Sisca,
  Makasih atas tanggapannya yang panjang-lebar. Anda menggarisbawahi 
relatif(isme?). Saya setuju bahwa kita tidak perlu mutlak2an, namun sikap 
relativis dalam etika tentu saja juga tidak begitu saja bisa diterima. Kadang 
terlintas kesan bahwa nilai di sini relatif ketika diperhadapkan dg sikap 
kelompok tertentu atas tindakan moral yg sama, namun setelah dilakukan 
penelitian mendalam ternyata di atas yg tampak relatif itu ada universalitas. 
Misalnya kebiasaan orang Eskimo utk "mempercepat" kematian orangtua mereka yg 
sakit parah seolah kejam, beda dg falsafah Jawa "mikul dhuwur mendhem jero", 
namun ketika kita lihat alasannya ternyata tindakan orang Eskimo dibenarkan, 
justru dilandasi motivasi rasa kasihan pd ortu yg mengalami derita hebat sekali 
di suhu dingin yg ekstrem.
  Boleh saja kita mengatakan sesuatu itu relatif, menurut hemat saya relatif 
dlm artian "related to", kebenaran selalu terkait dg yg-lain, intersubjektif, 
semata-mata karena keterbatasan manusia, bukan kebenaran yg terbatas. kebenaran 
tetap absolut tapi sekaligus relatif (mohon dibandingkan dg tulisan saya di 
Kompas, Sabtu 10/3/2007, "Titik Temu sebuah Paradoks", hlm.14).
  Tapi lepas dari itu, menarik dan nikmat juga berdiskusi dg Anda.
  salam,
   
  pras

non_sisca <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
hehehe...halo, 
saya senang ada yang men-debat saya, trims
rasanya filsafat saya lebih hidup, dan membuka wawasan berpikir 
filosofis saya

Ehm, mengenai pendapat saya, bahwa moral dan kesadaran diri di jaman 
sekarang ini, yang, menurut saya, memang telah terjadi pergeseran 
dan pengikisan moral dan kesadaran diri habis2an, tidak 
mengakibatkan bahwa dengan begitu moralitas dan kesadaran diri telah 
hilang. Masih ada, jangan khawatir. Terkikis dan secara habis2an, 
bukan berarti hilang. 
Namun hal itu menjadikan manusia lebih susah lagi menemukan nilai 
yang sebenarnya, yang menjadikannya sempurna, dan sempurna dalam 
arti apa pula. 

Bahkan dalam aliran filsafat sendiri, terdapat berbagai jawaban atas 
pertanyaan yang hingga kini kita belum mengerti pula jawabnya, dan 
mana yang benar. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut Bung 
Pras (panggil Bung yah, maaf). 

Tradisi, nilai, norma, hukum, di mana posisinya ? Relatif. Bagaimana 
mengartikan moral yang berkwantitas tinggi ? Relatif. Bagaimana 
menilai kesadaran seseorang itu tinggi ? Relatif. 
Pemahaman Heidegger bisa otentik maupun tidak, sehingga pertanyaan 
manusia adalah jawaban2 sementara dan relatif, yang bisa saja suatu 
saat tidak berfungsi. Suatu saat peneriak koruptor bisa menjadi 
pelaku korupsi. 

Saat ini seorang Sisca bisa berbicara mengenai moral dan kesadaran 
diri yang tinggi, tinggi dalam arti yang relatif menurut seorang 
Sisca, tidak perduli apakah karena sadar diri atau instingtif 
belaka, atau karena emosional saja, namun di suatu masa, Sisca yang 
ini barangkali akan melupakan dengungan moral dan kehilangan 
kesadaran diri dan mengalami kecemasan, karena suatu pengalaman 
hidup. Bukankah hidup adalah guru filsafat yang sejati ? Suatu 
filsafat kehidupan (lebensphilosophie). 

Mengapa didengungkan Sapere Aude ! (beranilah berpikir untuk dirimu 
sendiri) sebagai semboyan pencerahan (enlightenment). Karena bahkan 
seorang philosopher sejati memiliki kepribadian.
Bagaimanapun seorang philosopher harus memahami dirinya terlebih 
dahulu, baru bisa memahami sekelilingnya, karena bagaimanapun teori 
filsafat bertolak dari pikiran dan pemahaman akan diri sendiri dan 
lingkungannya. 

Baiklah, Bung Pras mengetengahkan adanya pretensi pengamat di sini, 
namun bahkan seorang Heidegger tidak dapat menarik teori tanpa 
mengalaminya, menyetubuhinya (seperti ucapan seorang sahabat).
Bukan kah karenanya ada pro dan kontra, sehingga mana yang benar 
atau yang tidak kembali berbalik pada diri sendiri. Dan adakah yang 
benar2 memahami diri sendiri secara lengkap ? Tidak juga. Makanya 
manusia tetap terombang-ambing dalam nilai. Bukan berarti manusia 
tidak dapat mencapainya, namun susah. 
Makanya ada yang meneriakkan sok moralis, dan orang yang moralis 
dianggap gila, oleh kelompok yang dianggap tidak gila. Namun siapa 
yang gila ? Relatif. Lagi2. Begitulah....

Salam, Sisca

--- In [email protected], prastowo prastowo <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Non Sisca,



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke