Ketika Tuhan ternihilkan,
maka tidak ada dosa dan pahala.

Saya sih mau ikut nimbrung tentang nenek moyang kita "mungkin" berasal dari
"neraka".
Entahlah "mungkin" dan "neraka" secara ansich atau juga hanya sebagai
permainan kata  dalam rimba semiotika.
Atau hanya gelembung kognitif dalam ruang nisbi. Atau mungkin sebuah
ungkapan diskontinuitas antara tanda dan petanda sebagaimana
pada  fragmen:

  Ketika Tuhan ternihilkan,
  maka tidak ada dosa dan pahala.

  Lalu apa yang kita pegang, ketika semua dalam keadaan nihil? Ketika
beradada dalam wilayah nisbi? dan hanya sekekdar gelembung kognitif belaka?
Tidak ada sama sekali, saya kira, kecuali kita sendiri yang jatuh tersungkur
dalam nihilisme itu sendiri. Dimana kaki kita bersandar ketika kita kena
demam nihilisme? Ya, itu mungkin yang kita namakan neraka, sebuah "tanda"
yang merupakan oposan dari "surga"  dalam sistem opisisi biner. Sebuah
wilayah dimana "Kehampaan", "Kekosongan", "ketidakberartian","kekacauan
makna" atau turbolensi makna lainnya. "Neraka" di sini tidaklah berada jauh
dari wilayah yang tidak terdefinisikan, melainkan berada diantara kita dan
bersama kita, maka ungkapan "neraka" dalam keseharian menjadi riil. Boleh
jadi nenek moyang kita berasal dari neraka ini, neraka yang terdefinisikan,
atau boleh jadi surga juga memunculkan sebuah generasi baru, semacam kita,
dalam sistem hereditas sosial. Sesuatu yang logis,  saya kira. Persoalannya,
kita tidak hanya ada dalam wilayah yang terdefinisikan, tidak hanya dalam
wilayah nihilisme, melainkan juga yang tidak terdefiniskan, melampau
nihilisme. Karena sesuai dengan fakta, cerapan persepsi manusia sangat
dibatasi secara ansich oleh wilayah tempat persepsi itu sendiri berada dan
fakta bahwa secara empiris dualisme makna hadir di mana-mana. Maka diluar
sana ada sesuatu yang tidak kita pahami, mungkin itu yang dinamakan "neraka"
dan "surga" dengan definisi yang lain. Boleh jadi, di sana ada Tuhan, ada
neraka dan ada surga. Meski pada dimensi sekarang, kita membuat sebuah
hipotesa "nihilisme", dimensi lain tidak pernah terganggu dalam keadaan yang
sesungguhnya. Sebagaimana, "bulan tetap berputar" meski kita membuat sebuah
hipotesa "bulan sudah berhenti berputar".

    Ketika Tuhan ternihilkan,
    maka tidak ada dosa dan pahala.

    hanya sebuah langkah pertama dalam permainan bahasa, yang berujung pada
diskontnuitas itu sendiri. Bagaimana kita harus bertanggung jawab pada diri
kita sendiri kalau memang itu sebagai sebuah hipotesa yang tidak bisa diuji?
Andalah yang lebih tahu.




   -----Original Message-----
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf
Of temon_brangti
  Sent: 04 September 2007 16:50
  To: [email protected]
  Subject: [filsafat] Re: Moyang kita dari Neraka, bukan Sorga.


  Konon, cola justru mengakibatkan gas di lambung. Kalau terkena panas
  dalam, silahkan coba minum segelas syukur nikmat, semoga bermanfaat.

  --- In [email protected], Mamat Peci Peci
  <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > tentang neraka dan surga
  >
  > ketika tuhan ternihilkan,
  > maka tidak ada dosa dan pahala
  > pada saat bersamaan tidak ada siksaan dan kenikmatan
  > apa yang di siksa dan dimana disiksa?
  > kenikmatan apa yang di dapat, dan di mana kenikmatan itu.
  > karena tuhan yang menciptakan keduanya kini telah ternililkan.
  >
  > Benar apa yang dikatakan oleh Juragan ..... (sapa tuh)...
  > Sorga dan neraka hanya ....
  > dan sebuah manifestasi dari ketidakberdayaan .
  >
  > ketika filsafat ketuhanan tereliminasi oleh post ....
  > di mana kata-kata, bahasa dan tanda menjadi maskot
  > sungguh ..... neraka dan surga
  > bisa di katakata, dibahasa dan ditanda
  >
  > ketika disbutkan "neraka"
  > struktur apa yang membias darinya..
  > sebuah siksaan kah, kondisi depresi, iklim yang amat panas,
  > kekejaman dunia, kesulitan yang bertubi-tubi, atau ....
  >
  > apa "struktur" yang kita pahami ketika kita mendengar
  > "hidup ini bagai neraka"
  > "waduh... nih panas dah kae di neraka "
  >
  > Ketika, Q mengajarkan anak-anak tentang ketuhanan
  > Q mengatakan. " Neraka lebih abang sukai, ketimbang Surga"
  > "Mengapa demikian bang"
  > "Lalu apa manfaatnya kita ibadah"
  > "yang kita harapkan selama ini kan surga"
  > "semua yang kita lakukan hanya untuk surga"
  > "abang dah gila, kali ya"
  > "kebanyakan makan filsafat tuh"
  >
  > Ah ..... mereka benar, mereka tdak salah ....
  > mereka pantas mencibirku .....
  > Q hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala dibalik peciku yang
  semakin buluk.
  >
  > (1) ah ..... adam dan hawa aja ga betah di surga, apalagi Q...
  pikirku.
  > mungkin mereka "kepanasan bagai di neraka".
  > jadinya pengen turun ke bumi.
  > mungkin itu.
  >
  > (2) Atau memang benar nenek moyang kita dari neraka
  > karena jutaan taon yang lalu, bumi ini "panas bagai neraka"
  >
  > (3) Lingkungan yang sangat keras
  > dan berhadapan dengan species yang sangat ganas.
  > gelombang kelelelahan dan ketidakberdayaan yang dihadapi nenek
  moyang kita
  > untuk tetap survive sebagai species, seperti ungkapan "hidup bagai
  neraka"
  >
  > Semoga semuanya benar,,,,, dan semoga semuanya Salah ...
  >
  > DEMI PARA FILOSOF YANG AGUNG
  > berilah aku sepiring spageti .... dan segelas es cola
  > perut ini panas banget seperti neraka ....
  >
  > (wah neraka di perut)
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  > ________________________________________________________
  > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang
  Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di
  http://id.answers.yahoo.com/
  >



  

Kirim email ke