|
Dalam buku cerita anak-anak yang berjudul
“Donal Bebek”, ada tokoh bernama Paman Gober, yang dikenal
sangat kaya namun pelit. Ia selalu berpikir bagaimana mencari uang yang
banyak. Bahkan digambarkan rasa sukacitanya bila “mandi” di
atas tumpukan uang. Menurut konteks cerita kanak-kanak hal itu tampak biasa
dan menggelikan. Tetapi, bukan mustahil kalau hal itu pun terjadi dalam
kenyataan hidup ini. Sebab, tak sedikit pula orang percaya yang hidup dalam
pola Kristen, tetapi hati dan pikirannya hanya pada uang (harta). Keinginan
untuk memperkaya diri jauh lebih besar, ketimbang untuk memuliakan Tuhan
dengan berkat uang yang diterimanya.
Keinginan akan uang cenderung
menjadikankan kehausan yang tak terpuaskan. Ibarat meminum air laut,
bukannya menghilangkan dahaga, justru semakin dahaga dan tak terpuaskan.
Kemudian, mendasari keinginan atas uang untuk memperoleh rasa aman.
Seolah-olah, jika memiliki uang banyak, lalu kehidupannya akan aman dan
terjamin.
Kecenderungan lain atas keinginan akan
uang, membuat orang menjadi egois. Untuk mendapatkan uang yang banyak ia
rela kehilangan sesuatu, bahkan orang yang sangat dikasihinya sekalipun.
Nafsu untuk mendapatkan uang menghilangkan perasaan kasih. Orang lain
dianggap sebagai penghalang, jadi perlu disingkirkan dengan segala cara.
Bukankah kita sering dengar, urusan uang tak ada hubungannya dengan
persaudaraan. Artinya, uang mampu mempengaruhi seseorang untuk tidak mempertimbangkan
hubungan kasih persaudaraan.
Masih sangat banyak dasar yang salah
dalam pemahaman orang terhadap uang. Bahkan, pemahaman arti dari nats
Alkitab yang menjadi acuan renungan hari ini, sering disalahartikan. Bukan
“uang” yang menajdi akar masalah. Artinya, uang tidaklah
berarti sama sekali, karena itu sekedar alat tukar. Tetapi, yang menjadi
titik adalah tolak terjadinya perbuatan dosa atas dengan menggunakan uang
atau dengan alasan uang. Kecintaan terhadap uanglah yang menjerumuskan,
sehingga hati kita tertutup dan kasih Kristus tak lagi memancar dari
kehidupan kiya. (tlt)
|