hehehe...halo, saya senang ada yang men-debat saya, trims rasanya filsafat saya lebih hidup, dan membuka wawasan berpikir filosofis saya
Ehm, mengenai pendapat saya, bahwa moral dan kesadaran diri di jaman sekarang ini, yang, menurut saya, memang telah terjadi pergeseran dan pengikisan moral dan kesadaran diri habis2an, tidak mengakibatkan bahwa dengan begitu moralitas dan kesadaran diri telah hilang. Masih ada, jangan khawatir. Terkikis dan secara habis2an, bukan berarti hilang. Namun hal itu menjadikan manusia lebih susah lagi menemukan nilai yang sebenarnya, yang menjadikannya sempurna, dan sempurna dalam arti apa pula. Bahkan dalam aliran filsafat sendiri, terdapat berbagai jawaban atas pertanyaan yang hingga kini kita belum mengerti pula jawabnya, dan mana yang benar. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut Bung Pras (panggil Bung yah, maaf). Tradisi, nilai, norma, hukum, di mana posisinya ? Relatif. Bagaimana mengartikan moral yang berkwantitas tinggi ? Relatif. Bagaimana menilai kesadaran seseorang itu tinggi ? Relatif. Pemahaman Heidegger bisa otentik maupun tidak, sehingga pertanyaan manusia adalah jawaban2 sementara dan relatif, yang bisa saja suatu saat tidak berfungsi. Suatu saat peneriak koruptor bisa menjadi pelaku korupsi. Saat ini seorang Sisca bisa berbicara mengenai moral dan kesadaran diri yang tinggi, tinggi dalam arti yang relatif menurut seorang Sisca, tidak perduli apakah karena sadar diri atau instingtif belaka, atau karena emosional saja, namun di suatu masa, Sisca yang ini barangkali akan melupakan dengungan moral dan kehilangan kesadaran diri dan mengalami kecemasan, karena suatu pengalaman hidup. Bukankah hidup adalah guru filsafat yang sejati ? Suatu filsafat kehidupan (lebensphilosophie). Mengapa didengungkan Sapere Aude ! (beranilah berpikir untuk dirimu sendiri) sebagai semboyan pencerahan (enlightenment). Karena bahkan seorang philosopher sejati memiliki kepribadian. Bagaimanapun seorang philosopher harus memahami dirinya terlebih dahulu, baru bisa memahami sekelilingnya, karena bagaimanapun teori filsafat bertolak dari pikiran dan pemahaman akan diri sendiri dan lingkungannya. Baiklah, Bung Pras mengetengahkan adanya pretensi pengamat di sini, namun bahkan seorang Heidegger tidak dapat menarik teori tanpa mengalaminya, menyetubuhinya (seperti ucapan seorang sahabat). Bukan kah karenanya ada pro dan kontra, sehingga mana yang benar atau yang tidak kembali berbalik pada diri sendiri. Dan adakah yang benar2 memahami diri sendiri secara lengkap ? Tidak juga. Makanya manusia tetap terombang-ambing dalam nilai. Bukan berarti manusia tidak dapat mencapainya, namun susah. Makanya ada yang meneriakkan sok moralis, dan orang yang moralis dianggap gila, oleh kelompok yang dianggap tidak gila. Namun siapa yang gila ? Relatif. Lagi2. Begitulah.... Salam, Sisca --- In [email protected], prastowo prastowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Non Sisca, ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> See what's inside the new Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/pyIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
