Namo Buddhaya, Sdr. Sophian yang budiman,
Tentu saja masih ada jalan tengah sebagaimana yang saya ungkapkan pada rekan Erik dalam posting sebelumnya. Kita mungkin juga tidak perlu menolak RUU itu sepenuhnya. Namun batasi saja apa yang diatur dalam RUU, yakni hal-hal yang benar-benar krusial, seperti melindungi generasi muda kita dalam masalah pornografi dan pornoaksi. Misalnya: 1.Anak2 di bawah umur harus dilindungi terhadap literatur2 P dan P. 2.Cegah gambar2 anak di bawah umur, demi menghentikan pelacuran anak- anak. 3.Tindak tegas wisma2 yang menyediakan pelacur anak-anak. Saya kira undang-undang seperti itu lebih manusiawi dan humanistis, serta yang penting .... tidak konyol. Masih banyak jalan yang dapat kita tempuh. Salam kasih, Tan --- In [email protected], SOPHIAN DAVID <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Guys > Ingat.....di sini Indonesia ,U knowlah Indonesia > Jangan kan tdk di atur dalam UU yg diatur saja masih banyak yg melanggar > Bukannya Saya Pro terhdp kep Pemerintah tentang UU tapi ga ada salah nya juga ko > ada nya pengaturan hal itu > > > Thank You & Best Regards > Sophian > (Kat-Finishing Dept) > > PT.Katexindo Citramandiri > Jakarta--Indonesia > > > > > > "dh4rm4duta" > <[EMAIL PROTECTED] > om> To > Sent by: [email protected] > [EMAIL PROTECTED] cc > ups.com > Subject > [Dharmajala] Re: RUU Anti Pornografi > 03/20/2006 11:24 AM dan Pornoaksi > > > Please respond to > [EMAIL PROTECTED] > ups.com > > > > > > > Benar, komunitas kita terlalu adem ayem dan kurang "greng." Entah > mengapa saya tidak tahu sebabnya. Mungkin banyak yang masih meditasi > di atas gunung sana, sehingga tidak peduli lagi terhadap hiruk pikuk > dunia ini. Saya pribadi sangat tidak setuju terhadap RUU P dan P itu, > namun jangan disalah artikan bahwa saya mendukung pornografi dan > pornoaksi. Hanya saja saya merasakan kedua hal ini: > > 1.Pornografi dan pornoaksi adalah masalah pribadi dan tidak perlu > diatur dalam undang-undang negara. Semuanya terpulang ke pribadi diri > sendiri. Sebagai contoh, saya pernah mengunjungi Taiwan. Di sana > rumah bordil dan vihara atau kuil berdampingan bersama atau sangat > dekat letaknya. Tetapi coba ada tempat ibadah agama X yang dekat > dengan rumah bordil, pasti penganut agama X tersebut sudah dengan > arogan berkoar-koar secara munafik menentang hal tersebut. Padahal > justru di sini mental kita diuji, apakah benar-benar mau sembahyang > atau ke rumah bordil. Menjauhkan tempat ibadah dari rumah bordil > tidaklah dapat menghapuskan pikiran kotor dari benak manusia. Pikiran > kotor akan tetap ada dalam kondisi latennya dan menunggu saat yang > tepat untuk melampiaskannya. So... mengapa semuanya harus dikaitkan > dengan agama? Agama itu tidak dapat menyelamatkan manusia dan juga > tidak selalu membuat manusia jadi baik. > > 2.Masih ada masalah bangsa yang lebih pelik ketimbang masalah semacam > itu. Coba lihat sekarang saya 1 minggu harus membeli bensin sebanyak > Rp. 150.000, padahal dulu cukup Rp. 60.000. Adanya inflasi hampir > tiga kali lipat ini menandakan sesuatu yang tidak sehat. Kalau mau > naik Ok, tetapi harus secara bertahap. Lagipula Pak Kwik, ekonom > kawakan kita mengatakan bahwa subsidi itu tidak pernah diberikan > secara riil. Masalah dilelangnya aset berharga kita ke pihak asing > adalah masalah yang lebih penting ketimbang membicarakan masalah > syahwat. Ini yang justru lebih penting untuk dibicarakan. > > Selanjutnya, umat Buddhis harus lebih bersatu padu. Kelemahan umat > Buddhis adalah tidak adanya satu tokoh panutan yang diakui semua > umat, mungkin karena egonya masing-masing. Sebenarnya kalu kita > bersatu suara kita akan cukup signifikan. Adanya celetukan-celetukan > yang tidak sehat dalam milis-milis Buddhis menandakan bahwa kita > masih kurang dewasa. Saya kira sekian dulu tanggapan saya. Sekali > lagi saya tegaskan bahwa saya adalah penentang RUU tersebut, tetapi > bukan berati setuju dengan pornografi atau pornoaksi. > > Metta, > > Tan > No Religion, no heaven, no stars, no hell, no sun > > --- In [email protected], "juli_rad" <juli_rad@> wrote: > > > > Benar kenapa sampai saat ini belum ada komunitas buddhis apapun yang > > secara tegas menyatakan sikap terhadap RUU APP ini? Kelihatan sekali > > sebagai besar umat Buddha adalah orang yang pengecut, ga punya nyali > > dan bisa dibilang cuek terhadap hal-hal yang beginian. > > Revisi RUU ini saat ini sedang dilakukan. Panitia Khusus Rancangan > > Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi akhirnya merevisi > sejumlah > > pasal yang selama ini menimbulkan perdebatan di masyarakat. Draf RUU > > yang baru tidak lagi mengatur, antara lain, soal sanksi pidana dan > > pembentukan badan antipornografi dan pornoaksi nasional. Selain > > penghapusan pasal yang mengatur soal sanksi pidana, Pansus juga > > sepakat merevisi definisi pornografi dan pornoaksi. Dalam draf lama > > disebutkan, "pornografi adalah substansi dalam media atau alat > > komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang > > mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika". Adapun > > "pornoaksi adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, > > dan/atau erotika di muka umum". (Kompas, 13 Maret 2006). Dan mungkin > > akan ada banyak perubahan setelah mendapat banyak sorotan dari > > berbagai kalangan. > > Saya rasa hampir semua orang setuju adanya suatu peraturan yang > > mengatur ekploitasi terhadap seksualitas seseorang (katakan namanya > > seperti RUU APP tersebut), tetapi yang wajib kita cermati dengan > baik > > adalah isi dan definisi yang dimasukkan dalam RUU APP yang dibuat > > wakil rakyat kita di DPR sana. Jika yang diatur adalah tentang media > > yang menyebar gambar2 atau video porno (yang menampilkan bagian2 > > pribadi, katakanlah itu payudara, vagina, maupun penis--itu sih > > menurut saya--yang tentunya perlu didefinisikan dengan baik kemudian > > apa yang dimaksudkan) saya rasa itu tidak ada masalah. Tetapi, jika > > isi RUU tsb sudah merasuk hingga mengatur kehidupan pribadi > seseorang, > > wah itu ga bisa diterima. Selain itu, sebenarnya yang perlu > dicermati > > dan disoroti adalah dasar pembuatan RUU tsb yang mengacu pada hukum > > Islam. Wah tentunya ini ga bisa diterima begitu saja. Jangan2 ini > > merupakan salah satu trik untuk memberlakukan syariat Islam di > negara > > ini. Perlu diketahui bahwa dasar berdirinya negara ini adalah > > Pancasila. Ketika para pendiri negara ini sepakat mendirikan negara > > ini dengan menjadikan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa > tentunya > > telah melalui berbagai proses pertimbangan. Karena para pendiri > negara > > ini mengerti dengan sangat bahwa bangsa Indonesia sgt majemuk > terdiri > > dari berbagai suku bangsa, adat istiadat, agama dsb, maka mereka > tidak > > meletakkan sila 1 dengan penerapan syariat Islam seperti pada Piagam > > Jakarta. Banyak umat Buddha dan saudara2 kita yang kurang paham akan > > sejarah. So, sebenarnya kita dapat menembak berbagai isu yang > > menghadirkan penerapan suatu agama mayoritas dalam penerapan suatu > > hukum dengan dasar Pancasila, bukan dasar perdebatan agama. > > So dalam hal isi RUU APP haruslah ditinjau dengan melihat latar > > belakang dan masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Kepentingan > > mayoritas tidaklah selalu benar karena negera kita bukan negara > agama > > yang harus berlandaskan agama tertentu. Dasar negara kita adalah > > Pancasila, yang sangat menghargai arti Bhinneka Tunggal Ika. > > Semoga dapat membuka wawasan bersama. (Maaf kalau ada yang salah) > > > > Regards, > > Julifin > > > > --- In [email protected], Danardono HADINOTO > > <rm_danardono@> wrote: > > > > > > Namo sakyamuni Buddhaya, > > > > > > Seharusnya, RUU APP ini merupakan kegiatan kita semua sebagai > > warga bangsa ini, namun celakanya, komunitas Muslim sangat > menunggangi > > kegiatan penyusunan RUU ini, sehingga timbul perumusan yang sangat > > sarat dengan nilai agama Islam, tanpa memperhatikan persepsi budaya > > kelompok lain. > > > > > > Contoh yang jelas, adalah definisi "aurat" yang sangat sepihak > > dirumuskan sesuai dengan persepsi Islam, yang tak selalu sesuai > dengan > > persepsi umat lain, misalnya dari umat Hindu-Bali. Juga definisi > > "aurat" yang demikian sepihak, bertabrakan dengan budaya dan seni > > Jawa, yang menggunakan busana tari yang tak sesuai dengan apa yang > > dianggap sopan dalam Islam. > > > > > > Perhatikanlah, juga misalnya perumusan kata kata " > mempertontonkan > > bagian badan yang sensual" yang sangat kontroversial dalam > > pelaksanaanynya. Apakah itu "bagian badan yang sensual"? apakah > leher > > juga termasuk? tangan? kaki? Disini tak ada batasan yang jelas, yang > > dapat kita terima sebagai suatu bangsa yang bhineka. > > > > > > Saudara saudara wanita yang beragama Kristen, Buddha ataupun > > Konghucu mungkin mempunyai bayangan berbeda mengenai apakah itu > busana > > yang sopan, yang tidak pornografis dengan kaum Muslim. Jadi, marilah > > kita definisikan bersama, apa yang kita anggap pornografis itu. > > > > > > Tekanan politis dilakukan oleh berbagai ormas Islam, dengan > > memberikan kesan, bahwa siapa yang anti RUU APP ini adalah anti > Islam. > > Ini jelas merupakan upaya menunggangi sebuah produk hukum untuk > > kepentingan politis suatu agama tertentu. > > > > > > Lepas dari itu, apabila aparat negara kita sibukkan dengan > > mengawasi dan menggugat mereka, yang memperlihatkan lengan, kaki, > yang > > berciuman, yang memakai baju berenang dipantai, dll, maka penjara > akan > > penuh, dan negara akan disibukkan untuk menjadi pengawas moral. > > > > > > Ini tidak saja melanggar HAM, namun juga merupakan pelecehan > > terhadap seni dan martabat kaum wanita. > > > > > > Salam metta > > > > > > RM Danardono HADINOTO > > > > > > > > > > > > PADMA DEVI <antik_sekali@> schrieb: > > > > > > Salam bagi anda para calon Buddha, > > > > > > RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) mengundang pro dan > kontra > > di berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Belum terlihat bagaimana > > sikap atau pandangan para pimpinan lembaga/komunitas agama Buddha. > > > > > > Bagaimana para peserta milis menanggapinya? > > > > > > > > > Svatti hottu, > > > Devi > > > > > > > > > ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun > > karsa, tut wuri handayani > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Telefonieren Sie ohne weitere Kosten mit Ihren Freunden von PC zu > PC! > > > Jetzt Yahoo! Messenger installieren! > > > > > > > > > > > > > ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya > maupun di luar diri saya ** > > ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman > hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta > kasih yang kokoh ** > > ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara > mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari > belenggu kelahiran dan kematian ** > > ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas > asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, > membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan > kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para > guru, serta sahabat-sahabat kami ** > Yahoo! Groups Links > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
