eropa tempat saya menuntut ilmu dahulu. Saudara saya beberapa ada di sana dan sudah berstatus warga negara. Tentu mereka akan bantu. Tetapi bagaimana bila tidak sempat lari? Tentu saja saya tidak mengharapkan bahwa negara kita menjadi seperti Afghanistan, tetapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Mohon renungkanlah ini semua. Salam kasih, Tan --- In [email protected], "Erik" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya juga termasuk yang tidak setuju dengan (isi) RUU APP itu! > Tapi, sebagai kelompok minoritas bagaimana harus kita menyikapinya?? > Tahukah bahwa PBNU, lembaga agama yang didirikan oleh nenek moyang Gus > Dur (dan beliau sendiri juga pernah menjadi pemimpin tertingginya) > telah menyatakan sikap "MENDUKUNG RUU APP" itu? > Selama ini kelompok Tionghoa, kelompok Konghucu dan juga kelompok > Buddhis non Walubi (KASI dan anggotanya) sangat-sangat dekat dengan > Gus dur. Sampai-sampai beliau dijadikan penasehat dan/atau ketua > kehormatan. > Nah, untuk menyatakan sikap terhadap sebuah RUU adalah sebuah tindakan > politik yang berimplikasi luas (termasuk kemungkinan merenggangnya > hubungan dengan Gus Dur dan NU). > Sebagai kelompok minoritas yang masih belum bersatu dan tercerai- berai > (menurut bro Tan), mau kemana kita melangkah sekarang ini? Mengikuti > suara hati dan idealisme, atau mempertimbangkan terlebih dahulu segala > akibat dan risiko dari tindakan politis itu! > > Salam, > > Erik > -------------------------------------------------------------------- -- > In [email protected], "dh4rm4duta" <dh4rm4duta@> wrote: > > Benar, komunitas kita terlalu adem ayem dan kurang "greng." Entah > mengapa saya tidak tahu sebabnya. Mungkin banyak yang masih meditasi > di atas gunung sana, sehingga tidak peduli lagi terhadap hiruk pikuk > dunia ini. Saya pribadi sangat tidak setuju terhadap RUU P dan P itu, > namun jangan disalah artikan bahwa saya mendukung pornografi dan > pornoaksi. Hanya saja saya merasakan kedua hal ini: > > 1.Pornografi dan pornoaksi adalah masalah pribadi dan tidak perlu > diatur dalam undang-undang negara. Semuanya terpulang ke pribadi diri > sendiri. Sebagai contoh, saya pernah mengunjungi Taiwan. Di sana > rumah bordil dan vihara atau kuil berdampingan bersama atau sangat > dekat letaknya. Tetapi coba ada tempat ibadah agama X yang dekat > dengan rumah bordil, pasti penganut agama X tersebut sudah dengan > arogan berkoar-koar secara munafik menentang hal tersebut. Padahal > justru di sini mental kita diuji, apakah benar-benar mau sembahyang > atau ke rumah bordil. Menjauhkan tempat ibadah dari rumah bordil > tidaklah dapat menghapuskan pikiran kotor dari benak manusia. Pikiran > kotor akan tetap ada dalam kondisi latennya dan menunggu saat yang > tepat untuk melampiaskannya. So... mengapa semuanya harus dikaitkan > dengan agama? Agama itu tidak dapat menyelamatkan manusia dan juga > tidak selalu membuat manusia jadi baik. > > 2.Masih ada masalah bangsa yang lebih pelik ketimbang masalah semacam > itu. Coba lihat sekarang saya 1 minggu harus membeli bensin sebanyak > Rp. 150.000, padahal dulu cukup Rp. 60.000. Adanya inflasi hampir > tiga kali lipat ini menandakan sesuatu yang tidak sehat. Kalau mau > naik Ok, tetapi harus secara bertahap. Lagipula Pak Kwik, ekonom > kawakan kita mengatakan bahwa subsidi itu tidak pernah diberikan > secara riil. Masalah dilelangnya aset berharga kita ke pihak asing > adalah masalah yang lebih penting ketimbang membicarakan masalah > syahwat. Ini yang justru lebih penting untuk dibicarakan. > > Selanjutnya, umat Buddhis harus lebih bersatu padu. Kelemahan umat > Buddhis adalah tidak adanya satu tokoh panutan yang diakui semua > umat, mungkin karena egonya masing-masing. Sebenarnya kalu kita > bersatu suara kita akan cukup signifikan. Adanya celetukan- celetukan > yang tidak sehat dalam milis-milis Buddhis menandakan bahwa kita > masih kurang dewasa. Saya kira sekian dulu tanggapan saya. Sekali > lagi saya tegaskan bahwa saya adalah penentang RUU tersebut, tetapi > bukan berati setuju dengan pornografi atau pornoaksi. > > Metta, > > Tan > > No Religion, no heaven, no stars, no hell, no sun > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
