Ikutan nimbrung ya...

Hampir sepanjang sejarah peradaban umat manusia, tema dan pertanyaan2 
besar ttg keberadaan dan fenomena semesta terus mengemuka dan 
menyembul meminta jawaban dan tanggapan yg benar 

Nilai baik-buruk dan nilai2 ttg kebaikan dan keburukan menjadi sentra 
pembahasan banyak madzab pemikiran didalamnya, serangkaian jawaban 
mengatakan bahwa kebenaran dan kebaikan memiliki nilai logis dan 
paralel dengan kaidah asli logika dan akal murni, prinsip2 yg 
dibangunnyapun cukup kokoh dan memberikan sebuah perspektif yg luas 
dan tak tergoyahkan, sementara pengnut relativisme sering bernasib 
sial karena terbentur pada  kebutuhan semangat solidaritas dan lahir 
dari sebuah pengalaman yg didasari oleh kemenangan filsafat yg lahir 
paska renaisance yg melambari pemikirannya pada landasan2 praktical 
semata. 

Nilai relativis yg diusung oleh semangat diatas kongruen dengan 
semangat globalisasi yg sekarang diusung oleh barat untuk menyamakan 
persepsi ttg sebuah alur berfikir dan semangat egalitarian yg pd 
hakekatnya memiliki kelemahan epistimology cukup akut,

Sering kali kita terjebak pada sebuah proses kanalisasi pengetahuan 
yg menyeret kita untuk menjadi sulit menerjemahkan sebuah kebenaran 
tunggal, menurut hemat saya kebenaran bersifat tunggal pada tataran 
epistimology, artinya seperangkat alat uji akal akan bisa memberikan 
sebuah output pemahaman yg sama berkenaan dengan tema2 unitif. 

Kebenaran seperti sebuah cahaya akan akan memancar pada semua sudut 
dan berpendar pada semua arah dengan intensitas yg serupa, sementara 
keburukan adalah ketiadaan, dan sekali lagi kebenaran adalah cahaya 
dan ekstensi. pada wilayah inilah semua manusia dikaruniai kemapuan 
untuk "menggeledah" kebenaran.

Contoh, suku dan masyarakat eskimo diatas tidaklah mencerminkan 
sebuah  relativisme berkenaan dengan nilai, yg ada adalah sebuah 
keputusan pihak keluarga akan situasi sulit yg dihadapi sang pasien, 
bukan pada kerangka estetika dan moral tertentu. keputusan itu datang 
setelah disadari sebelumnya bahwa demi kebaikan dan demi mengurangi 
derita panjang sang pasien maka keputusan berat itu diambil,(Semakna 
dengan kaidah tzanawi),  ini berkaitan dengan kasus sebuah hukum. 
bukan semata etika dan moral yg sedang beroiperasi yg ada adalah 
adanya kebutuhan mendesak yg berkaitan dengan sebuah keadaan khusus 
dan tertentu, yg demikian bukanlah etika dan norma umum karena kasus 
demikian bisa jg lahir pada kalangan diluar eskimo tentu saja dengan 
kontroversi hukum didalammya, adalah sulit dan mustahil meletakkan 
kasus demikian pada tatara etis-normatif. 


  
--- In [email protected], prastowo prastowo <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Sisca,
>   Makasih atas tanggapannya yang panjang-lebar. Anda 
menggarisbawahi relatif(isme?). Saya setuju bahwa kita tidak perlu 
mutlak2an, namun sikap relativis dalam etika tentu saja juga tidak 
begitu saja bisa diterima. Kadang terlintas kesan bahwa nilai di sini 
relatif ketika diperhadapkan dg sikap kelompok tertentu atas tindakan 
moral yg sama, namun setelah dilakukan penelitian mendalam ternyata 
di atas yg tampak relatif itu ada universalitas. Misalnya kebiasaan 
orang Eskimo utk "mempercepat" kematian orangtua mereka yg sakit 
parah seolah kejam, beda dg falsafah Jawa "mikul dhuwur mendhem 
jero", namun ketika kita lihat alasannya ternyata tindakan orang 
Eskimo dibenarkan, justru dilandasi motivasi rasa kasihan pd ortu yg 
mengalami derita hebat sekali di suhu dingin yg ekstrem.
>   Boleh saja kita mengatakan sesuatu itu relatif, menurut hemat 
saya relatif dlm artian "related to", kebenaran selalu terkait dg yg-
lain, intersubjektif, semata-mata karena keterbatasan manusia, bukan 
kebenaran yg terbatas. kebenaran tetap absolut tapi sekaligus relatif 
(mohon dibandingkan dg tulisan saya di Kompas, Sabtu 
10/3/2007, "Titik Temu sebuah Paradoks", hlm.14).
>   Tapi lepas dari itu, menarik dan nikmat juga berdiskusi dg Anda.
>   salam,
>    
>   pras
> 
> non_sisca <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           
> hehehe...halo, 
> saya senang ada yang men-debat saya, trims
> rasanya filsafat saya lebih hidup, dan membuka wawasan berpikir 
> filosofis saya
> 
> Ehm, mengenai pendapat saya, bahwa moral dan kesadaran diri di 
jaman 
> sekarang ini, yang, menurut saya, memang telah terjadi pergeseran 
> dan pengikisan moral dan kesadaran diri habis2an, tidak 
> mengakibatkan bahwa dengan begitu moralitas dan kesadaran diri 
telah 
> hilang. Masih ada, jangan khawatir. Terkikis dan secara habis2an, 
> bukan berarti hilang. 
> Namun hal itu menjadikan manusia lebih susah lagi menemukan nilai 
> yang sebenarnya, yang menjadikannya sempurna, dan sempurna dalam 
> arti apa pula. 
> 
> Bahkan dalam aliran filsafat sendiri, terdapat berbagai jawaban 
atas 
> pertanyaan yang hingga kini kita belum mengerti pula jawabnya, dan 
> mana yang benar. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut Bung 
> Pras (panggil Bung yah, maaf). 
> 
> Tradisi, nilai, norma, hukum, di mana posisinya ? Relatif. 
Bagaimana 
> mengartikan moral yang berkwantitas tinggi ? Relatif. Bagaimana 
> menilai kesadaran seseorang itu tinggi ? Relatif. 
> Pemahaman Heidegger bisa otentik maupun tidak, sehingga pertanyaan 
> manusia adalah jawaban2 sementara dan relatif, yang bisa saja suatu 
> saat tidak berfungsi. Suatu saat peneriak koruptor bisa menjadi 
> pelaku korupsi. 
> 
> Saat ini seorang Sisca bisa berbicara mengenai moral dan kesadaran 
> diri yang tinggi, tinggi dalam arti yang relatif menurut seorang 
> Sisca, tidak perduli apakah karena sadar diri atau instingtif 
> belaka, atau karena emosional saja, namun di suatu masa, Sisca yang 
> ini barangkali akan melupakan dengungan moral dan kehilangan 
> kesadaran diri dan mengalami kecemasan, karena suatu pengalaman 
> hidup. Bukankah hidup adalah guru filsafat yang sejati ? Suatu 
> filsafat kehidupan (lebensphilosophie). 
> 
> Mengapa didengungkan Sapere Aude ! (beranilah berpikir untuk dirimu 
> sendiri) sebagai semboyan pencerahan (enlightenment). Karena bahkan 
> seorang philosopher sejati memiliki kepribadian.
> Bagaimanapun seorang philosopher harus memahami dirinya terlebih 
> dahulu, baru bisa memahami sekelilingnya, karena bagaimanapun teori 
> filsafat bertolak dari pikiran dan pemahaman akan diri sendiri dan 
> lingkungannya. 
> 
> Baiklah, Bung Pras mengetengahkan adanya pretensi pengamat di sini, 
> namun bahkan seorang Heidegger tidak dapat menarik teori tanpa 
> mengalaminya, menyetubuhinya (seperti ucapan seorang sahabat).
> Bukan kah karenanya ada pro dan kontra, sehingga mana yang benar 
> atau yang tidak kembali berbalik pada diri sendiri. Dan adakah yang 
> benar2 memahami diri sendiri secara lengkap ? Tidak juga. Makanya 
> manusia tetap terombang-ambing dalam nilai. Bukan berarti manusia 
> tidak dapat mencapainya, namun susah. 
> Makanya ada yang meneriakkan sok moralis, dan orang yang moralis 
> dianggap gila, oleh kelompok yang dianggap tidak gila. Namun siapa 
> yang gila ? Relatif. Lagi2. Begitulah....
> 
> Salam, Sisca
> 
> --- In [email protected], prastowo prastowo <sesawi04@> 
> wrote:
> >
> > Non Sisca,
> 
> 
> 
>          
> 
>  Send instant messages to your online friends 
http://uk.messenger.yahoo.com
>




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke