|
Mungkin saat sebagian dari kita saat
membaca judul renungan ini berpikir, “bagi kalian mungkin indah, tapi
bagi saya sangat pahit”. Bisa jadi pula berkata, “Ah.. itu kan
buat orang-orang yang berbahagia, banyak uang, dan berada”. Dalam
pemikiran manusiawi, wajar saja seseorang dapat berpikir demikian. Sebab,
ukuran yang diberikannya untuk menyatakan kebahagiaan sangat subjektif dan
kedagingan. Karakter bahagia itu terpenuhi dalam konteks yang sangat
sempit.
Inilah satu sikap sebagian dari kita yang
melihat kebahagiaan dalam perspektif yang sempit dan tidak mendasar.
Indikator kebahagiaan diuaraikan dengan dasar pemikiran sendiri. Kekayaan,
kemewahan, dan segala sesuatu yang bersifat keduniawian menjadi
faktor-faktor penentu kebahagiaan. Artinya, seseorang dianggap pasti
berbahagia kalau punya banyak uang, istri atau suami yang cakap, punya
kedudukan terhormat, dan sebagainya yang termasuk dalam indikator bahagia
menurut versi dunia.
Seharusnya kita sebagai orang percaya
tidak melihat dari sudut pandang yang sempit dan menyesatkan tersebut.
Dalam kekristenan, tak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa kemewahan
dan kekayaan akan mendatangkan kebahagiaan. Sebab, ukuran yang ada
sebenarnya jauh lebih besar. Kebahagian tidak diukur dari kemampuan
pribadi, tetapi kebahagiaan hendaknya dilihat dari kasih karunia Tuhan,
serta penyertaanNya dari waktu ke waktu. Ketika kita bisa merasakan kasih
Allah dengan sempurna, dan menikmati serta mengucap syukur atas segala hal
yang kita alami, maka sebenarnya kita tengah mengalami sebagian dari
kebahagian tersebut.
Saat kita tetap setia berjalan dalam
tuntunan firman Tuhan, serta setia melayaniNya, maka kita akan dapat
merasakan keindahan dunia ini dengan sebenarnya. Jadi tenanglah, tak perlu
gusar bila menghadapi pencobaan. Kehidupan yang kita jalani memang sangat
indah, jika kita mau berjalan dalam terangNya. Allah akan menyingkapkan
keindahan-keindahan tersebut dalam kehidupan kita, sehingga kita pun kian
memahami betapa Allah itu kasih dan pemurah. Haleluya! (tlt)
|