|
April 7, 2005
Are You Struggling?
Consider Him who endured such hostility . . . , lest
you become weary and discouraged in your souls. —Hebrews 12:3
|
![]()
I was in my second
year of widowhood and I was struggling. Morning after morning my prayer-life
consisted of one daily sigh: "Lord, I shouldn't be struggling like
this!" "And why not?" His still, small voice asked me from
within one morning.
Then the
answer came—unrecognized pride! Somehow I had thought that a person of my
spiritual maturity should be beyond such struggle. What a ridiculous thought! I
had never been a widow before and needed the freedom to be a true learner—even
a struggling learner.
At the
same time, I was reminded of the story of a man who took home a cocoon so he
could watch the emperor moth emerge. As the moth struggled to get through the
tiny opening, the man enlarged it with a snip of his scissors. The moth emerged
easily—but its wings were shriveled. The struggle through the narrow opening is
God's way to force fluid from its body into its wings. The "merciful"
snip, in reality, was cruel.
Hebrews
12 describes the Christian life as a race that involves endurance, discipline,
and correction. We never get beyond the need of a holy striving against self
and sin. Sometimes the struggle is exactly what we need to become what God
intends us to be. —Joanie Yoder
When
God allows His chastening hand
To give us little rest,
His only purpose is our good—
He wants for us His best. —D. De Haan
We experience God's strength in the
strain of our struggle.
\
|
Jumat, 8 April
Ambisi yang Setia
Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus
Kristus (Galatia 6:14)
|
Bacaan: 2 Samuel
16-18
Pada akhir abad ke-19,
seorang mantan mahasiswa Universitas Oxford menjadi Kanselir Inggris. Salah
seorang teman sekelasnya menjadi Sekretaris Luar Negeri Inggris. Orang ketiga
memperoleh reputasi internasional sebagai pengarang. Sedangkan orang keempat,
Temple Gairdner, barangkali merupakan siswa yang
paling berbakat di antara teman-teman sekelasnya, akan tetapi ia justru tidak
menjadi orang yang tenar dan berpengaruh. Mengapa demikian? Karena ia telah
menerima Yesus sebagai Juruselamatnya dan hidup sebagai misionaris di daerah
yang terpencil dan berbahaya.
Sebenarnya Gairdner bisa saja
menjadi orang yang terkenal seperti teman-temannya. Akan tetapi, pada saat
memutuskan untuk menjadi seorang misionaris, ia menulis surat kepada saudara perempuannya,
“Saya merasakan suatu ambisi yang sangat sulit untuk dipadamkan. Apabila
menilik latar belakang keluarga dan pendidikan seseorang yang tinggi, ambisi
untuk menjadi terkenal dan ternama memang tampak wajar. Sangat sulit untuk
melepaskan diri dari semua itu dan mau meninggal tanpa dikenal.”
Kita mungkin tidak diminta untuk
berkorban seperti itu. Namun apakah kita bersedia
melayani Sang Juruselamat dengan ketaatan penuh? Untuk melayani Dia dengan
setia kita harus mengesampingkan kepentingan kita sendiri, seperti yang
dilakukan Paulus: “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib
Tuhan kita Yesus Kristus” (Galatia 6:14).
Kita tidak perlu menjadi
terkenal. Namun,
kita perlu setia ke mana pun Allah memanggil kita —VCG
DUNIA MENGHARGAI KESUKSESAN JANGKA PENDEK
TETAPI ALLAH MENGHARGAI KESETIAAN JANGKA PANJANG
|
<--------------------------------------------------------------------------->